Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.5 Guardian of the Night yang Terbangun
Aku duduk di depan pintu gua itu sudah lama sekali. Punggung bersandar pada batu yang dingin dan kasar. Ada kerikil kecil yang terselip di balik kain baju, menusuk tulang belakang secara pelan setiap kali aku bernapas.
Aku menggeser posisi sedikit. Mengangkat pinggul sejenak. Miring ke kiri. Lalu duduk kembali. Tetap saja tidak nyaman. Batu ini tidak memberi ruang untuk istirahat. Dinginnya meresap melalui kain seragam sekolah yang sudah tipis dan kotor. Tulang pinggang terasa kaku seperti besi yang lama tidak digerakkan.
Kaki kananku mulai kesemutan kembali. Jari-jari kaki di dalam sepatu yang penuh debu tanah terasa seperti ditusuk jarum kecil. Aku menggosok betis dengan tangan kiri secara pelan. Menekan otot yang kaku. Tidak banyak membantu.
Dingin malam ini berbeda dari dingin di penginapan. Lebih dalam. Lebih menempel pada tulang. Seperti air dingin yang merembes perlahan ke dalam tubuh.
Bara api unggun di depanku tinggal sebesar koin recehan. Nyala oranye kecilnya berkedip pelan. Seolah hampir kehabisan tenaga. Aku mengambil ranting kering dari tumpukan kecil di samping. Gerakanku sangat pelan agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu.
Ranting itu kumasukkan ke bara. Aku hembuskan napas secara perlahan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga nyala kecil muncul kembali. Cahayanya hangat di wajahku sejenak. Menerangi ujung hidung dan bibir yang kering.
Aku melihat bayanganku sendiri di permukaan batu pintu gua. Rambut yang sudah agak panjang dan kusut. Mata yang terbuka namun lelah. Seragam sekolah yang sekarang penuh debu tanah kering. Noda hitam dari asap unggun. Beberapa sobek kecil di lengan karena perjalanan kemarin.
Perutku berbunyi pelan. Lebih keras dari sebelumnya. Aku baru menyadari belum makan apa pun sejak roti kering siang tadi. Aku mengambil potongan terakhir dari tas ransel. Menggigit kecil. Mengunyah secara perlahan. Rasanya kering di lidah. Seperti kertas tua yang diberi sedikit garam.
Aku menelan dengan susah payah. Lalu minum dari botol air yang sudah tinggal setengah. Airnya sangat dingin. Langsung membuat gigi terasa ngilu sejenak. Aku menutup botolnya dengan hati-hati. Meletakkannya di samping katana. Lalu mengusap mulut dengan punggung tangan yang sudah kotor.
Aku menarik napas dalam-dalam. Uap putih keluar dari mulut. Naik perlahan. Lalu hilang di kabut yang semakin tebal. Kabut itu bergerak sangat pelan. Seperti asap yang keluar dari mulut seseorang yang sedang berpikir dalam.
Dinginnya merayap naik dari tanah. Masuk ke celah sepatu. Ke kaos kaki yang sudah basah embun dan lengket di kulit. Aku menarik selimut yang tadi dipakai Nyx lebih rapat ke dada dan kaki. Kainnya agak kasar di kulit. Namun bau sabun herbal dari penginapan Lyre masih menempel tipis. Bau yang membuat dada terasa agak hangat sejenak.
Langit di atas reruntuhan sangat gelap. Tidak ada bintang sama sekali. Awan tebal menutupi semuanya. Seolah sengaja tidak ingin memberi cahaya malam ini. Aku mengangkat kepala. Menatap langit sejenak.
Di dunia asalku dulu, malam seperti ini jarang terjadi. Polusi cahaya membuat langit kota selalu kuning kusam. Atau jika cerah, bintangnya hanya segelintir yang terlihat. Namun di sini malam benar-benar gelap. Dingin. Dan sunyi.
Hanya suara napasku sendiri. Derit kayu bara yang sesekali pecah pelan. Dan hembusan angin yang lewat perlahan membawa bau tanah basah bercampur logam dingin dari dalam gua.
Aku menggeser katana lebih dekat ke pangkuan. Gagangnya dingin di telapak tangan. Aku memegangnya secara pelan. Jari menyusuri ukiran kecil di sarung yang sudah agak aus. Di dunia asalku, orang-orang pasti akan menganggap aku aneh membawa pedang ke mana-mana. Namun di sini ini satu-satunya yang membuatku merasa tidak sendirian.
Aku diam kembali. Hanya mendengar napasku sendiri. Denyut jantung yang pelan. Dan sesuatu yang lain. Mana di dalam gua. Awalnya hanya denyut kecil. Seperti detak jam dinding yang jauh di ruangan sebelah. Namun sekarang semakin terasa. Lebih dalam. Lebih lambat.
