Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Pertama
Rick terpaku.
Gadis muda itu menyelipkan paket itu cepat ke saku, menoleh ke sekitar, lalu berjalan pergi seperti tidak terjadi apa-apa.
Rick merasakan dada sesak. Tapi di balik sesak itu, ada sesuatu yang berubah di hati yaitu muncul: kelegaan.
Karena otaknya langsung menyusun potongan-potongan:
Pertanyaan manajer kafe kemarin: “Pernah dapat penerima yang jadi penyalur narkoba?”
Ia menanyakan itu bukan untuk basa-basi.
Itu filter.
Itu petunjuk.
Dan sekarang, Rick melihat jawabannya di depan mata.
Gadis 17 tahun itu… penyalur.
Rick menutup mata sebentar. Ada rasa bersalah yang tadi menjerit… mengecil. Tidak hilang, tapi berubah bentuk: dari “membunuh anak” menjadi “menghentikan penyalur”.
Ini memberikan sedikit kelegaan.
Ia tidak bangga pada pikirannya sendiri.
Tapi ia tahu: di dunia ini, manusia sering butuh alasan agar tangan bisa bergerak. Agar ada alasan untuk tangan yang kotor.
Gadis itu menatap ponsel sebentar lagi, lalu—seperti jam yang sudah diatur, ia berbalik menuju lift.
Dada Rick seperti genderang perang.
Ini waktunya atau tidak sama sekali. Ini saat bertindak untuk menentukan siapa dirimu. Fred Tucker atau Rick Nolan. Lewat satu menit maka lewat juga kesempatan menjadi Rick Nolan.
Rick menegakkan punggung. Seolah menyikapi keputusan yang di ambil. Keputusan tepat Paling tidak untuk saat ini.
Ia berdiri pelan, meninggalkan gelasnya, dan mengikuti dari jarak aman.
"Tenang."
"Tenang."
"Tenang."
Seolah Rick sedang memerintah hatinya.
Tuk... tuk... tuk...
Bunyi irama ketukan sepatu dari gadis itu seperti irama menakutkan dari film horor.
Lift terbuka. Gadis itu masuk.
Rick ikut masuk, menunduk sedikit di bawah topi koboi. Tubuhnya masih gemetar yang ditahan.
Di dalam lift ada tiga orang: gadis itu, seorang pria tua, dan seorang wanita yang sibuk dengan tas belanja. Rick menahan napas, membiarkan tubuhnya tampak santai, atau agar kelihatan santai. Ini hanya sekadar tamu lain.
Gadis itu menoleh pada Rick. Wajah tak berdosa.
Matanya menyapu setelan jas Rick. Tubuh Rick yang sekarang lebih atletis. Wajah Rick yang tampan karena disiplin dan ketegasan baru. Ada ketertarikan disana.
Lalu gadis itu tersenyum, senyum menggoda, muda, percaya diri, seolah ia terbiasa membuat orang memandang. Itu senyuman mengundang.
Rick tidak membalas senyum.
Hanya hati Rick memberi komentar, "Ia tertarik padaku. "
Wanita tua juga sempat melirik, tersenyum ramah, bukan menggoda, bukan mengundang, hanya mengaggumi masa muda yang telah ia lewatkan.
Senyum yang sama tapi memiliki arti yang berbeda.
Rick hanya melirik cepat ke sudut lift: CCTV kecil di atas panel. Rick Terlihat santai tapi otaknya sedang bekerja keras. Tangannya berkeringat
Mercer pernah mengajarkan: kamera itu bukan musuh. Kamera itu penonton. Kamu hanya tidak boleh terlihat seperti pelaku.
Rick menatap panel lantai.
Pria tua menekan tombol 13.
Gadis menekan tombol 16.
Wanita tua di lantai 21
Rick menekan tombol 15—bukan karena tujuan, tapi karena ia butuh satu ruang di antara target. Satu jeda. Satu kesempatan.
Lift naik.
Detik terasa panjang. Setiap gerakan dalam lift seperti tuduhan menghakimi.
Rick merasakan keringat dingin di punggung, meski udara lift hangat. Jantungnya memukul cepat, bukan karena takut tertangkap, tapi karena ia tahu setelah ini, tidak ada jalan kembali. Dan selamanya akan menjadi Rick Nolan. Ini adalah sebuah keputusan. Rick berkali-kali meyakinkan dirinya.
