NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinggal bersama

Kaisar keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dari muntahan Raline, mengganti bajunya dengan kaos polos dan celana pendek. Rambutnya sudah hampir kering setelah dikeringkan dengan handuk dan hair dryer.

Begitu ia keluar, ia melihat Bu Esta berdiri di samping ranjang sambil memperhatikan Raline yang masih terlelap sejak dari perjalanan. Kaisar menghampiri ibunya dan berdiri di sampingnya.

"Kalo Mama mau pulang, pulang aja," ucapnya. "Raline juga tidur nyenyak. Biar aku yang jagain dia."

Bu Esta menoleh. "Tapi kamu gak akan melanggar aturan dari ayah mertua kamu, kan?"

"Soal?"

"Soal kalian tidur di kamar terpisah dan gak melakukan hubungan seksual."

Kaisar menghela napas pelan lalu mengangguk.

"Mama tenang aja. Aku gak akan melanggar apapun dari Bapak. Aku lagi belajar menepati janjiku dan bertanggung jawab atas itu."

Bu Esta melirik Raline sekali lagi, kemudian menatap putranya. "Dalam kondisi hamil muda seperti ini, Raline akan sering mengalami hal-hal yang merepotkan. Kamu harus bisa menjaganya, setidaknya buat dia merasa nyaman sama kamu supaya ketika dia kasih kabar ke orang tuanya selalu memberikan kabar baik tentang kamu."

Kaisar menatap orang tuanya sebentar, lalu ia beralih menatap Raline. "Aku akan menjaganya sesuai janjiku, bukan karena pengen dia kasih tau ortunya kalo aku baik. Dia tanggung jawabku sekarang. Apapun yang terjadi, aku bakal lakuin sepenuh hati."

Bu Esta hanya menghela napas.

"Terserah kamu kalau memang niatmu hanya ingin bertanggung jawab penuh," gumam Bu Esta pelan, sembari mengusap bahu Kaisar dengan lembut. "Tapi ingat. Jangan sampai kamu jatuh cinta padanya."

"Perasaan bisa berubah seiring berjalannya waktu," lanjut Bu Esta. "Jadi, kamu jangan memberikan celah untuk hatimu memikirkan dia terlalu banyak. Cukup lakukan kewajiban kamu saja, tanpa melibatkan perasaan."

"Ingat, pernikahan kalian hanya untuk sementara. Bukan pernikahan yang dilandasi cinta, yang harus dipertahankan selamanya," tutupnya.

Kaisar hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari wajah lelap Raline. Ia tak bisa memberikan jawaban untuk saat ini. Ya atau tidak. Sebab, saat ini ia sedang tak ingin membahas soal perasaan atau cinta. Ia hanya ingin fokus pada tugasnya menjaga Raline.

"Ya sudah, Mama pulang dulu," ucap Bu Esta sembari mengambil tas jinjingannya. "Besok Mama akan meminta Pak sopir untuk mengantarkan barang-barang kamu kemari, termasuk mengantarkan motor punyamu, supaya kamu bisa tetap pergi sekolah seperti biasa."

Kaisar mengangguk lagi.

"Oh, iya. Setelah Raline bangun besok, kamu harus meminta dia tidur di kamar bawah," kata Bu Esta, seolah tak mau melupakan sesuatu yang penting. "Jangan sampai kalian tidur sekamar. Itu bahaya."

"Iya, Ma," jawab Kaisar patuh.

Setelahnya, Bu Esta melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Keheningan seketika menyergap. Kaisar menarik kursi kecil ke samping tempat tidur, lalu duduk di sana. Ia memperhatikan napas Raline yang teratur, kontras dengan gemuruh di kepalanya sendiri tentang perubahan hidup yang begitu mendadak ini.

"Sekarang lo udah jadi istri gue, Lin," gumamnya pelan. "Gue bakal berusaha jadi suami yang baik. Seenggaknya sementara waktu."

Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.

Drrrt!

Drrrt!

Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Kaisar sedikit terkejut karena tengah melamun.

Ia menoleh dan meraih ponselnya. Melihat siapa yang menghubunginya malam-malam begini.

Nana.

Rupanya gadis itu yang menghubunginya. Mungkin karena sejak pagi kaisar tidak menerima panggilan darinya, sehingga Nana terus menghubungi setiap ada kesempatan.

Tak mau membiarkan kekasihnya merasa cemas, Kaisar pun menerima panggilan dari Nana dengan gerakan cepat.

"Halo, Na."

"Halo, Sayang," suara Nana terdengar cemas diseberang sana. "Kamu kemana aja sih? Kenapa tiap aku telepon gak diangkat? Malah, aku sempat kesulitan juga hubungi kamu karena gak aktif."

Kaisar tidak langsung memberikan jawaban. Ia berpikir sebentar untuk mencari alasan yang logis agar Nana percaya.

"Kai?" panggil Nana, menunggu.