Seperti ada sesuatu yang besar sedang bernapas perlahan di balik batu itu.
Aku menatap pintu gua. Permukaannya hitam mengkilap. Sangat dingin jika disentuh. Aku sempat mencoba menekannya tadi sore. Hanya sekali. Tangan langsung terasa kedinginan hingga ke siku. Sekarang aku hanya duduk. Menatap celah kecil di bawah pintu. Angin dingin keluar dari situ. Membawa bau logam yang lebih tajam dari sebelumnya.
Aku menarik selimut lebih rapat ke dada. Kaki kanan masih kesemutan. Aku menggosoknya lagi. Secara pelan-pelan. Sambil tetap menatap pintu.
“Nyx…” aku berbisik pelan. Hampir tidak terdengar. “Kau baik-baik saja di dalam, bukan?”
Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak ada. Namun aku tetap berbicara. Seperti dulu ketika aku menemukannya di gang malam itu. Aku berbicara pelan agar dia tidak takut. Sekarang aku berbicara pada pintu batu. Namun rasanya sama.
“Jika kau keluar nanti, kita langsung pulang. Lyre pasti menunggu kita. Dia bilang penginapan terasa sepi tanpa kita. Anak kembarnya juga pasti merindukanmu. Yang satu selalu tersenyum lebar. Yang satunya wajahnya datar namun rajin membantu.”
Aku tersenyum kecil sendiri. Sungguh bodoh berbicara seperti ini. Namun jika tidak, pikiranku akan melayang ke mana-mana. Membayangkan kau sendirian di dalam sana. Takut. Atau lebih buruk lagi.
Aku menggeleng pelan. Menggosok mata dengan punggung tangan. Mata terasa panas sejenak. Bukan menangis. Hanya lelah. Aku mengusap mata lagi. Lalu menarik napas dalam.
Jangan memikirkan hal seperti itu. Dia berjanji akan kembali. Dia sudah mengatakan ‘bareng’.
Bara api berkedip lagi. Aku hembuskan napas pelan agar tidak padam. Udara malam semakin dingin. Kabut semakin tebal. Aku menarik selimut lebih rapat ke dada. Kaki kanan masih kesemutan. Aku menggosoknya lagi. Secara pelan-pelan. Sambil tetap menatap pintu
Lalu denyut mana itu semakin kuat. Bukan cepat. Masih lambat. Namun lebih dalam. Seperti ada sesuatu yang besar di dalam gua sedang bangun perlahan dari tidur yang sangat lama.
Aku menarik napas dalam-dalam. Dada terasa sesak. Namun aku tetap duduk di tempat. Tangan kiri memegang gagang katana lagi. Tidak ditarik. Hanya dipegang. Agar tangan tidak kosong.
“Aku menunggumu, Nyx,” bisikku pelan pada pintu batu yang diam saja. “Berapa lama pun. Aku tidak pergi ke mana-mana.”
Bara api berkedip pelan. Seolah mengangguk setuju.
Malam masih panjang.
Namun aku tetap di sini.
Menunggu.
Dan kabut terus bergerak pelan di sekitarku. Seolah ikut menunggu juga.
[]
Gelap.
Sangat gelap.
Aku melangkah pelan di lorong batu yang sempit. Kaki telanjang menyentuh batu dingin yang licin karena embun atau sesuatu yang lebih lembab. Setiap langkah terasa berat. Seperti ada tangan tak terlihat yang menarik pergelangan kaki ke bawah. Namun aku tidak berhenti. Aku tidak bisa berhenti. Ada sesuatu di dalam dada yang menarikku maju. Bukan rasa takut. Bukan paksaan. Lebih seperti pulang.
Lorong ini tidak lurus. Ia berbelok pelan ke kiri. Lalu ke kanan. Seperti ular yang sedang tidur. Dinding batu hitam mengkilap di sampingku. Kadang terasa hangat. Kadang dingin sekali sampai jari-jariku gemetar. Aku mengangkat tangan kanan. Menyentuh dinding itu secara pelan. Permukaannya halus seperti kaca tua. Namun ada urat-urat kecil bercahaya biru kehitaman yang berdenyut pelan di bawahnya. Setiap denyut itu terasa di telapak tanganku. Seperti detak jantung yang sama dengan detak jantungku sendiri.
Aku berhenti sejenak. Napasku terdengar keras di telinga sendiri. Aku menarik napas dalam. Hembuskan perlahan. Uap putih keluar dari mulut. Namun di sini tidak dingin seperti di luar. Udara di dalam gua terasa tebal. Berat. Seperti bernapas di dalam air hangat yang penuh garam.
