Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Palumbo
“Kenapa masih pada diam? Lepasin mereka!”
Sudut mata Bimbo berkedut, wajahnya memucat. Kalau Andy datang dengan nada baik-baik, mungkin ia tak akan tersinggung.
Tapi sejak datang, Andy sudah membentaknya dan bahkan menamparnya.
Kalau sekarang ia langsung melepas Hans begitu saja, harga dirinya di depan anak buahnya akan hancur.
“Tuan Palumbo, orang ini sudah melumpuhkan anakku dan menerobos masuk ke tempatku. Bagaimana aku bisa menghadapi publik kalau mereka tahu aku membiarkannya pergi hari ini?” Bimbo membalas dengan suara rendah.
“Anakmu memang pantas dilumpuhkan! Kalau hari ini Kamu tidak membiarkannya pergi, aku akan menghancurkan Rumble Group!” Andy menyeringai dingin.
“Tuan Palumbo, aku tahu Anda berpengaruh dan aku tak bisa menyinggung Anda. Tapi jangan lupa, aku juga punya orang yang mendukungku!” Bimbo berteriak sengit.
“Maksudmu Jaguar? Biar kuberi tahu. Sekalipun Jaguar ada di sini hari ini, kamu tetap harus membiarkan Tuan Rinaldi pergi!” Andy tersenyum tipis dengan tatapan dingin.
Wajah Bimbo langsung menggelap mendengar itu. Ia tak menyangka Andy akan sekeras ini, bahkan sampai mengabaikan Jaguar demi dua orang asing.
“Baik! Akan aku laporkan kejadian hari ini pada Tuan Panjaitan!” kata Bimbo dengan nada kesal.
Jaguar Panjaitan adalah pemimpin dari tiga keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ia yakin Jaguar pasti bisa menekan Andy. Andy harus membayar atas sikap tak hormatnya.
“Sudah, hentikan omong kosong dan lepaskan mereka sekarang juga!” Andy tak ingin membuang waktu lagi. Ia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke kepala Bimbo.
“Lepaskan mereka!” Melihat Andy benar-benar serius, Bimbo mengertakkan gigi dan akhirnya menyerah. Ia tak mau mempertaruhkan nyawanya hanya karena masalah ini.
“Bimbo, ini peringatan untukmu. Kalau hal seperti ini terjadi lagi, bahkan Jaguar pun tak akan bisa menyelamatkanmu!” Setelah berkata demikian, Andy mengawal Hans dan Tiffany keluar.
Tak satu pun dari 200 anak buah di luar berani bergerak.
“Tuan Langodai, apakah kita akan membiarkan mereka pergi begitu saja?” Beberapa anak buahnya tampak tidak puas.
“Mau bagaimana lagi? Kalian ingin mati?” balas Bimbo tajam.
Mendengar itu, mereka langsung terdiam.
“Sialan! Aku tak akan membiarkan mereka begitu saja!” lanjut Bimbo dengan wajah muram. “Hubungi Mikail dan suruh dia kembali sekarang juga. Orang itu harus mati hari ini!”
“Baik!”
Setelah keluar dari gedung Rumble Group, Tiffany akhirnya benar-benar sadar.
“Nona Rasheed, Anda baik-baik saja?” tanya Andy penuh perhatian.
“Tuan Palumbo? Kenapa Anda ada di sini? Tadi Anda yang menyelamatkan aku?” Tiffany terlihat terkejut.
“Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya membantu sedikit. Tuan Rinaldi lah yang mempertaruhkan nyawanya dan tak mundur sedikit pun, meski menghadapi 200 orang, hanya untuk menyelamatkan Anda. Sungguh setia,” ujar Andy sambil tersenyum.
“Benarkah?” Tiffany menoleh ke arah Hans di sampingnya dengan ekspresi bingung.
“Tuan Palumbo, bukankah kamu bilang masih ada urusan yang harus diselesaikan?” Hans tiba-tiba menyela.
“Oh, ya. Lihatlah, aku sampai lupa. Kalian lanjutkan saja bicara. Aku pamit dulu.” Andy tidak tinggal lama. Setelah berpamitan, ia pergi bersama anak buahnya.
“Nona Rasheed!” Rachel turun dari mobil. Ia sudah menunggu di depan, tetapi Tiffany keluar sebelum polisi tiba.
“Nona Rasheed, tadi yang pergi itu Tuan Palumbo?” tanya Rachel ragu.
“Benar. Berkat dia, kita selamat.” Rachel mengangguk pelan.
“Tuan Palumbo kan gak dekat sama kita. Ngapain dia nolongin kita?” Rachel terkejut.
“Aku juga lagi mikir soal itu,” jawab Tiffany pelan. Pikirannya terlihat melayang.
Dia nyaris tidak mengenal Andy. Kenapa pria itu mau membantunya?