Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Antagonis yang Teraniaya
"Nyonya, saya sudah selesai. Saya akan ke kamar, dan menjaga Rafa!" kata bibi Asih.
Ratih mengangguk setuju.
"Iya Bi!"
Setelah bibi Asih pergi, bibi Erma yang gantian mendekat ke arah Ratih.
"Nyonya, tuan belum keluar dari kamarnya. Semalam juga tuan tidak makan, apa nyonya tidak khawatir?" tanya bibi Erma.
Wanita paruh baya itu, sedang berusaha menghasutt Ratih untuk mengalah dan membujuk Fandi. Sayangnya, Ratih tak tampak khawatir sama sekali meski mendengar Fandi belum makan malam, dan sampai sekarang belum keluar dari kamar.
Ekspresi wajah santai dan biasa saja itu, membuat bibi Erma merasa heran. Kenapa Ratih seperti itu? Dulu saja, ketika dia mendengar hal seperti ini. Ratih akan meninggalkan semua pekerjaan yang dia lakukan untuk membujuk Fandi. Sekarang malah begini. Aneh sekali.
"Nyonya..."
"Iya Bi, aku tahu. Tapi, sekarang coba aku tanya pendapat bibi ya. Bibi adalah orang yang sudah bersamaku selama belasan tahun. Ketika aku menikah dan pindah ke rumah ini, bibi juga aku minta untuk ikut denganku. Bibi sudah lama mengenal kami kan? sekarang coba bibi katakan, apa aku pernah menolak permintaan mas Fandi? apapun yang dia inginkan aku turuti, apapun yang dia mau, aku berikan. Bibi tahu tidak, kemarin dia berbohong padaku! dia bohong, dia memberikan dokumen abal-abal, semua anggaran sudah digendutkan olehnya. Bukankah itu sama saja mas Fandi ingin menipu aku, Bi? Mas Fandi tidak percaya padaku?" tanya Ratih.
Niat hati bibi Erma ingin Ratih terpengaruh kan? tapi Ratih justru memainkan peran yang sangat bagus. Dia balik mempengaruhi bibi Erma.
Kalau setelah semua yang Ratih katakan, bibi Erma masih membela Fandi. Bukankah sama saja bibi Erma seolah tak mengenal siapa Ratih. Dia sedang membuat bibi Erma terjebak pada pilihannya. Dan kalau bibi Erma setuju pendapat Ratih. Maka masalah selesai, seharusnya bibi Erma tidak perlu bicara lagi.
'Kenapa dia memberikan pertanyaan seperti itu? kalau aku bilang Fandi salah, selesai sudah? kalau aku masih membujuknya bukankah aku seolah membela Fandi yang menipunya. Lagian kenapa harus ketahuan sih? Fandi ini semakin lama juga semakin tidak becus!' omelnya dalam hati.
Ratih yang melihat bibi Erma diam. Tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk lebih membuatnya terkesan menjadi korban di persoalan ini, dan harusnya bibi Erma memang membantunya.
"Bibi saja terkejut kan? bibi Erma pasti diam karena terkejut kan? aku juga bi! aku sangat kaget, mas Fandi tega sekali! apa aku pernah tidak jujur padanya? bibi tahu kan, aku hanya mencintai mas Fandi. Aku bahkan setuju pergi dari rumah ayah dan ibu, padahal mereka mau aku tinggal disana. Aku anak satu-satunya mereka, bi. Aku sudah menurut! aku kurang apa bi? hiks...!"
Dan akting Ratih itu di akhiri dengan tangis palsu darinya.
"Aduh, nyonya... nyonya tenang dulu nyonya. Sabar, jangan menangis!"
Bibi Erma sibuk menenangkan Ratih yang pura-pura menangis. Sampai dia tidak tahu harus bicara apa sekarang.
"Nyonya tenang dulu!"
"Aku akan ke kamar saja, bi. Aku mau istirahat dan menenangkan diri!" kata Ratih yang menyeka air mata palsunya itu dan bergegas pergi ke kamar.