Lift berhenti di lantai 13. Pria tua keluar, pintu menutup lagi.
Sekarang tinggal tiga: Rick, gadis, dan wanita dengan tas belanja.
Rick menunggu. Jari telunjuk mengetuk pahanya seakan mengejar waktu.
Lift bergerak lagi, dan akhirnya berhenti di lantai 15.
Pintu terbuka.
Rick melangkah keluar.
Dan dalam sepersekian detik terakhir sebelum pintu menutup, tangan Rick bergerak cepat, terlalu cepat untuk mata biasa, terlalu kecil untuk tampak jelas di kamera, tapi cukup untuk membuat sesuatu berubah selamanya.
Gadis itu tersentak.
Wajahnya berubah dari menggoda menjadi bingung, lalu panik.
Tangannya refleks turun ke perut, menekan seolah ada rasa sakit yang datang tiba-tiba dan tajam.
Ia jatuh tergeletak di lantai lift saat pintu mulai menutup—tubuhnya meringkuk, mata membesar, napasnya mendadak kacau.
Wanita dengan tas belanja menjerit.
Pintu lift menutup rapat.
Rick berdiri di koridor lantai 15, punggungnya menghadap pintu lift yang baru saja menelan kekacauan. Perutnya terasa mual.
Ia menatap karpet hotel yang bersih.
Tangannya dingin.
Wajahnya kosong.
Topi koboi menutupi mata, tapi tidak bisa menutupi satu hal: ada sesuatu di dalam dirinya yang baru saja patah, dan sekaligus mengeras. Perubahan jati diri. Seperti ular yang meninggalkan kulit lama dan menggantikan dengan kulit baru. Kulit Rick Nolan.
Ia berjalan pelan menyusuri koridor, mencari tangga darurat—jalan keluar yang Mercer selalu sebut “lebih aman daripada lift”.
Di belakangnya, alarm belum berbunyi. Tapi itu hanya soal waktu.
Rick tidak menoleh.
Karena orang yang menoleh terlalu sering terlihat bersalah.
Jalur keluar hotel terasa panjang atau tangga terasa lebih banyak atau lantai terasa lebih tinggi.
Di kepalanya, satu kalimat berulang:
Aku sudah jadi pemain.
Keluar di lobby, Rick masih terlihat tenang meski kaki sedang gemetar. Suara tawa, suara piring beradu dengan sendok, suara bahagia... Semua suara seperti terdengar sangat jelas. Rick menunggu suara lain namun tidak mengharapkan. Suara yang berteriak, "Freeze."
Akhirnya keluar dari hotel. Setengah beban terasa terangkat.
Saat itu juga, Rick Nolan naik taksi. Tadi berjalan biasa tapi sedikit beban terangkat lagi.
Ia duduk di kursi belakang dengan punggung tegak, topi koboi masih menutupi sebagian wajahnya. Dari luar, ia tampak seperti turis aneh atau pria yang ingin terlihat keren. Dari dalam, ia merasa seperti orang yang baru saja menyeberang garis yang tidak bisa dihapus.
“Ke mana, Monsieur?” tanya sopir.
Rick menyebut alamat tanpa ragu. Sebuah Cafe yang ia tahu Ia butuh tempat menenangkan diri sebelum sampai ke stasiun. Ia mau tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Atau Rick takut jika langsung ke stasiun ternyata ada seragam polisi yang telah menunggunya.
Rick meyakinkan diri bahwa semua pemula akan mengalami hal yang serupa.
Paris adalah daerah yang ia kenal. Ia perlu mencari angin sebentar.
Bukan karena “misi”telah selesai, melainkan karena jantungnya terus memburu dan memori lama dapat menenangkan jantung.
Jalan-jalan Prancis yang dulu ia lewati sebagai mahasiswa. Tempat-tempat kecil yang dulu terasa biasa, sebelum kata “kontrak” menjadi bagian hidupnya.
Rick meminta ijin untuk membuka jendela dan merokok tapi sopir melarangnya. Rick tahu hukum tapi entah kenapa ia seperti orang bodoh.
Mungkin karena Rick mencoba untuk menghilangkan wajah gadis itu dari kepadanya. Wajah yang selalu muncul.