Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: ALIRAN PERTAMA DI NEKMESE
Pukul empat pagi, kabut tebal masih memeluk lembah-lembah di sekitar Desa Nekmese. Udara dinginnya bukan tipe yang menyejukkan, melainkan tipe yang menggigit kulit, kering dan tajam seperti silet. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah truk tua bermesin diesel meraung-raung, mendaki tanjakan curam yang dipenuhi kerikil lepas. Di bak belakangnya, Jonatan duduk bersama Matheus, mendekap kotak kontroler yang terbungkus plastik tebal agar tidak terkena embun.
Nekmese adalah tetangga Oetimu, namun nasibnya jauh lebih tragis. Jika di Oetimu air adalah kemewahan, di Nekmese air adalah mukjizat yang sudah lama tidak terjadi. Sumur-sumur mereka sudah berubah menjadi lubang debu sedalam tiga puluh meter.
"Sedikit lagi, Jon. Di balik tikungan itu sumurnya," teriak Matheus sambil berpegangan pada bak truk yang berguncang hebat.
Truk berhenti tepat di depan sebuah pohon besar yang sudah mati, di mana puluhan warga Nekmese sudah menunggu. Mereka tidak membawa obor, hanya berdiri dalam remang fajar dengan wajah-wajah yang tampak seperti pahatan kayu tua—penuh kerutan dan guratan penderitaan. Di tengah mereka berdiri Kepala Desa Nekmese, seorang pria ringkih yang matanya cekung namun bercahaya saat melihat Jonatan turun dari truk.
"Anak Jonatan... apa benar besi-besi ini bisa panggil air?" tanya Kepala Desa itu, suaranya gemetar.
Jonatan tidak langsung menjawab. Ia menatap ke dalam sumur tua itu menggunakan senter. Gelap, pengap, dan berbau tanah mati. "Kita tidak memanggil air, Bapa Desa. Kita menjemputnya dari tempat dia bersembunyi. Ayo, teman-teman, turunkan panelnya!"
Pekerjaan dimulai dengan cepat. Jonatan memimpin pemasangan rangka panel surya di atas bukit kecil yang mendapatkan sinar matahari paling awal. Tangannya yang lecet dan berlumur oli bergerak lincah, menyambungkan kabel-kabel konektor dengan presisi yang sudah di luar kepala. Namun, tantangan di Nekmese berbeda. Kedalaman sumur di sini sepuluh meter lebih dalam daripada di Oetimu, dan struktur tanahnya adalah karst—batuan kapur yang rapuh namun tajam.
"Hati-hati saat menurunkan pompanya! Jangan sampai beradu dengan dinding sumur, batunya bisa runtuh!" teriak Jonatan.
Tiba-tiba, saat pompa baru turun separuh jalan, terdengar suara krak yang keras dari dalam sumur. Tali tambatnya menegang seketika.
"Jon! Pompanya tersangkut!" teriak Matheus panik.
Jonatan berlari ke bibir sumur. Jantungnya berdegup kencang. Jika pompa itu rusak atau terjepit batuan runtuh, ia tidak punya cadangan. Dana yayasan sudah terkuras habis untuk pengadaan pipa. Ia menyorotkan senter ke bawah. Sebuah bongkahan batu kapur besar rupanya runtuh karena getaran dan menjepit selang utama.
"Beri saya tali pengaman. Saya harus turun," ujar Jonatan tenang, meski keringat dingin mulai mengucur di punggungnya.
"Jangan, Jon! Itu berbahaya, gas di bawah bisa bikin pingsan!" Pak Berto, yang rupanya ikut menyusul dengan motor, mencoba melarang.
"Kalau kita tidak lepas sekarang, batunya akan jatuh lebih dalam dan menutup lubang air selamanya, Bapak. Nekmese tidak punya kesempatan kedua."
Tanpa menunggu debat lebih lama, Jonatan mengikatkan tali ke pinggangnya. Ia turun perlahan, bergesekan dengan dinding sumur yang lembap dan dingin. Di kedalaman dua puluh meter, udara mulai terasa tipis. Bau belerang dan tanah basah menusuk hidungnya. Ia sampai pada titik di mana bongkahan batu itu menjepit selang. Dengan menggunakan linggis kecil, ia mulai mencungkil batuan itu dengan hati-hati.
Setiap dentuman linggis terasa seperti pertaruhan nyawa. Batuan kecil mulai berjatuhan ke dasar sumur yang gelap. Satu senti... dua senti...
BRAKK!
Batu itu lepas dan jatuh ke dasar, namun Jonatan berhasil memegang selang agar tidak ikut tersentak. Ia memberikan tanda lewat tarikan tali agar mereka menariknya ke atas. Saat ia sampai di permukaan, wajahnya pucat dan napasnya tersengal, namun ia memberikan jempol ke arah warga.
"Lanjutkan!" perintahnya setelah meneguk sedikit air.
