Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 19
POV WIRA
Gerbang besi yang berat itu berderit terbuka, mengeluarkan suara memilukan yang menandai berakhirnya masa hukumanku. Aku melangkah keluar dengan tas ransel kusam di pundak, menghirup udara pagi yang terasa begitu asing. Tujuh tahun. Dunia di luar sana sudah berubah begitu banyak, tapi bagiku, waktu seolah berhenti di hari aku dipisahkan darinya.
Langkahku terasa berat. Nama yang pertama kali terlintas di benakku adalah Hana.
Wanita yang sangat kucintai. Selama tujuh tahun ini, bayangannya adalah satu-satunya cahaya yang menyinari kegelapan di dalam sel.
Aku tahu orang-orang di luar sana mungkin membicarakan hal buruk tentangku rumor sebagai pengonsumsi obat-obatan yang sama sekali tidak benar. Tapi yang paling menyiksaku bukanlah rumor itu, melainkan kenangan akan ucapan kasarku sendiri.
Aku memejamkan mata, teringat telepon terakhir itu. Aku membentaknya. Aku mengatakan kata-kata yang tidak pantas karena aku sedang kalap, hancur, dan merasa tidak berdaya melindunginya dari balik jeruji. Itu murni emosi sesaat yang sekarang kusesali setiap detik dalam hidupku.
"Maafin aku, Han... Aku cuma takut kehilangan kamu saat itu,"
bisikku lirih ke arah langit yang luas.
Aku tidak tahu dia ada di mana sekarang. Aku tidak tahu apakah dia sudah lulus kuliah, di mana dia tinggal, atau apakah dia sudah menemukan kebahagiaan baru.
Selama di tahanan, aku benar-benar terputus dari dunianya. Aku hanya punya kenangan tentang gadis kecil yang dulu selalu menungguku di ujung gang.
Setelah dari terminal, langkah kakiku secara otomatis membawaku kembali ke satu tempat Rumah lama Hana.
Aku berharap setidaknya bisa melihat bayangannya di sana, atau setidaknya mencium aroma yang tertinggal. Namun, saat aku sampai di depan pagar yang kini berkarat dan ditumbuhi tanaman liar, hatiku mencelos. Rumah itu kosong. Dingin. Sunyi.
Papan "Dijual" yang sudah kusam masih terpasang miring di pagarnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tetangga sekitar yang kutanya hanya menjawab singkat bahwa keluarga Gunawan sudah lama sekali pindah, entah ke mana.
Aku terduduk di trotoar depan rumah itu, menatap bangunan yang dulu penuh kenangan Aku merasa kehilangan arah. Aku bebas dari penjara, tapi aku merasa lebih terkurung sekarang karena tidak tahu di mana belahan jiwaku berada.
"Kamu di mana, Han? Apa kamu masih benci aku?" gumamku sambil menatap layar ponsel tuaku yang masih kosong.
Aku tidak akan menyerah. Bukan untuk mengusik hidupnya, tapi aku butuh satu kesempatan saja untuk bersujud di depannya dan meluruskan segalanya. Aku ingin dia tahu bahwa Wira yang lembut, yang dulu dia cintai, masih ada dan masih miliknya.
Tanganku gemetar hebat saat mengeluarkan secarik kertas kusam dari dalam ranselku. Kertas itu sudah menguning, lipatannya hampir robek karena selama tujuh tahun ini selalu aku simpan di bawah bantal selku. Di sana tertulis satu nomor telepon nomor terakhir yang pernah menghubungiku sebelum duniaku benar-benar gelap.
Aku menekan tombol di ponsel tuaku dengan napas yang memburu.
Tuut... tuut...
Setiap nada sambung terasa seperti detak jantungku yang berpacu liar. Dan kemudian, panggilan itu diangkat.
"Halo?"
Suara itu. Suara yang selama tujuh tahun ini hanya bisa kudengar dalam ingatan yang memudar. Suara Hana. Dia terdengar lebih dewasa, lebih tenang, namun ada getaran yang sangat kukenali di sana.
"Han... ini aku, Wira..." bisikku parau.
Kerongkonganku mendadak tercekat. Aku ingin berteriak meminta maaf, aku ingin menjelaskan bahwa semua rumor obat-obatan itu bohong, aku ingin bilang bahwa aku sangat merindukannya.
Tapi hening sejenak di seberang sana. Aku bisa merasakan napasnya yang tertahan. Lalu, tanpa sepatah kata pun, sambungan itu terputus. Klik.
Aku terpaku menatap layar ponselku. Aku mencoba menghubungi lagi, namun kali ini hanya suara operator yang menjawab. Dia mematikan ponselnya. Dia menutup pintu akses untukku tepat setelah mendengar namaku.
Aku menatap layar ponselku dengan jantung yang berdebar kencang. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tadi sempat kuangkat.
Tunggu, aku akan telepon balik nanti.
