---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Us
---
Pukul 05.30 pagi, Irene membuka mata dengan perasaan ringan. Hari ini adalah hari istimewa. Elgi, suaminya, baru saja menyelesaikan proyek besar di kantor yang memaksanya lembur setiap malam selama dua minggu terakhir. Tadi malam, untuk pertama kalinya dalam 14 hari, Elgi pulang sebelum jam sepuluh. Ia langsung tidur begitu merebahkan tubuh di kasur, terlalu lelah bahkan untuk bercerita tentang harinya.
Irene memutuskan untuk membuatkan sarapan spesial. Bukan sekadar nasi goreng atau roti bakar, tapi sesuatu yang lebih: pancake buatan sendiri dengan saus cokelat buatan tangan, telur mata sapi dengan kuning telur yang masih cair persis seperti kesukaan Elgi, dan segelas susu hangat dengan sedikit madu.
Irene turun dari ranjang perlahan, tidak ingin membangunkan Elgi. Di kamar sebelah, Rafa—putra mereka yang berusia tiga tahun—masih tidur dengan posisi superman: tangan terentang, kaki mengangkang, dan boneka beruang biru kesayangannya tergeletak di samping kepala. Irene tersenyum melihatnya. Rafa mewarisi posisi tidur dari ayahnya.
Setelah memastikan Rafa masih terlelap, Irene meluncur ke dapur. Ia mengeluarkan bahan-bahan dari lemari: tepung terigu, telur, susu cair, mentega, dan cokelat batangan untuk saus. Ia bersenandung kecil sambil mencampur adonan, membayangkan ekspresi Elgi saat melihat sarapan spesial ini.
Tapi alam semesta—atau lebih tepatnya, seorang anak berusia tiga tahun—punya rencana lain.
"Ma...?"
Irene menoleh. Rafa berdiri di ambang pintu dapur dengan mata masih setengah tertutup, rambut berantakan, dan boneka beruang birunya diseret di lantai.
"Raf, kok bangun? Masih pagi, Sayang." Irene berlutut, membuka tangan. Rafa menghambur ke pelukannya.
"Aku kedinginan, Ma. Mau sama Mama."
Irene menggendong Rafa, merasakan hangat tubuh kecil itu. "Mama lagi masak buat Ayah. Rafa mau bantu Mama?"
Mata Rafa langsung terbuka lebar. "BANTU! BANTU!" Ia melonjak di gendongan Irene, hampir membuat ibunya kehilangan keseimbangan.
Irene tertawa. "Iya, iya, bantu. Tapi janji dengar kata Mama, ya?"
Rafa mengangguk dengan semangat. "Rafa dengar Mama!"
---
Sepuluh menit kemudian, Irene mulai menyesali keputusannya.
Tepung terigu sudah berserakan di lantai dapur. Susu tumpah di meja, merembes ke lantai dan membentuk genangan kecil yang mengilap. Cangkang telur—yang seharusnya dibuang—malah ikut masuk ke dalam mangkuk adonan. Dan Rafa, aktor utama di balik semua kekacauan ini, duduk dengan bangga di kursi tingginya sambil mengaduk-aduk adonan dengan sendok kayu yang hampir sebesar kepalanya.
"Ma, lihat! Rafa bantu!" serunya gembira.
Irene menarik napas dalam-dalam. Count to ten, Irene. Count to ten. Tiga. Empat. Lima.
"Wah, Rafa hebat banget!" puji Irene sambil merapikan kekacauan. Ini bukan pertama kalinya ia mengalami situasi seperti ini. Hidup bersama batita sudah mengajarkannya bahwa kadang, yang terpenting bukan hasil akhir, tapi proses dan kebersamaan.
"Mama, ini udah jadi belom?" tanya Rafa sambil menunjuk adonan yang mulai menggumpal aneh karena terlalu banyak diaduk.
"Sebentar lagi, Sayang. Mama mau goreng dulu."
Irene mengambil wajan, memanaskannya dengan mentega. Ia menuang adonan—yang untungnya masih bisa diselamatkan meski penuh cangkang telur yang sudah ia ambil satu per satu—ke atas wajan. Adonan menyebar membentuk lingkaran tidak sempurna. Di sisi lain, Irene menyiapkan telur mata sapi.
"Mama, Rafa mau pegang telur!"
"Jangan, Sayang. Nanti pecah."
"Rafa mau! Rafa mau!"
Irene menghela napas. Ia mengambil satu telur, menaruhnya di tangan Rafa, dan membimbing tangan kecil itu memecahkan telur ke wajan. Kuning telurnya pecah, menyebar ke mana-mana.
