17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekonomi Antarkota
Rabu Dini Hari. Di Atas Rel Kereta Api.
Kereta itu tidak memiliki AC.
Yang ada hanyalah kipas angin besi kecil di langit-langit gerbong yang berputar malas, menyebarkan udara panas bercampur asap rokok klobot dan aroma minyak angin.
Lian tidak bisa tidur.
Kakinya yang sakit dia luruskan paksa di lorong gerbong, beralaskan koran bekas yang tadi dia pungut dari tempat sampah stasiun.
Kursi tegak 90 derajat yang keras itu sudah disesaki oleh ibu-ibu pedagang sayur yang membawa keranjang anyaman raksasa, bapak-bapak yang merokok tanpa henti, dan ayam-ayam hidup yang diikat kakinya di bawah kursi.
Ini Gerbong 3 Ekonomi.
Jauh berbeda dari jok empuk sedan Toyota ayahnya.
"Kak..."
Suara lirih terdengar dari bahunya.
Kara bergerak gelisah dalam tidurnya. Kepala gadis itu bersandar berat di bahu kiri Lian. Keringat membuat rambut Kara lepek, menempel di leher dan pipi. Wajahnya cemong oleh debu batubara yang masuk lewat jendela yang macet terbuka separuh.
"Sstt... tidur lagi, Ra," bisik Lian, mengusap lengan Kara pelan. "Masih jauh."
Kara membuka mata sedikit. Matanya merah dan bengkak.
Dia menatap sekeliling gerbong yang remang-remang kuning suram. Dia melihat seorang bayi menangis digendong ibunya, melihat pemuda bertato yang tidur menganga di lantai, melihat kakek-kakek batuk keras.
Kara menarik tubuhnya merapat ke Lian, seolah mencari perlindungan.
"Ini bukan mimpi, ya?" tanya Kara serak. "Aku beneran kabur?"
Lian tersenyum tipis. Dia mengambil botol air mineral (yang isinya tinggal seperempat) dari saku tasnya, lalu menyodorkannya ke Kara.
"Minum dulu. Bibir lo pecah-pecah."
Kara meneguk air hangat itu rakus. "Makasih."
Lian mengambil kembali botol kosong itu, meremasnya pelan.
"Nyesel?" tanya Lian.
Kara menatap keluar jendela gelap. Hanya ada kilatan lampu rumah penduduk yang lewat cepat seperti kunang-kunang.
"Nyesel?" ulang Kara. Dia menggeleng pelan. "Kasurku di rumah empuk. Kamarku wangi. Makananku enak. Tapi..."
Kara menatap Lian, menatap wajah kucel mantan Ketua OSIS yang sekarang terlihat seperti gembel ganteng itu.
"...tapi di sana sepi, Kak. Di sini berisik, bau, sempit. Tapi ada Kakak."
Lian terkekeh pelan. "Romantis amat sih gembel kecil ini."
"Permisi! Nasi Rames! Kopi anget! Pop Mie!"
Teriakan pedagang asongan yang lewat memecah momen mereka. Seorang bapak tua dengan termos air panas besar di punggungnya melangkahi kaki Lian dengan cuek.
"Mas! Kopi, Mas!" tawar bapak itu.
Lian meraba saku celananya.
Dia menghitung uang di dalam kepala. Celengan ayamnya isinya sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Tiket sudah beli. Tapi mereka butuh makan untuk bertahan hidup di kota baru nanti.
"Nggak, Pak. Makasih," tolak Lian sopan. Hemat mode: On.
Tapi kemudian perut Kara berbunyi.
Krrruyuuuk.
Suaranya nyaring di tengah suara roda kereta.
Wajah Kara langsung merah padam menahan malu. "Egh... itu suara kereta..."
Lian menatap Kara. Dia tahu Kara belum makan sejak kemarin sore di sekolah.
Dia menahan tangan pedagang asongan itu.
"Pak, Nasi Rames satu," kata Lian. "Sama teh anget manis satu. Dibungkus karet aja."
"Siap, Bos!"
Si bapak dengan cekatan membungkus nasi, mi goreng, orek tempe, dan sedikit sambal dalam kertas minyak.
Lian membayar dengan uang receh lima ratusan.
"Makan," Lian meletakkan bungkusan hangat itu di pangkuan Kara.
