menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 Runtuhnya Menara Waktu
Menara Paradoks berdiri seperti luka hitam di tengah langit kota. Petir ungu menyambar-nyambar, menciptakan distorsi yang membuat gedung-gedung di sekitarnya tampak meleleh dan kembali utuh dalam hitungan detik. Saka melangkah maju, setiap jejak kakinya di aspal meninggalkan bekas cahaya emas yang perlahan memudar.
"Rian, lepaskan dia," suara Saka bergetar rendah, mengandung otoritas yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Rian, yang matanya kini hanya berupa lubang hitam kosong, tertawa serak. "Saka... kamu masih tidak mengerti. Rian yang kamu kenal sudah tidak ada. Aku adalah akumulasi dari semua kegagalanmu di setiap garis waktu!"
Rian menerjang dengan kecepatan yang mengoyak udara. Namun, Saka tidak menghindar. Ia menggunakan teknik Chronos-Sync. Saat tinju Rian hampir mengenai wajahnya, Saka menggeser garis waktunya sendiri sebanyak 0,5 detik ke masa depan. Tinju Rian menembus bayangan Saka seolah-olah Saka adalah hantu.
Bugh!
Saka menghantam tengkuk Rian dengan telapak tangannya yang dialiri energi pemadat waktu. Rian tersungkur, dan rantai cahaya yang mengikat Anita meredup.
"Saka!" teriak Anita. Ia tampak kebingungan, matanya melihat dua dunia yang tumpang tindih—festival sekolah yang damai dan menara hitam yang mengerikan ini.
"Diam di sana, Nit! Jangan tutup matamu!" perintah Saka.
The Eraser, yang berdiri di atas undakan menara, bertepuk tangan pelan. "Luar biasa. Kamu belajar banyak dari 'Si Gagal' di pelabuhan itu. Tapi apakah kamu siap untuk melihat apa yang ada di balik topeng ini? Alasan kenapa aku begitu membencimu?"
The Eraser perlahan membuka topeng peraknya. Saat topeng itu jatuh ke lantai menara, jantung Saka seolah berhenti berdetak.
Di balik topeng itu bukanlah monster atau orang asing. Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Ayah Saka, namun dengan tatapan mata yang dingin, tanpa cinta, dan penuh dengan obsesi ilmiah.
"Ayah?" bisik Saka tidak percaya.
"Bukan ayahmu yang lemah di rumah itu, Saka," ucap pria itu. "Aku adalah versi dirinya yang berhasil menciptakan mesin waktu, namun harus kehilangan istri dan anaknya karena 'anomali' yang kamu ciptakan. Kamu kembali ke masa lalu dan menyelamatkan Anita, namun di garis waktuku, tindakanmu itu menyebabkan ibumu terhapus dari sejarah!"
Saka terpaku. Jadi ini adalah perang antar keluarga dari dimensi yang berbeda. Dendam yang melintasi ruang dan waktu.
"Untuk mengembalikan ibumu, aku harus menghapusmu dan gadis itu dari semua kemungkinan realitas!" The Eraser mengangkat tangannya ke langit. Menara Paradoks bergetar hebat, mulai menyedot seluruh warna dari kota itu, mengubah segalanya menjadi hitam putih.
Saka merasakan tubuhnya mulai retak. Kekuatan The Void Watch di tangannya mulai meluap, mengancam akan menghancurkan jiwanya. Namun, di tengah keputusasaan itu, ia teringat pesan Saka G-7: "Jangan menjadi Saka yang baik. Jadilah Waktu itu sendiri."
Saka memejamkan mata. Ia berhenti melawan aliran waktu. Ia membiarkan seluruh sisa ingatannya—wajah ibunya, aroma rumahnya, bahkan namanya sendiri—terbakar menjadi energi murni.
"Anita... maafkan aku," bisik Saka.
Saka meledakkan seluruh energinya. Tubuhnya berubah menjadi pilar cahaya emas yang menabrak Menara Paradoks. Ledakan itu begitu besar hingga membelah langit. Menara hitam itu retak, hancur berkeping-keping menjadi debu kronos.
Satu Minggu Kemudian.
Dunia kembali normal. Tidak ada menara hitam, tidak ada parasit waktu. Orang-orang di kota menjalani hidup mereka seolah-olah festival budaya baru saja berakhir dengan sukses.
Anita sedang duduk di bangku taman sekolah, menatap sebuah arloji saku perak yang ia temukan di tengah lapangan seminggu lalu. Arloji itu mati, jarumnya tidak bergerak sama sekali.
Seorang pemuda berjalan melewati taman. Ia tampak biasa saja, dengan seragam sekolah yang rapi dan wajah yang tenang. Ia berhenti sejenak, menatap Anita, lalu tersenyum tipis sebelum melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Anita merasa jantungnya berdegup kencang. "Tunggu!" panggilnya.
Pemuda itu menoleh. "Ya? Ada apa?"
"Kita... kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Anita dengan mata berkaca-kaca, meskipun otaknya tidak bisa menemukan satu pun memori tentang pemuda ini.
Pemuda itu—Saka yang kini hidup tanpa identitas penjaga maupun identitas masa lalu—hanya menggeleng pelan. "Mungkin di mimpi. Namaku Saka. Murid baru di kelas sebelah."
Saka berjalan pergi. Ia telah kehilangan segalanya: ingatannya, kekuatannya, dan statusnya sebagai anak dari orang tuanya. Ia sekarang benar-benar menjadi orang asing di dunianya sendiri. Namun, saat ia melihat Anita hidup dan tersenyum, ia tahu bahwa harga yang ia bayar sepadan.
Di pergelangan tangannya, luka parut itu sudah hilang. Namun, setiap kali jantungnya berdetak, ia masih bisa mendengar bisikan halus dari aliran waktu yang berterima kasih kepadanya.