"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21. Gema Kebenaran di Seluruh Negeri
Cahaya matahari pagi menyinari permukaan sungai yang mengalir dengan sangat tenang di pinggiran kota. Hana Tanaka terbangun karena suara kicauan burung gagak yang hinggap di dahan pohon di depan gua. Tubuhnya terasa sangat pegal dan juga sangat kaku setelah tidur di atas tanah yang lembap semalaman.
Kaito Fujiwara sedang duduk di mulut gua sambil menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang sangat tegang. Dia segera memberikan isyarat kepada Hana agar mendekat dan melihat berita utama di situs web nasional.
Judul berita tersebut tertulis dengan huruf tebal yang berwarna merah menyala di bagian paling atas layar. "Skandal Gacha Kehidupan, Yayasan Pendidikan Elit Terlibat Manipulasi Nilai Secara Masif dan Ilegal".
Hana merasakan jantungnya berdegup sangat kencang saat dia membaca isi berita yang sangat berani tersebut. Kenjiro Sato ternyata benar-benar menepati janjinya untuk meledakkan berita ini ke seluruh penjuru negeri Jepang.
Berita itu memuat foto-foto dokumen rahasia yang telah berhasil dibuka oleh Yuki Nakamura di apartemen kemarin. Ada juga rekaman suara Hana yang menceritakan tentang ketidakadilan sistem pendidikan yang dia alami selama ini. Ribuan komentar mulai membanjiri kolom opini di media sosial dengan nada kemarahan yang sangat luar biasa.
Masyarakat merasa sangat tertipu oleh citra sempurna yang selama ini dibangun oleh yayasan sekolah elit tersebut. Hana merasa air matanya mulai mengalir karena dia merasa perjuangan mereka tidak sia-sia.
Yuki Nakamura terbangun dan dia segera membuka laptopnya untuk memantau pergerakan data di dunia digital. Dia tersenyum kecil saat melihat tagar “Gacha Takdir" menjadi topik yang paling banyak dibicarakan di internet.
Banyak siswa dari sekolah lain yang mulai berani bersuara mengenai pengalaman serupa yang mereka alami. Akane Sato segera mengambil ponselnya dan dia mulai membagikan tautan berita tersebut ke akun aktivis miliknya.
Dia ingin memastikan bahwa api perlawanan ini terus berkobar dan tidak akan pernah padam oleh waktu. Ren Ishida berdiri di samping Akane sambil memberikan sebuah roti cokelat yang dia simpan sejak kemarin. Mereka berlima merasakan sebuah kemenangan kecil yang sangat manis di tengah pelarian mereka yang sangat melelahkan.
Di pusat kota Tokyo, suasana di depan kantor kementerian pendidikan terlihat sangat ramai dan juga sangat kacau. Ratusan mahasiswa dan juga siswa SMA mulai berkumpul untuk melakukan aksi protes secara damai namun tegas.
Mereka membawa poster-poster yang berisi tuntutan agar sistem gacha kehidupan segera dihapuskan dari dunia pendidikan. Polisi anti-huru-hara mulai disiagakan untuk menjaga keamanan di sekitar gedung-gedung pemerintahan yang sangat penting.
Berita ini juga mulai dikutip oleh berbagai kantor berita internasional seperti BBC dan juga CNN. Skandal ini bukan lagi sekadar masalah internal sekolah namun sudah menjadi isu kemanusiaan yang sangat besar. Hana melihat tayangan langsung aksi protes tersebut melalui layar ponsel Kaito dengan perasaan sangat haru.
Kaito Fujiwara melihat wajah ayahnya muncul di layar televisi saat sedang diwawancarai oleh para jurnalis. Haruo Fujiwara terlihat sangat pucat dan dia terus menghindar dari kejaran kamera yang menyorot wajahnya secara tajam.
Dia membantah semua tuduhan tersebut dan dia mengatakan bahwa semua bukti itu adalah sebuah fitnah. Namun publik tidak lagi percaya pada kata-kata politisi yang sudah kehilangan integritas moralnya di mata rakyat. Kaito merasa sedih melihat kejatuhan ayahnya namun dia tahu bahwa ini adalah konsekuensi dari perbuatannya.
Dia harus memilih untuk membela kebenaran meskipun dia harus kehilangan kasih sayang dari orang tuanya sendiri. Kaito menggenggam tangan Hana dengan sangat erat sebagai bentuk penguatan batin bagi dirinya sendiri.
"Dunia sudah mulai berubah dan kita adalah bagian dari perubahan besar itu sekarang," bisik Kaito.
Hana mengangguk pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kaito yang terasa sangat hangat dan juga kokoh. Dia membayangkan ibunya yang mungkin saat ini juga sedang melihat berita ini dari layar televisi rumah sakit.
Hana ingin ibunya tahu bahwa putrinya bukanlah seorang pecundang yang hanya bisa pasrah pada nasib buruk. Dia telah menjadi seorang pejuang yang berani melawan sistem yang sangat kejam demi masa depan yang cerah. Harapan baru mulai tumbuh di dalam hati Hana seperti bunga sakura yang mulai mekar di awal musim semi.
Mereka semua menyadari bahwa perjalanan ini masih sangat jauh namun mereka memiliki semangat yang sangat membara. Kekuatan persahabatan mereka telah menjadi perisai yang sangat tangguh dalam menghadapi badai kehidupan yang sangat besar.
