NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Rencana Rina

Dingin yang Bersahabat

Lantai batu penjara bawah tanah ini tidak lagi terasa sebagai musuh yang menusuk hingga ke sumsum tulang; bagi Aurelia, dingin yang kini ia rasakan adalah sekutu paling setia yang menjaga kewarasannya tetap utuh di tengah badai dendam. Di dalam raga Elara yang ringkih dan tampak rapuh, inti Void mulai berdenyut dengan frekuensi yang jauh lebih stabil setelah ia berhasil melumat habis seluruh residu racun hitam pemberian Elena. Aurelia mengatur ritme pernapasannya yang masih terasa sedikit berat, mencoba menenangkan sirkulasi energi di dalam tubuh yang baru saja ia paksa untuk terbuka lebar sebagai wadah kekuatan kuno. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding sel yang lembap, merasakan setiap tetes kondensasi air di permukaan batu itu meresap ke pori-porinya, mendinginkan aliran darah yang sempat mendidih hebat akibat reaksi asimilasi.

"Nona... apakah Anda benar-benar belum bisa memejamkan mata?" bisikan lirih yang sarat akan kecemasan itu memecah sunyi yang mencekam.

Aurelia menoleh secara perlahan ke arah Rina yang masih meringkuk ketakutan di sudut sel yang gelap. Pelayan muda itu tampak pucat pasi, matanya sembab akibat tekanan ketegangan hebat saat menyaksikan Jenderal Kaelen menyusup ke dalam lubang maut ini tadi.

"Aku belum memiliki kemewahan untuk bisa beristirahat, Rina. Berhentilah menunjukkan getaran ketakutan yang tidak berguna seperti itu," jawab Aurelia dengan nada yang tenang namun dingin. Suaranya tidak lagi terdengar serak dan lemah; kini terdapat nada otoritas yang menuntut kepatuhan mutlak di sana, sebuah bayangan dari sang Permaisuri Asteria yang asli.

"Tapi Nona, kehadiran Jenderal Kaelen tadi... dan ramuan kristal biru itu... Kalau para penjaga kembali melakukan inspeksi dan menemukan botol yang Nona sembunyikan di celah batu itu, kita semua akan tamat," isak Rina dengan volume yang sangat pelan, nyaris tenggelam oleh desau angin penjara.

"Maka dari itu, kunci mulutmu rapat-rapat, Rina. Keberanian yang kau tunjukkan dengan tetap diam sekarang adalah harga mutlak buat keselamatan nyawamu sendiri di masa depan," sahut Aurelia dengan nada tajam yang memotong kekhawatiran pelayannya tanpa ampun.

Aurelia memejamkan matanya kembali dengan rapat, mencoba memvisualisasikan botol pemberian Kaelen yang kini aman di balik batu. Ia secara sadar memilih untuk tidak meminumnya saat ini. Baginya, menggunakan ramuan pemulih itu sekarang rasanya seperti mengakui sebuah degradasi martabat dan kelemahan fisik. Ia adalah seorang permaisuri, dan ia akan melakukan restorasi raga dengan metodanya sendiri yang jauh lebih keras, bukan lewat belas kasihan yang dikemas dalam kristal biru yang cantik. Ia harus membuktikan bahwa raga Elara mampu melampaui limitasi biologisnya melalui kehendak jiwa Void.

Aku bukan lagi Aurelia yang pasif dan hanya bisa menunggu untuk diselamatkan oleh ksatria berbaju zirah, batinnya dengan kemarahan yang tenang namun mematikan.

Logika di Balik Cahaya

Pandangan Aurelia kini terkunci secara obsesif pada lidah api obor yang tertancap di dinding luar jeruji besi. Cahaya jingga yang menjilat-jilat itu biasanya akan memicu fragmen memori traumatis tentang panggung eksekusi—aroma hangus daging, tawa melengking Elena yang menusuk telinga, dan ekspresi hampa Valerius yang memuakkan. Jantungnya mulai berdegup dengan kencang, sebuah reaksi otonom saraf yang belum bisa ia jinakkan sepenuhnya. Tangannya mulai gemetar hebat saat radiasi cahaya jingga itu memantul di pupil matanya yang melebar.

