NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Kapak di Jalan Kota

Matahari sudah naik tinggi ketika Zhao berjalan pulang dari pasar.

Di tangannya tergantung keranjang anyaman berisi beberapa sayur dan buah yang berhasil ia pilih. Meski kualitasnya tidak terlalu bagus, setidaknya masih cukup layak untuk dimasak.

Langkahnya tenang.

Udara kota Pingxi tetap kering seperti biasa.

Debu tipis beterbangan di sepanjang jalan utama.

Beberapa warga berjalan dengan kepala tertunduk, membawa ember kosong atau alat pertanian usang.

Zhao menatap mereka sebentar.

Di dalam hatinya, ia masih memikirkan cerita pedagang sayur tadi.

Kemarau belasan tahun… Kunjungan orang bertudung misterius… Ada sesuatu yang terasa tidak wajar.

Namun sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh—

Tiba-tiba—

“AAAAH!!”

Sebuah teriakan ketakutan menggema.

Zhao mengangkat kepalanya.

Lalu suara lain menyusul.

“Lari!! Bandit Eye datang!!”

“Cepat sembunyi!!”

Dalam sekejap, jalan yang tadinya sepi berubah kacau.

Orang-orang berlarian ke segala arah.

Beberapa menjatuhkan barang dagangan mereka.

Seorang wanita bahkan menarik anaknya sambil menangis.

Debu beterbangan saat puluhan kaki berlari.

Zhao mengerutkan kening.

“Bandit Eye?”

Ia memiringkan kepala sedikit.

Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Sekelompok bandit yang datang ke kedainya di hari pertama.

Yang mencoba menagih uang keamanan.

Yang kemudian— berakhir dengan sangat buruk bagi mereka.

Zhao menghela napas pelan.

“Ah…”

“Jadi mereka…”

Ia menoleh ke arah kerumunan orang yang berlari menjauh.

Di antara arus manusia yang panik—

sekelompok orang berjalan melawan arah.

Langkah mereka santai.

Tidak tergesa.

Aura mereka kasar dan penuh niat membunuh.

Puluhan bandit bersenjata berjalan di jalan utama.

Dan di depan mereka—

seorang pria besar berjalan sambil membawa kapak raksasa di bahunya.

Aura Qi yang kuat menyelimuti tubuhnya.

Zhao menyipitkan mata sedikit.

Dilihat dari penampilannya…

Sepertinya dia pemimpinnya.

Ia menilai aura pria itu dengan cepat.

Hm? Golden Core puncak.

Satu alis Zhao terangkat.

“Lumayan.”

Namun detik berikutnya—

ekspresinya berubah sedikit.

…Tapi ada yang aneh. Qi pria itu terasa kuat.

Namun tidak stabil.

Seperti seseorang yang baru saja memaksa dirinya naik ke ranah lebih tinggi.

Zhao tidak sempat menganalisis lebih jauh.

Karena kelompok bandit itu sudah berhenti.

Beberapa meter di depannya.

Jalanan yang tadi ramai kini kosong.

Hanya tersisa dua pihak.

Angin panas berhembus.

Debu melayang di antara mereka.

Pria berjenggot tebal itu menatap Zhao dari ujung kaki hingga kepala.

Matanya menyipit.

Rambut panjang hitam. Tubuh tegap.

Postur yang tenang. Pakaian sederhana tapi rapi.

Lalu matanya berhenti di wajah Zhao.

Dan untuk sesaat—

Lu Qiang terdiam.

…Wajah yang rupawan?

Ia langsung menggeleng keras.

“Sial. Bikin muak saja.”

Zhao akhirnya membuka suara.

Nada suaranya santai.

“Apakah kalian ada perlu denganku?”

Lu Qiang berkedip. Ekspresinya berubah kesal.

“Ada perlu kau bilang!?”

Ia melangkah maju satu langkah.

Tanah berderak di bawah kakinya.

“Kau punya hutang besar denganku!”

Zhao mengernyit bingung.

“Hutang?”

Ia memiringkan kepala sedikit.

