Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Deja Vu
Ogi akhirnya pulang dari mesjid. Dia langsung masuk ke kamar. Kala itu dia pulang sekitar jam setengah sembilan malam. Ogi memang sengaja pulang agak malam karena berniat ingin menjaga jarak dari Arisa.
Langkah Ogi terhenti tatkala melihat Arisa yang sudah tidur di ranjang. Gadis itu tampak meringkuk sambil memeluk sebuah buku milik Ogi.
'Orang cantik kalau tidur tetap cantik ya,' batin Ogi. Namun dia langsung menggeleng untuk menyadarkan diri. Ogi bahkan sampai memukul jidatnya sendiri. 'Apa sih yang aku pikirkan! Arisa itu bukan istri beneran atuh,' lanjutnya dalam hati.
Arisa tampak kedinginan. Ogi pun mengambilkan selimut untuk gadis itu. Tapi dia gagal fokus saat matanya tak sengaja tertuju ke arah belahan dada Arisa yang tampak sedikit kelihatan.
"Astagfirullah... Astagfirullah..." sambil istighfar, Ogi buru-buru menyelimuti Arisa. "Ampuni hamba Gusti..." gumamnya pelan.
Ogi bergegas mengambil bantal dan membentangkan kasur lesehan di lantai. Dia sengaja tidur membelakangi posisi Arisa demi menghilangkan pikiran yang tidak-tidak. Ogi lalu memejamkan mata.
Tanpa diduga, Ogi mendadak merasakan ada kehangatan di belakangnya. Dia merasa ada seseorang yang nempel di belakangnya.
Mata Ogi sontak terbuka lebar. Dia lalu menoleh ke belakang. Betapa kagetnya Ogi saat melihat Arisa yang ternyata tiduran di belakangnya.
"Astaga, Neng! Apa yang Neng lakukan atuh? Bikin kaget saja," ujar Ogi sembari langsung merubah posisi menjadi duduk.
Arisa tersenyum sambil ikut merubah posisi menjadi duduk. "Tadi aku tahu kok Kang Ogi lihat kemana saat menyelimuti Eneng," ucapnya yang perlahan mendekati Ogi.
Wajah Ogi langsung memerah padam. "A-apa maksud, Neng atuh? Aku nggak ngerti," ujarnya berdusta.
"Ya ampun... Pakai pura-pura nggak ngerti lagi. Udah jujur aja, Kang... Nggak usah malu sama aku. Lagian kita ini suami istri," sahut Arisa. Dia terus mendekat hingga wajahnya hanya helat beberapa senti dari wajah Ogi.
Mata Ogi semakin melebar. Ia bahkan sampai menenggak salivanya sendiri. Apalagi saat tangan Arisa mulai melepas kancing dressnya satu per satu.
"Astagfirullah... Jangan atuh, Neng! Neng Arisa lupa kalah pernikahan kita ini hanya sebatas kontrak atuh?" kata Ogi mengingatkan. Meskipun begitu, matanya tak teralihkan dari dada Arisa yang mana bagian kancingnya sudah terbuka sebagian.
"Kang Ogi yakin nggak mau? Aku mau kok. Walau pernikahan kita kontrak, tapi kan udah sah dalam hukum dan agama," ujar Arisa. Dia kian mendekat.
"Astaga... Jangan atuh, Neng... Neng Arisa kenapa tiba-tiba begini? Neng nggak lagi kerasukan kan?" kata Ogi.
Arisa malah tertawa geli. Sambil tertawa, dia peluk Ogi hingga membuat lelaki itu jatuh telentang. Dia dalam posisi ditindih oleh Arisa.
Mata Ogi melotot menatap Arisa. Sebagai lelaki, jelas sentuhan itu sangat menggoda imannya. Apalagi Ogi sudah mulai menaruh perasaan pada Arisa.
"Siap-siap ya, Kang... Ciuman Eneng datang," ujar Arisa sembari memajukan bibir dan memejamkan mata.
Wajah Ogi memerah padam. Ia pun ikut memejamkan mata dan menanti ciuman Arisa datang.
"Kang! Kang Ogi!" suara itu dan guncangan di badannya membuat Ogi langsung membuka mata. Dia melihat Arisa duduk di sebelahnya.
Buru-buru Ogi bangun. Saat itulah dia sadar kalau godaan Arisa tadi hanyalah mimpi.
"Ada suara orang ketawa, Kang! Aku takut," ujar Arisa seraya menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
Deg!
Jantung Ogi berdegup kencang sekali. Apa yang terjadi sekarang terasa seperti deja vu. Bagaimana kalau apa yang terjadi di mimpi tadi akan terulang dan terjadi di kenyataan? Itulah yang ada dalam benak Ogi sekarang.