"Fokus, Aurelia. Api ini hanyalah bentuk energi mentah. Dia tidak akan pernah bisa membakarmu lagi jika kau yang memegang kendali mutlak atas alirannya," ia memberikan instruksi militer pada jiwanya sendiri.

Ia merentangkan telapak tangannya yang kurus ke arah jeruji, mencoba menjangkau pancaran panas dari obor tersebut secara manual. Ia sama sekali tidak berniat untuk memadamkannya, karena hal itu akan mengundang kecurigaan patroli penjaga. Ia memiliki rencana lain yang jauh lebih berisiko bagi kestabilan raga Elara.

"Nona mau melakukan apa? Tolong jangan dekat-dekat dengan api itu, Nona masih menderita trauma fisik yang hebat!" Rina mencoba bangkit dari posisinya untuk mencegah tindakan Elara yang ia anggap sebagai kegilaan.

"Tetaplah duduk di sana dan jangan bersuara, Rina! Jangan pernah melakukan pergerakan apa pun yang tidak aku instruksikan!" bentak Aurelia tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

"Nona, tangan Anda... lihatlah, tangan Anda mulai mengeluarkan uap panas!" teriak Rina dengan nada histeris yang ia tekan di balik telapak tangannya sendiri karena takut terdengar oleh sipir.

Aurelia mengabaikan peringatan itu sepenuhnya. Kulit telapak tangannya terasa sangat pedas tersengat radiasi panas, namun ia justru semakin mempertajam fokus kognisinya pada aliran energi termal di depannya. Ia membedah energi panas itu sebagai aliran liar yang tidak terarah. Dengan sisa kekuatan jiwanya yang mulai pulih, ia mulai menarik partikel panas tersebut, menyerapnya langsung ke dalam sistem metabolisme energinya melalui ujung saraf yang perih.

"Masuklah... jadilah bagian dari kehampaan Void ini," bisik Aurelia dengan suara parau yang penuh ambisi.

Secara perlahan dan menyakitkan, rasa perih itu bertransformasi. Sensasi terbakar yang tadinya memicu trauma ketakutan kini justru mulai beresonansi dengan inti Void yang lapar akan asupan tenaga mentah. Ia merasakan energi panas itu mengalir melalui lengannya, menuju area luka bakar di punggungnya yang sekarang ia fungsikan sebagai pusat gravitasi energi tubuhnya.

"Anda... Anda benar-benar sudah gila, Nona," Rina menutup mulutnya rapat-rapat, menyaksikan pemandangan yang mustahil; bagaimana intensitas cahaya obor di koridor tampak meredup secara tidak wajar dan tersedot ke arah raga Elara seolah-olah ditarik oleh pusaran tak kasat mata yang sangat kuat.

"Kegilaan adalah satu-satunya logika yang tersisa yang mampu menyelamatkan kita di tempat busuk ini, Rina," jawab Aurelia, sementara butiran keringat dingin membanjiri keningnya akibat beban pemrosesan energi yang sangat berat bagi raga manusia biasa.

Ia merasakan kekuatannya naik secara signifikan. Getaran pada level seluler tubuhnya kini tersinkronisasi sempurna dengan panas yang ia serap. Luka-lukanya berdenyut hebat, bukan lagi karena rasa sakit yang melumpuhkan, melainkan karena proses regenerasi paksa yang dipicu oleh aktivitas sihir penyerapan energi termal tersebut.

Dilema di Tengah Kehampaan

Semakin banyak kuantitas energi yang ia serap dari obor koridor, semakin Aurelia merasakan sisi kemanusiannya yang rapuh mulai menguap. Ada sebuah kehampaan dingin yang menyelimuti batinnya, membuat sisa-sisa rasa sedih terhadap Kaelen atau kebencian personal terhadap Valerius terasa semakin menjauh dari pusat kesadarannya yang murni. Ia merasa seolah sedang bertransformasi secara molekuler menjadi entitas lain yang tidak lagi terikat oleh penderitaan fisik manusia biasa.

Apakah ini kompensasi yang harus aku bayar? Kehilangan empati demi sebuah kekuatan absolut? tanyanya dalam kesunyian batin yang dalam.

"Nona, wajah Anda saat ini... terlihat sangat dingin. Serupa dengan patung marmer di kuil kuno," ujar Rina dengan nada ketakutan yang tulus, melihat perubahan raut wajah Elara yang mendadak tanpa emosi.

