Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam itu juga, dokter mengizinkan Aruna untuk pulang dengan syarat harus istirahat total.
Suasana rumah sakit yang dingin segera berganti dengan persiapan kepulangan yang sigap.
Christian tidak membiarkan Aruna melangkah
sedikit pun; ia seolah ingin menjadi kaki bagi istrinya.
Perawat mendekat dengan lembut untuk melepas selang infus dari tangan Aruna.
Setelah itu, perawat menyerahkan beberapa botol obat dan suplemen kepada Christian.
Sesuai dengan permintaan rahasia Aruna dan dokter sebelumnya, perawat tersebut menjalankan perannya dengan sangat hati-hati.
"Ini obat-obatan dan vitaminnya, Tuan Christian. Semuanya sangat penting untuk kandungan Nyonya Aruna agar janinnya tetap kuat dan ibunya tidak mudah lemas," ucap perawat itu
dengan wajah datar, menutupi kenyataan bahwa di antara botol-botol itu terdapat obat keras untuk menahan laju nyeri akibat tumor di mata Aruna.
Christian menerima kantong obat itu tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Terima kasih, Suster. Saya akan pastikan dia meminumnya tepat waktu."
Tanpa menunggu lama, Christian membopong tubuh istrinya keluar dari ruang perawatan.
Aruna menyandarkan kepalanya di dada bidang Christian, memejamkan mata rapat-rapat.
Bukan hanya karena lelah, tapi karena lampu-lampu di koridor rumah sakit mulai terasa seperti kilatan yang menyakitkan penglihatannya.
Perjalanan pulang terasa sunyi. Sesampainya di apartemen mereka yang mewah dan hangat, Christian kembali membopong tubuh istrinya dari mobil hingga masuk ke dalam kamar utama.
Ia membaringkan Aruna di atas ranjang dengan sangat perlahan, seolah istrinya terbuat dari kaca yang mudah retak.
"Nah, sekarang kamu sudah di rumah, Sayang," bisik Christian sambil menyelimuti Aruna.
Aruna menatap suaminya.
Dalam cahaya lampu tidur yang remang-remang, wajah Christian terlihat sedikit lebih jelas, namun ia harus berjuang ekstra keras untuk memfokuskan pandangannya.
"Mas, terima kasih sudah menjagaku dengan begitu baik," suara Aruna terdengar parau.
"Itu tugasku, Aruna. Tugas seorang suami dan calon ayah," jawab Christian sambil mengecup kening istrinya lama.
"Sekarang kamu minum vitaminnya, lalu tidur. Aku akan menyimpankan obat-obatmu di meja rias."
Christian berbalik untuk merapikan obat-obatan tersebut.
Aruna memperhatikan punggung suaminya dengan perasaan pilu.
Ia meraih botol obat yang khusus untuk matanya dan menyembunyikannya di bawah bantal sebelum Christian sempat membacanya dengan teliti.
"Besok aku harus ke kantor pagi-pagi karena Akhsan mulai bekerja, tapi aku sudah meminta asisten rumah tangga dan Indri untuk datang ke sini menjagamu. Jangan coba-coba bangun dari kasur tanpa bantuan, mengerti?" Christian memberikan peringatan lembut namun tegas.
Aruna mengangguk patuh. Ia memejamkan matanya, membiarkan kegelapan menguasainya lebih dulu sebelum tumor itu benar-benar mengambil penglihatannya secara permanen.
Ia hanya berharap, ia masih bisa melihat wajah Christian hingga hari kelahiran buah hati mereka tiba.
Sinar matahari tipis mulai menembus tirai jendela kamar mereka.
Christian membuka matanya dan seketika menyadari sisi tempat tidurnya sudah kosong.
Suara istrinya yang muntah dan gemericik air dari arah kamar mandi membuatnya langsung terjaga sepenuhnya.
Christian bergegas bangun dan menemukan Aruna sedang bersandar di wastafel, wajahnya pucat pasi setelah mengeluarkan cairan bening dari perutnya.
"Sayang, kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Christian dengan nada khawatir yang kental.
Ia segera memijat tengkuk istrinya dengan lembut, berusaha memberikan rasa nyaman.
Aruna menyeka mulutnya dengan tisu, napasnya sedikit terengah.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Aku hanya mual biasa. Morning sickness kata dokter semalam, kan?"
Aruna mencoba berdiri tegak, meski kepalanya terasa berdenyut hebat.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tampak sedikit buram di matanya.
"Mas, aku nanti ada pemotretan. Kontrak dengan majalah itu sudah ditandatangani jauh-jauh hari sebelum kejadian ini. Aku tidak ingin dianggap tidak profesional."
Wajah Christian yang tadinya lembut langsung berubah menjadi tegas. Ia memutar tubuh Aruna agar menghadapnya.
