NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Istri Kekanakan

"Mas Prabu..."

Bosan, sungguh bosan sekali Kharisma diam dalam posisi yang sama nyaris tiga jam lamanya. Dia tidak bisa bergerak, tidak saat ia duduk di pangkuan Prabujangga dan dengan tangan laki-laki itu yang menahan pinggangnya erat-erat.

Kharisma cemberut lesu, dagunya bertumpu pada kepala Prabujangga yang bersandar di lehernya.

Bahkan setelah berusaha di bangunkan, Prabujangga sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

Kharisma terdiam sejenak, tangannya mengelus-elus bagian belakang leher Prabujangga dengan gerakan malas. Apa yang bisa ia lakukan di posisi seperti ini?

"Mas..." Kharisma mencoba sekali lagi, kali ini menepuk-nepuk pundak Prabujangga.

"Hm..."

Raut tidak berdaya Kharisma seketika berubah saat mendengar gumaman Prabujangga.

"Mas Prabu sudah bangun?"

"Hm..."

Kharisma berdecak. "Bangun, nanti tidurnya di rumah saja apa tidak bisa? Aku pegal sekali kalau seperti ini."

Kharisma kembali menepuk-nepuk punggung Prabujangga. Membuat sang empunya berdecak kesal dan justru semakin menekan wajahnya ke leher Kharisma untuk menghindar.

"Saya mengantuk, apa tidak bisa berhenti menganggu?" protesnya, dengan nada serak yang membuat Kharisma hampir tidak mengerti apa yang dia ucapkan.

"Mas Prabu sudah tidur selama tiga jam," ujar Kharisma, tidak lupa dengan helaan napasnya. "Kalau tidur di rumah nanti kan bisa."

"Saya hanya tidur tiga jam, dan manusia normalnya tidur selama delapan jam," balas Prabujangga, tetap tidak bergerak untuk melepaskan Kharisma. "Masih ada lima jam lagi."

Kharisma melotot.

Lima jam? Sungguh?

"Maksud Mas, aku harus seperti ini sampai lima jam lagi?" ulangnya tak terima, berusaha menarik-narik kepala Prabujangga yang dengan sangat menjengkelkan tidak mau meninggalkan lehernya. "Ini pegal sekali, Mas..."

"Lima menit lagi."

Tapi Prabujangga kembali menawar.

Lantas apa yang Kharisma bisa lakukan jika seperti ini? Alhasil, dia hanya melengos dan menyerah.

Tangan Kharisma bergerak untuk mengelus rambut Prabujangga yang mulai acak-acakan, menyusuri helaian-helaian hitam lembut yang entah kenapa sangat harum di hidungnya.

"Rambut Mas halus sekali ya..." gumam Kharisma tiba-tiba, menempelkan hidungnya di rambut Prabujangga.

Aroma menenangkan—yang sangat tidak Prabujangga—langsung menyerang penciuman Kharisma. Dia memejamkan mata sejenak, menikmati aroma itu setidaknya sampai lima menit ke depan.

Entah kenapa jika seperti ini, Prabujangga jadi tidak begitu menyeramkan.

"Sudah lima menit," Kharisma mengingatkan, sedikit menjauhkan diri untuk mengamati apakah Prabujangga sudah membuka matanya.

Tapi nyatanya tidak, Prabujangga justru terlihat lebih nyenyak dari sebelumnya. Laki-laki itu memejamkan mata, napasnya lebih stabil, ditambah lagi dengan bibirnya yang sedikit terbuka dan menyentuh kulit Kharisma.

Kharisma berdecak, menjadi kesal sendiri dengan Prabujangga.

Otaknya tidak berpikir saat dia mendekatkan wajah, lalu mendaratkan kecupan di bibir laki-laki itu.

Alis Prabujangga berkerut.

"Bangun, Mas..."

Kharisma hendak mendaratkan kecupan kedua, merasa bahwa gangguan itu cukup untuk membangunkan Prabujangga. Tapi tanpa diduga-duga, laki-laki itu membuka matanya dan langsung menyapu bibir Kharisma dengan lumatan.