"Apakah itu merupakan hal yang buruk bagi seorang tawanan, Rina? Bukankah kau sangat menginginkan seorang majikan yang memiliki kekuatan cukup untuk membawamu keluar dari neraka ini?" Aurelia menatap Rina dengan sepasang mata yang kini berkilat ungu pucat di tengah kegelapan sel yang pekat.

"Saya tentu saja ingin Nona selamat. Namun saya merasa sangat ngeri melihat sosok Anda yang sekarang. Nona sama sekali tidak lagi tampak seperti gadis malang yang pertama kali saya temui di dapur istana," sahut Rina secara jujur, suaranya bergetar.

Aurelia terdiam sejenak mendengar kejujuran itu. Ia teringat akan janjinya sendiri untuk tidak menjadi monster tanpa jiwa seperti Elena. Namun, saat memori mengenai rasa panas yang melumat tubuhnya hingga menjadi abu di masa lalu kembali muncul ke permukaan, seluruh keraguan itu lenyap seketika. Kehangatan emosional adalah sebuah titik lemah yang mematikan. Dingin adalah perisai pertahanan yang absolut.

"Dunia ini tidak memerlukan kehangatan dari seorang permaisuri yang lemah dan sudah kalah, Rina. Dunia saat ini memerlukan pemimpin yang memiliki kapabilitas mutlak untuk menelan kegelapan," ucap Aurelia dengan nada yang terdengar absolut dan final.

Ia menarik kembali tangannya dari jeruji besi. Obor di koridor tersebut masih menyala, namun kini cahayanya tampak sangat pucat dan kehilangan daya pancarnya, seolah-olah esensinya telah dicuri secara paksa oleh sosok di dalam sel. Aurelia berdiri dengan tegak tanpa bantuan dinding. Ia tidak lagi merasakan pelemahan fisik yang melumpuhkan pada kakinya. Kekuatannya kini berada pada titik stabilitas yang memuaskan.

"Level sinkronisasi nol titik tujuh... stabilitas fungsional tercapai," gumamnya pada dirinya sendiri.

Raga Elara sekarang jauh lebih patuh pada setiap perintah motorik yang dikirimkan oleh kesadarannya. Meskipun tangannya tetap terlihat sangat kurus dan kotor oleh debu penjara, sistem sarafnya kini dialiri oleh energi yang cukup untuk melakukan pergerakan cepat dengan presisi militer. Ia telah siap sepenuhnya untuk menghadapi hari esok.

"Rina, mendekatlah padaku," panggil Aurelia dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Rina mendekat dengan langkah ragu yang terseret. "Ya, Nona? Apa yang harus hamba lakukan?"

"Besok, Elena pasti akan mengirimkan sesuatu yang jauh lebih destruktif daripada sekadar racun dalam makanan. Dia akan mencoba memancingku keluar dari cangkang ketenangan ini atau menggunakanmu sebagai instrumen penekan emosional. Apa pun yang terjadi, jangan pernah menunjukkan indikasi sekecil apa pun bahwa kau mengetahui kekuatan yang aku miliki saat ini. Paham?" Aurelia mencengkeram bahu Rina dengan tekanan yang kuat, memastikan pesannya tertanam di bawah kulit pelayan itu.

"Saya memahaminya, Nona. Saya bersumpah demi nyawa saya sendiri," jawab Rina dengan nada tegas yang baru, seolah-olah sebagian kekuatan Aurelia merambat masuk ke dalam jiwanya.

Aurelia melepaskan cengkeramannya. Ia menatap kegelapan koridor yang panjang dan lembap. Tarian bayangan ini baru saja dimulai. Ia telah berhasil mentransformasikan trauma apinya yang melumpuhkan menjadi sumber tenaga baru yang stabil. Sekarang, ia bukan lagi merupakan mangsa yang bisa diremehkan.

"Biarkan mereka datang," bisik Aurelia pada kesunyian yang dingin. "Biarkan mereka menyaksikan bagaimana abu yang mereka buang dengan hina mulai membara kembali dengan api yang jauh lebih dingin."

