SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKANDAL MANDOR
Sasa asyik membungkus paketan dihubungi oleh salah satu tetangga, " Mbak Sasa cepat ke rumah, Mbak. Itu tukang Mbak kok sedang berdebat dengan seorang perempuan," lapor sang tetangga. Jelas saja Sasa gupuh, dia yang tak boleh mendapat kabar mengejutkan mendadak susah fokus, harusnya ia segera mengambil motor dan segera ke rumahnya, namun ia malah berlari menuju dapur membuka kulkas dan minum air dan terbengong, lama juga. Hingga telepon dari salah satu tukang membuatnya tersadar.
"Iya, Pak. Saya ke sana!" ujar Sasa kembali fokus, lalu pergi. Tak sampai 5 menit, Sasa sudah datang dan bertemu dengan seorang perempuan, yang menunggu di dalam mobil. Pak Tukang mengetuk pintu mobil dan perempuan yang mungkin berusia di atas Sasa ini turun dengan wajah jutek.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sasa masih sopan, si perempuan itu langsung menanyakan keberadaan sang mandor. Ia yakin Sasa tahu, perempuan itu butuh sang suami karena anak terakhirnya panas tadi malam dan pagi ini masuk rumah sakit karena disertai muntah.
"Maaf, Mbak saya gak tahu Pak Mandor di mana, saya tahu kalau beliau gak masuk karena ada acara di mertuanya, kata Pak Dir," ucap Sasa sesuai pengakuan tukang kemarin.
Pak Dir pun bergabung dengan Sasa dan istri Pak Mandor, apa yang diucapkan Sasa benar, "Sekarang telepon suami saya, karena kalau saya tidak diangkat," ujar si istri. Pak Dir pun mengiyakan, dan menunggu agak lama memang diangkat.
Si istri meminta ponsel Pak Dir untuk mengecek lokasi terkini, karena si mandor biasanya mengaktifkannya. Telepon di loudspeaker, sembari mengecek, Pak Tukang diminta ngomong dengan si mandor.
"Kenapa, Dir?" tanya si mandor di seberang sana.
*Sayang aku sa*mpai, Ah. Terdengar suara perempuan, sontak saja istri si mandor dan Sasa langsung saling tatap, sedangkan Pak Dir langsung tergugu, mendadak lidahnya keluh tak bisa menjawab. Jelas mereka paham situasi apa yang terjadi.
"Anu Pak, anu besinya ini mau diambil sekarang atau diantar?"
Suara desahan semakin terdengar, namun segera dimatikan. Sang istri sudah gemetar tak karuan, beruntung dia sudah menemukan titik lokasi saat ini.
"Mbak, Mbak gak pa-pa?" tanya Sasa khawatir, melihat perempuan itu gemetar dan menangis seperti melihat dirinya saat memergoki Sakti dan Mutiara di rumah sakit dulu.
"Mbak, Mbak bisa bawa mobil?" tanya istri si mandor, ia ingin memergoki sang suami yang tak pulang semalam, dan mendengar desahan itu, si istri yakin suaminya sedang bermain dengan seorang perempuan.
"Bisa, Mbak!" Sasa pun mengambil alih mobil, dan si istri terpaksa membawa ponsel Pak Tukang, karena ia tak mau si tukang lapor kepada mandor. Sasa meyakinkan kalau ponselnya aman.
Kedua perempuan itu pun menuju ke arah lokasi yang sesuai maps, istri mandor selama perjalanan terus beristighfar, dan tentunya menangis. "Dia tidak pernah begini, Mbak. Saya tak menyangka dia bisa selingkuh begini, tega sekali," ujar si istri. Sasa hanya bisa diam, andai orang tahu melihat kejadian seperti ini mendadak jantung Sasa berdegup kencang, namun kembali lagi ia sedang membawa mobil, tentu harus fokus.
Sampai di sebuah penginapan, sang istri langsung lemas karena melihat motor sang suami, Sasa pun bertanya pada resepsionis tentang tamu yang mereka cari. Pihak resepsionis tak berani memberikan namun istri si mandor langsung memberi uang tutup mulut, "Tolong, Mbak. Suami saya sedang selingkuh di dalam sana," ujar si istri membuat petugas dan resepsionis akhirnya memberikan kunci cadangan.
