Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Axlyn mengangguk pelan, meski di dalam hatinya ia tahu dunia yang ia pijak tidak pernah mudah melepaskan orang-orang yang telah terlalu lama hidup di dalamnya. Namun setidaknya, kali ini ia tidak akan berjalan sendirian. Ada kakaknya dan juga kedua anaknya yang tidak akan lama lagi ikut mewarnai hidupnya yang sempat kelabu.
...****************...
Malam itu, di kamarnya, Axlyn berdiri di depan jendela, menatap langit yang asing namun menjanjikan. Ia berbicara pelan, seolah dua detak kecil di dalam dirinya bisa mendengar. Ia baru saja selesai berdebat dengan kakaknya, karena mengambil keputusan tanpa memikirkan resikonya.
Jelas Sherin marah, karena Axlyn tetap memilih bertugas sebagai pengawal padahal dirinya sedang hamil dua anak kembar sekaligus. Memintanya membatalkan tugas itu, tapi Axlyn keras kepala dan malah menyakinkan dirinya bahwa durasi tugasnya hanya tiga bulan dan selama itu Axlyn berjanji akan menjaga dirinya dan juga anak dalam kandungannya sebaik mungkin.
“Kita akan pergi bekerja sebentar ‘yah, Sayang?” bisiknya. “Hanya tiga bulan saja Mama membawa kalian ikut bekerja, setelah itu Mama hanya akan fokus menjaga kalian dengan baik."
...****************...
Hujan turun tipis di balik dinding kaca gedung tertinggi di pusat kota, BLOUSHZE Group. Kilat sesekali menyambar, memantulkan bayangan dua pria yang berdiri saling berhadapan di dalam ruangan yang diterangi lampu gantung kristal.
Kay tidak duduk. Ia berdiri tegak, kedua tangan di saku mantel panjangnya. Sorot matanya tajam, membaca situasi sebelum satu kata pun diucapkan. Di hadapannya, Spencer Carmichael Gustavo—sahabatnya tampak berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Bukan lagi pria santai yang selalu selangkah lebih cepat dari bahaya, melainkan pewaris dua klan mafia besar yang sedang terdesak.
“Aku dengar kau sedang berusaha mencari seseorang? Bagaimana kalau aku bantu?” ujar Spencer memulai pembicaraan.
“Jangan membuang waktu? Katakan saja apa tujuan dari kedatanganmu ini, hmm?” Kay tidak ingin basa basi lagi, ia sudah cukup pusing di desak oleh keluarganya untuk segera menemukan keberadaan wanita malam itu yang sampai detik ini belum juga mendapatkan jejaknya.
“Aku tidak akan membuang waktumu lagi,” ujar Spencer akhirnya, suaranya berat. “Klan milikku sedang retak dari dalam.”
Kay mengangkat alis tipis. “Retak… atau sudah dihancurkan?”
Spencer tersenyum hambar. Ia menekan remote, dan layar besar menyala. Grafik keuangan merosot tajam. Beberapa cabang bisnis utama seperti pelabuhan, ekspor logistik, perusahaan konstruksi tiba-tiba mengalami kerugian besar. Di sisi lain layar, foto-foto orang dengan tanda silang merah terpampang.
“Pengkhianat? Seorang Spencer Carmichael Gustavo masih berani dikhianati? Cari mati.” Kata Kay dengan senyum tipis sedikit meremehkan. Sebab ia tahu persis bagaimana sifat dan kelakuan sahabatnya itu.
“Bukan orangku, tapi tiga orang kepercayaan ayahku,” jawab Spencer datar. “Mereka bersekutu dengan keluarga rival. Jalur distribusi senjata kami dibocorkan. Dua gudang disita. Dan saham perusahaan legal kita dijatuhkan lewat permainan kotor.”
Kay melangkah mendekat, memperhatikan data dengan tenang. “Kau kehilangan kendali keuangan dan kendali internal sekaligus.”
“Karena itulah ayahku terbaring sakit sekarang,” lanjut Spencer pelan. “Aku sudah membawanya ke tempat Kak Zhea untuk dirawat secara intensive bersama ibuku dengan alasan liburan. Namun jika berita ini tersebar, mereka akan bergerak cepat untuk merebut wilayah.”