Ia kembali duduk dalam posisi meditasi untuk memadatkan seluruh sisa energi Void-nya. Ia harus memastikan bahwa sirkulasi energinya tidak meninggalkan jejak radiasi sihir jika terjadi inspeksi mendadak oleh penyihir istana. Kesunyian kembali menyelimuti sel isolasi tersebut, namun kali ini, sunyi tersebut membawa ancaman mematikan bagi siapa pun yang berani mengusik sang permaisuri yang bangkit kembali.

Logam yang Menipu

Kegelapan di dalam sel terasa semakin pekat dan menyesakkan setelah obor di koridor luar perlahan padam, menyisakan bau sisa pembakaran yang menggantung statis di udara yang lembap. Aurelia masih duduk dengan punggung tegak lurus, sebuah postur komandan yang tidak bisa disembunyikan oleh pakaian tawanan yang compang-camping. Matanya terpejam rapat, namun indra kognitifnya bekerja melampaui batas persepsi manusia biasa melalui resonansi Void yang halus.

"Nona... suasana di sini mendadak menjadi sangat gelap," bisik Rina dari sudut sel, suaranya gemetar hebat karena kehilangan pandangan visual.

"Kegelapan tidak akan pernah menyakitimu jika kau tahu cara bernapas di dalamnya, Rina. Justru dalam kegelapan mutlak seperti inilah, kau bisa melihat dengan jelas siapa yang membawa cahaya asli dan siapa yang hanya mengenakan topeng cahaya palsu," jawab Aurelia tanpa sedikit pun membuka mata atau mengubah posisinya.

"Tapi Nona, lihatlah benda ini," Rina merangkak mendekat dengan gerakan yang sangat hati-hati di atas lantai yang kasar. "Waktu penjaga tadi menendang jeruji besi dengan kasar, salah satu dari mereka menjatuhkan sesuatu secara tidak sengaja. Saya berhasil menyambarnya sebelum mereka melangkah jauh dari sini."

Aurelia membuka matanya perlahan. Dalam remang-remang yang nyaris total, ia melihat Rina menyodorkan sebuah benda logam dengan tangan yang gemetar. Sebuah kunci besi besar dengan ukiran khas simbol penjara bawah tanah kekaisaran Valerius.

"Kunci?" tanya Aurelia datar. Meskipun suaranya tetap tenang, batinnya langsung berada dalam status waspada tingkat tinggi.

"Iya, Nona! Ini adalah kunci sel kita! Kita bisa keluar sekarang melalui jalur belakang sebelum orang-orang suruhan Elena datang besok pagi!" Rina bicara dengan nada penuh harap yang meluap-luap, telapak tangannya basah oleh keringat dingin akibat adrenalin.

Aurelia tidak langsung menyentuh logam tersebut. Ia justru mendekatkan wajahnya pada benda itu, memicingkan mata dalam kegelapan. Bukan indra penglihatannya yang bekerja, melainkan resonansi batinnya yang sedang membedah struktur energi pada kunci tersebut.

"Jangan disentuh terlalu lama, Rina. Logam ini... baunya salah. Tidak ada aroma besi berkarat yang jujur dan alami dari kunci yang seharusnya sudah lama tergantung di pinggang sipir ini," Aurelia menyipitkan mata lebih tajam. Dengan penglihatan Void-nya yang tipis, ia melihat lapisan energi ungu kehitaman yang beracun menyelimuti permukaannya. "Ini bukan sebuah kecerobohan yang tidak disengaja. Ini adalah sebuah undangan terbuka menuju lubang kubur."

"Maksud Nona... apakah ini adalah sebuah jebakan lagi?" suara Rina menciut, penuh dengan ketakutan yang mendalam.

"Jika kau menggunakan kunci ini untuk membuka jeruji dan kita berani melangkah keluar satu inci pun, sihir pelacak yang ditanam di logam ini akan berteriak memberikan alarm pada seluruh penjaga. Mereka akan memiliki alasan legal yang kuat untuk membantai kita di tempat karena 'mencoba kabur'. Elena tidak ingin aku sekadar mati secara diam-diam; dia ingin aku mati sebagai pengkhianat yang mencoba melarikan diri," jelas Aurelia dengan ketenangan yang mematikan, mengungkapkan lapisan strategi lawan di hadapan Rina yang terpaku.

