"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Latihan di Bawah Tatapan Iblis
Pagi itu, suasana di Pulau Dewa tidak lagi terasa seperti tempat liburan. Udara yang biasanya sejuk kini terasa panas karena ketegangan yang menyelimuti vila. Setelah insiden kemunculan pria dari organisasi Naga Hitam semalam, Devan tidak membiarkan Clarissa lepas dari pandangannya sedetik pun. Bahkan saat Clarissa sedang di kamar mandi, Devan berdiri di depan pintu seperti patung penjaga.
"Devan! Bisakah kau menjauh tiga meter saja? Aku sedang menyikat gigi, bukan sedang meretas Pentagon!" teriak Clarissa dari dalam kamar mandi, suaranya sedikit tidak jelas karena penuh busa pasta gigi.
"Tidak bisa," jawab Devan datar dari balik pintu. "Naga Hitam itu bisa muncul dari lubang wastafel kalau mereka mau. Aku harus pastikan kau tidak diculik saat sedang berkumur."
Clarissa keluar dari kamar mandi sambil mengelap wajahnya dengan handuk, menatap Devan dengan tatapan tajam. "Kau benar-benar sudah gila. Posesifmu itu sudah level gangguan jiwa, tahu?"
Devan tidak membalas ejekan itu. Ia justru memperhatikan penampilan Clarissa. Gadis itu mengenakan kaus tanpa lengan dan celana legging hitam ketat—pakaian olahraga yang dikirimkan tim Devan subuh tadi.
"Bagus, kau sudah siap," ucap Devan sambil menarik tangan Clarissa menuju halaman belakang vila yang luas.
"Siap untuk apa? Kita mau lari maraton keliling pulau?"
"Lebih dari itu. Aku akan mengajarimu cara bertahan hidup. Tubuh Lestari ini mungkin punya 'darah naga', tapi jiwamu masih jiwa CEO yang hanya tahu cara memukul orang dengan tumpukan dokumen. Itu tidak akan mempan melawan Naga Hitam," Devan berdiri di tengah lapangan rumput, membuka kemeja linennya dan menyisakan kaus dalam hitam yang membungkus otot-otot tubuhnya dengan sempurna.
Clarissa menelan ludah melihat pemandangan di depannya. Sial, kenapa dia harus terlihat seseksi itu saat mau menyiksaku? batinnya.
"Ayo, serang aku," tantang Devan sambil memasang kuda-kuda.
Clarissa mengangkat alis. "Kau serius? Aku tidak mau merusak wajah tampanmu itu, Devan. Nanti saham Mahendra Group turun kalau CEO-nya babak belur."
"Jangan banyak bicara, Ratu Manja. Serang!"
Clarissa mendengus, lalu ia berlari dan melayangkan sebuah pukulan ke arah dada Devan. Namun, dengan gerakan yang sangat tenang, Devan menangkap kepalan tangan Clarissa, menariknya, dan dalam sekejap tubuh Clarissa sudah terkunci di dalam pelukan Devan dari belakang.
"Terlalu lambat," bisik Devan di dekat telinga Clarissa. "Kau menyerang seperti orang yang sedang mengajak berdansa. Fokus! Gunakan berat badanmu."
"Lepaskan aku, Iblis!" Clarissa mencoba meronta, namun posisi ini justru membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Punggungnya menempel rapat pada dada bidang Devan yang hangat.
"Gunakan sikumu, Clarissa! Hantam ulu hatiku!" perintah Devan tegas.
Clarissa mengikuti instruksi itu. Ia menyodokkan sikunya ke belakang, dan saat kuncian Devan sedikit melonggar, ia memutar tubuh dan mencoba menendang kaki Devan. Kali ini Devan menghindar dengan lincah, namun ia tersenyum tipis.
"Nah, begitu. Ada kemajuan," puji Devan.
Latihan berlanjut selama dua jam. Clarissa jatuh bangun, berkali-kali tersungkur di rumput, namun ia selalu bangkit lagi. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya yang diikat kuda mulai berantakan.
"Lagi!" teriak Clarissa, kini ia yang merasa tertantang.
Ia menerjang Devan, kali ini dengan teknik yang lebih rapi. Ia melakukan tipuan gerakan ke kiri, lalu dengan cepat berputar dan melakukan tendangan memutar ke arah leher Devan. Devan terkejut, ia tidak menyangka Clarissa secepat itu. Ia menangkis tendangan itu dengan lengannya, namun kekuatan tendangan Clarissa membuatnya mundur satu langkah.
"Oke, cukup," Devan mengangkat kedua tangannya, memberi tanda berhenti. Ia terengah-engah, menatap Clarissa dengan rasa kagum. "Memori otot tubuh Lestari mulai bangkit. Kau benar-benar berbakat menjadi petarung."
