Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Mengalir Di Makam
Keesokan harinya, sekitar pukul satu siang, Anton sedang membantu bibi merapikan taman depan rumah ketika ponselnya berdering. Dia mengambilnya dan melihat nama Dewi muncul di layar.
"Hallo yank," ucap Anton dengan nada biasa.
"Hallo yank! Nanti jam 4 sore anter aku ya ke makam Rini. Udah lama aku gak kesana," kata Dewi dengan suara lembut tapi tegas.
"Oh, kamu mau aku temani kesana?" tanya Anton dengan sedikit terkejut, hatinya langsung berdebar kencang. "Aduh, harus ke makam Rini..." gumamnya dalam hati, merasa sedikit gelisah.
"Hallo yank, ko diem aja? Bisa gak ya kamu temenin?" tanya Dewi kembali, seolah merasakan keraguan Anton.
"Iya-iya, aku bisa kok. Nanti aku jemput kamu ya di rumah kamu sekitar jam 3.30 sore," jawab Anton dengan cepat, mencoba menyembunyikan kegelisahannya.
"Baik deh yank, aku tunggu ya. Jangan telat ya," ucap Dewi dengan senyum yang bisa dirasakan dari suara nya, lalu mengakhiri panggilan.Anton menutup ponselnya dan menghela nafas panjang.
Beberapa jam kemudian, mobil Anton berhenti di depan area pemakaman yang sunyi. Udara sore itu terasa dingin meskipun di Jakarta biasanya masih hangat. Mereka berjalan pelan-pelan menuju makam Rini yang terletak di sudut paling dalam area pemakaman.
Setelah sampai, mereka berdiri di depan nisan yang tertulis nama Rini dengan jelas. Mereka berdoa dengan tulus untuknya, lalu Dewi mulai menaburkan bunga putih yang dia bawa ke atas kuburan.
Anton berdiri diam, melihat sekeliling dengan rasa tidak nyaman. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sesuatu di bawah nisan ada percikan cairan merah yang tampak seperti darah mengalir perlahan dari balik tanah kuburan. Dia mendekat perlahan, mencoleknya dengan ujung jarinya untuk memastikan.
"Emmm... bau amis darah... apa ini benar darah tapi kok bisa ada darah mengalir disini?" gumam Anton pelan, bahkan menciumnya sedikit lewat hidung untuk memastikan.
Sementara itu, Dewi masih sibuk membersihkan rumput yang tumbuh liar di sekitar kuburan, tidak menyadari apa yang terjadi di belakangnya.
Sebelum Anton bisa berkata apa-apa, seketika ada tangan putih pucat yang tiba-tiba muncul dari bawah tanah dan menarik kaki Anton dengan kuat. Anton terkejut parah dan langsung terjatuh ke tanah.
"AAAAAAAAAAAAA!!!" dia berteriak keras, suara nya bergema di area pemakaman yang sunyi.
"AAA....AAAPPAAAAA IITTUUUU!!!" jerit Anton lagi, matanya membesar melihat tangan yang masih menggenggam kakinya dengan erat.
Dewi langsung menoleh kaget mendengar teriakan Anton. Dia melihat Anton terjatuh di tanah dengan wajah penuh Ketakutan.
"Apa yang terjadi Anton?!" teriak Dewi sambil berlari mendekat. Saat dia hendak meraih tangan Anton, tiba-tiba angin kencang menerpa area pemakaman.
Anton melihat ke langit yang mulai mendung pekat, anginnya semakin kencang dan membawa rasa dingin yang menusuk. Dia segera menarik tangan Dewi dengan tergesa-gesa.
"Dewi, kita harus segera pulang! Udara nya sudah gak bagus, mungkin akan turun hujan deras," ucap Anton dengan nada tergesa, mencoba mencari alasan agar bisa segera meninggalkan tempat itu yang membuatnya merinding.
Dewi menoleh ke arah makam Rini sebentar, lalu melihat langit yang sudah mulai berwarna kelabu pekat. Anginnya memang sudah semakin kuat, membuat daun-daun di sekitar makam bergoyang liar.
"Iya benar... angin nya sudah seperti mau hujan besar. Kita pulang saja ya," jawab Dewi dengan suara pelan.
Mereka berjalan cepat menjauh dari makam Rini, kaki Anton terkadang tergelincir karena tanah yang sudah mulai licin akibat kelembapan udara. Anton terus memegang tangan Dewi erat untuk menjaganya agar tidak jatuh.
Sesampainya di depan mobil, Anton langsung membuka pintu untuk Dewi agar dia bisa masuk terlebih dahulu. Setelah Dewi duduk dengan aman, Anton segera masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin dengan cepat.
Tanpa berlama-lama lagi, mobil melaju cepat keluar dari area pemakaman yang semakin sunyi dan mencekam. Baru beberapa menit setelah mereka pergi, hujan mulai turun deras dengan disertai kilat dan guntur yang menggema di langit Jakarta.