NovelToon NovelToon
Bukan Istri Cadangan

Bukan Istri Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.

​Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.

​Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.

​Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?

Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Tiga hari setelah sidang meja makan yang menghakimi itu, Hana terbangun dengan perasaan mual yang luar biasa. Perutnya bergejolak hebat, seolah-olah ada badai yang sedang mengamuk di dalam sana, dan kepalanya terasa berputar seperti kincir yang kehilangan kendali.

Di tengah rasa sakit fisik yang mendera, sebuah percikan harapan muncul di hatinya, sebuah harapan kecil yang selama lima tahun ini selalu ia jaga agar tidak padam.

Apakah Tuhan akhirnya mendengar doaku? pikirnya dengan jantung yang berdebar kencang, memukul-mukul rongga dadanya.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Hana merayap menuju meja riasnya. Ia menarik laci paling bawah, mengaduk tumpukan selendang hingga menemukan sebuah benda kecil yang dibungkus plastik bening.

Itu adalah alat tes kehamilan terakhir yang ia sembunyikan, sebuah benda yang kini terasa seperti hakim terakhir bagi nasibnya. Ia segera mengunci pintu kamar mandi, napasnya memburu dan pendek.

Di dalam ruangan sempit yang berbau aromaterapi lavender itu, Hana memejamkan mata rapat-rapat saat menunggu cairan itu merambat naik. Selama menunggu tiga menit yang terasa seperti ribuan tahun, Hana membiarkan imajinasinya liar.

Ia membayangkan wajah Arlan yang melembut, membayangkan suaminya itu akan memeluknya erat sambil membisikkan kata maaf karena pernah berniat menikah lagi.

Ia bahkan membayangkan Ibu Mira akan datang membawakannya sup bergizi, memeluknya sebagai menantu kesayangan, dan membuang jauh-mencampakkan nama Maura dari rencana keluarga mereka.

Namun, saat ia membuka mata dan memberanikan diri melihat benda kecil di tangannya, kenyataan menghantamnya lebih keras dari hantaman badai manapun.

Satu garis merah. Tegas, dingin, dan seolah mengejek seluruh air mata yang telah ia tumpahkan.

Hana jatuh terduduk di atas lantai marmer kamar mandi yang dingin. Kekuatan di kakinya seolah hilang dalam sekejap. Tangisnya pecah, sebuah isak yang membawa beban lima tahun penantian, namun ia segera membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan agar suaranya tidak keluar.

Ia merasa tubuhnya sendiri adalah pengkhianat terbesar. Ia merasa rahimnya adalah sebuah ruang hampa yang menolak kehidupan, menjadikannya wanita cacat di mata dunianya.

Di luar, suara ketukan pintu yang kasar membuyarkan duka Hana. Arlan mengetuk dengan tidak sabar, suaranya terdengar jengah. "Hana? Kenapa lama sekali? Aku harus berangkat kantor! Jangan bilang kau sedang menangis lagi di dalam sana."

Hana tersentak. Ia segera menyeka air matanya dengan punggung tangan, berusaha menelan isaknya dalam-dalam. Ia merapikan rambutnya yang berantakan di depan cermin, menatap pantulan wajahnya yang pucat dan menyedihkan.

"Sebentar, Mas," sahutnya, mencoba menjaga agar suaranya tidak bergetar.

Saat pintu terbuka, Arlan sudah berdiri di sana dengan jas yang sudah rapi dan aroma parfum maskulin yang tajam. Tatapannya langsung jatuh pada alat tes yang masih digenggam Hana dengan kaku. Tanpa perlu bertanya, Arlan sudah tahu jawabannya dari mata sembab dan aura keputusasaan yang memancar dari istrinya.

Arlan tidak memeluknya. Ia tidak membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pria itu justru hanya mendengus sinis, sebuah suara yang terdengar seperti robekan pada sisa-sisa hati Hana. Tanpa sepatah kata penghibur, ia hanya meraih tas kerjanya di atas tempat tidur dan melangkah keluar kamar.