“Aku saja tidak pernah bertemu pria dengan janggut tebal tak karuan seperti dirimu.”

Ia menatap Lu Qiang dengan serius.

“Bagaimana aku bisa punya hutang?”

Sunyi.

Angin berhenti.

Beberapa bandit di belakang Lu Qiang menelan ludah.

Dia…

Berani sekali…

Lu Qiang sendiri terdiam beberapa detik.

Lalu—

ia tertawa keras.

“HAHAHAHA!”

Suaranya menggema di jalan kosong.

“Bagus!”

Ia menunjuk Zhao dengan kapaknya.

“Kau pendatang yang sangat sombong!”

Matanya dipenuhi kemarahan.

“Kau telah membunuh anak buahku, dan sekarang berlagak seperti orang bodoh?”

SHUAA!

Lu Qiang mengangkat kapaknya.

Qi merah gelap meledak dari tubuhnya.

Aura Golden Core puncak menyapu jalan seperti badai.

Debu terangkat ke udara.

Beberapa jendela rumah bergetar.

Bandit-bandit di belakangnya tertawa kejam.

“Bos akan membelahnya!”

“Pendatang bodoh!”

Lu Qiang menyeringai.

“Memotong lengan dan kakimu saja…”

“…tidak cukup untuk meredakan amarahku.”

Ia menancapkan kapaknya ke tanah dengan keras.

DUK!

“Aku…”

Qi di tubuhnya meledak lagi.

“Pemimpin Bandit Eye! Lu Qiang!”

Ia menunjuk Zhao dengan aura membunuh.

“Akan membunuhmu di sini.”

Zhao menatapnya beberapa detik.

Lalu—

ia menghela napas pasrah.

“Ah…”

Sementara itu—

Di Kedai Satu Mangkuk.

Pelanggan mulai berdatangan seperti biasa.

Beberapa pengembara duduk sambil memesan ramen.

Seorang pedagang memesan nasi goreng.

Suasana hangat kembali memenuhi ruangan.

Shen Ning bergerak cepat di antara meja-meja.

“Pesanan ramen satu!”

“Satu sup iga!”

Ia terlihat jauh lebih percaya diri dibanding kemarin.

Di dapur—

Yueling mengeluarkan mangkuk ramen dari kompor.

Aromanya memenuhi ruangan.

Ia membawa mangkuk itu keluar.

“Ramen untuk meja tiga.”

Ia meletakkannya dengan senyum ramah.

Namun saat berjalan kembali—

matanya sesekali melirik pintu masuk.

Alisnya sedikit mengernyit.

Kenapa suami lama sekali?

Seharusnya dia sudah kembali dari pasar sejak tadi.

Ia melirik dapur yang mulai sibuk.

Kedai semakin ramai…Aku tidak bisa menangani ini sendiri.

Namun sebelum pikirannya selesai—

BRAK!

Pintu kedai tiba-tiba terbuka kasar.

Beberapa pelanggan langsung berdiri kaget.

Suasana riuh mendadak hening.

Yueling menoleh.

Matanya berubah dingin.

Di ambang pintu—

sekelompok pria kasar berdiri.

Aura mereka penuh kekerasan.

Beberapa pelanggan langsung mengenali mereka.

Wajah mereka berubah pucat.

“Sial…Itu…”

“Bandit Eye!”

Suasana kedai langsung berubah tegang. Beberapa orang buru-buru berdiri. Beberapa mencoba mundur perlahan.

Namun bandit-bandit itu sudah masuk.

Langkah mereka berat.

Senjata tergantung di pinggang.

Salah satu dari mereka menendang kursi kosong.

KRAK!

Kayu itu patah.

Shen Ning membeku di tempatnya.

Wajahnya pucat.

Sementara Yueling berdiri tegak di tengah ruangan.

Tatapannya tajam seperti pisau.

Bandit di depan kelompok itu menyeringai.

“Jadi ini…”

Ia menatap sekeliling kedai.

“…kedai milik bajingan bernama Zhao.”

Ia memandang Yueling dari kepala sampai kaki.

Senyumnya semakin licik.

