Menceritakan tentang Davidson Mahendra seorang pria dengan sikap dingin dan perfeksionis yang tak sengaja di hadapkan dengan Nindi, gadis biasa yang pernah menjadi bagian dari masalalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Sakit
Nindi merasa kebingungan saat David mempersilahkannya masuk di kamar hotel dan lelaki itu mengikutinya.
"Ini kamar saya pak?"
"Kamar kita" Katanya.
"Loh bukannya bapak nyewa kamar sendiri?"
"Kamar hotel nya tinggal satu, lagi kosong" David dengan alasannya.
Nindi berkeluh dalam hati, bagaimana ia bisa tidur bersama david dalam satu kamar.
"Kamu tenang aja lagian kita pake 2 ranjang kok, saya gak bakal macam macam" ujarnya.
"Saya gak kepikiran begitu kok pak"
"Bagus deh, Saya mau mandi dulu" Pamitnya.
Setelah David masuk ke kamar mandi nindi mengusap surainya kasar, ini mungkin adalah hari yang paling sial baginya.
"Tahan nindi, cuma satu malam aja kok"
...****************...
Pukul 12 malam...
Denting jam berbunyi semakin jelas kala malam sepi menyelimuti keduanya, baik nindi maupun David sama sama masih terjaga dan belum terlelap dari tidurnya.
David merasa memiliki kesempatan untuk mempertanyakan mengapa hubungan mereka berakhir seperti ini, sementara nindi semakin merasa bersalah akan masa lalu keduanya, ia tak enak hati jika mengingat bagaimana ia pernah menolak David dulu.
Ada Harapan yang terbesit dalam hati nindi, ia berharap David mau menanyakan perihal satu hal, perihal alasan apa yang membuat nindi menolaknya dahulu.
"Nindi?" Panggilnya pelan.
"Ya pak?" Nindi menoleh ke ranjang sampingnya.
"Kenapa belum tidur?" Tanyanya.
"Belum mengantuk pak"
"Kamu gak nyaman satu kamar sama saya?"
"Bukan begitu pak"
David merenungi pikirannya, mengapa ia terus memaksakan dirinya untuk dekat dengan nindi, padahal jelas bahwa wanita ini menolaknya dulu.
"Saya lupa kalo kamu gak pernah merasa nyaman sama Saya, Saya egois" Katanya.
"Saya gak pernah berfikir begitu pak, kamar hotelnya lagi kosong kan? Saya bisa mengerti"
David mendengus,lagi lagi nindi mengingatkan betapa egois dirinya, pria itu bangkit seketika dan membuat nindi reflek bangun.
"Saya mau cari angin" Katanya.
"Bapak gak apa apa?"
"Gak papa" Jawabnya singkat.
David bangkit dari ranjangnya, meraih jaket miliknya dan keluar dari hotel.
Tanpa sadar tangan nindi meremat selimut tebal, ia merasa David tengah menyembunyikan perasaannya, apa yang sebenarnya pemuda itu pikirkan?
Keesokan paginya....
David dan nindi berada di depan hotel pagi ini, keduanya akan bersiap kembali pulang ke kanyor.
Beberapa kali David melirik ke arah nindi yang memeluk lengannya.
"Kamu kedinginan?" Tanyanya.
"Iya Pak, Saya gak tau kalo jakarta dingin banget pagi pagi gini" Katanya.
David tampak melepas jas kerjanya, menyerahkannya pada nindi tanpa berbicara.
"Gausah Pak, Saya gapapa kok"
"Pakek aja, Saya tahan dingin"
"Gak papa Pak Saya bisa tahan kok"
"Pakek aja, nanti kalo kamu sakit Saya juga yang repot!" Katanya dengan nada agak kesal.
"Tapi nanti kalo bapak sakit gimana?"
"Saya kan udah bilang Saya tahan dingin, Saya gak bakalan sakit"
"Baik Pak" Nindi meraih Jas David dan memakainya sesuai keinginan sang direktur.
Senyum samar terukir di bibir manis nindi, ia merasa bersyukur karena walaupun David menyebalkan setidaknya pemuda itu masih memiliki empati yang tinggi.
"Ayo jalan!"
"Iya Pak"
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
David memarkirkan mobilnya di parkiran kantor, setelah mematikan mesin mobil ia beberapa kali mengambil napas berat, hal itu tak luput dari perhatian nindi.
Nindi memperhatikan bagaimana wajah David tampak pucat tak seperti biasanya.
"Bapak gak papa?" Tanyanya.
"Gak papa"
"Kok wajah bapak keliatan pucet gitu"
"Perasaan kamu aja kali, yaudah kamu turun dulu sana" Usirnya.
Nindi melepas sabuk pengamannya, ia meletakkan tangannya pada dahi David tanpa permisi.
"Astaga bapak demam" Kagetnya.
"Gak papa kok ini paling cuma panas biasa"
"Demam Pak, ayo Saya bantu!" Nindi bergegas keluar dari mobil, membukakan pintu David dan membantu menuntun pria itu berjalan.
"Tuhkan lemes" Katanya panik.
David melihat kepanikan yang nindi alami, ia merasa senang, nindi terlihat peduli padanya.
"Ayo pak"
15 menit kemudian....
Nindi membawakan bubur dan juga membelikan obat untuk David.
"Ini pak Saya beliin bubur" Katanya sembari menyerahkan semangkuk bubur untuk David.
"Kamu gak liat saya lemes gini? suapin dong!" Perintahnya.
Nindi merutuk dalam hati, walaupun sedang sakit David masih saja sangat menyebalkan.
"Iya Pak, Saya bantu"
Nindi menyuapi David yang bersandar pada sofa, perlahan tapi pasti suap demi suap masuk ke dalam mulutnya.
"Bapak sakit karena kedinginan ya?" Tanyanya.
Lirikan tak suka nindi dapatkan, sepertinya David tak setuju dengan apa yang di katakan sang sekertaris.
"Jangan pede kamu, ini udah waktunya Saya sakit aja makanya begini" Jawabnya ketus.
"Padahal tadi Saya mau muji bapak loh karena bapak ngasih jas bapak ke Saya, coba aja bapak yang pakai jas, mungkin Saya yang sakit"
"Makanya jadi orang jangan nyusahin! kalo mau pergi pergi prepare dulu kenapa sih?!"
Kali ini omelan nya tak lagi terlihat menyebalkan, David terdengar sangat lucu walaupun sedang marah.
"Makasih banyak ya pak?"
"Terserah kamu aja"
tok tok..
Cklek..
Tanpa perintah seseorang membuka pintu dari arah luar, Sarah datang membawa sebuah jantung plastik dan paper bag.
"Dave aku denger kamu sakit ya?" Tanyanya panik.
Nindi lekas berdiri dan sedikit menjauh dari David.
"Saya belum mempersilahkan kamu masuk" Balas David.
"Aku tuh khawatir banget sama kamu, ini aku bawain makanan sama obat"
"Nindi udah kasih saya makan"
Sarah melirik tak suka pada nindi, sementara itu nindi hanya tersenyum canggung menanggapinya.
"Apa aku bilang dia itu gak becus! liat kan kamu jadi sakit gini" Marahnya.
"Saya gak suka sama cara bicara kamu!" Marah David balik.
"Ya terbukti kan! kamu sendiri yang ngeyel bawa dia sampek akhirnya kamu sakit begini, coba kalo kamu perginya sama aku pasti gak bakalan kamu demam gini!" Omelnya.
Nindi merasa tersinggung dengan ucapan Sarah yang menurutnya ada benar, david sakit karena kedinginan, apalagi ia tak tahu dimana semalam laki laki itu tidur, David tak kembali ke kamar mereka, ia juga tak menemukannya di ranjang sebelah saat pagi hari.
"Sarah kamu keluar!" Usir David.
"Pokoknya aku bakalan kasih tau om Surya gimana kerjanya dia, kamu gak pernah tuh sakit pas habis keluar kota, baru hari ini aja, dan ini semua karena kamu ngajak dia kan?" Lanjut Sarah.
"Jangan bawa bawa ayah Saya"
"Harus dong, om Surya kan yang ngerekrut dia jadi sekertaris kamu, berarti dia juga harus tau gimana kerjanya nindi"
"KELUAR!" Teriak David.
Baik nindi dan Sarah sama sama terkejut dengan teriakan David yang tiba tiba, pemuda itu berdiri dengan sisa tenaga dan menatap sengit ke arah Sarah.
"Jangan berani kamu bicara sama saya seolah olah kamu bisa ngelakuin semua hal tanpa izin Saya!" Katanya.
Sarah diam, matanya berlinang, walaupun mereka tidak dekat tapi ini adalah kali pertama David membentaknya.
"Ingat posisi kamu!"
Sarah meloloskan setetes air matanya, menatap sekilas pada nindi dan berlari keluar ruangan.
Nindi menunduk, meloloskan perasaan takutnya, ia tak berani menatap David.
"Kamu keluar, Saya minum obat sendiri" Katanya lebih pelan.
"Baik Pak"