Keheningan Arlan jauh lebih menyakitkan daripada makian paling kasar sekalipun, itu adalah tanda bahwa ia telah benar-benar menutup pintu hatinya untuk kemungkinan keajaiban dari Hana.

Hana menghabiskan pagi itu dengan membersihkan rumah secara membabi buta. Ia menggosok lantai, mencuci piring, dan menata ulang rak buku. Apa saja yang bisa mengalihkan pikirannya dari fakta bahwa minggu depan, seorang wanita bernama Maura akan mulai mengisi kekosongan hidup Arlan.

Namun, pelariannya terhenti ketika ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.

"Hana, aku sudah melihat-lihat dekorasi untuk kamar samping. Mas Arlan bilang kau yang akan mengurus kepindahanku minggu depan. Kuharap kita bisa berteman baik."

Pesan itu ditutup dengan emotikon senyum tipis. Hana tahu itu adalah Maura. Wanita itu mulai melancarkan serangannya, menanamkan taringnya bahkan sebelum ia menginjakkan kaki di rumah ini. Maura tidak hanya menginginkan rahim yang subur, ia menginginkan pengakuan atas dominasinya.

Hana meletakkan ponsel itu dengan tangan gemetar. Ia berjalan menuju balkon, menatap jalanan di depan rumahnya yang sepi. Tiba-tiba, ia teringat pada pria yang memayunginya tempo hari di taman, Adrian.

Pria itu adalah satu-satunya orang dalam beberapa hari terakhir yang menatapnya sebagai manusia, bukan sebagai alat reproduksi yang rusak.

"Menangis tidak akan mengubah pengkhianatan menjadi kesetiaan," suara berat Adrian kembali terngiang di telinganya.

Hana memejamkan mata. Ia sadar, ia tidak bisa terus-menerus meratapi garis satu di alat tes itu. Jika Arlan sudah menyerah padanya, jika Ibu Mira sudah menganggapnya sampah, maka hanya ada satu orang yang bisa menyelamatkan Hana Ayunindya. Dan orang itu adalah dirinya sendiri.

Namun, sebelum ia bisa bangkit, ia harus melewati malam-malam penuh siksaan ini. Malam di mana Arlan pulang dengan senyum yang bukan untuknya, dan malam di mana ia harus menyiapkan kamar untuk wanita yang akan merebut suaminya.

Hana berjalan menuju kamar tamu yang ditunjuk Ibu Mira. Kamar itu besar dan mewah, letaknya hanya terpisah oleh sebuah koridor kecil dari kamar utamanya dengan Arlan. Ia mulai membuka sprei lama dan menggantinya dengan yang baru. Setiap sudut ruangan ini seolah berteriak mengejeknya.

"Kau sedang menyiapkan tempat tidur untuk madumu, Hana. Kau sedang mempermudah jalan bagi kehancuranmu sendiri," bisik sebuah suara di kepalanya.

Hana berhenti sejenak, memeluk bantal yang akan digunakan Maura nantinya. Air matanya kembali jatuh, membasahi kain satin yang mahal itu.

Lima tahun pengabdiannya, memasak setiap pagi, menyambut Arlan setiap malam, menjaga nama baik keluarga Mahendra, semua itu kini hanya dibalas dengan persiapan sebuah pengkhianatan yang dilegalkan.

Ia melihat sebuah foto kecil Maura yang dikirimkan Ibu Mira di meja rias, foto itu diletakkan di sana agar Hana tahu seperti apa selera wanita baru itu.

Maura tampak bersinar, dengan mata yang tajam dan penuh ambisi. Dia tampak seperti wanita yang tidak akan pernah sudi berdiri di dapur hanya untuk membuatkan jus tauge. Dia adalah wanita yang akan meminta dunia berlutut di kakinya.