“Dan sepertinya…istrinya juga ada di sini.”

Begitu para bandit Eye masuk ke dalam Kedai Satu Mangkuk, suasana yang tadinya hangat langsung berubah kacau.

Beberapa pelanggan yang mengenali mereka langsung pucat.

Seorang pengembara berdiri begitu cepat hingga kursinya terbalik.

“Sial… Itu benar-benar mereka!”

Orang lain berteriak panik.

“Lari!!”

Dalam sekejap—

kedai yang penuh tawa berubah menjadi kekacauan.

Beberapa pelanggan berlari menuju pintu. Namun pintu sudah dipenuhi bandit.

Seorang pria nekat memanjat jendela.

PRAANG!

Kaca jendela pecah saat ia melompat keluar.

Yang lain mengikuti.

Suara kaca pecah, kursi terjatuh, dan teriakan panik bercampur menjadi satu.

Seorang pelanggan bahkan menjatuhkan semangkuk ramen panas yang langsung tumpah di lantai.

Kuah menyebar.

Mie berserakan.

Piring-piring jatuh dari meja.

KRAK!

Sebuah meja terbalik saat dua orang berebut keluar dari jendela yang sama.

Dalam waktu kurang dari satu menit—

kedai itu berubah menjadi berantakan.

Bandit-bandit hanya berdiri sambil menonton.

Beberapa dari mereka bahkan tertawa.

“Lihat mereka lari seperti tikus!”

“HAHAHA!”

“Penduduk kota ini memang pengecut!”

Sementara itu—

di tengah kekacauan itu—

Yueling tetap berdiri.

Wajahnya dingin.

Matanya menatap lurus ke depan.

Di belakangnya—

Shen Ning gemetar.

Ia secara refleks bersembunyi di belakang Yueling.

Tangan kecilnya mencengkeram ujung pakaian wanita itu.

Saat itulah—

seorang bandit melangkah maju.

Satu matanya tertutup kain hitam.

Han Gou. Ia menyeringai lebar.

“Halo, nyonya.”

Suaranya penuh ejekan.

“Kita bertemu lagi.”

Ia menyapu ruangan dengan pandangan puas.

“Kali ini…”

Ia menunjuk lantai kedai yang kacau.

“…kau tidak akan bisa kemana-mana.”

Yueling menatapnya datar.

Tatapannya bahkan tidak berkedip.

Han Gou tertawa pelan.

“Sayang sekali…”

Ia melirik ke sekeliling.

“Suamimu tidak ada di sini untuk melindungimu seperti terakhir kali.”

Ia mendekat beberapa langkah. Niat jahat terlihat jelas di wajahnya.

“Dan sepertinya…dia sudah menerima ajalnya di tangan pemimpin kami.”

Tawa bandit-bandit langsung meledak.

“HAHAHAHA!”

“Bos Lu pasti sudah membelahnya!”

“Pendatang bodoh itu sudah mati sekarang!”

Namun—

Yueling bahkan tidak menanggapi mereka.

Matanya justru bergerak perlahan menyapu ruangan.

Ia melihat meja yang patah.

Kursi yang terbalik.

Mangkuk pecah di lantai.

Kuah ramen yang tumpah.

Dan pintu jendela yang rusak.

Ia bergumam pelan. Nada suaranya datar.

“Perabotan rusak lagi…”

Ia melangkah satu langkah.

Matanya tetap mengamati kedai.

“Para pelanggan kabur tanpa membayar…”

Ia menatap lantai yang penuh makanan.

“Makanan berserakan di lantai…”

Shen Ning yang berdiri di belakangnya tiba-tiba merasa merinding.

Entah kenapa—

wajah Yueling yang biasanya lembut sekarang terasa… menakutkan.

Sangat menakutkan.

Namun para bandit tidak menyadarinya.

Mereka masih terus mengejek.

Han Gou menyeringai.

“Tenang saja, nyonya.”

“Kami akan menghiburmu.”

Ia menatap Yueling dengan tatapan menjijikkan.

Tawa kotor kembali terdengar.

Namun Yueling tiba-tiba berkata dengan nada datar.

