yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20. bodyguard sholeh
Berhari-hari mereka tinggal di camp pengungsian membuat dinamika kehidupan baru bagi mereka. Yang biasanya mereka sibuk berniaga, bertani atau bekerja di pasar, kini hanya diam menunggu waktu saja. Adakalanya mereka sibuk membuat sesuatu yang kiranya bermanfaat buat mereka, seperti membuat aliran alir, memperbaiki tenda, memperbaiki sanitasi air bersih, toilet atau bahkan mencoba mencari sesuatu di luar camp.
Sebuah kendaraan bermotor di kirimkan oleh pemerintah untuk mobilisasi mereka jika akan bepergian jauh mencari bantuan kesehatan atau pekerjaan.
Ternyata begitu di cari berputar, letak camp mereka di perbatasan negara. Di sebrang sana ada fasilitas pasar atau kerumunan jika akan mencari pekerjaan. Namun untuk melangkah melewati perbatasan tak semudah itu kawan.
Jangan kan menyebrangi perbatasan yang di jaga ketat. Keluar dari camp saja sudah ada tantangan tersendiri. Namun begitu, mereka tetap bisa melewati nya dengan aman sampai sejauh ini. Mereka sudah bisa bekerja di pasar terdekat. Jika ada modal, mereka bisa berdagang kecil-kecilan atau menjadi buruh.
Hal ini tak luput dari pantauan Yaseer. Ia banyak bertanya pada orang-orang yang sudah bekerja di luar camp. Terkadang ia ikut bekerja bersama dengan yang lain. jika mendapat cukup uang, ia berniat akan membelikan bahan untuk umminya membuat makanan untuk di jual kembali.
" Ummi, aku dapat uang dari bekerja sejak kemarin. Ummi butuh apa?" Tanya Yaseer di depan ummi nya saat malam setelah sholat isya. Mereka mengobrol di luar tenda.
" Kakak uang nya banyak yah?" tanya Abia kepo.
" Ya Alhamdulillah dapet beberapa shekeel aja " Kata Yaseer senyum syukur.
"Alhamdulillah.. Kaka kerja apa di pasar?" Tanya ummi ingin tau.
" Aku bantuin orang-orang mi. Kayak bawa barang, bersih-bersih toko, atau kadang cuci piring di kedai makan " Jawab Yaseer santai.
Laila terenyuh mendengar jawaban anak lelakinya. Di usia 10 tahun ia sudah berfikir bekerja membantu orang tua. Laila mengelus kepala anaknya bangga akan kerja keras nya
" Kakak ga butuh sesuatu ?" Tanya ummi lagi.
Yaseer berfikir keras dengan mengerutkan dahi nya. Apa yang ia butuhkan? Ia hanya butuh makan aja. Karena di camp sudah ada semua. Kadang ada bantuan pendidikan, bantuan kesehatan, logistik. Ya walaupun tidak7 rutin. Tapi semua seakan kehidupan normal.
Rutinitas ini mulai stabil walau beberapa kali mendapat kendala dari para zionis.
" Hmmm.... Kayaknya engga ada mi, udah buat modal ummi aja bikin kue ya, nnti aku bantu jualin di pasar." Putus Yaseer akhirnya.
" Yakin....?" tanya ummi sekali lagi.
" Iya mi, udah lah.. Coba ummi butuh apa, biar besok aku cariin bahannya". Kata Yaseer tegas.
" Baiklah .. Ummi butuh tepung, keju, gula dan kurma. Bisa?" Tantang umminya ingin tahu.
" Ok. Besok aku carikan. Nanti kalo uang nya kurang aku kerja lebih keras lagi." Setujunya penuh tekad.
" Masyaallah... Jagoan ummi udah bisa diandalkan kah?". Ucap ummi penuh syukur dan haru.
" Insyaallah ummi, aku laki-laki harus bisa jadi andalan keluarga. Hmm". Akunya dengan bangga.
" Tapi kamu kalo kerja gitu bener ga sih dek?". Tanya Haniya kepo.
" Idih ya benerlah. Kalo ga bener aku ga di gaji... Wle.." jawabnya sambil meledek.
" Iya sih mudah-mudahan lancar ya. Akak jadi iri..," Kata Haniya pelan.
" Akak iri kenapa?" tanya Yaseer heran
" Kamu bisa kerja bantu ummi keluar camp, akak sendiri cuma bisa diem aja di camp. Paling bantu di dapur umum aja." Lirih nya sedih.