Napasnya tertahan di tenggorokan, tangan Kharisma seketika meremat kemeja Prabujangga saat kursi berputar, membelakangi pintu yang bisa terbuka kapan saja.

"Mas..."

Kharisma terengah-engah, lenguhan lolos dari bibirnya saat merasakan lidah Prabujangga melesat menyusuri mulutnya. Gerakan laki-laki itu tidak seperti seseorang yang beberapa saat lalu mengeluh masih mengantuk.

Tangan Prabujangga menahan erat tengkuk Kharisma, tidak menghiraukan wajah istrinya yang berubah merah karena kekurangan udara. Dia terus menyerang, melahap bibir mungil itu dengan dendam yang terpendam setelah penolakan kemarin malam.

Ciuman itu terlepas, memberikan kesempatan bagi Kharisma meraup udara dengan rakus. Namun sensasi ciuman itu turun, bibir Prabujangga mendaratkan ciuman-ciuman ringan di sepanjang garis rahang hingga ke lehernya.

"Ternyata kamu tidak sepolos yang saya kira."

Prabujangga menghentikan kegiatannya, memandangi Kharisma yang masih terengah-engah karena ulahnya. Bibir perempuan itu bengkak, namun masih beruntung karena Prabujangga tidak memutuskan untuk membuat tanda-tanda kepemilikan di kulitnya yang mulus.

"Siapa yang mengajarimu seperti itu? Menggoda dan mencium lebih dulu?" tanya Prabujangga, mengangkat pinggang Kharisma dari pangkuannya.

Kharisma sedikit terhuyung-huyung, menyesuaikan keseimbangan pada kedua kakinya yang menapak di marmer. Kepalanya masih berputar-putar karena kurangnya pasokan udara setelah ciuman.

"Memangnya kalau mencium itu artinya menggoda?" gerutu Kharisma, mengusap-usap bibirnya dengan kesal. "Kalau begitu, artinya Mas Prabu lebih sering menggodaku. Kan biasanya Mas yang selalu mencium lebih dulu."

Prabujangga menaikan alis, tangannya merapikan kemeja yang berubah kusut di tubuhnya. "Apa yang saya lakukan jelas bukan menggoda," ucapnya membenahi. "Yang saya lakukan jelas karena keterpaksaan. Berbeda denganmu yang memang ingin."

Prabujangga bangkit dari tempat duduknya, sementara Kharisma masih menggerutu kesal karena ciuman yang tiba-tiba. Beruntunglah dia masih bisa bernapas.

"Oh, jadi kalau malam-malam Mas menciumku itu karena terpaksa, ya? Karena ingin bayi itu?" Kharisma memasang tampang merajuknya lagi. "Kalau begitu aku tidak mau kalau dicium-cium lagi," imbuhnya, jelas semakin kesal dengan Prabujangga yang selalu menekankan bahwa yang dia lakukan pada Kharisma seluruhnya adalah pura-pura.

Kharisma dengan langkah terhentak-hentak melewati Prabujangga, rambut panjangnya bergoyang-goyang di punggung begitu dia keluar dari ruangan.

Prabujangga hanya memperhatikan, tentu saja dengan air muka yang jelas tidak menunjukkan ketertarikan.

Melihat Kharisma merajuk akan menjadi kebiasaan.

...***...

"Nyonya Wimana sudah lebih dulu keluar, Pak."

Sebuah informasi tidak diminta diberikan oleh resepsionis yang berjaga di lobi saat Prabujangga melewatinya. Perempuan dengan penampilan sopan nan rapi itu menunduk hormat, sedikit melirik ke arah pintu kaca tempat Kharisma melangkah keluar beberapa saat yang lalu.

Tak menanggapi, Prabujangga lantas melanjutkan langkahnya dengan tenang. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara penampilannya sudah kembali rapi meskipun drama tidur selama tiga jam membuat kemejanya sedikit kusut.