Dilema Kesetiaan

Rina segera menarik tangannya secepat kilat seolah-olah baru saja menyentuh bara api, membiarkan kunci itu jatuh ke lantai dengan denting logam yang memekakkan telinga dalam kesunyian sel. Tubuhnya bergetar jauh lebih hebat dari sebelumnya.

"Jadi... mereka sengaja menjatuhkannya untuk saya ambil? Mereka ingin menggunakan tangan saya untuk membunuh Anda, Nona?" Rina mulai terisak pelan, menyadari betapa jahatnya permainan di istana tersebut.

"Mereka mencoba menggunakan ketulusan dan kepolosanmu sebagai senjata untuk menghancurkanku, Rina. Begitulah cara kerja yang sangat lazim di lingkungan istana atas," Aurelia mengulurkan tangan dan menyentuh bahu Rina dengan lembut. Sebuah dilema martabat menghujam batinnya; ia merasa terhina karena harus melibatkan gadis sepolos ini ke dalam pusaran permainan berdarah yang ia ciptakan.

"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak bodoh, kau hanya belum terbiasa menghirup bau busuk dari pengkhianatan yang terorganisir," Aurelia menarik napas panjang, menstabilkan emosinya. "Dengar instruksiku dengan sangat teliti. Kita tidak akan lari dari sini. Tidak malam ini."

"Tapi Nona, jika kita tetap bertahan di sini, besok sore Nona akan disiksa atau bahkan dieksekusi di depan publik!"

"Justru itu adalah tujuan utama yang ingin aku capai. Aku ingin mereka percaya bahwa rencana mereka telah berhasil sepenuhnya. Aku ingin mereka melihat aku sebagai seorang tawanan yang terlalu ketakutan dan hancur bahkan untuk menyentuh kunci kebebasannya sendiri," Aurelia menarik sebuah senyum dingin yang penuh kemenangan terselubung. "Ambil kembali kunci itu menggunakan selembar kain yang kotor. Besok pagi, saat pelayan senior datang, kau harus mengembalikannya. Bilang bahwa kau menemukannya di lantai tapi terlalu takut untuk menggunakannya karena melihat aku terus-menerus menangis dan mengigau dalam ketakutan yang hebat."

"Apakah saya benar-benar harus berpura-pura bahwa mental Nona sudah hancur dan gila?"

"Tepat sekali. Buatlah mereka percaya sepenuhnya bahwa mental raga Elara sudah runtuh total. Semakin mereka meremehkan kapabilitas pribadiku, semakin besar celah strategis yang bisa kubuka untuk menusuk langsung ke jantung pertahanan mereka nanti."

Cerita dari Pinggiran Kota

Suasana di dalam sel kembali menjadi hening dan sunyi. Rina memungut kunci terkutuk itu dengan sepotong kain kumal dan menyembunyikannya dengan sangat hati-hati di balik tumpukan jerami. Ia kemudian duduk kembali di hadapan Aurelia, matanya menatap kosong ke kegelapan.

"Nona, apakah benar semua orang yang memiliki kekuasaan di istana memang sejahat dan sekejam itu? Ayah saya selalu bilang bahwa Kekaisaran ini didirikan untuk melindungi rakyat kecil seperti kami," suara Rina terdengar sangat rapuh dan penuh dengan kekecewaan.

Aurelia terdiam cukup lama sebelum menjawab. "Kekuasaan adalah jenis racun yang paling lambat masa kerjanya, Rina. Ia bekerja secara perlahan, membuat orang-orang yang memilikinya lupa akan wajah asli dari rakyat yang seharusnya mereka lindungi."

"Saya sangat merindu rumah saya, Nona. Di pinggiran kota Asteria, kami hanya memiliki kebun kecil yang sederhana. Di sana, jika ada tetangga yang merasa lapar, kami akan dengan senang hati berbagi roti. Namun di sini, jika kau menunjukkan rasa lapar akan keadilan, orang akan mencoba mencuri nyawamu," Rina tersenyum kecut, sebuah ekspresi yang terlalu tua untuk usia mudanya.

Aurelia merasakan sebuah beban moral baru di pundaknya. Setiap kata yang diucapkan Rina mengingatkannya bahwa misi balas dendamnya saat ini bukan lagi sekadar soal harga diri seorang permaisuri yang dikhianati, melainkan soal nasib ribuan rakyat jelata yang ikut dikhianati oleh ego raksasa sang Kaisar.