"WAAA, RAFA BISA!" teriak Rafa kegirangan.
Irene tertawa. "Iya, Rafa hebat!"
Mereka melanjutkan "kerja sama" ini: Irene yang menggoreng, Rafa yang berteriak setiap kali pancake dibalik, sesekali "membantu" dengan cara yang justru mempersulit. Dapur semakin berantakan, tapi tawa mereka semakin keras.
---
Pukul 07.15, Elgi bangun. Ia turun dari ranjang, mengikuti aroma masakan yang meresap sampai ke kamar. Tapi saat tiba di ambang pintu dapur, ia berhenti.
Pemandangan di depannya membuatnya tersenyum lebar.
Dapur—yang biasanya rapi dan bersih—sekarang tampak seperti medan perang. Tepung di mana-mana. Susu menggenang di lantai. Cangkang telur berserakan di wastafel. Dan di tengah semua kekacauan itu, Irene dan Rafa sedang sibuk: Irene mencoba menyelamatkan pancake terakhir yang hampir gosong, Rafa sibuk mencelupkan jari ke dalam mangkuk saus cokelat dan menjilatnya dengan nikmat.
"Ini... sarapan?" tanya Elgi pelan.
Irene menoleh, wajahnya memerah. "Elgi! Maaf, kita berisik ya? Bangunin kamu?"
Elgi menggeleng, melangkah masuk ke dapur. Ia mengecup kening Irene, lalu mengangkat Rafa yang langsung memeluk lehernya erat.
"Ayah! Rafa bantu Mama masak!" lapor Rafa bangga.
"Bener? Rafa bantu apa aja?"
"Bantu... bantu... semuanya!" Rafa menjawab dengan penuh keyakinan.
Elgi tertawa. Ia melihat ke arah meja makan, di mana sepiring pancake dengan bentuk tidak beraturan dan telur mata sapi yang kuningnya pecah sudah tersaji. Ada juga segelas susu hangat dan saus cokelat buatan Irene yang terlihat lebih encer dari biasanya.
"Ini... semua buat aku?"
Irene mengangguk, masih agak malu. "Maaf, Mas. Tadinya mau bikin yang spesial, tapi Rafa ikut bantu, jadi... ya gini jadinya." Ia menunjuk dapur yang berantakan.
Elgi meletakkan Rafa di kursi makannya, lalu mendekati Irene. Ia meraih pinggang istrinya, menariknya ke dalam pelukan.
"Ini sarapan terindah yang pernah aku lihat," bisiknya.
Irene menatapnya tak percaya. "Yang bener? Lihat dapur, Mas."
"Aku lihat istriku yang rela bangun pagi-pagi, capek-capek masak buat suaminya. Aku lihat anakku yang antusias bantu Mama. Aku lihat cinta, di sini, di dapur yang berantakan ini." Elgi mengusap lembut pipi Irene. "Itu lebih berharga dari sarapan sempurna di restoran bintang lima."
Irene tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Dasar suami suka lebay."
"Bukan lebay. Jujur." Elgi mengecup kening Irene. "Makasih, ya. Makasih udah selalu berusaha bikin aku bahagia."
Dari kursi makannya, Rafa berteriak, "Ayah! Mama! Rafa laper!"
Mereka tertawa, melepas pelukan. Elgi membantu Irene membereskan meja, lalu mereka bertiga duduk bersama. Rafa dengan bangga mengambil pancake paling gosong dan berkata, "Ini punya Rafa! Rafa yang bikin!"
Elgi dan Irene saling pandang, tersenyum. Mereka mengambil pancake masing-masing—yang bentuknya tidak beraturan, yang sebagian gosong, yang telurnya pecah—dan menyantapnya dengan lahap.
"Ini enak banget, Sayang," puji Elgi.
"Iya, karena ada saus cokelat buatan Rafa!" Rafa menunjuk saus yang lebih encer—ternyata karena ia "membantu" dengan menambahkan susu ke dalam cokelat leleh.
"Iya, nih. Kok bisa enak, ya?" Irene mencicipi saus itu. "Wah, Rafa jenius! Ini enak!"
Rafa tersenyum lebar, bangga sekali.
---
Setelah sarapan, mereka bertiga membereskan dapur bersama. Elgi mengepel lantai, Irene membereskan meja, dan Rafa "membantu" dengan mengelap meja menggunakan lap basah yang membuat meja semakin basah. Tapi tidak ada yang marah. Tidak ada yang kesal. Yang ada hanya tawa dan obrolan ringan.