Dia mencapai parkiran tepat saat Kharisma masuk ke dalam mobil.

Perempuan itu bertingkah seperti nyonya besar sekarang.

"Pindah ke depan," perintah Prabujangga datar, menutup pintu mobil tanpa menoleh ke arah Kharisma yang duduk di jok belakang.

"Tidak mau. Di sini saja."

Prabujangga menghela napas. "Saya bukan supir pribadi kamu, jangan berlagak seperti tuan putri."

"Memang tuan putri, kok, Papa selalu bilang seperti itu," balas Kharisma ketus.

Sepertinya Prabujangga akan segera mengalami stroke di usia muda jika terus menerus diuji seperti ini. Tekanan darahnya sudah pasti naik setiap kali berurusan dengan istrinya yang kekanakan ini.

"Duduk di depan atau tidak pulang?"

Pilihan yang satu itu berhasil mengundang decakan kekalahan dari Kharisma. Dia dengan bahu terkulai pada akhirnya membuka pintu mobil, lalu pindah ke jok samping kemudi.

Kharisma menutup pintu mobil dengan keras, tapi sama sekali tidak mengejutkan.

"Puas?" Kharisma menyilangkan tangannya, wajahnya sengaja dialihkan.

Prabujangga menarik satu sudut bibirnya, menggambarkan kepuasan meskipun enggan untuk diakui terang-terangan.

"Cukup puas, kamu akan menurut pada akhirnya."

Mesin mobil dihidupkan, kaca-kaca diturunkan setengah untuk memberi ruang untuk udara. Sejenak tidak ada yang bicara, hanya terdengar suara deru mesin dan sesekali desiran angin.

Prabujangga tidak menoleh sama sekali, hanya fokus pada jalanan. Satu tangannya bersandar santai pada jendela mobil yang terbuka, sementara yang lainnya memegangi stir.

Sementara Kharisma? Jangan ditanya lagi, perempuan itu jelas mengatupkan bibir rapat-rapat tidak mau bicara.

Mungkin bagi Prabujangga, hal paling mudah yang bisa ia lakukan adalah memancing rajuk Kharisma yang kekanakan.

"Aku tidak masalah kalau Mas menikah lagi."

Di tengah-tengah keheningan, tiba-tiba Kharisma berceletuk.

"Aku tidak tau kenapa Mas Prabu melakukan ini. Pertama melamarku, lalu mengaku kalau Mas terpaksa, dan tidak lupa juga melarang aku untuk bertemu Mama. Jangankan bertemu, menghubungi saja tidak boleh," imbuh perempuan itu, kini dengan nada yang sedikit melunak. "Kalau Mas hanya menikahiku untuk bayi, aku tidak tau apakah aku bisa memberikannya secepat itu atau tidak."

Prabujangga diam-diam mendengarkan.

"Rasanya keluarga Mas banyak sekali rahasianya, ya? Pertama Bunda mengatakan kalau dia punya anak perempuan, tapi belum mau bercerita denganku. Sekarang, Mas ingin memiliki anak cepat-cepat tanpa memberi tau alasannya." Kharisma menghela napas, lalu menyandarkan kepalanya pada jok yang empuk. "Apa Mas Prabu berpikir ini adil? Adil untuk memperlakukan aku seperti ini?"

Bertepatan, lampu jalan berubah merah hingga laju mobil memelan. Bahkan, kini berhenti.

Prabujangga masih tetap diam, genggamannya pada stir sedikit mengerat tanpa direncanakan.

"Bahkan jika saya mengatakannya itu tidak akan berguna," Prabujangga membalas tanpa sibuk-sibuk menoleh. "Otakmu tidak bisa memproses informasi berat hingga apa yang akan saya ucapkan akan sia-sia."

Senyum getir terulas di wajah Kharisma mendengar nada meremehkan Prabujangga.

Dia mungkin merasa percuma telah mengungkapkan perasaannya tentang semua ini yang tidak adil baginya. Karena respon Prabujangga sungguh acuh dan tidak menunjukkan secercah rasa kasihan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!