Meskipun berita sudah tersebar secara luas, namun keselamatan mereka berlima masih berada dalam kondisi bahaya. Pihak yayasan sekolah pasti akan melakukan segala cara untuk menemukan keberadaan mereka dan juga mengambil kembali data.
Yuki mendeteksi ada upaya pelacakan lokasi melalui sinyal ponsel yang mereka gunakan secara terus-menerus sejak tadi pagi. Dia segera meminta teman-temannya untuk mematikan semua perangkat elektronik agar posisi mereka tidak mudah ditemukan lagi.
Mereka harus segera meninggalkan gua ini dan mencari tempat persembunyian lain yang lebih jauh lagi. Ren Ishida memimpin jalan menyusuri jalan setapak yang tertutup oleh semak belukar yang sangat tebal sekali. Mereka bergerak dengan sangat hati-hati agar tidak meninggalkan jejak kaki yang terlalu jelas di atas tanah.
Suara helikopter terdengar sayup-sayup dari kejauhan dan membuat mereka semua merasa sangat cemas dan juga takut. Mereka segera bersembunyi di bawah rimbunnya pohon besar yang memiliki daun sangat lebar untuk menutupi tubuh mereka.
Hana menahan napasnya saat helikopter tersebut melintas tepat di atas area hutan tempat mereka sedang bersembunyi. Dia melihat logo yayasan sekolah tertempel di bagian samping badan helikopter yang berwarna hitam pekat tersebut. Musuh mereka memiliki sumber daya yang sangat besar dan juga memiliki kekuasaan yang sangat luas sekali.
Namun, Hana tidak akan membiarkan rasa takut tersebut menguasai pikiran dan juga menguasai jiwanya kembali. Dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat sebagai tanda bahwa dia akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan.
Akane Sato mencoba untuk tetap tenang meskipun keringat dingin mulai membasahi dahi dan juga membasahi telapak tangannya. Dia memikirkan tentang Kenjiro Sato yang mungkin saat ini sedang berada dalam situasi yang sangat sulit juga.
Akane berharap agar jurnalis senior itu tetap aman dan juga tetap berada dalam perlindungan hukum yang kuat. Dia merasa berutang budi kepada Kenjiro karena telah memberikan ruang bagi suara mereka untuk didengar dunia.
Mereka terus berjalan mendaki bukit kecil yang puncaknya tertutup oleh kabut putih yang sangat tebal sekali. Udara di puncak bukit terasa sangat dingin dan juga sangat menusuk kulit mereka yang hanya berlapis jaket tipis. Namun mereka tidak peduli dengan rasa dingin tersebut karena keinginan untuk selamat jauh lebih besar.
Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka menemukan sebuah pondok kayu tua yang terlihat sudah sangat lama ditinggalkan. Pondok itu terletak di dekat sebuah danau kecil yang airnya terlihat sangat jernih dan juga sangat tenang.
Mereka segera masuk ke dalam pondok tersebut untuk beristirahat sejenak dan juga untuk mengatur strategi selanjutnya. Kaito menyalakan sebuah lilin kecil yang dia temukan di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk. Cahaya lilin yang temaram memberikan suasana yang sangat tenang dan juga sangat intim di dalam pondok tersebut.
Hana duduk di sudut ruangan sambil mencoba mengatur napasnya yang masih terasa sangat sesak karena kelelahan. Kaito mendekati Hana dan dia memberikan jaketnya untuk menyelimuti tubuh Hana yang sedang menggigil kedinginan.
"Terima kasih karena kau selalu ada di sampingku dalam setiap situasi yang sangat sulit ini," kata Hana.
Kaito tersenyum sangat tulus dan dia mengusap pipi Hana dengan jari tangannya yang terasa sedikit kasar namun hangat. Dia merasa bahwa Hana adalah cahaya yang selalu menuntunnya keluar dari kegelapan hidup yang penuh kepalsuan.
Kaito tidak pernah merasa sebahagia ini meskipun dia kehilangan semua kemewahan yang dulu pernah dia miliki. Dia menemukan arti hidup yang sesungguhnya di dalam kesederhanaan dan juga di dalam ketulusan sebuah cinta. Hana merasakan sebuah kedamaian yang sangat dalam saat dia berada di dekat Kaito yang sangat dia sayangi.
Momen romantis ini menjadi sebuah oase yang sangat menyegarkan di tengah gurun perjuangan yang sangat gersang. Mereka berdua saling menatap dalam diam sambil membiarkan hati mereka yang berbicara melalui bahasa kalbu.
Yuki Nakamura yang sedang duduk di pojok ruangan melihat kemesraan mereka dan dia merasa sangat bahagia untuk sahabatnya. Dia menyadari bahwa cinta adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap sistem yang hanya peduli pada angka saja.
Yuki kembali fokus pada catatan manualnya untuk merencanakan langkah selanjutnya menuju kantor kejaksaan agung pusat nanti. Dia tahu bahwa data digital saja tidak akan cukup untuk menjebloskan para penguasa itu ke dalam penjara. Mereka membutuhkan kesaksian langsung di depan hakim agar kebenaran ini memiliki kekuatan hukum yang sangat tetap.
Ren Ishida terus berjaga di depan pintu pondok dengan tatapan mata yang sangat waspada ke arah hutan. Dia adalah penjaga setia yang akan memastikan bahwa teman-temannya bisa beristirahat dengan sangat tenang malam ini.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