Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Pagi menyapa dengan suasana yang berat. Jasmine terbangun di atas sofa ruang tamu dengan tubuh yang terasa remuk. Punggungnya kaku, dan lehernya berdenyut nyeri akibat posisi tidur yang tidak nyaman semalaman. Namun, hal pertama yang terlintas di pikirannya bukanlah rasa sakit itu, melainkan genggaman tangan yang ia rasakan dalam mimpinya—atau mungkinkah itu nyata?
Ia melirik ke sekeliling. Awan tidak ada di sana. Hanya ada selimut yang tersampir rapi di tubuhnya, selimut yang ia yakini bukan ia sendiri yang memakainya.
Dengan sisa tenaga, Jasmine bangkit. Ia ingin segera naik ke lantai atas, merindukan aroma bayi Shaka dan ingin memastikan anaknya sudah bangun. Namun, baru saja kakinya menapak di anak tangga kedua, sebuah ketukan keras dan beruntun terdengar dari pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
Jasmine mengurungkan niatnya untuk naik. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah gontai. Begitu daun pintu terbuka, sosok Rendra berdiri di sana. Ia tampak rapi dengan kemeja polo bermerek, membawa sebuah kotak cokelat premium dan senyum yang menurutnya menawan.
"Pagi, Jasmine! Maaf ya datang sepagi ini. Aku kebetulan lewat daerah sini dan ingat Shaka. Sekalian mau ajak kamu makan siang, mumpung aku lagi off hari ini," ucap Rendra tanpa beban.
Belum sempat Jasmine menjawab, sebuah bayangan besar muncul dari arah belakangnya. Awan turun dari tangga dengan langkah yang berat dan mata yang memerah karena kurang tidur. Ia hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, rambutnya masih acak-acakan, namun auranya sangat mengintimidasi.
"Ngapain lo ke sini lagi?" tanya Awan. Suaranya rendah, serak, dan penuh permusuhan.
Rendra sedikit terkejut, namun ia mencoba tetap tenang. "Pagi, Pak Awan. Saya cuma mau bertamu ke teman lama saya. Apa ada yang salah?"
Awan berjalan melewati Jasmine, berdiri tepat di depan Rendra dengan jarak yang sangat tidak nyaman. "Temen lama atau dokter yang nggak laku sampe harus cari pasien ke rumah orang? Gue udah bilang kan kemarin, jangan ganggu Jasmine."
"Kak Awan, stop!" potong Jasmine. Ia berdiri di tengah-tengah mereka, mencoba memisahkan dua pria yang kini saling melempar tatapan membunuh. "Udah, udah! Kalian apa-apaan sih?! Kayak anak kecil tahu nggak!"
Jasmine berbalik menatap Rendra dengan tatapan penuh penyesalan. "Rendra, maaf banget. Aku hargai niat baik kamu, tapi aku nggak mau kemana-mana. Aku masih capek, Shaka juga butuh aku. Tolong, jangan datang lagi tanpa kabar."
Wajah Rendra berubah sedikit kecewa, namun ia mengangguk mengerti. "Oke, Jas. Aku minta maaf kalau kedatanganku bikin suasana nggak enak. Aku cuma khawatir sama kamu. Kalau butuh apa-apa, hubungi aku ya."
Setelah Rendra pergi dengan mobilnya, suasana di teras rumah kembali sunyi, namun ketegangannya justru meningkat seribu persen. Awan masih berdiri di sana, menatap jalanan dengan tangan yang mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bagus," ucap Awan sinis tanpa menoleh ke arah Jasmine. "Minimal lo masih punya otak buat nolak dia sebelum gue seret dia keluar dari tanah gue."
Jasmine menghela napas lelah. "Kakak puas? Puas bikin aku malu di depan temen aku sendiri? Kakak bener-bener egois!"
Awan berbalik dengan cepat. Mata merahnya menatap Jasmine dengan rasa sakit yang mendalam, bukan kemarahan biasa. "Egois? Lo bilang gue egois karena gue mau jagain apa yang Hero titipin ke gue?!"
"Enggak, Kak! Kakak egois karena Kakak mau ngatur hidup aku seolah-olah aku ini tawanan Kakak!" teriak Jasmine. Air matanya mulai mengalir. "Kakak bilang bukan siapa-siapa aku, tapi Kakak bertingkah kayak Kakak punya hak penuh atas diri aku!"
Awan terdiam. Dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Tiba-tiba, ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Jasmine terpaksa mundur ke arah pintu.
"Lo mau tau kenapa gue bertingkah kayak gini?" tanya Awan, suaranya bergetar. "Karena gue muak, Jasmine! Gue muak liat pria lain liatin lo kayak mereka punya kesempatan! Gue muak denger lo bilang gue bukan siapa-siapa lo, padahal tiap malem gue yang denger rintihan lo pas lo kangen Hero!"
Awan mencengkeram bahu Jasmine dengan lembut namun posesif. "Gue takut, Jas... gue takut kalau ada orang lain yang masuk, mereka bakal ambil lo dan Shaka dari gue. Dan kalau itu terjadi... gue nggak punya alasan lagi buat jadi orang bener."
Jasmine terpaku. Ia melihat kerapuhan yang luar biasa di balik mata tajam Awan. Untuk pertama kalinya, ia melihat Awan bukan sebagai raksasa bisnis yang kaku, melainkan sebagai pria yang sangat kesepian dan takut kehilangan.
"Kak Awan..."
"Jangan panggil gue Kakak kalau lo cuma mau ingetin gue soal status ipar itu!" potong Awan. Ia melepaskan cengkeramannya dan membuang muka. "Gue capek, Jasmine. Gue capek pura-pura jadi kembaran yang baik buat Hero sementara gue mulai pengen miliki istrinya sendiri. Gue brengsek, kan? Gue pengkhianat!"
Awan menutup wajahnya dengan tangan, bahunya bergetar. Pengakuan itu meluncur begitu saja, meruntuhkan dinding es yang sudah ia bangun selama berbulan-bulan.
Jasmine terpana. Ia tidak pernah menyangka bahwa kecemburuan Awan bersumber dari perasaan sedalam itu. Rasa bersalah menghujam hatinya. Ia ingat bagaimana Awan selalu ada di titik terendahnya, bagaimana pria itu menjaga bayinya seolah itu darah dagingnya sendiri.
Perlahan, Jasmine mengulurkan tangannya. Ia menyentuh lengan Awan dengan sangat hati-hati. "Kak... Awan... liat aku."
Awan menurunkan tangannya, menatap Jasmine dengan pandangan hancur.
"Aku nggak pernah bilang Kakak bukan siapa-siapa bagi Shaka," ucap Jasmine lembut. "Dan buat aku... Kakak itu pelindung aku. Tapi aku butuh waktu. Aku butuh Kakak buat nggak selalu meledak-ledak. Aku takut kalau Kakak terus begini, kita malah bakal saling nyakitin."
Awan menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Gue nggak bisa janji bakal jadi lembut kayak Hero, Jas. Tapi gue janji nggak bakal biarin siapa pun gantiin gue di sisi lo sama Shaka."
Di saat momen emosional itu terjadi, di pinggiran kota, Paman Wijaya sedang duduk di dalam mobilnya bersama seorang pengacara licik. Ia memegang sebuah berkas yang berisi hasil penyelidikan ilegal tentang "hubungan gelap" antara Awan dan Jasmine.
"Kita punya cukup bukti untuk menggugat hak asuh Shaka atas dasar moralitas," ucap sang pengacara. "Kalau kita bisa buktikan mereka tinggal satu rumah tanpa ikatan resmi dan ada indikasi hubungan asmara, pengadilan akan menganggap Jasmine tidak layak menjadi ibu tunggal di bawah atap pria lajang."
Paman Wijaya tersenyum licik. "Bagus. Awan pikir dia bisa mengancamku dengan kasus di Paris? Aku akan ambil bayinya, maka harta Hero akan jatuh ke tanganku sebagai wali sah. Kita serang mereka minggu depan."
Di rumah, Awan akhirnya luluh. Ia menggendong Shaka yang baru saja dibawa turun oleh Suster Lastri. Shaka tertawa riang, menarik-narik hidung Awan yang mancung.
"Aduh, jagoan... jangan ditarik, nanti hidung Ayah—eh, Om—tambah panjang," gumam Awan sambil mencium perut Shaka, membuat bayi itu tertawa geli.
Jasmine memperhatikan mereka dari dapur sambil menyiapkan sarapan. Ia tersenyum, namun di sudut hatinya, firasat buruk itu kembali muncul. Badai yang dibawa Rendra mungkin sudah berlalu, tapi badai yang sebenarnya, badai yang mengancam keutuhan "keluarga" kecil mereka, baru saja akan dimulai.
"Kak Awan!" panggil Jasmine.
Awan menoleh. "Apa? Mau ngomel lagi soal bunga mawar?"
"Enggak," Jasmine tersenyum manis. "Makasih ya, udah mau jujur tadi."
Awan membuang muka, telinganya memerah. "Diem lo. Cepetan masak, gue laper!" ketusnya, kembali ke mode judes andalannya, namun kali ini Jasmine tahu ada cinta yang sangat besar di balik kata-kata kasar itu.