"Kau tidak akan mati di tempat ini, Rina. Aku bersumpah demi sisa jiwa dan martabatku sebagai pemimpin," ucap Aurelia dengan nada yang sangat tulus, sebuah momen langka di mana ia membiarkan sisi manusianya muncul ke permukaan.

"Nona benar-benar terasa sangat berbeda dengan apa yang sering orang bicarakan soal Putri Elara yang penakut dan lemah," ujar Rina dengan nada kagum yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Rasa takut itu terkadang adalah topeng yang paling nyaman dan aman untuk dipakai di hadapan musuh, Rina. Sekarang, tidurlah. Kau akan membutuhkan energi yang besar untuk menjalankan sandiwara besar kita besok pagi."

Sandiwara di Balik Bayang

Sisa malam yang mencekam itu berlalu dengan sangat lambat. Rina akhirnya terlelap karena kelelahan emosional yang luar biasa. Namun, Aurelia tetap terjaga dalam posisi meditasinya, membiarkan kesadaran kognitifnya meluas menembus dinding jeruji besi yang dingin.

"Kebebasan sejati tidak akan pernah datang dari sebuah pintu yang sengaja dibukakan oleh musuhmu sendiri," gumamnya dengan suara yang sangat pelan, nyaris berupa desisan.

Saat cahaya fajar yang berwarna abu-abu mulai merayap masuk melalui celah ventilasi sempit di atas sel, suara langkah kaki yang angkuh dan teratur mulai terdengar mendekat. Bukan langkah kasar dari penjaga pria, melainkan ketukan sepatu tumit tinggi yang ringan namun tegas. Aurelia segera memosisikan dirinya meringkuk di sudut sel yang paling gelap, membiarkan rambut panjangnya yang kusut menutupi seluruh wajahnya.

"Bangunlah, tikus kecil Asteria," suara perempuan yang tajam dan dingin memecah keheningan pagi.

Itu adalah Martha, kepala pelayan senior yang dikenal sebagai tangan kanan kepercayaan Elena. Wajahnya tampak sekaku batu granit tanpa sedikit pun rasa empati. Rina tersentak bangun dari tidurnya, segera melakukan posisi sujud dengan dahi yang menyentuh lantai dingin, persis seperti yang diinstruksikan oleh Aurelia.

"Mana kunci cadangan koridor yang dijatuhkan penjaga semalam? Aku tahu kunci itu hilang dari kantong penjaga bodoh itu," bentak Martha dengan nada yang menghina.

Rina gemetar hebat, memerankan ketakutan akut secara sempurna. Ia merogoh ikat pinggangnya dengan tangan yang kaku, mengeluarkan kunci yang terbungkus kain kotor tersebut.

"Ini, Nyonya... saya menemukannya semalam tergeletak di depan jeruji," Rina berbisik dengan suara yang memelas. "Awalnya saya ingin menggunakannya untuk lari... tapi lihatlah dia! Nona saya sudah benar-benar gila, Nyonya! Semalam dia hanya bisa menangis tanpa henti dan memanggil nama orang-orang yang sudah mati. Dia tidak mau bergerak sama sekali. Hanya meringkuk ketakutan seperti itu sejak obor dipadamkan."

Martha tertawa sinis, sebuah tawa yang sarat akan kemenangan. "Jadi sisa-sisa keagungan Asteria sudah habis terbakar menjadi debu? Bagus sekali. Selir Utama Elena pasti akan sangat senang mendengar bahwa tawanan ini sudah menjadi mayat hidup yang hancur mentalnya sebelum ia benar-benar disiksa sore nanti."

Martha menyambar kunci itu dengan gerakan kasar. Aurelia, dari balik celah rambutnya, memperhatikan dengan jeli bahwa Martha mengenakan sarung tangan kulit khusus saat mengambil kunci tersebut—sebuah konfirmasi mutlak bahwa logam itu memang telah dilapisi oleh sihir racun pelacak yang mematikan.

Harga Sebuah Informasi

Setelah Martha pergi dengan langkah kaki yang penuh keangkuhan, Rina terduduk lemas di lantai, napasnya memburu. "Apakah... apakah saya sudah melakukannya dengan benar, Nona?"