"Berdua," kata Kara tegas. Dia membuka bungkusan itu. Aromanya—MSG dan minyak jelantah—terasa seperti makanan surga.
Mereka makan sepiring berdua menggunakan tangan, di lantai gerbong kereta ekonomi yang bergetar hebat.
Kara menyuapi Lian sesekali, meski Lian menolak karena malu dilihat orang.
"Kak, itu monster boneka yang di TPA sampah..." Kara tiba-tiba bicara sambil mengunyah tempe.
Lian berhenti mengunyah. "Kenapa?"
"Dia bilang, dia mau kita ngelupain rasa sakit. Dia mau kita 'nyaman'," Kara menelan ludah. "Tadi aku mimpiin dia lagi. Tapi kali ini bentuknya bukan boneka."
"Terus?"
"Bentuknya... Mama."
Hening sejenak. Hanya suara jugijag-jugijag roda besi.
Lian mengerti. Monster itu adalah representasi dari keinginan untuk lari dari kenyataan. Dan kenyamanan rumah Kara yang "toxic positive" adalah bentuk lain dari monster itu.
"Kita nggak lari, Ra," Lian menggenggam tangan Kara yang berminyak bekas nasi. "Kita bukan pengecut yang lari. Kita... migrasi. Kayak burung yang pindah pas musim dingin. Kita cari tempat yang lebih hangat buat luka kita."
Kara mengangguk. Dia menyandarkan kepalanya lagi ke dinding gerbong.
"Yogya itu... kayak apa, Kak?"
Lian belum pernah ke Yogya sendiri. Dia cuma tahu dari cerita guru Geografi atau lagu KLa Project.
"Katanya sih... pelan. Santai. Murah. Dan banyak seniman."
"Cocok buat kita," gumam Kara, matanya mulai terpejam lagi karena kekenyangan.
...----------------...
Pukul 05:00 WIB. Fajar Menyingsing.
Lian terbangun karena silau.
Cahayaoranye kemerahan menembus jendela kereta yang berdebu.
Dia menggeliat kaku. Seluruh badannya sakit. Punggungnya, lehernya, dan terutama lututnya.
Riko benar. Menjadi buronan itu sakit fisik.
Lian melihat ke luar jendela.
Pemandangannya menakjubkan.
Sawah hijau terhampar luas berlatar belakang Gunung Merapi yang gagah dan berasap tipis. Kabut pagi masih menyelimuti pedesaan Jawa Tengah. Petani-petani caping mulai turun ke sawah.
Sangat damai. Sangat kontras dengan kekacauan sekolah yang mereka tinggalkan.
Lian membangunkan Kara.
"Ra, bangun. Liat."
Kara mengerjapkan mata. Saat dia melihat pemandangan itu, mulutnya terbuka sedikit.
"Indah banget..."
"Selamat datang di Jawa Tengah," bisik Lian.
Kereta mulai melambat. Suara rem berdecit panjang.
"Stasiun Tugu... Stasiun Tugu Yogyakarta. Periksa kembali barang bawaan Anda..."
Lian dan Kara berdiri, merapikan baju mereka yang kusut.
Mereka mengambil tas masing-masing.
Saat pintu kereta terbuka, udara Yogya yang sejuk (belum terlalu panas) menyambut mereka.
Lian melangkah turun ke peron.
Langkahnya pincang, bajunya bau, uangnya pas-pasan.
Status: Mantan Ketua OSIS.
Sekarang: Gelandangan baru di Kota Gudeg.
Kara turun di belakangnya, memegang ujung kaos Lian erat-erat.
Mereka berdiri di peron Stasiun Tugu yang ramai oleh turis asing, mahasiswa, dan tukang becak.
Lian menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke Kara.
"Oke, Side B dimulai sekarang," kata Lian. "Misi pertama: Cari tempat berteduh sebelum kita digelandang Satpol PP."
Kara tersenyum lebar. Kali ini senyumnya asli, bukan senyum boneka plastik. Ada sisa bumbu nasi rames di sudut bibirnya.
"Siap, Bos."
Mereka berjalan keluar stasiun, bergandengan tangan menembus kerumunan Pasar Kembang. Dua anak hilang yang mencoba menemukan diri mereka sendiri di kota yang asing.
Dan di saku celana Lian, kaset pita hasil rekaman "intro" di kereta tadi tersimpan aman.
Track 2: Perjalanan Kelas Ekonomi.