Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - DUA BELATI DI BAWAH BULAN SABIT
Langkah Kaelan terhenti di sebuah jembatan gantung yang membentang di atas Jurang Tengkorak. Kabut di sini tidak berasal dari alam; itu adalah kabut yang mengandung bubuk logam ringan, dirancang untuk mengacaukan indra sensorik. Di tengah jembatan, bayangan Arkhon yang ia lacak tiba-tiba menghilang dari jangkauan Domain Kesunyian miliknya.
Bukan karena Arkhon menghilang, tapi karena ada "keheningan" lain yang memotong sinyalnya.
"Keluar," bisik Kaelan. Tangannya tidak menuju belati, melainkan membentuk pola Sutra Rembulan di sela jemarinya.
Dari atas tali pancang jembatan, seorang pria meluncur turun dengan anggun. Ia mengenakan jubah abu-abu kusam yang seolah-olah menyerap cahaya bulan. Di pinggangnya melingkar sebilah pedang lentur (urumi) yang tipis seperti pita logam. Wajahnya tertutup topeng setengah bagian bawah, namun matanya yang tajam seperti elang menunjukkan pengalaman tempur yang luar biasa.
"Satu lagi anjing dari Aliansi?" tanya Kaelan, suaranya sedingin es di dasar jurang.
Pria itu terkekeh, suara yang terdengar seperti logam beradu. "Aliansi? Aku lebih suka menganggap diriku sebagai penagih hutang. Namaku Hanzo, dari Klan Bayangan Jatuh. Dan pria pengecut bernama Arkhon itu membawa lari sesuatu yang menjadi milik majikanku."
Kaelan menyipitkan matanya. Hanzo bukan pembunuh biasa. Hawa keberadaannya sangat tipis, hampir setara dengan kemampuan Kaelan. Jika mereka bertarung di sini, jembatan ini akan runtuh sebelum salah satu dari mereka tewas.
"Arkhon milikku," ucap Kaelan tegas. "Dia berhutang banyak nyawa padaku."
"Hutang darah bisa dibayar nanti. Aku butuh kepalanya untuk membawa 'Cip Memori' yang tertanam di otaknya," Hanzo menarik pedang lenturnya. Pita logam itu bergetar di udara, mengeluarkan suara berdenging yang menyakitkan telinga. "Bagaimana kalau kita buat kesepakatan, Rambut Putih? Kau ambil nyawanya, aku ambil kepalanya."
Tiba-tiba, suara tembakan senjata rahasia meletus dari ujung jembatan. Bukan dari Kaelan atau Hanzo, melainkan dari pasukan pengawal Arkhon yang telah memasang jebakan. Arkhon ternyata tidak melarikan diri sendirian; ia telah memanggil Pasukan Eksekusi Sayap Hitam.
"Sepertinya kita tidak punya waktu untuk bernegosiasi," Hanzo bersalto di udara, memutar pedang lenturnya seperti baling-baling maut untuk menangkis hujan anak panah beracun.
Kaelan mendengus. Ia melesat maju, melewati Hanzo dengan kecepatan yang menciptakan ledakan udara dingin. "Jangan menghalangi jalanku."
Kaelan melepaskan Teknik Bulan Dingin: Hujan Jarum Beku.
Jarum-jarum es tercipta dari kabut logam di udara, melesat ke arah para penembak tersembunyi. Sementara itu, Hanzo bergerak di sisi lain jembatan, pedang lenturnya memanjang dan meliuk seperti ular, memenggal tiga penjaga sekaligus dalam satu ayunan melingkar.
Kedua pembunuh itu bertarung secara berdampingan tanpa rencana, namun gerakan mereka saling melengkapi. Kaelan membekukan lawan, sementara Hanzo menyelesaikannya dengan tebasan cepat.
"Kau punya bakat, Nak!" teriak Hanzo di tengah dentuman logam. "Tapi Arkhon sudah menyeberang ke Benteng Sayap Hitam di seberang jurang. Itu wilayah bunuh diri!"
Kaelan menatap gerbang benteng baja yang mulai tertutup di kejauhan. "Bagiku, seluruh dunia ini adalah wilayah bunuh diri."
Kaelan melompat dari tepi jembatan, menggunakan Benang Perajut Jiwa untuk berayun di bawah struktur jembatan dan meluncur ke arah benteng dengan kecepatan gila. Hanzo melihat itu dengan mata terbelalak, lalu tersenyum di balik topengnya.
"Gila. Aku suka itu."
Hanzo mengikuti, menggunakan alat pengaitnya. Dua pembunuh paling berbahaya di wilayah itu kini menyerbu benteng Aliansi secara bersamaan, menciptakan aliansi maut yang tidak pernah diduga oleh Dr. Arkhon.