“Ning’er tersayang.”

Shen Ning langsung menegang.

“Y-Ya… Bibi?”

Yueling tidak menoleh.

“Bisakah kau mengambil pisau dapur di belakang?”

Tubuh Shen Ning langsung kaku.

Namun Yueling perlahan menoleh padanya.

Di wajahnya muncul senyum tipis.

Namun senyum itu—

Tidak hangat. Tidak lembut.

Lebih besar. Lebih tajam.

“Yang lebih besar…”

katanya pelan.

“…lebih baik.”

Shen Ning menelan ludah.

Namun ia mengangguk cepat.

“I-Iya!”

Ia segera berlari ke dapur.

Tak lama kemudian ia kembali dengan pisau dapur besar di tangannya.

Melihat itu—

Han Gou langsung tertawa keras.

“HAHAHAHA!”

“Ayolah nyonya! Jangan membuat perlawanan yang sia-sia!”

Ia membuka tangannya lebar.

“Tenang saja.”

Ia menjilat bibirnya.

“Meskipun suamimu membunuh saudaraku…”

“…aku akan tetap memperlakukanmu dengan lembut.”

Namun Yueling sama sekali tidak bereaksi.

Ia hanya mengambil pisau dapur itu dari tangan Shen Ning. Dan menatap para bandit.

Tatapan itu—

dingin.

Tanpa emosi.

Dan entah kenapa—

membuat bulu kuduk beberapa bandit berdiri.

Han Gou bahkan tanpa sadar mulai berkeringat.

Ia mencoba tertawa lagi.

“Oh…Jadi Anda tipe yang liar ya?”

Namun suaranya tidak setenang tadi.

Di belakangnya— seorang bandit berbisik.

“Hei Han Gou…Kau yakin wanita ini orang biasa?”

Han Gou menjawab cepat.

“Tentu saja!”

“Terakhir kali aku tidak merasakan Qi darinya!”

Bandit-bandit lain langsung sedikit lega.

“Oh…”

“Kalau begitu tidak masalah.”

Namun di dalam hati—

Han Gou sendiri tidak begitu yakin.

Kenapa…

Perasaan tegang ini…

Ia menelan ludah.

Rasanya… sangat familiar…

Sementara itu—

Yueling memutar pisau dapur di tangannya.

Gerakannya santai.

Namun sangat alami.

Seolah itu bukan pertama kalinya ia memegang senjata. Ia menatap Han Gou. Lalu berkata dengan tenang.

“Sepertinya waktu itu…”

“…suamiku terlalu lembut pada kalian.”

Kemudian—

tiba-tiba—

ia tersenyum lebar.

Senyum yang sama sekali tidak cocok dengan wajahnya yang cantik.

“Mari kita lihat…”

Pisau dapur itu perlahan terangkat.

“…apakah kalian bisa mengganti rugi semua ini?”

Para bandit langsung tertegun.

Untuk pertama kalinya—

mereka merasa situasi ini sedikit… aneh.

Yueling lalu menoleh ke belakang.

“Ning’er.”

Suaranya kembali lembut.

Shen Ning gemetar.

“Iya… Bibi?”

Yueling tersenyum kecil.

“Bersembunyi lah di dapur.”

Ia menunjuk pintu dapur.

“Dan jangan mengintip.”

Tatapannya lembut.

“Aku tidak ingin membuat trauma pada masa kecilmu.”

Shen Ning menelan ludah.

Ia melihat pisau di tangan Yueling.

Lalu melihat para bandit.

Akhirnya ia mengangguk dengan gemetar.

“Ba-Baik…”

Ia berlari masuk ke dapur.

Pintu dapur tertutup perlahan.

Sekarang— hanya tersisa Yueling dan para bandit. Di kedai yang berantakan.

1
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
SENJA
aaah payah dong kaisar nya 😤
SENJA
wah punya banyak pegawai baru 🤣
SENJA
dari bandit jadi pelayan 🤣
SENJA
wakakaa hayoloh🤣
Kang Comen
mc cwe ap cwo ???
RDXA: MC nya cowo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!