NovelToon NovelToon
Akhir Dari Penghianatan

Akhir Dari Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Wanita perkasa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penikmat_lara

Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersabar? Sampai kapan?

Indira sekilas mendengar bahwa Riri mengeluh sesuatu yang sakit di uluh hatinya karena tendangan yang dilakukan oleh Indira sebelumnya, ia juga mendengar bahwa Riri mengatakan seolah olah Indira sok didepannya karena dia mengikuti sebuah latihan beladiri. Memang benar apa yang dikatakan oleh Riri mengenai kejadian sebelumnya, Indira sendiri tidak bisa membantah ucapan tersebut karena memang benar apa yang terjadi.

"Sadar Dira, sadar. Istighfar dulu, jangan begini," Ucap seorang wanita yang tengah memegangi badannya itu.

"Sampai kapan? Apakah sampai harga diriku ternodai? Kesucianku ternodai? Sampai kapan aku harus bersabar?" Tanya Indira sambil menatap dalam kearah wanita itu.

"Sudah Dira, Sudah. Jangan diterusin lagi,"

Kedua tangan Indira masih mengepal dengan sangat eratnya, entah seberapa acak acakannya penampilannya saat ini, Indira tidak mempedulikan hal itu. Indira berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan ketiga orang itu, namun dirinya sendiri juga kesusahan untuk bisa melepaskan pegangannya tersebut, bukan hanya dirinya saja yang kesusahan melainkan ketiga orang yang harus memegangi nya itu.

"Astaghfirullah hal adzim, astaghfirullah hal adzim, ikuti Bibik Dira. Kamu yang tenang ya, sadar Dira, jangan ikuti amarahmu,"

"Lepaskan!" Indira terus memberontak untuk meminta dilepaskan oleh siapa saja yang tengah memeganginya saat ini.

"Sudah sudah, jangan diteruskan. Kamu yang tenang Dira, istighfar banyak banyak,"

"Nggak!!"

"Dira tenang, jangan jadi seperti ini. Sadarlah,"

Bruakkkk.... Klontang klontang...

Ketiganya pun tidak sanggup untuk menahan tenaga Indira lebih lama lagi, sehingga tanpa disadari oleh ketiganya tangan Indira pun memukul kearah galon air yang ada didekatnya hingga membuat galon tersebut jatuh dan hancur. Air galon tersebut langsung membanjiri lantai dimana galon itu terjatuh, melihat itu langsung membuat salah satu dari mereka bergegas untuk mengambil botol galon agar airnya tidak semakin keluar membanjiri.

"Berani ya kamu sama aku, hancurkan saja mesin cuci miliknya itu," Ucap Riri yang terlihat emosi ketika galon tersebut dipukul oleh Indira.

Mesin cuci yang ada didalam rumah itu adalah milik Indira yang dibelikan oleh Ibunya, karena Ibunya takut apabila Indira kecapekan karena kerja sehingga ia membelikan mesin cuci untuk Indira. Melihat galon itu dirusak oleh Indira, hal itu langsung membuat Riri merasa sangat marah dengan Indira dan ingin membuat Indira merasakan apa yang dirinya rasakan saat ini ketika barangnya dihancurkan.

"Sudah cukup kamu menguji kesabaranku!" Teriak Candra sambil membawa golok miliknya untuk menakut nakuti Indira.

Candra memang memiliki sebuah golok didalam kamarnya untuk berjaga jaga, dan setiap satu bulan sekali golok itu akan diasah olehnya. Namun melihat hal itu sama sekali tidak membuat Indira takut, justru Indira sama sekali tidak peduli dengan nyawanya saat ini, apabila dirinya mati pun tidak akan berpengaruh apa apa kepadanya.

Indira sendiri tidak pernah peduli dengan nyawanya sendiri, bahkan jika bunuh diri itu tidak berdosa mungkin sudah sejak lama dirinya melakukan itu hanya untuk mendapatkan sebuah ketenangan. Sehingga berhadapan dengan Candra seperti ini sama sekali tidak membuatnya gentar sedikitpun, Indira memang sudah muak jika terus terusan berada diposisi seperti ini.

