Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema yang Pecah
Apartemen milik Baskara terletak di lantai empat puluh sebuah menara eksklusif di kawasan Menteng. Ruangan itu adalah definisi dari minimalisme yang dingin: dinding berwarna abu-abu semen, furnitur kulit hitam yang kaku, dan jendela kaca raksasa yang menyajikan kerlap-kerlip lampu Jakarta yang tampak seperti tumpahan permata di atas beludru hitam. Namun bagi Gendis, kemewahan ini terasa seperti penjara kaca yang hampa.
Baskara telah pergi setelah memastikan semua kebutuhan Gendis terpenuhi, memberinya privasi yang sangat ia butuhkan. Namun, justru dalam kesendirian itulah, pertahanan Gendis runtuh seutuhnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur berukuran king size yang aromanya sangat maskulin, aroma kayu dan hujan milik Baskara. Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh mulai menjalar dari ujung jari kakinya. Dingin. Sangat dingin. Rasa dingin itu merambat naik ke tulang belakangnya, lalu meledak di dadanya dalam bentuk debaran jantung yang tidak beraturan.
Deg. Deg. Deg.
Gendis mencoba menarik napas dalam-dalam, namun paru-parunya seolah menolak oksigen. Ruangan yang luas itu tiba-tiba terasa menyempit. Dinding-dinding abu-abu itu seolah bergerak mendekat, hendak menghimpitnya.
Lalu, tubuhnya mulai berkhianat.
Tangannya bergetar hebat. Awalnya hanya getaran kecil di jemari, namun dalam hitungan detik, seluruh tubuh Gendis terguncang. Ia mencoba memeluk dirinya sendiri, meremas lengannya kuat-kuat untuk menghentikan getaran itu, namun gagal. Giginya bergelatuk, menciptakan suara yang memilukan di tengah keheningan malam.
"Kenapa... kenapa aku?" bisiknya dengan suara yang pecah.
Selama lima tahun ini, Gendis telah mengubur mimpinya, ambisinya, dan harga dirinya demi menjadi istri yang sempurna. Ia mengira ia kuat. Ia mengira tekanan dari mertuanya, kesunyian rumah besarnya, dan dinginnya sikap Indra adalah hal-hal yang bisa ia atasi dengan sekadar memangkas bunga lili.
Namun malam ini, pengkhianatan yang ia saksikan di Club X menjadi pemantik bagi bom waktu yang selama ini berdetak di dalam mentalnya. Ia tidak hanya sedang sedih, ia sedang mengalami serangan panik akut, sebuah manifestasi fisik dari trauma mental yang sudah lama ia abaikan.
Gendis merangkak ke sudut ruangan, menyandarkan punggungnya di sudut dinding yang keras, mencari rasa aman yang semu. Ia menangis tanpa suara. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Indra yang sedang tertawa bersama Cindy muncul seperti kaset rusak yang berputar berulang-ulang.
Aroma parfum vanilla yang vulgar itu seolah kembali menyerang indra penciumannya, membuatnya mual.
"Apakah aku sakit?" tanyanya pada kegelapan.
Pikiran analisnya mencoba mendiagnosis diri sendiri. Selama ini ia menganggap dirinya sehat. Namun getaran hebat ini, sesak napas ini, dan rasa takut yang melumpuhkan ini... ini tidak normal. Ia teringat sebuah artikel tentang Complex PTSD atau kecemasan akut akibat stres berkepanjangan.
Haruskah ia pergi ke psikiater? Pikiran itu membuatnya semakin takut. Jika ia pergi ke dokter jiwa, apakah itu berarti Indra telah benar-benar menang? Apakah itu berarti ia adalah pihak yang "rusak" dalam pernikahan ini?
Di tengah getaran tubuhnya, Gendis merasa sangat kecil. Ia adalah wanita yang dulu mengelola kredit triliunan rupiah, namun sekarang ia bahkan tidak bisa mengendalikan tangannya sendiri untuk sekadar memegang segelas air.
Sementara Gendis berjuang melawan sisa-sisa kewarasannya, beberapa kilometer dari sana, di sebuah apartemen dengan interior yang jauh lebih mencolok dan berantakan, Indra sedang berada di puncak ilusinya.
Aroma asap rokok dan sisa alkohol masih menggantung di udara. Indra duduk di sofa empuk milik Cindy, jasnya sudah terlempar entah ke mana. Cindy, dengan gaun tidur sutra berwarna merah yang minimalis, sedang memijat bahu Indra dengan gerakan yang menggoda.
"Sayang, kok bengong? Masih kepikiran kerjaan?" tanya Cindy dengan suara manja yang biasanya selalu berhasil meluluhkan Indra. Indra menyesap sisa wiski di gelasnya.