Bibi Erma mendengus kesal. Sementara Ratih tersenyum puas ketika meninggalkan tempat itu.
Karena tidak berhasil menghasutt Ratih, bibi Erma kembali ke ruangan laundry. Dan melihat anaknya yang pasti sangat sedih karena gagal melihat Rafa.
Bibi Erma terkejut, dia bahkan langsung berlari menghampiri putrinya itu.
"Sarah, sarah kamu kenapa?" tanya bibi Erma yang melihat putrinya terduduk lemas di lantai.
Sebenarnya pertanyaan itu terlontar begitu saja. Karena sebenarnya, jawaban dari pertanyaan yang diajukan bibi Erma barusan itu, bibi Erma sudah mengetahuinya. Apalagi yang bisa membuat Sarah seperti itu, jika bukan karena sangat merindukan anaknya.
"Ibu, aku tidak tahan lagi. Aku ingin melihat Rafa..." tangisnya berhenti, malah semakin menjadi.
Bibi Erma memeluknya, dia seperti bisa merasakan apa yang saat ini anaknya rasakan itu. Bayangkan saja, sejak melahirkan anaknya, Sarah emang belum pernah bertemu dengan Rafa.
Karena setelah melahirkan, bibi Erma sungguh langsung menukarnya dengan anak kandung Ratih. Pikirnya begitu, mereka sama sekali tidak tahu, kalau kedua anak itu telah ditukar kembali oleh Ben.
Bibi Erma dan Sarah, bahkan Fandi sama sekali tidak mengetahui bahwa bayi yang mereka jual kala itu adalah anak kandung Sarah. Dan yang saat ini berada di sisi Ratih adalah anak kandung Ratih.
Tapi, karena mereka tidak mengetahui hal itu. Dan Ratih memang sengaja untuk tidak memberitahukan hal itu kepada mereka. Supaya mereka menderita.
Tiga bulan lebih, berapa hari yang telah berlalu, berapa minggu yang sudah Sarah tunggu. Hanya untuk melihat anaknya. Dia hanya bisa mendengarkan suara Rafa saja, tanpa pernah bisa sekalipun menatap wajah anaknya itu.
"Ibu, aku mau bertemu dengan Rafa, Bu. Bawa dia padaku, Bu!"
Sarah yang terisak, bahkan merengek seperti anak kecil, dia merengek-rengek seperti tak mampu melakukan apapun dan hanya bisa mengandalkan ibunya.
Sementara bibi Erma juga bingung. Ratih sangat protektif pada Rafa. Dan pengasuh itu, juga terus menjauhkan Rafa darinya. Alasannya banyak sekali, karena bibi Erma sering keluar masuk rumah dan sering pergi ke tempat umum seperti pasar dan yang lainnya untuk berbelanja, dan melakukan banyak hal. Bibi Asih emang sengaja menjauhkan Rafa supaya tidak terkontaminasi debu atau virus dari luar.
Bahkan Fandi saja di larang memotret anaknya itu. Ratih mengatakan kalau jaman sekarang, sanggup mudah melakukan kejahatan dari cyber seperti itu. Ratih sendiri juga tidak pernah memotret anaknya. Lagipula untuk apa? 24 jam dalam 7 hari, anaknya itu selalu berada dalam pengawasannya.
"Ibu..." Isak tangis Sarah kembali menyadarkan bibi Erma dari lamunannya.
"Sabar Sarah, ibu akan pikirkan caranya...!"
"Sejak aku datang kemari, ibu sudah mengatakan kalimat itu puluhan kali!" sela Sarah yang menjadi begitu emosional, "tapi sampai sekarang, mana! mana buktinya ibu bisa melakukan itu! jika aku tahu akan seperti ini, aku tidak mau anakku ditukar!"
Bibi Erma mulai panik. Karena terlalu emosional, Sarah bicara dengan nada tinggi. Bibi Erma dengan cepat menutup mulut Sarah dengan telapak tangannya.
"Sarah, diam!" katanya sambil menutup mulut anaknya itu.
Sarah menepis tangan bibi Erma.
