NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debutante

Malam pun tiba tanpa benar-benar memberi Elenna waktu untuk bernapas.

Para pelayan memenuhi kamarnya sejak senja, membawa kotak-kotak kayu berukir, pita, botol parfum, dan kain berlapis-lapis. Mereka bekerja cepat namun senyap, seolah takut suara mereka akan mengganggu sesuatu yang rapuh.

Rambut Elenna disisir dengan hati-hati, ditata sederhana, tidak terlalu mencolok, dan tidak terlalu polos. Gaun yang dikirim Lilith pas di tubuhnya, terlalu pas, seakan memang dibuat setelah ukuran tubuhnya dihafalkan diam-diam.

Warnanya lembut, namun bukan warna yang akan membuatnya bersinar. Cukup untuk terlihat pantas. Tidak cukup untuk diingat.

Seorang pelayan berhenti sejenak di depan wajahnya, mencoba menepuk bedak lebih tebal di sisi pipi yang menyimpan bekas luka lama. Elenna menangkap pantulan dirinya di cermin. Luka itu masih ada. Samar, tetapi nyata. Seperti dirinya, selalu ada, tapi tak pernah benar-benar diakui.

“Tak apa,” katanya pelan, hampir berbisik. “Biarkan saja.”

Pelayan itu ragu, lalu menunduk patuh.

Ketika mereka selesai, Elenna berdiri sendiri di kamar yang kini terasa asing. Ia menyentuh kalung yang dikirim Alberto. Indah. Terlalu indah untuk seseorang sepertinya. Ada dorongan untuk melepasnya, mengembalikannya, menolak semua ini. Tetapi ia tahu, menolak bukanlah pilihan yang dimilikinya.

Ia melangkah keluar.

Aula utama mansion Marquess telah berubah. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan, musik lembut mengalun, dan gaun-gaun mahal memenuhi ruangan seperti gelombang warna dan kilau. Di ambang pintu, Elenna melihat mereka.

Marquess, Lilith, dan Alberto.

Mereka berjalan berdampingan, selangkah di depan, seolah mereka adalah definisi dari keluarga yang sempurna. Lilith berada di tengah, tangannya menggenggam lengan Marquess dengan anggun, sementara Alberto berjalan di sisi lain, sedikit condong ke arahnya. Mereka berbicara pelan, tersenyum, tertawa kecil.

Elenna mengikuti dari belakang. Selalu dari belakang.

Suara pengawal bergema, mengumumkan kedatangan mereka

“Marquess, tuan muda Alberto, nona muda Lilith dan nona kedua muda Elenna telah tiba.”

Kata-kata itu jatuh tidak seimbang. Nama Elenna terdengar seperti tambahan yang terlupa, disebut karena harus disebut.

Pandangan langsung tertuju pada mereka. Elenna refleks merunduk, jemarinya saling bertaut. Sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, para tamu sudah bergerak. Namun, bukan ke arahnya. Mereka mengelilingi Lilith, memberi ucapan selamat, pujian, harapan, sanjungan yang mengalir tanpa henti.

Lilith tertawa ringan. Marquess tersenyum bangga. Alberto berdiri tegap di sisinya.

Elenna mundur perlahan, menyelinap di antara bayang-bayang pilar marmer, hingga ia menemukan sudut aula yang sepi. Dari sana, Ia bisa melihat segalanya, tanpa terlihat.

Ia tahu. Ia selalu tahu. Bisikan-bisikan itu tidak perlu terdengar jelas untuk bisa dirasakan.

Tentang bekas luka di wajahnya. Tentang asal-usulnya. Tentang pertanyaan-pertanyaan mengapa ia berada di sana.

Ia menunduk, mencoba menenangkan napas. Mungkin jika ia cukup diam, cukup tenang, malam ini akan berlalu tanpa menyisakan kenangan apa pun.

Namun, Lilith rupanya belum selesai.

“Nona-nona, Tuan-tuan,” suara Lilith terdengar, lembut tapi cukup nyaring untuk menarik perhatian. Ia melangkah mendekat ke arah Elenna.