Dan Arlan, dengan segala egonya, telah terjebak dalam pesona itu.

Hana menarik napas dalam, menguatkan hatinya yang sudah porak-poranda. "Jika kau menginginkan perang ini, Maura, maka masuklah. Tapi jangan harap kau bisa membuatku menjadi cadangan di rumahku sendiri selamanya."

Malam itu, saat Arlan pulang, Hana tidak menyambutnya dengan pertanyaan atau tangisan. Ia hanya berdiri di puncak tangga, menatap suaminya yang tampak lelah namun bahagia.

"Kamar Maura sudah siap, Mas," ucap Hana datar, suaranya sedingin es.

Arlan mendongak, tampak sedikit terkejut dengan nada bicara Hana yang biasanya lembut dan penuh permohonan. "Bagus. Maura akan datang besok untuk melihat-lihat. Pastikan rumah ini bersih."

Hana tidak menjawab. Ia berbalik dan masuk ke kamarnya, mengunci pintu dari dalam. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia membiarkan Arlan tidur di luar atau di kamar tamu yang baru ia siapkan.

Ia tidak peduli lagi. Luka ini telah mencapai sumsum tulangnya, dan satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan berhenti peduli.

Di kegelapan kamar, Hana menatap langit-langit. Esok adalah hari di mana semuanya dimulai. Kedatangan Maura bukan hanya awal dari poligami ini, tapi awal dari perjalanan Hana untuk menemukan kembali siapa dirinya yang sebenarnya, seorang wanita yang lebih dari sekadar pabrik anak yang gagal.

...----------------...

Next Episode....

1
mama
ujian preet han..jgn goblok 2x lah jd cwe🤣..mulut suami km licin kyk minyak goreng kok dipercaya🤭
Lee Mba Young
setelah koar koar cerai ada yg bantuin akhirnya di bujuk dikit lngsung luluh sebegitu bucin pa bgitu enak goyangan suami smp gk mau cerai.
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
Lee Mba Young
🤣🤣 ngapain kemarin koar koar cerai trus sekarang batal. hrse terima saja poligami nya kebiasaan wanita indo yg lemah. setelah koar koar cerai smp sidang di rayu dikit langsung luluh. iku ae belum di keloni nnti di keloni lngsung gk jd cerai. 🤣.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.
cinta semu
buat Hana tegar Thor ...
Miss Ra: 💪🤗
siaaaappp
total 1 replies
Mundri Astuti
sakit kamu mah Arlan, ntar anak yg dikandung Maura taunya bukan anaknya ni y, nangis" dah situ saat itu terkuak
Mundri Astuti
mudah"an Adrian bisa jadi tameng buat Hana, hancurin perusahaannya Arlan aja Adrian biar tau rasa dia
Sasikarin Sasikarin
kok di buka pernikahan sandiwara dah terhapus
Miss Ra: iya kak maaf yah...

mnurutku ceritanya kurang bagus dan menarik...
takutnya nanti seperti beberapa karya gagal retensi yg sudah aku buat tpi mengecewakan..

nanti aku buatkan cerita yg lebih menarik lainnya yaa...

🙏
total 1 replies
Mundri Astuti
ayo Hana kamu harus kuat, tunjukkan ke Arlan bahwa kamu bisa berdiri diatas kakimu sendiri dan bahagia tanpa nama besar Arlan dan keluarganya
Himna Mohamad
kereeen
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuuuut 💪
Lee Mbaa Young
lanjuttt
Miss Ra: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjutt thoor kereen ceritanya
Miss Ra: siaaappp 💪

/Heart//Kiss/
total 1 replies
Yantie Narnoe
semangat up nya...💪💪
Miss Ra: siaaaappp

💪
total 1 replies
Yantie Narnoe
lanjut..💪💪💪
Soraya
mampir thor
Miss Ra: siaaaapppp 💪
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Miss Ra: siaaapppp💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!