Aurelia bangkit dari posisinya dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan. Mata ungunya berkilat tajam di bawah cahaya fajar yang redup. "Kau melakukannya dengan sangat sempurna, Rina. Kau baru saja memberikan mereka sebuah rasa aman palsu yang akan menjadi celah kematian mereka sendiri."

"Siapa nama pelayan senior tadi? Dan dengan siapa saja dia sering terlihat melakukan kontak rahasia di istana atas?" tanya Aurelia dengan nada yang sangat taktis.

"Namanya adalah Martha, Nona. Dia adalah tangan kanan sekaligus eksekutor keinginan Selir Elena. Saya sering melihat dia berbisik-bisik secara rahasia dengan Panglima Vane mengenai urusan pasokan kristal mana kekaisaran."

Aurelia segera mencatat nama itu dalam memori strateginya. Panglima Vane. Faksi militer lama yang merupakan pendukung setia kekuatan Elena. Jika pihak militer dan pengguna sihir hitam sudah mulai bersatu secara rahasia, maka posisi politik Valerius sebenarnya sedang berada di ujung tanduk; ia telah dikelilingi oleh serigala-serigala yang menunggu saat yang tepat untuk menerkam.

Persiapan Menuju Badai

Beberapa jam kemudian, suara terompet istana yang megah mulai bergema di seluruh kompleks penjara. Pesta taman besar sebagai perayaan kemenangan atas Asteria telah resmi dimulai. Aurelia segera memadatkan seluruh sisa energi Void-nya hingga ke tingkat yang sangat tipis, menyembunyikannya jauh di dalam sumsum tulangnya agar tidak terdeteksi oleh indra sihir mana pun di permukaan.

"Rina, sebentar lagi kita akan dipisahkan secara paksa. Kau akan dikirim kembali ke tugas dapur bawah. Pastikan kau berada di dekat area taman pada sore ini. Jika kau melihat lampu-lampu taman berkedip dengan pola yang tidak wajar, itu adalah sandi dariku. Segera cari tahu ke mana arah perginya Panglima Vane setelah pertemuan itu," perintah Aurelia dengan otoritas yang tak terbantahkan.

"Saya berjanji akan melakukannya, Nona. Saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk ini."

Pintu sel besi itu tiba-tiba terbuka dengan sangat kasar. Dua orang penjaga masuk dengan membawa rantai besi yang dingin dan berat. Karena mereka menganggap bahwa Elara sudah kehilangan kewarasan mentalnya, mereka tidak terlalu bersikap kasar; mereka hanya merantai tangannya dengan kencang dan menyeretnya untuk berdiri.

Aurelia membiarkan tubuhnya lunglai dan lemas, memerankan sosok "Elara yang sudah hancur total" secara meyakinkan. Saat ia diseret keluar dari sel gelap yang telah menampungnya, ia melirik ke arah Rina untuk terakhir kalinya melalui tatapan yang seolah berkata: Tetaplah hidup dan jalankan tugasmu.

Udara dingin dan lembap penjara seketika berganti menjadi udara segar yang dipenuhi aroma mawar dari taman istana. Sinar matahari pagi yang cerah menusuk matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan, memberikan rasa pedih yang nyata. Namun, di balik kelopak matanya yang tertutup setengah, Aurelia tersenyum dingin.

"Sinar matahari ini terasa sangat indah untuk hari terakhirmu, bukan?" ejek salah seorang penjaga sambil menarik rantai di tangannya dengan kasar. "Nikmatilah pemandangan ini sebaik mungkin, karena mungkin ini adalah cahaya terakhir yang akan kau lihat sebelum kau kembali ke lubang maut."

Aurelia tetap diam seribu bahasa. Ia melangkah dengan kaki telanjang yang kotor di atas rumput hijau yang lembut. Di balkon istana yang jauh, ia bisa melihat sosok Valerius yang berdiri tegak menatap kerumunan tamu undangan dengan penuh keangkuhan.

Badai yang paling menghancurkan tidak selalu datang dengan suara guntur yang menggelegar, Valerius, batin Aurelia dengan fokus yang sangat tajam. Terkadang, ia datang dengan sangat tenang dalam rupa seorang tawanan yang kau anggap sudah mati jiwanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!