Matahari mulai naik, menyentuh permukaan panel surya yang berkilat kebiruan. Jonatan berdiri di depan kotak kontroler yang baru saja ia perjuangkan izinnya di kantor dinas kemarin. Ia menatap ke arah warga Nekmese yang kini berdiri melingkar, menahan napas. Ada seorang ibu yang memegang tangan anaknya dengan sangat erat, matanya menatap ujung pipa dengan tatapan penuh doa.
Jonatan menekan tombol hijau.
Suara dengung mesin terdengar. Kali ini lebih berat daripada di Oetimu karena bebannya lebih besar. Jarum voltmeter bergerak stabil di angka 220. Semua orang diam. Hanya suara mesin dan embusan angin yang terdengar.
Satu menit... dua menit... pipa itu mulai bergetar.
Glek... glek... sssshhhhhh!
Udara panas keluar dari pipa, disusul oleh suara gemericik dari dalam tanah. Dan kemudian, sebuah semburan air yang kuat memecah kesunyian Nekmese. Air itu jernih, sangat jernih, menghantam bak penampungan semen yang sudah berlumut kering hingga menciptakan buih putih yang indah.
"AIRRRRR!"
Teriakan itu pecah dari mulut Kepala Desa, disusul oleh isak tangis warga. Mereka tidak hanya mengambil air dengan tangan; mereka mandi di bawah kucuran pipa itu tanpa peduli baju mereka basah kuyup. Anak-anak kecil tertawa sambil menangkap tetesan air yang memantul di udara.
Jonatan terduduk di atas tanah merah, punggungnya bersandar pada tiang panel surya. Ia melihat pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Rasa lelahnya, rasa sakit di bahunya, dan ketakutannya di dalam sumur tadi seolah lenyap seketika.
Namun, di tengah keriuhan itu, Matheus mendekatinya dengan wajah serius. Ia menunjuk ke arah jalan setapak menuju desa. Di sana, berdiri dua orang pria asing yang tidak tampak seperti warga lokal. Mereka mengenakan kemeja safari rapi dan memegang kamera canggih, sedang memotret instalasi Jonatan dari kejauhan.
"Bukan orang Tuan Markus, Jon. Mereka dari perusahaan air swasta di kota," bisik Matheus.
Jonatan berdiri, menyeka keringat di dahinya. "Mereka mulai sadar kalau ada kompetisi, Theus."
Salah satu dari pria itu mendekat. "Teknologi yang menarik, Saudara Jonatan. Sederhana, tapi efektif. Kami dari PT Tirta Abadi. Kami tertarik untuk membicarakan sistem bagi hasil jika Anda ingin memperluas ini secara komersial ke sepuluh desa lainnya."
Jonatan tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung ketegasan yang ia pelajari dari Pak Johan. "Maaf, Bapak. Air ini milik warga Nekmese. Kami tidak menjual air. Kami hanya membantu mereka mengambil hak mereka sendiri. Jika Bapak ingin membantu, silakan sumbang pipa, tapi kontrolnya tetap ada di tangan koperasi warga."
Pria itu tampak tersinggung, namun ia hanya mengangguk kecil dan pergi. Jonatan tahu, keberhasilan di Nekmese akan membawa "serigala-serigala" baru. Jika dulu musuhnya adalah lintah darat kelas desa seperti Tuan Markus, kini musuhnya adalah korporasi yang ingin membotolkan harapan mereka dan menjualnya kembali kepada mereka.
Sore itu, sebelum pulang, Jonatan melihat warga Nekmese mulai menyiapkan tanah di sekitar bak air untuk menanam sayuran. Nekmese yang tadinya desa mati, kini mulai berdenyut kembali.
Ia mengambil buku catatannya, menuliskan sesuatu yang baru:
Bab 24. Hari ini air mengalir di Nekmese. Tapi aku sadar, setiap tetes air yang keluar mengundang haus bagi mereka yang ingin berbisnis dari penderitaan. Pertarungan selanjutnya bukan lagi melawan kekeringan alam, tapi melawan kekeringan hati nurani orang-orang kota. Aku harus memperkuat perlindungan hukum yayasan ini sebelum serigala itu datang lagi.
Saat truk mulai bergerak pulang menuju Oetimu, Jonatan melihat warga Nekmese masih melambai dari kejauhan. Di bak belakang, ia memejamkan mata, membiarkan angin sabana menerpa wajahnya. Ia tahu perjalanan menuju 100 bab masih panjang, tapi aliran pertama di Nekmese telah memberinya satu pelajaran penting: bahwa untuk membawa kehidupan ke tempat yang mati, seseorang harus berani turun ke kegelapan yang paling dalam.
"Kita belum selesai, Theus," bisik Jonatan di tengah deru mesin truk.
"Baru mulai, Jon," jawab Matheus sambil tersenyum lebar.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian