Lin Xuan, seorang pemuda dari keluarga cabang Klan Lin di Benua Azure yang memiliki "Akar Spiritual Cacat", selalu dihina dan ditindas. Saat sekarat karena dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merebut harta peninggalan orang tuanya, darahnya tanpa sengaja membangkitkan Mutiara Kekacauan Primordial yang bersemayam di kalung usangnya. Mutiara ini tidak hanya memperbaiki akar spiritualnya, tetapi juga memberinya warisan teknik terlarang dari era sebelum alam semesta terbentuk. Inilah awal perjalanannya menentang Surga, membelah galaksi, dan menapaki jalan menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Jembatan Karma dan Runtuhnya Penjara Es
Langkah pertama di atas Jembatan Karma terasa seperti menginjak awan yang hampa. Papan kayu usang di bawah kaki mereka berderit pelan, sementara kabut putih tebal bergulung-gulung menelan pandangan. Bahkan indra spiritual Lin Xuan, yang biasanya bisa menjangkau radius puluhan mil, kini terpotong hingga hanya tersisa jarak satu lengan.
Tiba-tiba, suhu udara berubah. Genggaman tangan Mu Qingxue pada pergelangan tangan Lin Xuan mengendur sebelum akhirnya terlepas sepenuhnya.
"Nona Mu?" panggil Lin Xuan, namun suaranya diredam oleh kabut.
Pemandangan di sekeliling Lin Xuan berputar hebat. Kabut putih itu memudar, digantikan oleh pemandangan Puncak Teratai Hitam di Klan Lin yang bersalju. Di depannya, Su Yue berdiri dengan wajah penuh cibiran, sementara Lin Feng menginjak kepalanya ke tanah berlumpur.
"Sampah selamanya sampah! Berlututlah dan jilat sepatuku, Lin Xuan!" ilusi Lin Feng tertawa arogan.
Lin Xuan menatap pemandangan itu selama dua detik, lalu menguap pelan.
"Hanya ini?" gumam Lin Xuan dengan nada bosan. "Makam Kaisar Kuno, kudengar kau hebat. Tapi ilusi ini bahkan tidak pantas dijadikan mimpi tidur siangku."
Di dalam Dantiannya, Sang Demon Venerable tertawa terbahak-bahak. "Karma dan penyesalan? Ha! Tubuhmu memegang Mutiara Kekacauan, entitas yang lahir sebelum hukum alam ini terbentuk! Jiwamu telah diwarnai oleh Niat Iblisku! Ilusi fana semacam ini mencoba mengukur karma kita? Benar-benar lelucon!"
Lin Xuan bahkan tidak menghunus pedangnya. Ia hanya melepaskan secercah Niat Kekacauan dari matanya.
PRANGGG!
Dunia bersalju ilusi itu hancur berkeping-keping layaknya cermin yang dilempar batu bata. Kabut putih kembali muncul. Lin Xuan menyadari ia baru mengambil tiga langkah di atas jembatan gantung tersebut.
Namun, saat ia menoleh ke belakang, matanya menyipit tajam.
Mu Qingxue masih berdiri di langkah pertamanya. Tubuhnya kaku seperti patung. Pedang esnya terlepas dari genggamannya dan jatuh ke papan jembatan. Wajah cantiknya pucat pasi, dan sepasang mata kristal ungunya terbuka namun kosong—tersesat dalam mimpi buruk terdalam.
Yang paling mengkhawatirkan adalah Qi Es di dalam tubuhnya mulai mengamuk. Lapisan es tipis mulai merambat dari ujung kakinya, membekukan gaunnya, dan perlahan naik ke atas. Jika es itu mencapai jantungnya, jiwa Mu Qingxue akan hancur dari dalam, membunuhnya secara nyata di atas jembatan ini.
"Dia terjebak di masa lalunya," gumam Lin Xuan.
Tanpa ragu, Lin Xuan melangkah kembali. Ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Mu Qingxue yang sedingin es abadi. Ia tidak bisa menggunakan tenaga fisik untuk menariknya; ia harus masuk ke dalam lautan kesadarannya.
"Tahan pintunya, Senior. Aku akan menjemputnya," batin Lin Xuan.
Dengan bantuan Sang Demon Venerable, proyeksi jiwa Lin Xuan yang diselimuti Api Kekacauan abu-abu melesat masuk menembus pertahanan mental Mu Qingxue.
Di dalam lautan kesadaran Mu Qingxue...
Dunia ini sepenuhnya terbuat dari es yang sunyi dan membekukan. Tidak ada langit, tidak ada tanah, hanya ada sebuah aula istana raksasa yang kosong melompong.
Di tengah aula itu, seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun sedang duduk meringkuk, memeluk lututnya yang gemetar. Gadis kecil itu adalah Mu Qingxue.
Di sekelilingnya, berdiri puluhan patung es tak berwajah yang membisikkan kalimat-kalimat kutukan yang terus berulang bagaikan kaset rusak.
"Kau adalah Nona Suci... Buang semua emosimu..."
"Cinta, kesedihan, kegembiraan... itu semua adalah racun bagi Seni Es Abadi..."
"Jika hatimu tidak sedingin es, kau akan mati, dan Istana akan hancur..."
"Jadilah patung tanpa perasaan, Qingxue. Itulah takdirmu..."
Gadis kecil itu menutup telinganya sambil menangis tanpa suara, karena air matanya langsung membeku sebelum jatuh ke lantai. Lapisan es perlahan merambat menyelimuti tubuh kecilnya, mengurungnya dalam keputusasaan yang absolut. Ini adalah beban dan teror psikologis yang telah ia tanggung sendirian selama belasan tahun sebagai pilar Istana Es Surgawi.