"Sayang, kamu stop dulu dari modeling. Kamu hamil, Aruna. Ingat kata dokter semalam, kondisi kamu sangat rentan. Kamu butuh istirahat total, bukan berdiri berjam-jam di bawah lampu studio yang panas!"
"Tapi Mas, ini pemotretan terakhir untuk koleksi musim ini. Aku bisa melakukannya dengan cepat. Aku tidak ingin mengecewakan tim—"
"Aruna, tolong!" potong Christian, suaranya naik satu oktav namun penuh dengan nada memohon.
"Ini bukan soal profesionalitas lagi, ini soal nyawa kamu dan anak kita. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil risiko sekecil apa pun. Masalah kontrak dan penalti, biarkan aku yang menyelesaikannya lewat Hermawan Grup. Aku bisa membeli seluruh majalah itu jika perlu, asalkan kamu tetap di sini, di tempat yang aman."
Aruna terdiam. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia ingin tetap aktif agar tidak terus-menerus memikirkan kegelapan yang mulai mengintai matanya. Namun, melihat sorot mata Christian yang penuh ketakutan akan kehilangan dirinya, Aruna akhirnya menunduk.
"Istirahatlah. Aku akan meminta Indri datang lebih cepat untuk menemanimu. Aku harus ke kantor karena Akhsan sudah menunggu, tapi pikiranku akan tetap di sini bersamamu," ucap Christian sambil mengecup puncak kepala istrinya.
Aruna hanya mengangguk pelan, menyembunyikan rasa sesak di dadanya.
Ia tahu Christian melakukannya karena cinta, namun ia juga tahu bahwa waktunya untuk bisa "melihat" lampu-lampu studio dan keindahan dunia modeling mungkin memang sudah berakhir lebih cepat dari yang ia duga.
Langkah kaki Christian bergema di lobi kantor Hermawan Group.
Ia mendapati Akhsan sudah duduk tegak di ruang tunggu, mengenakan kemeja rapi namun wajahnya terlihat jauh lebih kuyu dari biasanya. Begitu melihat Christian, Akhsan langsung berdiri.
Christian tidak berhenti untuk berbasa-basi. Ia memberi isyarat agar Akhsan mengikutinya ke ruang kerja. Setelah pintu tertutup, Christian berbalik dengan tatapan dingin yang profesional.
"Mulai sekarang kamu adalah pengawas operasional, dan aku akan menggajimu sesuai dengan pekerjaanmu," ucap Christian tanpa basa-basi.
"Jangan berharap ada perlakuan khusus. Aku tidak akan mencampuradukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Di sini, aku adalah atasanmu, dan kamu adalah karyawanku."
Akhsan menelan ludah, merasakan wibawa Christian yang kini jauh di atasnya.
"Aku mengerti, Christian. Aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa berguna."
"Bagus. Sekarang bekerjalah. Asistenku akan menunjukkan ruangamu," tutup Christian sambil duduk di kursi kebesarannya, langsung membuka tumpukan berkas.
Sementara itu, di apartemen yang sunyi, Aruna bergerak dengan hati-hati.
Kepalanya masih terasa berdenyut, dan dunianya sesekali terasa miring.
Ia membuka laci meja rias dengan tangan bergetar, meraba-raba hingga jemarinya menyentuh kacamata bening miliknya.
Ia segera memakainya. Kacamata itu sedikit membantu menyamarkan pandangannya yang mulai kabur dan melindungi matanya dari cahaya lampu yang terasa menyengat. Aruna melirik jam di dinding—masih ada waktu lima belas menit sebelum Indri sampai.
"Aku hanya sebentar, Mas. Aku harus menyelesaikan tanggung jawabku," bisik Aruna pada udara kosong, seolah mencoba meminta izin pada Christian yang tidak ada di sana.
Dengan gerakan cepat yang dipaksakan, ia mengambil tasnya dan mengenakan mantel panjang untuk menutupi tubuhnya yang mulai lemas.
Ia tidak memanggil sopir pribadi agar keberangkatannya tidak terdeteksi oleh Christian.
Aruna memilih memesan taksi daring secara sembunyi-sembunyi.
Saat pintu apartemen tertutup rapat, Aruna menyandarkan punggungnya di pintu lift.
Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ia sedang bermain api. Ia sedang mempertaruhkan kesehatannya dan janinnya demi sebuah ego profesionalisme—atau mungkin, ini adalah cara terakhirnya untuk merasa "normal" sebelum kegelapan benar-benar merenggut segalanya.
Tepat saat taksi Aruna meninggalkan lobi gedung, mobil Indri masuk ke area parkir.
Indri yang ceria sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang seharusnya ia jaga justru sedang menuju ke sebuah studio foto yang penuh dengan lampu-lampu tajam yang sangat berbahaya bagi saraf matanya.
ga mau jujur punya penyakit
mas bacanya, ini aja bacanya langsng lompat