Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Baper
Bastian melangkah ke dalam rumah dengan cepat untuk menuju area belakang rumah tepatnya sumur. Sebelumnya, ia menyuruh Mamat pulang dan akan menyampaikan pesannya pada Seruni.
Mamat yang memahami bahwa aroma pengantin baru tengah menyeruak, akhirnya ia memutuskan pulang dengan tersenyum penuh maklum.
Padahal faktanya, Bastian tengah gelisah dengan kondisi Seruni.
"Apa tadi aku buat salah atau kelewatan sama dia?" batin Bastian mendadak bingung.
Bastian benar-benar lupa akan apa yang telah dilakukannya tadi. Baru menikah sehari dengan Seruni, ia belum mengenal betul karakter istrinya itu.
Deg...
Langkah kaki Bastian seketika berhenti kala kedua matanya melihat pemandangan yang membuat hatinya terasa perih dan makin bersalah. Walaupun ia belum tau apa kesalahannya.
Perlahan Bastian melangkah mendekati Seruni yang ternyata masih berdiri mematung di dekat sumur dan depan kamar mandi.
"Run,"
Seruni tetap diam dan tak bergeming dengan posisi berdiri sembari kepalanya menunduk ke bawah tepatnya arah tanah yang dipijak kakinya.
Bastian kian maju untuk mengikis jarak dengan Seruni.
"Aku di depanmu Run, bukan di bawah." Tegur Bastian dengan suara normal.
Perlahan Seruni mengangkat pandangannya. Kini keduanya saling berpandangan dalam satu garis lurus yang sama.
Hati Bastian semakin kacau. Ia melihat dengan jelas wajah Seruni telah basah karena air mata. Sembab dan tampak memerah.
Entahlah, apa karena rasa kasihan atau perasaan baru yang diam-diam menyelinap masuk di hatinya untuk Seruni ?
Bastian tak tau pasti.
"Aku cari-cari di dalam rumah, kenapa kamu masih berdiri di sini? Mamat tadi mau pamitan sama kamu. Akhirnya aku suruh dia pulang saja!" ketus Bastian.
Ego dan sisi keras dalam diri Bastian akibat kekesalannya melihat tempat pengasingan ini, masih terlihat muncul.
Alhasil bibirnya bukan berucap lemah lembut pada Seruni yang baru saja menangis, tapi berubah jadi sebuah omelan karena pelampiasan kekesalannya akan takdir hidupnya yang saat ini terjadi.
"Maaf," ucap Seruni terdengar sendu.
Tes...
Tes...
Tes...
Air mata Seruni tetap setia menetes di pipinya, tanpa mampu dibendung oleh sang empunya tubuh.
Bastian menghela nafas beratnya.
Grep...
Tanpa basa-basi Bastian memeluk tubuh Seruni.
"Maafkan aku," ucap Bastian lirih.
Bastian tetap meminta maaf pada Seruni. Walaupun sebenarnya hingga detik ini ia masih mera_ba-ra_ba kesalahannya pada sang istri.
Seruni menggelengkan kepalanya kecil. Ia tak membalas pelukan Bastian. Bukan karena marah pada sang suami.
Akan tetapi, ia masih kaku dan bingung membalas bahasa atau gestur tubuh Bastian terhadapnya. Alhasil Seruni sering canggung.
Namun saat ini yang terjadi, Seruni justru merasa bersalah pada Bastian. Akan tetapi bentakan Bastian beberapa saat yang lalu setelah menimba air sumur, membuat hati Seruni semakin melow hingga down.
Kalau kata anak zaman now itu, baper alias terbawa perasaan.
"Ading yang salah. Ading bawa sial buat hidup abang. Hiks..." tangis Seruni seketika pecah di pelukan Bastian.
"Hei !!" seru Bastian seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Seruni, lalu jari-jemarinya menarik dagu sang istri sedikit mendongak untuk menatapnya.
"Jangan pernah bilang tentang sial lagi. Abang nggak suka itu! Paham kamu!" tegas Bastian.
"Iya, Bang." Jawab Seruni terdengar masih sesenggukan di depan Bastian.
"Maaf, kalau nada bicaraku kadang suka naik turun tak terkontrol. Percayalah, abang gak marah sama kamu. Abang justru lagi marah ke diri sendiri," tutur Bastian tulus meminta maaf seraya jari-jemarinya menyeka air mata yang menetes di wajah Seruni.
"Kenapa?" cicit Seruni terlihat meminta penjelasan lebih.
"Abang merasa belum bisa jadi suami yang baik. Nimba air sumur saja gak bisa. Mandi di tempat terbuka abang justru marah-marah gak jelas sama kamu. Padahal kamu gak salah apapun. Abang kalah sama Mamat yang bisa ngerjain banyak hal sebagai laki-laki," jawab Bastian terdengar lesu dan frustasi.
Seruni semakin terenyuh mendengar ucapan Bastian.
"Apapun diri abang, ading terima dengan ikhlas. Semua urusan rumah tangga tidak harus abang yang melakukannya. Sebagai istri, ading pasti bantu."
"Yang terpenting kita jujur dan saling percaya satu sama lain. Abang gak bohongin ading atau selingkuh," lanjutnya.
"Kalau misal abang bohong ke kamu. Apa yang bakal kamu lakuin?" pancing Bastian.
"Bohong seperti apa dulu?"
"Misal abang orang jahat, gimana menurutmu?"
"Jahat seperti apa?"
"Pokoknya jahat dan banyak dosa,"
"Ading juga manusia biasa yang banyak kurang dan dosanya,"
"Pokoknya dosa abang lebih banyak daripada kamu,"
Seruni terdiam sejenak.
"Apa abang pembunuh atau pemer_kosa?"
Deg...
Jantung Bastian langsung berdegup kencang tak karuan mendengar tebakan Seruni barusan.
Tidak.
Tidak.
Tidak.
Sungguh, ia belum bisa mengakui hal itu di depan Seruni sekarang ini. Bastian masih merasa takut.
Entah Bastian takut di penjara atau takut kehilangan Seruni ?
Bersambung...
🍁🍁🍁
*Sedikit info menjawab beberapa pertanyaan di komen pembaca :
Daerah Tapal Batas di kisah Bastian-Seruni beda ya dengan kisah Seno dan Dokter Heni. Di kisah ini benar-benar gambaran desa jadul dan susah sinyal serta gagap teknologi. Sangat pelosok lokasinya. Tapi masih satu pulau yang sama dengan daerah Tapal Batas kisah Seno dan Dokter Heni.
*Sebenarnya di daerah Pulau Jawa di mana othor pernah sidak secara nyata, masih ada desa berpenghuni yang tidak ada sinyal sama sekali. Masyarakatnya hidup tanpa ponsel. Hanya saja di kisah ini Bastian kan jadi buronan. Jadi dia lari nya harus sejauh mungkin dari Surabaya di mana TKP pembunuhan Rossa. Jadi, othor memilih Tapal Batas yang berada cukup jauh dari Pulau Jawa.
*So, lanjut nikmati kisah mereka berdua yang pastinya tak akan mudah ke depannya, seperti biasa ciri khas Safira.💋💋
hei laki-laki inget baik baik ya wanita modal ngangkang merebut suami orang bukan wanita baik2 sehina hina nya wanita adalah modelan begitu semoga para pelaku perselingkuhan kalau tidak bertobat azab dunia dan akhirat menimpanya dengan sangat tragis Aamiin
Sungguh ngeri kalo baca sepak terjang pelakor zaman ini....,,