"Sangat berisik," sebuah suara datar tiba-tiba memecah paduan suara bisikan kutukan tersebut.
Gadis kecil itu mendongak. Di ambang pintu aula es, sesosok pemuda berjubah abu-abu berjalan masuk dengan santai. Nyala api berwarna kelabu menari-nari di ujung jari tangannya, tidak memancarkan panas, namun entah mengapa memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Lin Xuan menatap patung-patung es tak berwajah itu dengan jijik.
"Membunuh kemanusiaan demi kekuatan? Sekte jalan lurus selalu memiliki cara yang lebih munafik untuk menyiksa muridnya dibandingkan faksi iblis," cibir Lin Xuan.
Ia berjalan menghampiri Mu Qingxue kecil yang masih menatapnya dengan pupil ungu yang gemetar. Lin Xuan berjongkok di hadapannya, mengabaikan es yang mencoba merambat ke kakinya sendiri. Mutiara Kekacauan langsung menelan energi dingin itu.
"Siapa... kau?" bisik gadis kecil itu ketakutan.
"Seseorang yang mengerti rasanya ditindas oleh ekspektasi klan dan sekte," Lin Xuan tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya yang hangat. "Jalan kultivasi adalah untuk menaklukkan langit dan membebaskan diri, bukan untuk mengunci dirimu di dalam sangkar es, Nona Mu. Jika hatimu beku, bagaimana kau bisa merasakan kemenangan?"
Mu Qingxue kecil ragu-ragu sejenak, lalu perlahan mengulurkan tangannya yang membeku, menyambut uluran tangan Lin Xuan.
Tepat saat kulit mereka bersentuhan, Lin Xuan mengalirkan Api Kekacauan Primordial ke seluruh aula.
BBOOOOOOMMM!
Bukan panas yang menghancurkan es itu, melainkan Niat Kehancuran mutlak! Patung-patung es yang mewakili dogma dan ketakutan Istana Es Surgawi retak, hancur, dan menguap menjadi ketiadaan. Penjara es yang mengurung jiwa Mu Qingxue runtuh sepenuhnya di bawah tatapan abu-abu Lin Xuan.
Gasp!
Di atas Jembatan Karma, Mu Qingxue tersentak keras, menarik napas panjang seolah baru saja tenggelam. Kakinya lemas seketika.
Sebelum ia jatuh membentur papan jembatan, sepasang lengan yang kokoh menangkap pinggangnya.
Mu Qingxue membuka matanya yang kini dibasahi air mata hangat. Ia menyadari dirinya sedang bersandar di dada Lin Xuan. Detak jantung pemuda itu terdengar stabil dan menenangkan di telinganya.
"Selamat datang kembali di dunia nyata, Nona Mu," bisik Lin Xuan, melepaskan pelukannya dengan sopan segera setelah gadis itu bisa berdiri tegak.
Wajah Mu Qingxue memerah padam hingga ke telinga. Ia buru-buru mengatur napasnya dan merapikan gaunnya, mencoba memasang kembali ekspresi dinginnya, meski matanya masih memancarkan kerentanan yang belum pernah dilihat siapa pun.
"Kau... kau masuk ke dalam kesadaranku?" tanya Mu Qingxue pelan, suaranya sedikit bergetar. Ia ingat pemuda itu mengulurkan tangan padanya di tengah aula es yang gelap.
"Hanya melihat-lihat. Tidak ada yang menarik selain patung-patung es cerewet," jawab Lin Xuan santai, menunjuk ke depan. "Lihat. Kabutnya sudah hilang."
Benar saja. Ilusi telah dihancurkan, dan sisa Jembatan Karma kini terlihat jelas, membentang sejauh beberapa ratus meter menuju sebuah gerbang pualam putih raksasa yang memancarkan cahaya keemasan suci.
Itu adalah pintu masuk menuju Istana Inti Makam Kaisar.
"Terima kasih... lagi," bisik Mu Qingxue dengan tulus, menatap punggung Lin Xuan yang sudah mulai berjalan mendahuluinya. "Aku berhutang nyawa padamu untuk kedua kalinya, Lin Xuan."
"Simpan ucapan terima kasihmu," Lin Xuan berhenti melangkah. Matanya menatap tajam ke arah gerbang pualam di seberang jembatan. Tangan kanannya perlahan bergerak meraih gagang Pedang Pembelah Kekacauan di punggungnya. "Kita punya masalah baru."
Mu Qingxue menyusul ke sampingnya dan mengikuti arah pandangan Lin Xuan.
Gerbang pualam putih yang seharusnya tertutup rapat... ternyata sudah terbuka sedikit, menyisakan celah yang cukup untuk dilewati satu orang!
Dan di depan celah gerbang itu, berdiri seorang pemuda berwajah pucat dengan bibir ungu, dikelilingi oleh belasan mayat hidup yang dibalut perban darah.
Itu adalah Gui Ming, jenius dari Sekte Darah Bayangan yang tangannya dipatahkan Lin Xuan di oase kemarin! Lengan yang patah itu kini telah diganti dengan lengan iblis berwarna hitam legam yang memancarkan Niat Korosif mengerikan.
Gui Ming tersenyum sinis, menatap Lin Xuan dan Mu Qingxue dengan mata setajam ular berbisa.
"Kalian lambat sekali, tikus-tikus jalan lurus," kekeh Gui Ming, suaranya bergema di atas jurang. "Guruku sudah berada di dalam Istana Inti. Tapi jangan khawatir... aku sengaja menunggu di sini untuk menguliti kalian hidup-hidup."
dan kalau bisa update nya jangan lama lama