NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 16) Dio dan harinya

Pagi merambat pelan di atas langit Jakarta. Jalanan mulai dipenuhi kendaraan, klakson bersahutan, dan udara yang masih menyimpan sisa embun dini hari perlahan berubah hangat.

Di tengah pusat bisnis ibu kota itu berdiri gedung megah bertingkat empat puluh dua, berlapis kaca biru gelap yang memantulkan langit pagi. Logo perusahaan terpampang gagah di bagian atasnya: Miu Corp.

Dio berdiri di lobi gedung itu dengan jas sederhana berwarna abu-abu tua. Tangannya menggenggam map cokelat berisi berkas-berkas lamaran, walau kini map itu sudah tak lagi diperlukan. Wawancara telah usai.

Namun detak jantungnya belum sepenuhnya tenang.

Beberapa menit sebelumnya, ia duduk tegak di hadapan dua orang HRD di ruangan berpendingin udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur, tajam dan terstruktur.

"Kenapa Anda ingin bergabung dengan Miu Corp, Pak Dio?" tanya salah satu pewawancara dengan kacamata tipis yang bertengger di hidungnya.

Dio menarik napas dalam. "Saya ingin berkembang, Pak. Saya percaya perusahaan ini bukan hanya mencari karyawan, tetapi membentuk profesional yang berdampak. Saya ingin menjadi bagian dari itu."

Jawabannya mengalir. Awalnya gemetar, lalu stabil. Kata demi kata tersusun rapi. Ia menjawab dengan logika, pengalaman, dan keyakinan.

Ketika wawancara selesai, salah satu HRD mengangguk kecil. "Kami akan menghubungi Anda secepatnya."

Kalimat standar yang bisa berarti apa saja.

Dan kini, Dio melangkah keluar dari ruangan HRD dengan perasaan campur aduk.

Di lorong yang menghadap ke jendela besar, seseorang berdiri menunggunya. Gadis berambut pendek itu mengenakan blouse krem dan rok hitam selutut. Senyumnya langsung merekah begitu melihat Dio.

"Aini?"

Gadis itu mengangkat tangan kecilnya, melambaikan ringan. "Hai, Kak Dio. Bagaimana? sudah selesai?"

Dio mengangguk pelan. "Iya, baru saja."

Aini memiringkan kepala. "Kalau begitu... Ngopi yuk, biar rileks. Wajah Kak Dio masih tegang tuh."

Dio sempat ragu sejenak. Tetapi, aroma kopi hangat dan obrolan ringan terdengar jauh lebih menyenangkan, daripada langsung pulang dengan pikiran berisik.

"Yasudah. Ayo."

Keduanya berjalan keluar gedung. Deru kendaraan makin padat. Di seberang jalan, terdapat sebuah kafe kecil yang tersembunyi di antara dua gedung besar.

Tempat itu bukan kafe mewah. Justru kesederhanaannya yang membuatnya nyaman.

Begitu pintu kaca dibuka, aroma kopi arabika menyeruak, berpadu dengan wangi kayu dari interior minimalis yang hangat.

"Kak, kita ngopi di sini saja ya. Aku sering ke sini." Ucap Aini.

Dio duduk perlahan. Matanya menyapu ruangan.

"Ini tempat yang sering aku kunjungi sama Laila, kak." Ujar Aini, "ya walaupun dianya tidak bakal memesan kopi, melainkan minuman manis."

Aini tersenyum pahit, ekspresinya murung, sedih karena mengingat kebersamaannya dengan sahabatnya Laila, yang kini sudah tidak menjadi bagian dari partner kerjanya.

Hening singkat menggantung di antara mereka.

Seorang barista datang mencatat pesanan.

"Cappuccino satu, kalau kakak?" Aini menatap Dio.

"Americano." Sahut Dio mantap.

Setelah pesanan datang, Aini menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jadi, Kak… gimana perasaan Kak Dio sekarang?"

Dio memandangi cangkir kopinya. Uap tipis menari di udara. "Campur aduk. Antara takut, berharap, cemas… semuanya jadi satu."

"Tapi aku yakin kok, hasilnya akan sesuai dengan yang diharapkan..." kata Aini.

Dio tertawa kecil, meski jauh di dalam hatinya badai belum sepenuhnya reda. "Mudah-mudahan, ya. Karena aku sangat membutuhkan pekerjaan ini."

Di saat yang sama, kembali ke lantai atas gedung Miu Corp, pintu ruang HRD kembali terbuka.

Sepatu hak tinggi berwarna hitam mengilap melangkah masuk. Langkahnya tegas, terukur, penuh wibawa.