Hening menggantung di antara mereka. Kay masih memperhatikan semua data yang Spencer perlihatkan. Memang rumit dan sangat beresiko, karena tidak hanya klan mafianya saja yang bermasalah tetapi juga perusahaan utama ikut terseret dalam masalah tersebut. Jelas Spencer akan kesulitan untuk mengurus semuanya sendirian, meski ada anak buahnya yang bisa ia andalkan.
“Aku butuh seseorang yang bisa memisahkan urusan bisnis dari emosi klan,” kata Spencer kemudian. “Seseorang yang cukup dingin untuk memotong anggota tubuh yang terinfeksi tanpa ragu.”
Tatapan Kay beralih padanya. “Dan kau pikir aku orangnya?”
Spencer tersenyum tipis. “Kau selalu orangnya.”
Kay terkekeh pelan, tanpa humor. “Mengurus perusahaan multinasional berbeda dengan mengurus keluarga mafia yang siap saling bunuh.”
“Kau pernah hidup di dalamnya,” balas Spencer tajam. “Kau hanya memilih keluar. Lagi kau hanya perlu membantu masalah perusahaan, sementara masalah klan aku sendiri yang akan menanganinya secara langsung.”
Kata-kata itu tidak memancing emosi. Kay tetap tenang. “Apa tepatnya yang kau minta?”
Spencer berjalan mendekat. “Aku ingin kau mengambil alih manajemen bisnis legal kami. Audit semuanya. Bekukan aset yang mencurigakan. Bersihkan jalur keuangan.”
“Dan urusan klan?”
“Kau hanya perlu bantu aku menyusun ulang struktur kekuasaan di perusahaan. Kita identifikasi siapa yang masih loyal, siapa yang harus disingkirkan.”
Kay menatap hujan di luar jendela. Urusan mencari keberadaan wanita yang kemungkinan sedang mengandung anaknya belum menemukan titik terang. Kini ia malah harus membereskan masalah orang lain, mengabaikan masalahnya sendiri yang entah kapan bisa terselesaikan. Mungkin jika saja wanita itu muncul dan meminta pertanggungjawaban, maka semuanya akan selesai dengan mudah.
“Aku tidak datang untuk kunjungan singkat, Spencer,” katanya pelan. “Jika aku terlibat, aku tidak akan setengah-setengah. Dan aku perlu ijin dari Papahku dan juga Grandpa untuk membantumu.”
“Itu sebabnya aku memintamu tinggal. Dan kau tenang saja, aku sudah membicarakan tentang permintaanku ini kepada Papah Luca dan Grandpa, mereka telah mengijinkan karena itulah aku bisa menemuimu sekarang,” jelasnya. Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
“Tinggal?” ulang Kay.
“Minimal tiga sampai empat bulan. Mungkin lebih. Sampai semuanya stabil. Kau akan punya otoritas penuh atas divisi bisnis. Dan dalam urusan klan… aku mungkin hanya akan meminta beberapa saranmu untuk mengambil keputusan.”
Kay menoleh perlahan. “Kau sadar artinya?”
Spencer mengangguk. “Artinya kau kemungkinan besar juga menjadi target bersama denganku.”
Hujan semakin deras. Beberapa detik terasa seperti menit. Kay memejamkan mata sejenak, menimbang berbagai hal. “Baiklah,” ucapnya akhirnya.
Spencer terdiam, seolah tak yakin ia mendengar dengan benar. Karena jujur saja, permintaannya kali ini cukup berat dan berbahaya. Ia saja kewalahan menghadapi masalah ini sendirian, sehingga meminta bantuan kepada keluarga Xavier.
“Aku akan tinggal di Negara B,” lanjut Kay. “Aku akan terbang besok dan aku akan langsung ambil alih keuangan begitu tiba. Tapi satu hal—”
“Apa?”
“Aku tidak akan ragu menjatuhkan siapa pun. Termasuk orang yang kau anggap keluarga.”
Spencer menatapnya lurus. “Itulah yang aku butuhkan.”
Kay meraih jasnya. “Siapkan daftar seluruh pemegang saham, kepala divisi, dan kepala wilayah klan. Begitu aku tiba, aku ingin semua berkas itu sudah ada di ruanganku.”
“Kau tidak ingin istirahat dulu? Beberapa hari mungkin?”
Kay tersenyum tipis. “Masalahmu sudah terlalu lama dibiarkan bernapas. Dan juga aku butuh pelampiasan rasa frutasiku selama beberapa bulan ini. Hueek … sial, aku tidak tahan lagi melihat wajahmu.”
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