"Emang aku takut dengan kalian berdua? Nggak sama sekali!" Sentak Indira.

"Teruskan! Jangan salahkan aku kalo nekat nanti,"

"Aku nggak peduli!"

"Benar benar menguji kesabaranku!"

"Orang yang masuk kamar gadis tanpa izin tidak pantas untuk dihormati, orang sepertimu tidak layak dihormati olehku!"

"Sudah cukup!! Kalian jangan bertengkar seperti ini." Ucap Tante mereka yang melerai kedua belah pihak.

Terjadilah adu mulut diantara mereka, Indira rasanya dipojokkan didalam rumah itu, berdebat dengan orang playing victim dan manipulatif tidak akan baik bagi dirinya. Dengan gampangnya mereka memutar balikkan fakta yang sesungguhnya, dan seakan akan Indira lah yang bersalah dalam hal itu sehingga tidak ada satupun yang membela dirinya disana.

"Sudah Dira," Ucap Tantenya yang tengah memegangi tangan Indira. "Jangan diteruskan lagi, istighfar yang banyak. Biar bagaimanapun juga mereka adalah saudaramu,"

Tubuh Indira rasanya sedikit tenang daripada sebelumnya, tubuh yang tadinya gemetaran sekarang perlahan lahan mulai membaik. Air mata yang sejak tadi tidak mau dijatuhkan pun perlahan lahan mencair hingga membanjiri pipinya, setelah puas meluapkan emosinya akhirnya Indira pun menangis kembali, namun sama sekali tidak ada penyesalan baginya.

Keponakannya yang baru berusia 2 tahun pun berjalan mendekat kearah Indira, anak kecil polos yang belum tahu apa apa itu pun mendekat kearah dimana Indira berada. Namanya Maura, dan sejak kecil selalu ikut bersama dengan Indira, bahkan hubungan keduanya bisa dibilang begitu sangat dekat dan Indira sangat menyayangi gadis kecil itu.

"Kak Dila, janan nangis ya?" Ucap Maura.

Maura terus mendekat kearah Indira sambil menatap kearah Indira yang tengah menangis itu, Indira sendiri tidak pernah menunjukkan tangisannya kepada siapapun bahkan keponakan keponakannya itu. Apapun akan Indira lakukan dengan nekat apabila menyangkut keponakannya itu, bahkan keponakannya tidak pernah menangis jika berada didekatnya, dan selalu merasa bahagia bersama dengan Indira.

Melihat anak bungsunya mendekat kearah Indira dan memegangi tangan Indira, hal itu langsung membuat Candra langsung menggendong anaknya tersebut untuk dijauhkan dari Indira. Ia takut apabila Indira nantinya akan melampiaskan emosinya kepada anaknya, namun Indira sendiri juga tidak akan setega itu terhadap anak kecil apalagi anak itu paling ia sayangi.

Indira juga tidak mau menyakiti anak tersebut meskipun dirinya berada dalam keadaan emosi sekalipun, ia juga tau bahwa anak sekecil itu tidak akan sanggup untuk melawan tenaganya meskipun dirinya belum makan selama dua hari satu malam. Sehingga ia tidak akan pernah tega untuk menyakiti anak itu, apalagi mendorongnya untuk menjauh darinya.

Melihat Maura yang dibawa pergi oleh Ayahnya, hal itu membuat Indira memejamkan kedua matanya sambil menghela nafasnya. Dalam keadaan seperti ini pun Maura sama sekali tidak takut dengannya, karena Maura yakin bahwa Indira tidak akan pernah menyakitinya dalam keadaan apapun itu ataupun hanya sekedar untuk menyingkirkan tangannya saja.

