NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Arya kembali beberapa menit kemudian, langkah kakinya kali ini lebih pelan, seolah ia sendiri belum benar-benar yakin dengan keputusannya. Pintu kamar kos Nadia terbuka lagi dengan bunyi lirih. Lampu masih menyala. Nadia belum tidur. Gadis itu duduk bersandar di kepala ranjang, kedua lututnya ditekuk, tangan memeluk bantal seolah benda itu satu-satunya tameng yang ia miliki malam ini.

Tatapan mereka bertemu.

Arya menghela napas perlahan. Ada sesuatu dalam ekspresi Nadia campuran lelah, waspada, dan kemarahan yang dipendam yang membuatnya berhenti sejenak di ambang pintu. Namun sifatnya yang dominan, ego yang terlalu terbiasa menang, mendorongnya untuk melangkah masuk.

“Belum tidur?” tanyanya ringan, seolah ia hanya mampir tanpa tujuan apa pun.

Nadia tidak menjawab. Matanya mengawasi setiap gerakan Arya, seperti seekor kucing yang siap melompat jika merasa terancam. Ketika Arya menutup pintu dan melangkah mendekat, Nadia refleks beringsut menjauh, punggungnya semakin menempel ke dinding.

Arya melihat itu dan justru tersenyum kecil. Bukan senyum hangat lebih seperti senyum seseorang yang menikmati perlawanan kecil.

“Kamu menjauh lagi,” katanya. “Aku belum menyentuhmu.”

“Karena saya tidak ingin anda melakukannya,” sahut Nadia cepat.

Arya duduk di sisi ranjang, menjaga jarak satu lengan. Namun keberadaannya saja sudah cukup membuat ruang sempit itu terasa sesak. Nadia mengencangkan pelukannya pada bantal.

“Tenang,” ujar Arya santai. “Aku hanya duduk.”

“Duduk anda tidak pernah sekadar duduk,” balas Nadia dingin.

Arya tertawa pelan. “Kamu mengenalku terlalu baik.”

“Sayangnya,” gumam Nadia.

Arya memiringkan kepalanya, menatap wajah Nadia yang tegang. “Kamu tahu, semakin kamu menjauh, semakin kamu terlihat menarik untuk diganggu.”

Nadia mendelik. “Itu bukan pujian.”

“Aku tidak sedang memuji,” jawab Arya jujur.

Ia bergeser sedikit lebih dekat. Nadia segera ikut menjauh, hingga tak ada lagi ruang di ranjang. Punggungnya menyentuh dinding. Jantungnya berdebar keras.

“Berhenti,” kata Nadia tegas.

Arya mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. “Lihat? Aku berhenti.”

Namun matanya tidak pernah benar-benar meninggalkan Nadia. Tatapan itu membuat Nadia tidak nyaman, seperti sedang dinilai, diukur, dan diuji batasnya.

“Kamu selalu menghindar,” lanjut Arya. “Padahal tadi siang kamu berani menantangku dengan kesepakatan.”

Nadia mengeratkan rahangnya. “Itu bukan undangan untuk menyentuh saya.”

“Aku tahu,” sahut Arya. “Tapi kamu juga tahu aku tidak suka ditolak.”

Nadia tertawa kecil tanpa humor. “ Itu masalah anda.”

Arya condong sedikit ke depan, cukup dekat hingga Nadia bisa mencium aroma tubuhnya aroma yang membuat perutnya menegang antara takut dan marah. Ia memalingkan wajah.

“Kamu menolakku, ya?” ucap Arya pelan, nada suaranya rendah. “Menarik.”

Nadia bangkit setengah berdiri, menahan dada Arya dengan telapak tangannya saat pria itu bergerak lebih dekat. “Saya bilang berhenti.”

Arya tidak memaksa. Ia berhenti tepat di situ, hanya menatap tangan Nadia yang gemetar di dadanya.

“Kenapa?” tanyanya. “Bukankah kamu ingin kebebasan?”

“Kebebasan bukan berarti aku harus mengorbankan diri saya,” balas Nadia cepat. “saya bukan pelampiasan nafsu anda.”

Arya menyipitkan mata. “Kamu selalu menganggapku seperti itu.”

“Karena sikap anda memang seperti itu,” jawab Nadia.

Arya terdiam beberapa detik. Ada ketegangan yang menggantung, seperti tali yang siap putus. Lalu ia bersandar ke belakang, menyandarkan punggung ke dinding kamar, menjauhkan diri beberapa senti.

“Kamu tidak percaya padaku,” katanya akhirnya.

“Tidak,” jawab Nadia jujur. “ Saya tidak akan percaya.”

Arya tersenyum tipis. “Aku suamimu.”