"Mas, dua minggu ke depan masih lembur?" tanya Irene sambil mencuci piring.
Elgi menggeleng. "Proyek kelar. Sekarang waktunya quality time sama keluarga."
"Beneran?"
"Beneran. Aku minta cuti seminggu. Kita bisa pergi ke mana gitu, atau staycation di rumah aja."
Irene tersenyum. "Aku seneng denger itu."
"Ayah! Ayah! Main bola!" Rafa menarik-narik celana Elgi.
Elgi melihat jam dinding. Pukul 08.30. "Yuk! Tapi main di halaman aja, ya. Nanti panas."
"Asik! BOLA! BOLA!" Rafa berlari ke halaman depan, mengambil bola plastik warna-warni kesayangannya.
Irene melihat mereka dari jendela dapur. Elgi dan Rafa bermain bola di halaman, tertawa riang. Rafa menendang bola dengan kaki mungilnya, meleset tentu saja, dan Elgi dengan sabar mengejar bola lalu mengajarkan cara menendang yang benar.
Hidup, pikir Irene, tidak selalu tentang momen-momen besar. Kadang, kebahagiaan sejati justru ada di hal-hal kecil seperti ini: sarapan berantakan yang dibuat bersama, tawa anak di pagi hari, dan suami yang bisa diajak bercanda meski baru bangun tidur.
Dari rumah sebelah, Jane muncul di terasnya, mengelus perut sambil tersenyum melihat Elgi dan Rafa bermain. Irene melambai. Jane membalas lambaian itu.
"Jane! Nanti sore ke taman?" teriak Irene.
"Iya! Aku udah janjian sama yang lain!"
"Oke! Aku siapin camilan!"
Mereka tersenyum satu sama lain, lalu kembali ke aktivitas masing-masing. Di Griya Asri, pagi hari selalu dimulai dengan sapaan hangat. Dan hari ini, pagi itu dimulai dengan kekacauan indah di dapur rumah nomor 9.
Elgi masuk ke rumah, membawa Rafa yang mulai kecapean. "Irene, Rafa minta susu."
"Iya, bentar." Irene menyiapkan segelas susu hangat untuk Rafa. Anak itu meminumnya dengan lahap, lalu merengek minta digendong.
"Ayah yang gendong," kata Elgi, menggendong Rafa. Dalam hitungan menit, Rafa tertidur di pundak ayahnya, kelelahan setelah bermain bola.
Elgi menggendong Rafa ke kamar, menidurkannya dengan hati-hati. Saat keluar, Irene sudah menunggu di sofa ruang tamu dengan dua cangkir kopi.
"Dia tidur?" tanya Irene.
"Iya, capek." Elgi duduk di samping Irene, menerima kopi yang disodorkan. "Makasih."
"Sama-sama."
Mereka duduk bersebelahan, menikmati kopi dan keheningan. Keheningan yang nyaman. Keheningan yang hanya bisa terjadi antara dua orang yang sudah saling mengenal luar dalam.
"Irene," panggil Elgi pelan.
"Hm?"
"Maaf, ya, dua minggu ini aku jarang di rumah. Pasti kamu capek sendiri ngurus Rafa."
Irene menoleh, tersenyum. "Nggak apa-apa, Mas. Itu tugas kita berdua. Lagian, Rafa juga seneng. Katanya, 'Ayah kerja biar Rafa bisa beli bola baru.'"
Elgi tertawa. "Dia bilang gitu?"
"Iya. Pas kamu lembur pertama, dia nangis minta Ayah. Aku bilang, Ayah lagi cari uang buat beli bola baru. Sejak itu, dia ngerti."
Elgi meraih tangan Irene, menggenggamnya erat. "Kamu hebat, Irene. Hebat banget."
"Aku biasa aja."
"Enggak. Jadi istri itu berat. Jadi ibu itu lebih berat. Jadi kedua-duanya? Itu luar biasa. Dan kamu melakukannya dengan baik. Sangat baik."
Irene menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah. "Dasar suami suka lebay."
Elgi tertawa. "Iya, lebay. Tapi tulus."
Mereka berpelukan di sofa, menikmati pagi yang tenang. Di kamar, Rafa tidur pulas dengan boneka beruang biru kesayangannya. Di luar, matahari semakin tinggi, tapi masih belum terlalu terik.
Di Griya Asri, harmoni terus berjalan. Tidak ada yang sempurna—dapur berantakan, anak rewel, suami lembur. Tapi di balik semua ketidaksempurnaan itu, ada cinta yang tulus. Cinta yang membuat segalanya menjadi indah.
---