NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Aku membasuh wajah dengan air dingin, membiarkan butiran airnya menghapus sisa panas di pipi. Aku menatap pantulanku di cermin toilet; mata yang sedikit kemerahan itu kini kupaksa menatap tajam. "Jangan lari lagi, Aruna," bisikku pada diri sendiri. Aku merapikan blazer, memoles ulang sedikit lipstick pucatku, dan menarik napas sedalam mungkin hingga dadaku terasa penuh.

Aku berjalan kembali menyusuri koridor lantai dua puluh dua dengan langkah yang sengaja dibuat mantap. Suara ketukan pantofelku di lantai granit terdengar seperti genderang perang yang tenang. Saat aku membuka pintu ruang rapat, semua mata tertuju padaku.

Pak Hendra tampak lega, Rasya tersenyum cemas, dan Baskara... ia sempat tertegun. Ada kilatan keterkejutan di matanya yang dingin saat melihatku kembali dengan dagu terangkat, bukan dengan wajah hancur yang ia harapkan.

"Maaf, Pak Hendra, Rasya. Tadi saya hanya perlu meminum obat. Efek kurang tidur semalam membuat fokus saya sedikit terganggu," ucapku dengan suara datar namun sangat profesional. Aku kembali duduk di kursiku, membuka map laporan seolah-olah interupsi emosional tadi tidak pernah terjadi.

Baskara berdehem, mencoba menguasai kembali kendali rapat yang sempat goyah. "Baik, kita lanjutkan. Jadi, seperti yang saya katakan tadi, strategi retensi kita tidak boleh menyasar subjek yang tidak memiliki integritas untuk kembali..."

"Interupsi, Pak Hendra," potongku cepat, suaranya tenang namun mematikan.

Baskara berhenti bicara, alisnya bertaut. Pak Hendra mempersilakan dengan anggukan kepala.

"Mengenai poin Pak Baskara tentang 'pelanggan yang menghilang', secara data, kita tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak," kataku sambil menatap lurus ke arah Baskara, menantang nyalinya. "Terkadang, sebuah 'aset' pergi karena mereka merasa tidak lagi memiliki ruang untuk tumbuh, atau mungkin karena komunikasi yang dilakukan selama ini hanyalah komunikasi satu arah yang membosankan. Jika kita ingin mereka kembali, kita harus menunjukkan bahwa perusahaan kita—atau dalam hal ini, sistem kita—telah berubah menjadi lebih baik, bukan malah menyerang masa lalu mereka secara personal di forum resmi."

Suasana ruang rapat mendadak senyap. Rasya tampak mengerjapkan mata, menyadari ada ketegangan yang lebih dari sekadar urusan data. Pak Hendra manggut-manggut, merasa argumenku masuk akal secara bisnis.

Baskara mengepalkan tangannya di atas meja. Ia tidak menyangka aku akan menyerang balik menggunakan logika yang sama dengan yang ia gunakan untuk menyindirku.

"Jadi, Pak Hendra," lanjutku tanpa memutus kontak mata dengan Baskara, "saya sarankan tim Analisis Data memberikan peluang untuk kampanye 'Welcome Back'. Karena setiap orang—dan setiap pelanggan—berhak atas penjelasan yang jujur sebelum benar-benar dihapus dari sistem. Bukankah begitu, Pak Baskara?"

Baskara menatapku lama, rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, dialah yang kehilangan kata-kata.

Hening yang canggung itu baru pecah saat Pak Hendra bertepuk tangan pelan, memecah ketegangan yang hampir bisa dirasakan di udara.

"Luar biasa. Saya suka perdebatan ini. Kalian berdua menunjukkan sisi profesionalitas yang sangat tajam," Pak Hendra tersenyum lebar, mengabaikan fakta bahwa di bawah meja, atmosfer antara aku dan Baskara sedang mendidih. "Justru karena kalian punya perspektif yang berlawanan, saya ingin hasil yang sempurna."

Pak Hendra menutup mapnya dan menatap kami bergantian. "Baskara, Aruna. Proyek kolaborasi dengan tim Rasya ini harus go-live lusa. Karena ada beberapa revisi mendasar dari perdebatan kalian tadi, saya minta kalian berdua lembur malam ini untuk menuntaskan model data terbarunya."

Jantungku mencelos. Aku melirik Baskara yang wajahnya masih kaku.

"Pak, apakah tidak bisa dikerjakan besok pagi saja?" tanyaku cepat, mencoba menghindar dari jebakan takdir.

"Maaf, Aruna, besok pagi saya harus mempresentasikannya ke jajaran direksi. Dan Rasya butuh data matang kalian untuk desain kreatifnya malam ini juga," Pak Hendra bangkit berdiri. "Rasya, kamu bisa kembali ke kantor agensimu. Baskara, Aruna, ruangan ini milik kalian sampai pekerjaan selesai."

Rasya tersenyum, mengemasi barang-barangnya sambil menatap Baskara dengan sayang. "Semangat ya, Bas. Jangan terlalu keras sama Mbak Aruna. Nanti kalau sudah selesai, kabari aku ya?"

Baskara hanya mengangguk singkat, suaranya hilang entah ke mana. Setelah pintu tertutup dan Pak Hendra serta Rasya menghilang di balik lorong, kesunyian di ruang rapat ini terasa mencekik. Hanya ada aku, dia, dan sisa-sisa amarah yang belum tuntas.

Baskara membanting MacBook-nya hingga tertutup rapat. Bunyi benturan itu bergema di ruangan luas yang kini hanya diterangi lampu sensor yang meredup di sudut-sudutnya.

"Puas?" desisnya, suaranya rendah namun penuh racun. "Berani-beraninya kamu bicara soal 'komunikasi yang membosankan' di depan manajerku?"

Aku berdiri, mencoba membereskan kertas-kertas di depanku dengan tangan yang tetap berusaha tenang. "Aku bicara soal profesionalitas kerja, Pak Baskara. Kalau Anda merasa tersindir, mungkin itu karena Anda memang mencampuradukkan dendam pribadi ke dalam draf presentasi tadi."

Baskara tertawa getir, tawa yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia melangkah mendekat, mengitar meja oval itu hingga jarak kami hanya tersisa beberapa jengkal. Bau parfum maskulinnya kembali menyerang indra penciumanku, membawa ingatan pahit tentang pelukan-pelukan yang dulu tak pernah kuhargai.

"Dendam pribadi?" Ia mencengkeram pinggiran meja di belakangku, mengurungku dalam ruang sempit. "Kamu menyebut satu tahun pencarianku sebagai dendam pribadi? Kamu menyebut hancurnya kepercayaanku sebagai 'masalah komunikasi'? Kamu benar-benar tidak punya hati, Aruna."

Wajahnya begitu dekat hingga aku bisa melihat kilat luka di matanya yang memerah. "Sekarang kita terjebak di sini berdua. Dan jangan harap aku akan membiarkanmu pulang sebelum kamu menjelaskan... apa maksudmu dengan 'menemukan ruang untuk tumbuh' saat kamu sedang berpacaran dengan teman sekelasmu itu?"

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!