Aku melanjutkan maju. Langkahku sangat pelan. Tumit kiri menyentuh batu. Lalu jari kaki kanan. Lalu tumit kanan lagi. Aku tidak ingin buru-buru. Jika buru-buru, aku takut sesuatu akan pecah. Atau aku sendiri yang pecah.
Lorong semakin sempit. Bahuku hampir menyentuh dinding kiri dan kanan. Aku mengangkat tangan. Telapak menyentuh batu di atas kepala. Masih ada ruang. Namun hanya sedikit. Aku jongkok pelan. Merangkak maju. Lutut menyentuh batu dingin. Telapak tangan merasakan urat-urat cahaya yang semakin terang. Denyutnya semakin cepat sekarang. Seperti jantung yang sedang senang bertemu teman lama.
Aku sampai di ruangan kecil. Bukan ruangan besar seperti yang kubayangkan. Hanya lingkaran batu dengan diameter sekitar tiga langkahku. Di tengahnya ada lingkaran kecil yang terukir. Lingkaran dengan mata di tengah. Dikelilingi rantai yang bergerak pelan seperti bernapas. Cahaya biru kehitaman keluar dari ukiran itu. Menerangi ruangan secara samar-samar.
Aku duduk di depan lingkaran itu. Lutut ditekuk. Tangan memeluk lutut seperti biasa waktu aku takut di penginapan. Namun sekarang aku tidak takut. Aku hanya penasaran. Dan sedih. Dan rindu.
“Mama…” bisikku pelan. Suaraku bergema kecil di ruangan. “Papa… Kakak… kalian tahu ini akan terjadi, bukan?
Tidak ada jawaban. Namun urat-urat cahaya di dinding berdenyut lebih cepat. Seperti mengangguk.
Aku mengangkat tangan kanan. Jari telunjuk menyentuh lingkaran di tengah ukiran. Dingin sekali. Namun bukan dingin yang menyakitkan. Lebih seperti dingin yang menenangkan. Seperti tangan Mama waktu aku kecil dan sedang demam.
Darah di tubuhku terasa berdesir. Bukan sakit. Hanya seperti ada aliran hangat yang keluar dari dada. Mengalir ke tangan. Ke jari. Aku melihat tetes darah kecil muncul di ujung jari telunjuk. Merah gelap. Hampir hitam. Tetes itu jatuh pelan ke lingkaran ukiran.
Begitu menyentuh, ruangan bergetar pelan. Bukan gempa. Lebih seperti napas yang dalam dan panjang.
Cahaya biru kehitaman naik dari ukiran. Merayap ke dinding. Ke langit-langit. Ke tubuhku. Aku tidak takut. Aku hanya menutup mata. Membiarkan cahaya itu menyentuh kulit. Rasanya seperti dipeluk. Pelukan yang dingin namun hangat di saat yang sama.
Aku mendengar suara. Bukan suara orang. Lebih seperti hembusan angin yang membentuk kata-kata di pikiranku.
Guardian… akhirnya pulang.
Aku membuka mata pelan. Cahaya sekarang lebih terang. Namun tidak menyilaukan. Di depanku, bayangan hitam tipis mulai terbentuk. Seperti asap yang hidup. Bayangan itu membentuk telinga kucing. Lalu ekor panjang. Lalu bentuk tubuh kecil yang mirip aku.
Bayangan itu menatapku. Matanya merah gelap. Namun bukan marah. Lebih seperti rindu.
Kau sudah siap?
Aku mengangguk pelan. “Aku… tidak tahu. Namun aku tidak ingin lari lagi.”
Bayangan itu mendekat. Aku tidak mundur. Ia menyentuh pipiku. Dingin sekali. Namun tidak sakit. Rasanya seperti pelukan dari seseorang yang sudah lama hilang.
Kau adalah aku. Aku adalah kau. Guardian bukan nama. Guardian adalah darah. Darah adalah malam. Malam adalah akhir… dan awal.
Aku menarik napas pelan. Dada terasa penuh. “Aku tidak ingin akhir. Aku ingin… bersama Kak Ely. Bersama Lyre. Bersama Cae.”
Bayangan itu diam sejenak. Lalu berbisik lagi.
Maka kita harus menciptakan awal baru. Bukan akhir. Bukan kekosongan. Namun malam yang punya cahaya.
Aku mengangguk lagi. Air mata jatuh pelan dari mata kiriku. Bukan sedih. Lebih seperti lega.
“Aku siap,” bisikku.
Bayangan itu merayap masuk ke tubuhku. Bukan menyakitkan. Lebih seperti air dingin yang mengalir ke urat nadi. Membawa kehangatan aneh di dada. Aku menutup mata lagi.
Di luar gua, aku tahu Kak Ely masih menunggu.
Dan aku berjanji akan kembali.
Dengan sesuatu yang baru.
Namun tetap aku.
Nyx.