" Dih gitu kok sedih. Nih denger ya kak. Keluar camp itu tantangannya banyak. Ga aman buat perempuan. Apalagi buat akak yang cantik manis gini... beuh.... BAHAYA...!!! Serunya dramatis.
Ummi dan Abia tersenyum kecil. Jarang-jarang Yaseer memuji akak nya.
" Udah lah akak mah di camp aja. Jagain Abia, bantuin ummi. Itu lebih bermanfaat sedikit bahaya." Putus Yaseer.
" Memang di luar sana berbahaya dek?" tanya Haniya masih penasaran.
" Akak ga tau aja. Beberapa hari lalu ada kejadian di perbatasan sana,.." cerita Yaseer sambil menunjuk ke arah depannya.
" Ada apa gitu?" tanya Haniya makin kepo.
" Ada korban yang disiksa oleh para zionis itu. Bahkan sampe tewas katanya. Makanya ga ada wanita yang berkeliaran... " ceritanya pelan mendramatisir dengan wajah serius.
Ummi, Hania dan Abia jadi merinding mendengar cerita Yaseer. Ternyata di luar sana tak seaman di camp. Yaseer pun pasti keluar sana dengan hati-hati karena adanya rintangan di depan mata.
Sebenarnya sudah banyak cerita di kalangan mereka akan kejahatan yang dilakukan para zionis itu. Tapi itu terjadi di luar camp. Jadi mereka hanya mendengar dan mengucap doa semoga terlindungi dari buruknya perbuatan para zionis itu.
" Astaghfirullah semoga kita selalu terlindungi. Dan kamu berhati-hati ya kak!" nasehat ummi ngeri sendiri akan cerita Yaseer.
"Harus mi. Makanya ummi jangan putus doakan aku ya. Kan doa ummi itu mustajab hehe...." Pinta Yaseer sambil nyengir.
" Pasti sayang. Doa ummi selalu menyertai kalian anak-anak ummi. " Jawab ummi dengan senyum tenang nya.
" Kalo para zionis itu ganggu kita di sini gimana mi?" Tanya Abia.
" Ya kita hajar aja bareng-bareng. Bila perlu kita jadikan tahanan. Suruh masak, bikin sumur, bikin WC... " Jawab Yaseer cepat penuh semangat.
" Lha emang berani kamu. Mereka punya moncong senjata lho... " Kata Haniya meledek.
" Lhooo... Kita punya Allah, kita punya banyak orang lho ini... Di keroyok juga ciut .." sanggah nya.
"Akak ga tau ya, kalo diantara pengungsi di sini ada ketua gerakan pembela rakyat tertindas??" Cerita Yaseer pelan sambil tengak- tengok kanan kiri.
"Maksud kamu gimana?" Tanya Haniya bingung.
" Itu loh. ketua pimpinan gerakan yang membela warga yang terdzolimi oleh para penjajah." Jelas Yaseer.
" Kamu tau dari mana?" Tanya Haniya lagi
" Lha aku kan se tenda dengan mereka. Ya aku dengar lah obrolan mereka." Jawab Yaseer lagi.
" Kamu nguping...!!?" Seru Hania.
" Shuut.. aish akak nih. Pelan dikit dong... !" Panik Yaseer.
" Aku ga sengaja dengar. Mereka ngobrolnya malam. Pas aku kebangun dari tidur, ya jadi kedengaran kan... " Jawab Yaseer santai.
" Mereka ngobrol apa aja gitu?" Tanya Hania jadi kepo kayaknya seru.
" Diih... Kepo....!!! Haha.. Aduh.." jawab Yaseer sambil meringis terkena sabetan geplakan tangan Hania di lengan nya.
" Orang tanya serius malah becanda.." sungut Haniya kesal.
" Sudahlah... Ummi perhatikan kalian ini bahas masalah orang dewasa. Biarkan saja mereka mau bahas apa. Kita ga ada kuasa apa-apa." Putus ummi nya menyudahi.
" Tapi kalo emang bener para penjajah itu mau ganggu kita di sini mi, aku mau gabung sama para pembela itu buat melawan..." Tekad Yaseer.
" Iya tapi kakak harus banyak latihan kalo gitu. Kita ga bisa cuma lawan dengan kata-kata". Saran ummi nya.
" Latihan militer mi?" Tanya Abia.
" Ya latihan apa saja, latihan bela diri mungkin, karena kita ga punya senjata seperti mereka.." papar ummi.
" Latihan bela diri nanti kakak jadi bodyguard kita ya mi?" Tanya Abia lagi.
" Iya bodyguard sholeh... " Jawab ummi tegas dengan senyum bangga.
" Siap mi. Allahu Akbar..!!! "
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.