Jantung Elenna berdegup tidak teratur "Apalagi yang ingin diperbuatnya" pikir Elenna dalam diam

Lilith berhenti di sampingnya, lalu dengan gerakan halus menggenggam tangannya.

“Ah, hampir saja aku lupa memperkenalkan,” kata Lilith dengan senyum hangat. “Ini adikku, Elenna.”

Adikku.

Elenna terkejut sesaat, lalu, seperti yang telah diajarkan, Ia menunduk sopan. “Kak Lilith,” panggilnya pelan.

Lilith menoleh padanya, senyumnya tak berubah.

Para tamu saling pandang. Beberapa senyum menjadi kaku. Beberapa tatapan mengeras.

“Oh? Adik?” seseorang berujar pelan, tidak cukup pelan.

Lilith tertawa kecil. “Ya. Ia memang jarang terlihat di acara seperti ini. Karena adikku memiliki tubuh yang cukup rapuh." Ucap Lilith terdengar seakan-akan begitu menyayangi Elenna

Elenna tetap diam. Ia tidak bisa membantah ataupun berbicara.

“Namun, aku ingin Ia tetap merasa menjadi bagian dari keluarga,” lanjut Lilith. “Bukan begitu, Elenna?”

Elenna mengangguk. “Iya, Kak.”

Bisikan semakin jelas. Namun, sebelum mereka berubah menjadi tawa, Lilith melangkah sedikit ke depan.

“Mohon maaf jika etikanya kurang sempurna,” katanya lembut, “Ia telah melalui banyak hal. Tapi bagiku, Ia tetap adikku yang berharga.”

Kata-kata itu membuat suasana berbalik.

“Ah, betapa perhatian,” seseorang berkata kagum. “Nona Lilith benar-benar berhati lembut.”

Alberto yang berdiri tak jauh dari sana ikut menimpali, “Lilith memang selalu seperti itu. Ia tak pernah lupa memikirkan orang lain.”

Marquess tertawa kecil, nada suaranya ringan. “Tentu saja,” katanya. “Lilith kan anak perempuanku.”

Kalimat itu sederhana. Namun Elenna mendengarnya dengan jelas.

Anak perempuanku.

Bukan anak-anak perempuanku.

Para tamu tersenyum, tertawa, kembali memuji Lilith. Elenna berdiri di sana, tangannya masih digenggam Lilith, seperti properti yang sedang dipamerkan untuk memperindah citra.

Ketika akhirnya Lilith melepasnya, Elenna segera mundur, menunduk, dan kembali ke pinggir ruangan. Dadanya terasa kosong. Tidak sakit lagi. Hanya hampa.

Tak lama kemudian, perhatian aula beralih.

Dua pemuda melangkah masuk, diiringi pengumuman singkat dari pelayan aula. Putra Duke dari wilayah utara.

Perhatian ruangan seketika terarah pada mereka.

Yang pertama berjalan di depan dengan percaya diri, Ia tinggi, bahunya tegap, rambut cokelatnya tersisir rapi tanpa sehelai pun keluar dari tempatnya. Mata hijaunya menangkap cahaya lampu gantung dengan mudah, memantulkannya kembali dalam senyum yang terlatih dan ramah. Setiap langkahnya pasti, setiap anggukan kepalanya seolah telah dilatih sejak kecil. Ia adalah gambaran sempurna dari seorang bangsawan muda: tampan, percaya diri, dan siap menjadi pusat perhatian

Di belakangnya, berjalan pemuda kedua.

Langkahnya lebih tenang, tidak terburu-buru, tidak pula ragu. Rambutnya hitam pekat, jatuh sedikit ke dahi, kontras dengan kulitnya yang pucat. Mata birunya seperti laut, yang dingin, jernih, dan terlalu tajam untuk seseorang yang memilih diam, mengamati ruangan tanpa ekspresi berlebihan. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan. Bibirnya tetap terkatup rapat, seolah kata-kata memang bukan sesuatu yang biasa ia gunakan.

Ia tidak tampak canggung.

Justru sebaliknya, Ia tampak terlalu sadar akan sekelilingnya.

Bisikan-bisikan pun mulai merambat pelan, seperti angin yang menyelinap di antara pilar-pilar aula.