Clarissa terduduk di rumput, mengatur napasnya yang memburu. "Tentu saja. Aku ini cepat belajar. Tapi jujur, badanku rasanya mau rontok."
Devan berjalan mendekat, lalu ia berlutut di depan Clarissa. Ia mengambil botol air mineral dan menyodorkannya pada Clarissa. Saat Clarissa minum dengan rakus, Devan menggunakan handuk kecil untuk menyeka keringat di leher Clarissa.
Gerakan itu begitu lembut, sangat kontras dengan sosok Devan yang galak saat latihan tadi.
"Kau tahu kenapa aku melakukan ini?" tanya Devan pelan.
"Karena kau suka melihatku menderita?" tebak Clarissa asal.
Devan menggeleng. Ia memegang dagu Clarissa, memaksa gadis itu menatap matanya. "Karena aku tidak akan selalu ada di sampingmu setiap detik, Clarissa. Dunia ini berbahaya, apalagi setelah mereka tahu siapa kau. Aku ingin kau bisa melindungi dirimu sendiri saat aku tidak bisa menjangkaumu."
Clarissa terdiam. Ia bisa melihat rasa takut yang mendalam di mata Devan—ketakutan akan kehilangan dirinya untuk kedua kalinya.
"Aku mengerti, Devan," ucap Clarissa, suaranya melembut. "Tapi jangan khawatir. Aku bukan wanita lemah yang hanya bisa menunggu diselamatkan. Aku akan memotong setiap kepala naga yang berani mendekatiku."
Devan tersenyum, lalu ia menarik Clarissa ke dalam pelukannya. Di bawah sinar matahari pagi yang mulai terik, mereka berpelukan dalam keheningan yang nyaman.
Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah dermaga. Sekretaris pribadi Devan, kelihatannya baru tiba dengan helikopter, berlari mendekat dengan wajah pucat.
"Tuan Devan! Gawat!"
Devan segera melepaskan pelukannya dan berdiri tegak. "Ada apa?"
"Baru saja kami menerima laporan dari markas pusat di Jakarta. Semua aset properti milik almarhumah Clarissa Wijaya... sedang disita oleh pihak ketiga secara paksa. Dan pihak ketiga itu memiliki dokumen resmi yang ditandatangani oleh... Nona Lestari."
Clarissa tersentak berdiri. "Apa?! Aku tidak pernah menandatangani apa pun!"
"Mereka menggunakan sidik jari asli Lestari di atas dokumen digital, Nona," jelas sang sekretaris. "Dan mereka mengklaim bahwa Lestari adalah pewaris sah dari simpanan rahasia Tuan Wijaya yang selama ini tidak diketahui publik."
"Ini jebakan Naga Hitam," desis Devan. "Mereka ingin memancingmu keluar dengan menggunakan harta keluargamu sendiri sebagai umpan."
Clarissa mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Mereka pikir mereka bisa mempermainkanku hanya karena aku berada di tubuh ini? Mereka salah besar."
"Apa rencanamu, Ratu?" tanya Devan, matanya berkilat siap berperang.
"Kita kembali ke Jakarta sekarang juga," Clarissa menatap lurus ke arah laut. "Jika mereka mau bermain dengan identitas Lestari, maka aku akan memberikan mereka pertunjukan yang luar biasa. Kita akan mendatangi kantor penyitaan itu, dan aku sendiri yang akan merobek dokumen itu di depan wajah mereka."
"Tapi itu artinya kau menyerahkan diri ke kandang macan," ujar Devan.
"Bukan kandang macan, Devan. Ini adalah panggungku," Clarissa menoleh ke arah Devan dengan senyum miring yang licik. "Siapkan tim elitmu. Kita akan melakukan pengambilalihan paksa... dengan gaya Mahendra dan Wijaya."
Devan terkekeh, ia merasa adrenalinnya ikut terpacu. "Baiklah, kalau itu maumu. Tapi satu syarat."
"Apa lagi?"
"Pakai baju yang lebih sopan. Aku tidak mau para penjahat itu fokus melihat lekuk tubuhmu daripada melihat senjata yang kutodongkan."
Clarissa memutar bola matanya. "Dasar pria kolot! Cepat siapkan pesawatnya!"
Saat mereka berjalan menuju helikopter, Clarissa sempat melirik ke arah laut sekali lagi. Ia tahu, perjalanannya ke Jakarta kali ini bukan untuk merebut harta, tapi untuk mengungkap siapa sebenarnya orang yang memiliki tato Naga Hitam di foto masa kecilnya. Karena ia mulai curiga, pria itu bukan orang asing... melainkan seseorang yang selama ini berada sangat dekat dengannya.