"Eh, maaf," ucap Kaisar. "Aku sibuk hari ini, Sayang. Gak sempat kasih kabar ke kamu. Soalnya, hari ini aku temenin Mama keluar, ketemu sama beberapa koleganya. Aku gak bisa aktifin hp karena takut ganggu."

"Ha? Ketemu kolega?" tanya Nana, terdengar meragukan. "Kamu kan masih sekolah. Ngapain juga ketemu sama kolega Mama kamu? Masih lama loh kamu jadi CEO."

Kaisar garuk-garuk kepala tak gatal lalu menjawab, "Ya, emang masih lama. Tapi aku disuruh ikut biar kenal mereka dari sekarang. Sebagai penerus, aku harus bisa belajar dari jauh-jauh hari, kan? Dari hal-hal kecil juga."

Nana terdiam sejenak di ujung telepon. Ada jeda yang cukup lama hingga Kaisar sempat melirik ke arah Raline, memastikan suara percakapannya tidak mengusik tidur gadis itu.

"Hmm, masuk akal sih," gumam Nana akhirnya, meski nadanya masih terdengar agak sangsi. "Tumben banget Mama kamu ngajakin kamu. Tapi ya udahlah, yang penting kamu nggak apa-apa. Aku kangen tau, seharian dicuekin."

Kaisar mengembuskan napas lega yang tertahan. "Maaf ya, Na. Hari ini beneran di luar kendali aku."

"Iya, dimaafin. Tapi gantinya, besok sepulang sekolah kita jalan ya? Ada film bagus yang baru rilis, atau kita ke kafe biasa juga boleh. Pokoknya aku mau quality time sama kamu," pinta Nana dengan nada manja yang biasanya sulit ditolak Kaisar.

Kaisar memijat pangkal hidungnya. Besok adalah hari pertamanya hidup bersama Raline di rumah ini. Ia harus bisa membuat Raline betah. Belum lagi barang-barangnya yang akan datang. Tidak mungkin ia meninggalkan Raline sendirian di tempat yang masih asing baginya.

"Na, kayaknya besok aku nggak bisa masuk sekolah deh," ucap Kaisar pelan.

"Loh? Kenapa lagi? Kamu sakit?" suara Nana naik satu oktav.

"Nggak, bukan gitu. Besok aku harus antar Mama ke Bandung, ke rumah saudara. Ada acara keluarga mendadak yang penting banget dan aku wajib ikut. Paling lusa aku baru masuk sekolah lagi."

"Ke Bandung?" Nana terdengar sangat kecewa. "Kok mendadak banget sih, Kai? Padahal aku udah semangat banget pengen ketemu. Kenapa harus besok? Kenapa nggak hari libur aja?"

"Maaf banget, Na. Namanya juga urusan keluarga, aku nggak bisa nolak kalau Mama yang minta," jawab Kaisar, berusaha terdengar setenang mungkin meski hatinya dipenuhi rasa bersalah. Ia membenci dirinya sendiri karena harus terus berbohong pada gadis yang ia cintai.

"Kamu selalu gitu sekarang, susah banget diajak ketemu," keluh Nana ketus. "Sekalinya kita jalan bareng aja kamu banyak ngelamun."

"Sayang, tolong ya... kali ini aja mengerti," bujuk Kaisar lembut. "Aku janji, setelah urusan ini selesai, aku bakal cari waktu buat kita. Kamu jangan marah ya? Aku lakuin ini juga demi nurutin kemauan orang tua."

Hening beberapa saat sebelum Nana menghela napas panjang. "Ya udah deh. Tapi lusa kamu harus masuk ya? Jangan sampai bolos lagi. Dan jangan lupa kasih kabar, jangan ngilang kayak tadi."

"Iya, aku janji. Makasih ya udah mau ngerti."

"Iya. Yaudah, aku mau tidur dulu. Bye, Sayang... Love you."

"Bye. Love you too," balas Kaisar mesra.

Setelah menutup telepon, Kaisar meletakkan ponselnya kembali ke meja. Ia menatap Raline yang masih terlelap, menyadari bahwa satu kebohongan ini barulah awal dari rentetan kebohongan lain yang harus ia susun demi menutupi status barunya.

"Maaf ya, Na..." gumamnya dalam hati. "Aku bohongin kamu. Aku khianati kamu juga."

Ia menunduk dalam. Memijat kepalanya sendiri karena terlalu banyak yang harus ia pikirkan.

"Enghhh..."

Tiba-tiba Raline bergumam dalam tidurnya. Kaisar spontan menoleh.

Mata Raline terbuka setengahnya. Mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya lampu yang terang di dalam kamar.

Kaisar bangkit dan menghampiri.

"Lin? Lo udah bangun?" tanya Kaisar.

Raline membuka matanya lebar-lebar. Melirik ke arah Kaisar yang kini berdiri di sisinya dengan posisi membungkuk ke arahnya.

"Ini di mana?" tanyanya pelan, sambil menatap sekeliling yang terasa asing.

"Ini di rumah almarhumah nenek gue. Tempat tinggal kita yang baru, seperti yang Mama bilang di mobil," jawab Kaisar.