Maura yang tiba tiba digendong Ayahnya untuk dibawa me jauh pun langsung menangis histeris, entah mengapa gadis kecil itu sama sekali tidak mau meninggalkan Indira sedetik pun, justru dia semakin menangis ketika dijauhkan dari Indira. Maura memang tidak pernah mau jauh dari Indira, waktu Indira menginap ditempat kerjanya pun ketika pulang Maura langsung menangis dan ingin ikut bersama dengan Indira.

Hati Indira juga sakit ketika Maura dibawa menjauh darinya, belakangan ini memang Maura sengaja dijauhkan dari Indira dan tidak diperbolehkan untuk bermain bersama dengan Indira. Jika Maura bermain dengan Indira maka Riri akan memukulinya dan mencubitnya dengan keras jika diperlukan, Indira benar benar diasingkan dirumahnya sendiri.

"Sudah ya tenang, istighfar yang banyak, jangan kepancing emosi lagi,"

"Lepaskan aku," Ucap Indira dengan nada yang rendah.

"Nggak, nanti kamu berantem lagi," Bibinya itu takut apabila ia tidak sanggup untuk menahan tenaga Indira.

Indira langsung mengibaskan tangannya dengan sangat kasar hingga tangan Bibi dan Tantenya yang tengah memeganginya pun terlepas, Indira pun menatap dingin kearah keduanya hingga membuat keduanya terdiam. Indira lalu berjalan menuju kearah kamarnya, disana ia meraih ponsel miliknya dan menelpon Ibunya.

Tidak ada pilihan lain selain mengubungi Ibunya, karena sama sekali tidak ada yang membela dirinya disana, dan semuanya menganggap bahwa Indira lah yang salah bukannya Riri. Indira pun menelpon Ibunya dengan suara tangisannya yang sejak tadi ia tahan, mendengar bahwa Indira menghubungi Ibunya hal itu langsung membuat Riri dan suaminya pergi entah kemana.

Satu jam menunggu akhirnya Yanti pun tiba juga ditempat itu, ia pun terkejut ketika melihat Indira sudah berlinang air mata ditambah lagi dengan rumah yang seperti kapal pecah. Yanti langsung mendekat kearah dimana Indira berada, dan melihat kedatangan dari Yanti langsung membuat Indira bergegas memeluk tubuh wanita itu.

"Mana Riri?" Tanya Yanti.

"Nggak tau, tadi keluar sama suaminya. Juga bawa barang barang yang dimasukkan ke dalam tasnya," Ucap Tetangganya.

"Pasti dirumah mertuanya," Ucap Yanti menebak.

"Nggak tau juga Mbak Yanti, soalnya dia juga nggak bilang apa apa tadi kok. Habis berantem sama Dira katanya ngeluh kalo perutnya sakit kena tendangan Dira, terus dia sama suaminya pergi entah kemana." Jelas tetangganya itu.

"Apa itu benar Dira?" Tanya Yanti kepada Indira.

"Benar, aku juga punya alasan soal itu Bunda, aku tidak akan menyerang lebih dulu sebelum diriku merasa terancam oleh sesuatu. Sebelumnya aku sudah minta maaf sama Bunda apabila aku sudah tidak tahan lagi, dan maaf kali ini benar benar membuatku tidak tahan. Maaf Bunda,"

Indira pun menceritakan apa yang terjadi ditempat itu kepada Ibunya, Yanti mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Indira. Karena Indira tidak pernah bercerita kepada siapapun sehingga bahasa Indira sangat sulit untuk dipahami oleh orang lain, bahkan ia berulang ulang kali mengatakan hal yang sama tanpa ia sadari sendiri.

"Sampai kapan aku harus bersabar, Bunda? Setiap kali dadaku terasa sakit karena ulah mereka." Ucap Indira sambil menitikkan air matanya.

"Bunda paham Dira, Bunda akan selalu ada untukmu," Ucap Yanti sambil memeluk anak perempuannya itu.

