Yan Jian— seorang generasi muda yang awalnya terlahir tanpa memiliki Roh Bela Diri bawaan, kini bangkit sebagai Generasi Muda terkuat di Provinsi Chang Yuan.
Setelah melakukan pertarungan panjang yang melelahkan waktu, menepati janji, menorehkan prestasi, hingga dirinya disebut Generasi Muda nomor satu di Provinsi Chang Yuan.
Yan Jian bersama sembilan Generasi Muda perwakilan Provinsi Chang Yuan lainnya berangkat menuju Kota Kekaisaran, tempat Kompetisi terbesar di salah satu Kekaisaran Wilayah Timur. Namun di wilayah timur besar, Provinsi Chang Yuan di anggap sebagai debu berjalan, karena setiap kompetisi, provinsi Chang Yuan selalu menjadi yang terlemah dan selalu berada di peringkat paling rendah.
Mampukah Yan Jian bersama rekan-rekannya mengangkat dan mengharumkan Provinsi Chang Yuan di Kompetisi terbesar Kekaisaran Api Agung itu? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKT 2: Chapter 13
Malam itu berlalu dengan tenang di tepian sungai yang sepi, hanya ditemani gemericik air dan hembusan angin dingin yang membawa aroma tanah basah. Yao Qingyu mengucek matanya perlahan, tubuhnya masih terasa berat karena kelelahan. Cahaya pagi yang lembut mulai menyusup melalui celah-celah pepohonan, menciptakan pola keemasan di permukaan air.
Matanya langsung tertuju pada Yan Jian yang duduk diam di atas batu besar di pinggir sungai. Pria itu masih dalam posisi lotus, duduk dengan kedua kaki yang menyilang, tangan kanannya membentuk segel kultivasi, sementara tubuhnya dikelilingi oleh energi spiritual yang bercahaya keemasan, seperti matahari kecil yang sedang terbit di antara kabut pagi. Setiap hembusan nafas Yan Jian seolah menarik partikel-partikel spiritual dari udara, menyerapnya ke dalam meridiannya dengan ritme yang stabil dan kuat.
Yao Qingyu terdiam sejenak, terpesona. Dia tahu betapa berat tekanan yang dipikul Yan Jian akhir-akhir ini. Ranah Setengah Langkah Nirvana memang terbilang bukan manusia biasa lagi, dan cukup untuk bertahan dalam pertarungan biasa, tapi melawan Luo Xiang'er... wanita itu adalah monster yang sesungguhnya. Putri dari salah satu klan kuno terkuat di wilayah selatan Kekaisaran Api Agung, dengan warisan darah kuno dan teknik terlarang yang mampu merobek ruang itu sendiri. Satu pukulan darinya kemarin saja hampir membuat Yan Jian terluka parah, jika bukan karena intervensi mendadak dari artefak pelindung tua miliknya, mungkin nasib mereka sudah berbeda.
Dia bangkit pelan, berjalan mendekat tanpa suara agar tak mengganggu. Embun pagi menempel di ujung sepatunya, meninggalkan jejak basah di rerumputan. Saat semakin dekat, Yao Qingyu bisa merasakan getaran energi yang kental di udara, murni, padat, dan penuh vitalitas. Itu bukan energi spiritual biasa; ada sedikit aura primordial di dalamnya, seolah Yan Jian sedang menyedot esensi dari alam itu sendiri untuk memaksa terobosan.
"Yan Jian..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Tiba-tiba, cahaya keemasan di sekitar tubuh Yan Jian mulai berdenyut lebih cepat. Meridian di sekujur tubuhnya terlihat samar-samar menyala di bawah kulitnya, seperti sungai api yang mengalir. Yao Qingyu menahan napas, ini pertanda terobosan! Dia mundur beberapa langkah, memberi ruang, tapi matanya tak bisa lepas dari pemandangan itu.
Yan Jian membuka matanya perlahan. Pupilnya yang hitam pekat kini berkilau dengan titik cahaya emas kecil di tengahnya. Napasnya panjang dan dalam, lalu dia menghembuskan satu kali, kabut tipis keluar dari mulutnya, membawa aroma samar logam dan bunga liar.
Dia menoleh ke arah Yao Qingyu, senyum tipis muncul di bibirnya yang biasanya dingin.
"Kau sudah bangun," katanya dengan suara yang lebih dalam dari biasanya, seolah resonansi energi spiritual nya telah berubah. "Aku... berhasil menyentuh ambang Nirvana. Tinggal satu langkah lagi."
Yao Qingyu tersenyum lega, tapi ada kekhawatiran yang terselip di matanya. "Bagus. Tapi jangan terburu-buru. Luo Xiang'er pasti sudah tahu kelemahanmu kemarin. Jika dia datang lagi..."
Yan Jian berdiri, meregangkan tubuhnya. Aura di sekitarnya mereda, tapi kekuatannya jelas terasa lebih menekan daripada sebelumnya. Dia melangkah mendekat, menatap Yao Qingyu dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya.
"Aku tahu. Makanya aku harus lebih cepat lagi." Yan Jian membalikkan tubuhnya, membelakangi Yao Qingyu, namun tiba-tiba kembali membalikkan tubuhnya menghadap Yao Qingyu, "Oh, ya! Kemana tujuan Nona Qingyu selanjutnya?"
Yao Qingyu terdiam selama beberapa detik sebelum menjawabnya, "Aku... aku tidak tahu!" jawabnya, pandangannya tertuju pada dua tangannya yang di apit di depan perut.
"Baiklah, kalau begitu... mari bekerja sama!" ujar Yan Jian pelan. "Tapi kali ini, jangan bertarung sendirian lagi. Kita hadapi bersama." sambung Yan Jian, berbicara sembari menggantung segaris senyuman.
Yao Qingyu hanya mengangguk, senyumnya melebar sedikit, jarang sekali dia menunjukkan ekspresi seperti itu. Bersama, mereka melangkah menyusuri tepian sungai, meninggalkan jejak embun yang perlahan menguap di bawah sinar matahari pagi yang semakin terang.
Di kejauhan, angin membawa bisikan samar... seolah alam sendiri sedang menyaksikan langkah mereka menuju takdir yang lebih besar.
.
.
.
Dua minggu sudah berlalu. Yan Jian menjelajahi dunia gerbang api ini bersama Yao Qingyu. Hubungan mereka pun sudah semakin terjalin dan akrab, seperti rekan seperjuangan tanpa sedikit pun lagi rasa canggung.
Kini masing-masing dari mereka telah mendapatkan sepuluh Token Giok Api, setelah melewati berbagai rintangan dan pertarungan melawan peserta-peserta lain dan menaklukkan binatang monster yang ganas.
Dengan Yan Jian yang telah menyentuh ambang batas Ranah Nirvana, dan Yao Qingyu yang telah berada pada tingkatan Ranah Nirvana bintang dua... mereka dapat mengalahkan musuh-musuhnya dengan cukup mudah, selama kesenjangan tingkatan ranah praktisi yang mereka hadapi tidak terlalu jauh, dan ketika bertemu dengan praktisi tahap Kaisar Tempur... ada yang menyerahkan Token Giok Api mereka dengan cuma-cuma, ada juga yang memilih melarikan diri, tetapi dengan kecepatan Yan Jian, siapa yang bisa lepas dari genggamannya? Bahkan Luo Xiang'er pun tak mampu mengimbangi kecepatan yang dimiliki Yan Jian!
Kini, Yan Jian pun tiba di puncak gunung berapi, Puncak Gunung berapi itu menjulang tinggi ke langit, seperti raksasa yang tidur. Awan-awan tebal menyelimuti puncaknya, menciptakan kabut yang tebal dan misterius. Suara gemuruh gunung berapi terdengar seperti dentuman drum yang terus-menerus, membuat bumi bergetar.
Di atas puncak, terdapat sebuah platform batu yang luas, dikelilingi oleh dinding batu yang tinggi. Platform itu dipenuhi dengan asap tebal yang keluar dari dalam gunung berapi, membuat sulit untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Namun, jika seseorang berani memasuki kabut itu, mereka akan menemukan sebuah dunia yang berbeda.
Api unggun yang besar membakar di tengah platform, api yang berkobar dengan nyala yang tinggi. Di sekitar api unggun, terdapat beberapa patung batu yang menjulang tinggi, patung-patung yang menggambarkan dewa-dewa kuno yang memiliki kekuatan yang luar biasa.
Di atas salah satu patung, terdapat seorang pria yang duduk dengan mata tertutup, rambutnya yang panjang dan hitam berhembus di angin. Dia mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit ular, dengan sabuk yang terbuat dari tulang naga. Dia adalah seorang kultivator yang kuat, yang telah mencapai tingkatan ranah Nirvana Puncak bintang sembilan.
Di puncak gunung, di platform batu. Sudah ada lebih dari tiga puluh peserta yang berhasil mendaki gunung. Di antaranya, Luo Xiang'er, Wang Ziwei, An Lang, Zhang Feng, dan peserta-peserta lainnya.
Dari 99 peserta yang memasuki gerbang api kedua, hanya 30 peserta termasuk Yan Jian dan juga Yao Qingyu, yang berhasil mendaki ke puncak gunung. Tetapi... sistem kompetisi mengatakan bahwa yang akan lolos ke babak selanjutnya hanya berjumlah sepuluh orang dari setiap gerbang api.
Membuat suasana di puncak gunung menjadi semakin tegang. Mereka tentu harus saling bersaing dan bertarung lagi, saling merebut token giok api yang ada di peserta lain, hingga sepuluh peserta dengan token api terbanyak, akan lolos ke tahap selanjutnya.
Namun, ketika pria di atas patung itu melihat kedatangan Yan Jian, tiba-tiba dia terbang ke langit, melayang di langit, menatap Yan Jian dengan aura membunuh yang begitu kuat.
Pria itu berbicara, "Yan Jian..." katanya, dengan suara yang sangat dingin. Dan Yan Jian pun mengangkat tinggi kepalanya, menatap serius terhadap pria itu.
Bahkan, ketika Luo Xiang'er mendengar ucapan pria itu, pandangannya seketika terfokuskan kepada Yan Jian yang berdiri bersisian dengan Yao Qingyu.
"Aku sudah lama menunggumu dan... hari ini, adalah hari kematianmu!" kata pria itu lagi.