“Yang itu…” bisik seorang wanita di dekat Elenna, suaranya ditahan namun cukup jelas.

“…Bukankah satunya yang dirumorkan bisu?”

“Putra kedua Duke, bukan?” sahut yang lain lirih.

“Katanya sejak kecil tak pernah berbicara.”

“Sayang sekali,” bisik seseorang lagi, nada suaranya bercampur simpati palsu.

“Padahal wajahnya… luar biasa.”

Elenna mendengar semuanya.

Matanya tanpa sengaja bertemu dengan tatapan pemuda berambut hitam itu. Hanya sesaat, terlalu singkat untuk disebut pertemuan, terlalu lama untuk dianggap kebetulan. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Elenna refleks menahan napas. Bukan rasa iba, bukan pula penghakiman.

Hanya… pengamatan yang sunyi.

Sementara itu, pemuda bermata hijau sudah lebih dulu disambut para bangsawan. Tawa ringan, pujian, dan sapaan hangat mengalir ke arahnya tanpa hambatan. Ia membalas semuanya dengan mudah, seolah memang terlahir untuk berada di tengah kerumunan seperti ini.

Dua bersaudara.

Satu disambut dunia dengan tangan terbuka.

Satu lagi berdiri di pinggir cahaya, utuh namun tidak pernah benar-benar diakui.

Entah kenapa, dada Elenna terasa sesak oleh pemikiran itu.

Untuk sesaat, Ia merasa bahwa pemuda yang diam itu melihat sesuatu yang sama dengannya. Sesuatu tentang berada di tempat yang megah, namun tidak pernah benar-benar memiliki ruang di dalamnya.

Pemuda bermata hijau itu melangkah mendekat ke arah Lilith. Gerakannya tenang, penuh perhitungan, seolah setiap langkah telah ia hafalkan. Di hadapan Lilith, ia berhenti dan membungkuk dengan sopan, cukup dalam untuk menunjukkan rasa hormat, namun tidak berlebihan.

“Nona Lilith,” ucapnya dengan suara jernih dan hangat, “izinkan saya mengatakan sesuatu, malam ini Anda benar-benar mencuri perhatian.”

Lilith tersenyum. Senyum yang sempurna, terlatih, dan tahu persis bagaimana cara memantulkan pujian kembali tanpa terlihat sombong.

“Terima kasih, Tuan,” balasnya lembut. “Anda terlalu baik.”

Pemuda itu mengangkat pandangan, matanya berbinar tipis. “Jika Anda berkenan,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan, “bolehkah saya mendapatkan kehormatan untuk berdansa dengan Anda malam ini?”

Sejenak, Lilith berpura-pura ragu, cukup lama untuk membuat orang-orang di sekeliling menahan napas. Lalu ia meletakkan tangannya di atas tangan pemuda itu.

“Tentu saja,” katanya. “Dengan senang hati.”

Bisikan langsung merebak di antara para tamu.

“Putra Duke itu…”

“Yang bermata hijau, bukan?”

“Sempurna sekali, bukan?”

“Pas sekali dengan Nona Lilith.”

Saat musik mulai mengalun, mereka melangkah ke tengah aula. Lilith bergerak ringan, gaunnya berayun lembut mengikuti irama. Pemuda itu memimpin dengan percaya diri, tangannya mantap namun sopan di punggung Lilith.

“Lihat mereka…”

“Seperti pasangan yang sudah ditakdirkan.”

Lilith menangkap serpihan bisikan itu dan membiarkannya mengalir. Ia tahu, setiap kata adalah kemenangan kecil.

Dari tepi aula, Elenna menyaksikan mereka berdansa.

Ia tidak iri. Ia hanya merasa tidak ada di sana. Ia melangkah menjauh, melewati pintu kaca menuju balkon

Ia menggenggam pagar balkon, menatap ke bawah lama sekali.

“Sepertinya,” bisiknya pada diri sendiri, “aku memang tidak cocok berada di situ.”

Dan di balik pintu kaca, pesta terus berlanjut, tanpa menyadari, atau mungkin tanpa peduli, bahwa seseorang perlahan tenggelam dalam diam.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!