Raline mencoba untuk bangkit, tapi kepalanya terasa masih pening. Sehingga Kaisar membantunya untuk duduk.

"Haus..." ucapnya.

Kaisar menuangkan air dari botol ke dalam gelas yang sejak tadi sudah tersedia di atas nakas, kemudian memberikannya pada Raline.

Raline menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, meminum isinya hingga tandas seolah kerongkongannya benar-benar kering. Kaisar mengambil kembali gelas kosong itu dan meletakkannya di nakas.

"Apa masih mual?" tanya Kaisar, suaranya melembut tanpa ia sadari.

Raline menggeleng kecil sambil memijat pelipisnya. "Cuma masih agak pusing," jawabnya. Matanya mulai menyisir sudut-sudut kamar yang tampak klasik namun terawat.

"Nyokap lo (ke mana)?" tanyanya. Menyadari di kamar itu hanya ada mereka, dan sosok mertuanya tidak terlihat lagi.

"Mama udah pulang tadi," jawab Kaisar. "Udah terlalu malam, jadi beliau pulang."

Raline mengangguk paham. Ia lalu menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, berniat turun dari tempat tidur.

"Eh, mau ke mana?" tanya Kaisar sembari menahan bahu Raline.

Raline menatap Kaisar beberapa saat dan menjawab, "Kita gak akan tidur sekamar, kan? Artinya, gue harus cari kamar lain."

"Kamar lo ada di bawah," potong Kaisar. "Tapi malam ini, kita tidur bareng aja. Soalnya, kamar bawah belum disiapin. Besok harus di benahi dulu, biar lo nyaman nempatinnya."

Raline memegangi kepalanya lagi, rasa pusing belum sepenuhnya hilang.

"Tidur lagi aja, Lin," ucap Kaisar, sedikit mendorong bahu Raline agar berbaring kembali. "Gue gak bakal ganggu lo, meski kita tidur sekamar. Tenang aja."

Raline tidak menjawab. Tubuhnya malah mengikuti arahan Kaisar.

Raline akhirnya kembali merebahkan tubuhnya, meski matanya masih menatap langit-langit kamar dengan ragu. Kaisar menarik kembali selimut hingga sebatas dada Raline, lalu ia berjalan menuju sisi tempat tidur yang lain.

Ia sempat mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. Kemudian merebahkan diri di atas kasur yang sama, namun dengan jarak yang cukup jauh, hampir di pinggiran ranjang, seolah ada garis pembatas tak kasat mata di antara mereka.

"Kai," panggil Raline lirih dalam kegelapan yang kini hanya diterangi lampu tidur.

"Hm?"

"Lo beneran bakal bisa?"

Kaisar memiringkan tubuhnya, menatap punggung Raline. "Bisa apa?"

"Bisa jalani semua ini. Bohong terus-terusan sama Nana. Gue tau, lo pasti terus bohong sama dia, kan? Makanya sampe sekarang dia gak tau soal hubungan kita."

Hening sejenak. Pertanyaan itu menghantam titik paling sensitif di hati Kaisar malam ini. "Gue bakal berusaha buat jalani semua ini. Gue juga nggak punya pilihan lain selain bohong terus, Lin. Mungkin gue cuma butuh waktu buat nata semuanya."

Raline menghela napas panjang, suaranya terdengar berat. "Gue ngerasa jahat. Gue ngerasa kayak perusak hubungan orang, padahal gue juga nggak mau ada di posisi ini."

"Kalo Nana tau... Dia pasti kecewa berat. Dia bakal nganggap gue sebagai cewek gatel," tambahnya.

Kaisar terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi kenyataannya memang rumit. "Ini bukan salah lo. Ini salah gue. Kalo suatu hari Nana tau dan dia mikir kayak gitu, biar gue yang jelasin. Lo gak usah khawatir. Sekarang mending lo tidur lagi, jangan banyak pikiran. Kasihan... anak kita."

Kata 'anak kita' membuat suasana seketika berubah canggung. Raline meringkuk di tempatnya, memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir rasa bersalah yang menghimpit. Sementara Kaisar, meski matanya terpejam, pikirannya melayang jauh ke hari esok. Tentang bagaimana ia harus membagi dirinya antara kewajiban sebagai suami 'rahasia' dan perannya sebagai kekasih Nana.

Bersambung...

1
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
Nurul Hilmi
jangan kasih cinta buat kaisar lin. biar die nyesel😄
Lisdaa Rustandy: cinta akan hadir saat waktu terus berjalan. bahkan saya yg menikah tanpa cinta aja sekarang jadi bucin🤣
total 1 replies
Nurul Hilmi
anak jangan dikasih orang lain, tetep raline yang rawat...
deeRa
Ganbatee Lin💪😊
falea sezi
jangan mau pergi jauh dr situ besarin anak sendiri ibunya egois cucu kandung mau di buang dajjal bgt ne orang
deeRa
Nyesek ya jd raline, 🥺
ROSULA DARWATI
kasihan Raline
Melinda Cen
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!