Indira tidak punya siapa siapa lagi untuk membela dirinya selain Ibunya, hanya Ibunya saja yang mempercayainya tanpa syarat apapun dan hanya Ibunya yang selalu ada untuknya bukan orang lain. Jika Indira sudah sampai meminta maaf seperti itu kepada Ibunya sebelumnya, maka hal yang dialami oleh Indira kali ini benar benar terlalu menyakitkan.

Yanti tau bahwa Indira tidak pernah mengeluh apapun soal yang telah ia alami selama ini, sehingga Yanti langsung menduga bahwa luka yang dialami oleh Indira kali ini benar benar parah hingga membuatnya harus mengeluh kepada Ibunya. Indira sudah terbiasa dengan luka sehingga nampak biasa saja, namun kali ini sangat berbeda dengan biasanya.

"Namanya Adek Kakak pasti ada berantemnya, tapi kalian kan juga tetap saudara biar bagaimanapun juga," Ucap Tantenya Indira sekaligus Adik ipar dari Yanti.

"Luka ditubuhnya bisa sembuh seiring berjalannya waktu, tapi bagaimana dengan luka mentalku? Bahkan waktu selama apapun itu tidak akan merubah segalanya terhadap mental." Indira merasa sangat tidak adil.

Luka batin itu nyata adanya, dan tidak akan pernah bisa sembuh kecuali orang yang mengalaminya bisa berdamai dengan keadaannya. Namun kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri daripada harus berdamai dengan keadaan, karena tidak semuanya bisa melakukan hal tersebut dan belum pernah ada dokter yang mampu menyembuhkannya dengan cepat.

Luka difisik mampu terlihat dengan jelas oleh mata manusia, dan manusia sendiri juga mampu mengobatinya dengan berbagai macam obat agar lukanya kering. Namun jika mentalnya yang terluka, siapa pun itu tidak akan mengetahui seberapa dalam lukanya, dan seberapa susahnya untuk mengobati hal tersebut.

Penyebab utama seseorang melakukan tindakan bunuh diri (bundir) umumnya bukan faktor tunggal, melainkan akumulasi tekanan emosional yang melampaui kemampuan koping individu. Faktor pemicu utamanya meliputi masalah kesehatan mental (depresi, bipolar, skizofrenia), tekanan hidup berat (perceraian, kehilangan), masalah finansial, isolasi sosial, serta trauma kekerasan.

Kejadian itu tidak berlangsung sekali saja, namun berkali kali hingga membuat Indira merasa sangat lelah, dirinya juga tidak betah jika terus menerus berada ditempat seperti itu apalagi tempat yang sama sekali tidak menerima kehadirannya itu. Entah sampai kapan dirinya terus berada disana, dan dia sendiri juga bingung harus pergi kemana lagi karena hanya itulah satu satunya tempat tinggalnya.

Hingga suatu hal besar pun terjadi, pada akhirnya Indira beserta Ibunya diusir pergi oleh Riri dari sana dan bahkan Yanti pun tidak dianggap Ibu lagi oleh Riri. Kesalahan yang sangat besar telah Riri lakukan kepada Ibunya, bahkan ia sama sekali tidak mengakui bahwa Yanti adalah Ibunya, ia memanggil Yanti layaknya orang lain yang sama sekali tidak berarti baginya.

1
JELINA,S.PD.K JELINA,S.PD.K
Ndak seru ceritanya ga bisa dilanjutkan
Riskejully: Nggak mau baca juga nggak papa kak, ini cerita hanya untuk mengenang kisahku dan seseorang yang aku cintai saja. terima kasih sudah baca sampai sini🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
what 3 bln tp gk tau rumah RT nya. lah berarti waktu mau tinggal gk laporan dulu dong.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.
Riskejully: bukan komplek ya, awalnya dia tinggal sama budenya disatu tempat dan para tetangganya sudah tau, tapi budenya tiba tiba pindah ditempat lain namun masih tetanggaan + indira jarang bersosialisasi dengan siapapun. pulang kerja langsung masuk rumah di kunci rapat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!