Hanya beberapa kata, tapi itu cukup untuk membakar kembali api harapan yang hampir padam di dadaku. Aku berdiri dari trotoar, merapikan ranselku, dan berjalan mondar-mandir di depan pagar rumah lamanya yang berkarat. Aku menunggu. Lima menit, sepuluh menit, hingga satu jam berlalu, namun ponselku tetap bisu.
Aku mencoba mengirim beberapa pesan.
Namun, status pesan itu bahkan tidak berubah menjadi terbaca. Keputusasaan mulai merayap kembali. Aku sempat berpikir, mungkin dia hanya ingin memberiku harapan palsu agar aku berhenti mengganggunya. Mungkin dia memang sudah benar-benar menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk lelaki brengsek sepertiku.
Tapi rasa rindu ini terlalu kuat. Tujuh tahun aku terkurung, dan setiap malam, hanya wajah Hana yang menemaniku. Dan bukan hanya Hana... pikiranku selalu tertuju pada anak kami. Anak yang selama tujuh tahun ini selalu kubayangkan kehadirannya.
Di dalam sel yang dingin, aku sering memejamkan mata dan membayangkan bagaimana rupa anak itu.
Apakah matanya mirip Hana? Apakah dia punya senyum yang sama lembutnya dengan ibunya? Bayangan tentang anak itulah yang memberiku semangat untuk tetap waras, yang membuatku berjanji untuk menjadi lelaki yang lebih baik saat bebas nanti.
Aku ingin menebus semua kesalahan yang pernah kubuat, bukan hanya pada Hana, tapi juga pada buah hati kami yang selama ini tak pernah kuketahui kabarnya.
"Kamu di mana, Han? Bagaimana kabar anak kita?" gumamku pelan, menatap langit sore yang mulai menggelap.
Meskipun dia tidak membalas, aku tidak bisa berhenti. Bagiku, mereka adalah alasan satu-satunya kenapa aku masih bernapas hari ini. Aku tidak peduli jika harus mencari ke seluruh penjuru kota, aku harus menemukan mereka.
Setelah beberapa hari aku terombang-ambing dalam ketidakpastian, pagi ini keberuntungan seolah berpihak padaku. Aku kembali mencoba menekan nomor itu, dan di nada sambung ketiga, dia mengangkatnya.
"Aku rindu banget sama kamu, Hana," ucapku
Hana diam lalu aku memulai percakapan
"Tadi kamu bilang kamu di kampus? Jadi kamu lanjut kuliah? Hebat kamu, Han. Lalu... gimana dengan anak kita?"
Sejenak tidak ada suara dari hana dia diam aku mulai curiga
"Hana? Han? Kamu masih di sana?"
"Maaf wir ..Aku nggak sempat melahirkan anak itu. Semuanya... aku keguguran saat itu."
Bom bagaikan meledak aku terdiam mematung mencerna kata kata hana aku mencoba tenang apa maksud hana apa dia mempermainkanku?
"Tapi...dulu terakhir kita bicara lewat telepon saat aku baru beberapa bulan di sel, kamu pernah bilang kalau anak kita sudah lahir. Kamu bilang dia sehat. Kenapa sekarang kamu bilang keguguran?"
Tidak ada suara balasan dari sebrang hana diam lagi dia tidak menjawabku
"Hana, jawab aku! Mana yang benar?"desakku saat itu
"Wir, tolong... saat itu aku cuma nggak mau kamu kepikiran. Aku bingung harus bilang apa,"
"Han? Hana! Kenapa diam? Jawab aku!"
suaraku meninggi.
"Wir... tolong jangan tanya lagi," isaknya terdengar disebrang sana.
"Aku nggak sanggup bahas itu sekarang. Semuanya sudah selesai. Anak itu sudah nggak ada, dan aku hampir mati saat itu."
Deg.
"Jadi... selama ini aku dipenjara dengan bayangan anak yang sudah nggak ada?"
Kamu bohongin aku, Han? Kamu bilang dia sehat! Atau jangan jangan kamu memang sengaja ingin menjauhkan aku dari darah dagingku?"
"AKU CUMA MAU KAMU SURVIVE DI SANA, WIR!!!!"
dia berteriak kemudiam mematikan telepon secara sepihak
Klik.
Duniaku seolah berhenti berputar. Jantungku serasa diremas oleh tangan tak kasat mata. Aku terpaku di tempatku berdiri, ponsel yang kugenggam hampir saja terlepas.
Sambungan terputus. Aku jatuh terduduk di aspal jalanan, mengabaikan tatapan orang-orang yang lewat. Harapan yang selama tujuh tahun ini kupupuk di dalam sel bayangan tentang wajah kecil yang mirip dengannya, tawa bocah yang akan memanggilku 'Papa' semuanya hancur berkeping-keping dalam sekejap.
Aku hancur dimakan oleh harapanku sendiri. Selama ini aku bertahan hidup demi sebuah bayangan yang ternyata sudah lama sirna. Ternyata, bukan hanya Hana yang kehilangan, tapi aku juga telah kehilangan kesempatan untuk menebus dosa pada darah dagingku sendiri.