Bella.

CEO muda Miu Corp itu mengenakan blazer putih bersih dengan potongan elegan. Rambutnya tergerai rapi. Tatapannya tajam seperti elang.

"Pagi," ucapnya singkat.

Kedua staf HRD langsung berdiri. "Pagi, Bu Bella."

Bella berjalan mendekati meja, matanya menyapu tumpukan berkas lamaran. "Hari ini interview posisi creative content creator, ya?"

"Iya, Bu."

Bella mengangguk pelan. Ia memang tak selalu turun tangan dalam proses seleksi. Tapi hari ini, entah kenapa, ia merasa ingin melihat langsung.

"Boleh lihat daftar pelamarnya?"

Salah satu staf menyerahkan tablet berisi data.

Bella menelusuri satu per satu nama yang tertera di layar. Hingga jemarinya berhenti.

Dio Hardi.

Alisnya sedikit terangkat. "Dio Hardi…" gumamnya pelan.

Nama itu terasa familiar.

Matanya turun ke bagian data pribadi. Status: menikah. Nama pasangan: Laila Cakrawala.

Sekejap, ingatan Bella melesat.

Laila.

Mantan karyawan yang pernah bekerja di perusahaan ini. Wanita yang memilih resign dengan alasan pribadi. Seorang istri yang rela mengorbankan dirinya untuk menebus biaya operasi suaminya sebesar 500 juta kepada David Mendoza, sang penguasa Sao Paulo sekaligus investor asing di Miu Corp.

Bella mengerutkan kening. Ia membuka foto yang terlampir. Wajah Dio muncul di layar. Tatapan mata yang teduh. Rahang tegas. Ekspresi profesional.

Bella terdiam beberapa detik. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat. Sebuah senyum misterius.

"Bagaimana hasil interviewnya?" tanya Bella tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Secara kemampuan cukup baik, Bu. Jawabannya sistematis. Percaya diri. Hanya saja, kami masih mempertimbangkan beberapa kandidat lain."

Bella mengangkat jemarinya, menunjuk foto Dio di layar tablet. "Langsung loloskan saja orang ini."

Kedua staf HRD terkejut. "Loh, Bu? Kita kan, masih..."

Bella melesatkan tatapan tajam, yang cukup untuk membuat omongan itu terhenti di tenggorokan. "Saya bilang, loloskan."

Nada suaranya datar. Namun perintahnya mutlak.

"Baik, Bu Bella."

Bella mengangguk tipis. Ia menyerahkan kembali tablet itu, lalu berbalik menuju pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti sejenak.

"Oh, ya. Satu lagi," ujarnya tanpa menoleh. " "Jangan sebutkan bahwa saya yang memintanya."

"Baik, Bu."

Pintu tertutup.

Di lorong, Bella berjalan dengan langkah tenang. Tetapi pikirannya bergerak cepat.

Dio Hardi. Suami Laila.

"Takdir kadang memang suka mempermainkan manusia," batinnya. "Jika pria itu bekerja di sini… sesuatu yang menarik pasti akan terjadi."

*********

Langit senja menggantung redup di atas kota Jakarta, ketika Dio turun dari ojek online yang mengantarnya pulang. Helm hitam yang sejak tadi menekan rambutnya dilepas perlahan. Ia menyerahkannya pada pengemudi, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet yang mulai menipis.

"Terima kasih, Bang," ucap Dio singkat.

Pengemudi itu mengangguk, lalu melaju pergi, menyisakan suara knalpot yang menjauh dan aroma aspal panas.

Dio berdiri beberapa saat di depan rumah kecilnya. Cat temboknya sudah mulai mengelupas di beberapa sudut, pagar besinya berdecit tiap kali disentuh angin. Rumah itu bahkan terlalu sederhana untuk ukuran kota yang semakin bising oleh ambisi. Namun, di sanalah ia dan Laila pernah membangun mimpi.

"Kalau misalnya keterima kerja, aku mau renov rumah dikit-dikit lah..." batinnya.

Ia menghela napas panjang. Interview di Miu Corp siang tadi masih berputar di kepalanya.

"Semoga hasilnya sesuai ekspektasi," gumamnya lirih.

Ia melangkah ke teras. Tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti.

Sepasang sepatu kulit hitam mengilap tergeletak rapi di sudut teras. Modelnya formal, mahal, jelas bukan miliknya. Dio menatapnya lama. Dadanya mendadak sesak oleh firasat yang tak bisa dijelaskan.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Dengan langkah cepat, Dio membuka pintu.

Cekritttt.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!