“Itu hanya status di atas kertas,” balas Nadia tanpa ragu.

Jawaban itu menohok. Arya mengusap wajahnya, lalu terkekeh singkat. “Mulutmu selalu tajam.”

“Anda yang memaksa saya bicara seperti ini,” sahut Nadia.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Suara hujan di luar menjadi latar yang konstan, seperti detak waktu yang terus berjalan tanpa peduli konflik di dalam kamar kecil itu.

Arya tiba-tiba berdiri. Nadia refleks menegang lagi.

“Aku lapar,” katanya tiba-tiba.

Nadia berkedip. “Apa?”

“Aku belum makan,” ulang Arya, nadanya santai seolah tidak ada perdebatan panas barusan. “Dan aku ingin makan.”

Nadia menatapnya tidak percaya. “Itu bukan urusan saya.”

Arya tersenyum miring. “Istriku membuatkan makanan untukku. Kedengarannya wajar.”

“Tidak di sini,” balas Nadia. “Ini kos, bukan rumah anda.”

Arya mengamati dapur kecil di sudut kamar. “Kalau begitu anggap saja aku tamu.”

Nadia menghela napas kasar. “Saya tidak punya apa-apa.”

Arya mengangkat alis. “Tidak ada makanan?”

“Ada mie instan,” jawab Nadia ketus.

Arya tertawa kecil. “Aku tidak makan sembarangan.”

Ucapan itu membuat Nadia menoleh tajam. “Apa maksud anda?”

“Aku terbiasa dengan makanan bersih,” jawab Arya tenang. “Higienis.”

Nadia merasa darahnya mendidih. “Jadi sekarang anda merendahkan hidup saya?”

“Aku hanya menyebut fakta,” sahut Arya.

Nadia berdiri penuh, matanya menyala marah. “Kalau begitu keluar, anda bisa makan makanan yang anda suka diluar sana. Dan saya tidak memaksa anda untuk datang kesini.”

Arya menatapnya lama, lalu berkata, “Masakkan apa pun yang kamu bisa. Jika enak, aku akan memberimu hadiah.”

Nadia terdiam. Kata “hadiah” itu membuatnya berpikir. Bukan karena tergiur, tapi karena ingin tahu sejauh apa permainan pria ini.

“Hadiah apa?” tanyanya hati-hati.

Arya tersenyum. “Tergantung.”

Nadia mendengus. “Saya tidak percaya.”

“Itu pilihanmu,” jawab Arya.

Nadia mengambil jaket tipisnya, lalu melangkah menuju pintu. “Saya keluar sebentar.”

Arya menyeringai. “Pergi beli bahan?”

“Jangan banyak tanya,” balas Nadia tanpa menoleh.

Pintu tertutup. Arya kini sendirian di kamar kos itu.

Ia berdiri memandang sekeliling. Kamar ini kecil. Sempit. Tidak ada barang mewah. Lemari tua, meja belajar sederhana, rak buku dengan beberapa novel murah dan buku catatan. Tidak ada jejak kemewahan hanya kehidupan sederhana yang dijalani dengan bertahan.

Arya membuka salah satu buku catatan di meja. Tulisan tangan Nadia rapi, penuh coretan rencana hidup, daftar pengeluaran, jadwal kerja. Tidak ada mimpi besar tentang kekayaan, hanya keinginan sederhana hidup tenang, mandiri, dan bebas.

Dadanya terasa aneh.

“Jadi ini hidupmu,” gumamnya.

Ia duduk di kursi kecil, tubuhnya yang besar membuat kursi itu berderit. Untuk pertama kalinya, Arya benar-benar melihat dunia Nadia bukan sebagai miliknya, bukan sebagai istrinya, tapi sebagai seorang perempuan yang hidupnya dipaksa bersinggungan dengannya.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka lagi. Nadia kembali membawa kantong plastik kecil berisi bahan makanan sederhana. Ia menatap Arya sekilas, lalu langsung menuju dapur kecil tanpa bicara.

Arya memperhatikannya dari jauh. Cara Nadia bergerak cepat, cekatan, seolah ingin menyelesaikan ini secepat mungkin. Tidak ada kelembutan khusus, tidak ada upaya menyenangkan. Hanya kewajiban yang dipaksakan.

Ia bersandar di dinding, menonton. Untuk pertama kalinya, Arya tidak menggoda. Tidak mengusik. Ia hanya diam, memikirkan sesuatu yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya: mungkin, selama ini ia salah memahami arti memiliki seseorang.

Dan di dapur kecil itu, Nadia memasak bukan untuk menyenangkan Arya, melainkan untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih punya kendali sekecil apa pun itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!