"Bukan kerjaan, Cin. Aku cuma... merasa malam ini ada yang aneh. Seperti ada yang memperhatikan kita di kelab tadi."
Cindy terkekeh, suara tawanya terdengar seperti lonceng yang sumbang bagi siapa pun yang memiliki hati nurani.
"Ah, itu cuma perasaan kamu aja. Kan banyak orang di sana. Siapa juga yang berani memperhatikan Direktur hebat sepertimu?"
Indra mengangguk, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Mungkin kamu benar. Mungkin aku hanya butuh istirahat."
"Nah, kalau gitu jangan pulang dulu ya malam ini? Istrimu kan pasti sudah tidur. Dia nggak bakal tahu kalau kamu tidur di sini," goda Cindy, sambil mengecup leher Indra.
Indra tersenyum tipis.
Dalam pikirannya, Gendis adalah sosok yang statis, seperti furnitur di rumahnya yang akan selalu ada di sana, tidak peduli seberapa sering ia meninggalkannya. Gendis adalah pelabuhan yang membosankan namun aman, sementara Cindy adalah badai yang menyenangkan.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa "pelabuhan" itu kini sedang hancur lebur di bawah perlindungan musuh masa lalunya. Ia tidak tahu bahwa setiap detik yang ia habiskan di tempat tidur Cindy adalah paku tambahan pada peti mati karier dan reputasinya yang sedang disiapkan oleh Gendis.
"Iya, aku akan di sini. Gendis itu... dia tipe yang tidak akan berani bertanya macam-macam kalau aku pulang besok pagi dengan alasan rapat dadakan. Dia terlalu patuh untuk mencurigai suaminya," ujar Indra dengan nada meremehkan.
Ia merasa masih berada di atas angin. Ia merasa memiliki segalanya, status, harta, istri yang suci, dan simpanan yang liar. Bagi Indra, hidup adalah tentang bagaimana menjaga topeng tetap terpasang dengan rapi. Ia tidak sadar bahwa topengnya sudah retak sejak malam Gendis menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemejanya.
Kembali ke apartemen Baskara, getaran tubuh Gendis mulai mereda, menyisakan rasa lemas yang luar biasa. Ia merangkak menuju kamar mandi, menyalakan keran, dan membasuh wajahnya dengan air dingin.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Matanya merah, kantung matanya menghitam, dan wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua. Namun, di balik kerapuhan itu, ada sebersit cahaya kecil yang mulai menyala kembali.
"Kamu tidak gila, Gendis," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Tubuhmu hanya sedang bereaksi terhadap racun yang kamu telan selama lima tahun. Getaran ini... ini adalah tanda bahwa tubuhmu menolak untuk terus ditekan."
Ia menyadari bahwa ia memang membutuhkan bantuan profesional, namun bukan sekarang. Sekarang, ia harus bertahan. Ia harus menggunakan rasa sakit ini sebagai bahan bakar. Setiap kali tangannya gemetar, ia akan mengingat wajah puas Indra saat bersama wanita itu. Setiap kali ia sesak napas, ia akan mengingat daster pudar yang ia kenakan saat melayani Indra yang pulang dengan bau parfum wanita lain.
Gendis keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju jendela besar. Ia menatap ke arah luar, ke arah kemacetan Jakarta yang tak pernah tidur.
Ia tidak sengaja melihat sebuah kartu nama di atas meja samping tempat tidur. Kartu nama itu milik Baskara. Di sana tertulis nama perusahaannya, dan di baliknya, ada tulisan tangan yang rapi namun tegas;
"Aku ada di kamar sebelah jika kamu butuh sesuatu. Jangan lawan badainya sendirian, Gendis. Kadang, membiarkan orang lain memegang payung untukmu bukan berarti kamu lemah."
Gendis meremas kartu nama itu. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa tidak sendirian di dunia yang kejam ini. Meskipun orang yang menawarkan bantuan adalah orang yang dulu menyakitinya, setidaknya Baskara jujur dengan kekejamannya. Tidak seperti Indra, yang menikamnya dengan senyuman dan kata-kata cinta yang palsu.
Malam itu, Gendis akhirnya tertidur di atas sofa, bukan di tempat tidur. Ia belum siap untuk merasa terlalu nyaman di tempat milik pria lain. Namun dalam tidurnya, meskipun tubuhnya masih sesekali tersentak kecil karena sisa-sisa kecemasan, ia bermimpi tentang seekor burung yang berhasil melepaskan rantai di kakinya, meski sayapnya masih berdarah.
Esok pagi akan menjadi babak baru. Dan Gendis bersumpah, ia tidak akan membiarkan getaran di tangannya menghentikannya untuk menghancurkan hidup pria yang telah merenggut jiwanya.