"Kalau begitu bawa anakku padaku! bawa Rafa padaku sekali saja Bu, aku mau lihat Rafa. Aku mau memeluknya!" tangis Sarah kembali pecah.
Dia memang wanita yang egois. Dia menjadi simpanan seorang pria yang sudah menikah. Tapi dia tetap seorang ibu, dia mengandung anaknya selama 9 bulan lebih. Dia melahirkan anaknya dengan penuh perjuangan. Wajar dia sangat menderita karena tidak bisa melihat anaknya.
Tapi salah siapa? sebenarnya yang membuatnya tak bisa melihat anaknya itu kan dia sendiri. Dia sudah menjualnya.
***
Bersambung...
biar Sarah jadi gila 🤣
Bahwa Rafa dan Ben banyak banget kemiripannya..
Perlu di selikidiki nih fakta kebenarannya..
Kalau perlu, Rafa & Ben melakukan tes DNA..
Untuk mengungkapkan fakta yg sebenarnya..
Bahwa malam kejadian itu, Ben lah yang bersama nya..
Bukan Fandi yg me ngaku² yg menolong nya..
Hingga Ratih terpedaya oleh tipuan Fandi padanya..
Jadi penasaran, bagaimana kisah awal kejadian nya.. 🤔
Tanpa menyadarinya, cinta tumbuh begitu saja di dalam hati 2 insan manusia..
Semisal tadinya hanya menganggap teman biasa saja..
Namun karena selalu bersama, terbiasa ada, dan saling mengenal 1 sama lainnya..
Maka saat itulah muncul rasa ketertarikan di hatinya..
Seseorang menyadari bahwa itu adalah perasaan cinta, ketika mereka berdua mulai ada rasa kehilangan salah satunya..
Dengan status teman di awalnya, justru kita bisa mengenal lebih baik tentang masing² karakter & kepribadiannya..
Berbeda dengan mereka yg langsung status pacaran di awalnya, terkadang justru lebih berpotensi untuk menerima orang yang salah dalam hidupnya..
Kenapa..?
Karena ketika kau menerima seseorang dengan status pacar, maka kau mengira bahwa seolah-olah dialah jodohmu yg sesungguhnya.. 😁
Begitu pula perselingkuhan, yg terbiasa selingkuh gak akan jera sebelum datang nya penyakit mematikan, dan di rajam sampai mati.. 🤭
Jangan kau mencintai karena ketampanan, sebab ketampanan bisa lenyap termakan usia..
Namun cintai lah dia karena akhlaknya, karena dia tak kan mudah tergoda..
Dan cintai lah dia karena karakter & sifatnya, karena kau tak kan punya alasan lagi untuk membencinya..
Karena dia yg setia, tak kan memandang mu sebelah mata...
Dia yg sayang padamu, tak kan tega membuat mu terluka..
Dan dia yg mencintaimu dengan tulus, tak kan pernah membuat mu kecewa..
Assseeekk.. 💃🏻💃🏻🤭
Namun jangan kau kira semua orang baik padamu.. "
Percaya boleh.. Waspada tetap..
Sebab terkadang justru orang terdekat lah yg paling sering & tega membuat mu terluka dan kecewa karenanya..
Bukan lah begitu..? 😊
Kau minta di hargai sebagai suami..
Sedangkan Ratih sebagai istri tak pernah kau hargai..
Kau malah berselingkuh di belakang istri..
Kau berpura-pura baik di depan istri..
Namun kau menginginkan istri mu mati..
Apa suami seperti itu pantas untuk di hargai..
Bahkan kau sendiri adalah tipe lelaki yg gak tau diri dan gak punya hati..
Tidur saja sana kau Fandi, jangan pernah terbangun lagi dari mimpi² hingga kau mati.. 😏😁
Sejak kapan dia punya jiwa keibuan..
Jika dia punya, kenapa bayi Naufal dia tumbal kan..
Padahal Rafa & Naufal sama² bayi yg tak berdosa, justru kau menjual anak mu sendiri demi keuntungan..
Yasudah, nikmati saja hari² mu seperti itu, yg menyakitkan..