Dengan ditemani petugas keamanan, istri dan Sasa menuju ke kamar mandor. Pintu dibuka secara perlahan, dan si istri meminta tolong Pak Satpam untuk merekam. Terdengar suara dua manusia yang sedang membahas keintiman.
"MAS!" teriak istri si mandor. Posisi si mandor tak memakai apa-apa sedang terlentang dan si perempuan sedang rebahan di sisinya, dan kondisinya juga sama-sama polos. Tentu saja mereka langsung gelagapan, dan Sasa langsung melotot tak terkira sembari berteriak.
"MAMA!" teriak Sasa. Badannya langsung limbung, jantung yang sejak tadi berdegup kencang karena peristiwa istri mandor menangis, dan sekarang ditambah sang mama kedapatan tak memakai baju dengan suami orang, jantung Sasa tak kuat. Rasanya ia lemas seketika dan limbung.
Petugas keamanan bingung, mau lanjut video atau menolong Sasa, karena istri mandor mulai beraksi.
"Mbak, ya Allah, Mbak, saya gimana ini," ujar si petugas bingung. Beruntung salah satu resepsionis datang dan diminta membantu Sasa saja. Petugas keamanan langsung melerai istri sah, karena jangan sampai bertindak anarkis bisa berakibat fatal bagi istri sah.
"Bapak dan ibu silahkan berberes kita selesaikan si luar kamar," terpaksa petugas keamanan harus bertindak tegas agar tak menimbulkan kericuhan kamar lain. Ponsel diserahkan kepada istri sah, rekaman perselingkuhan sudah didapat.
Si istri nafasnya memburu, menunggu di depan kamar, siap menghadapi wajah pendosa seperti keduanya. Mandor dan mama Sasa keluar dengan menunduk, digiring oleh petugas keamanan menuju ruang pertemuan untuk diselesaikan oleh keduanya.
"Kamu tega Mas, kamu tega! Aku semalam menjaga anak kamu yang panas, bahkan pagi ini dia masuk rumah sakit, sedangkan kamu berbagi cairan dengan perempuan ini, bangsat!" teriak istri mandor dengan tangisan yang memilukan. Mama Sasa seperti tak bermasalah, ia langsung pergi.
"Urus istri kamu," ujar mama Sasa seenaknya.
"Berhenti kamu wanita bangsat!" teriak istri mandor. Akan aku laporkan kalian ke polisi, atas tindakan perzinahan!"
"Dek, udah, Dek. Ini aku yang salah!"
"Ya memang kamu yang salah, kamu gak bisa kontrol birahi kamu, Mas. Kalian berdua salah."
"Dia yang salah, bukan aku. Aku hanya melayani," ujar mama Sasa masih tak merasa bersalah. Ingin pergi saja karena ia juga kepikiran Sasa. Tambang uangnya harus dipastikan baik-baik saja.
"Keluar dari sini, kamu akan tahu power istri sah!" ujar si istri sudah muak dengan kelakuan suami dan perempuan itu yang tak ada satu kalimat permintaan maaf.
Dengan amarah yang memuncak, istri mandor langsung share ke media sosialnya, meski tangan masih gemetar. "Bu, mbaknya dibawa ke rumah sakit, karena denyut nadinya sangat lemah."
"Bukan urusan saya, Mbak!" jawab si istri tak peduli. Ia langsung menuju mobil dan segera ke rumah sakit. Ia sudah tak peduli dengan suaminya, setelah anaknya sembuh. Istri mandor akan melayangkan gugatan cerai untuk sang suami. Dia tidak akan memaafkan apapun jenis perselingkuhan.
Sedangkan Sasa masih ditemani pihak resepsionis penginapan. Ia sedang diperiksa dan diberi bantuan alat nafas, perawat minta siapa penanggung jawab atas pasien namun Mbak resepsionis jelas tak berani.
Mereka pun terpaksa membuka ponsel Sasa saat dia masih belum pingsan, dan tertera nomor dokter Fandy sebagai nomor paling atas chat.
eh kok g enak y manggil nya