NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta Berondong

Terbelenggu Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mahlina

Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.

Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.

Di balik ruang kebesaran Joseph.

"Pelan pelan, sayang!"

"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"

"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"

"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"

"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.

Ceklek.

"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"

Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

...🥀🥀🥀🥀🥀🥀...

Jenny memarkir mobilnya tepat di depan salah satu gedung pencakar langit.

“Siang, bu! Boleh saya bantu bawa belanjaan ibu ke atas?” tawar Boni, satpam yang sedang bertugas di depan pintu utama gedung.

“Gak perlu, pak! Bapak lanjutin aja tugas bapak! Saya bisa bawa sendiri kok! Saya duluan ya!” seru Jenny sebelum berlalu dari hadapan Boni.

Jenny melangkah masuk, melewati meja resepsionis. Dengan membawa paper bag dan kantong makanan dari salah satu resto cepat saji dan kotak kue tart di tangannya.

“Siang, bu Jenny!” sapa Reina dari meja resepsionis, yang di balas anggukan dan senyum tulus Jenny tanpa menghentikan langkahnya.

“Sumpah demi apa pun! Itu yang barusan masuk lift, beneran bu Jenny ya, Rei?” tanya Lia memastikan, ia baru kembali dari toilet

Kekeh Reina, “Iya benar lah! Kenapa sih? Kaya abis liat hantu aja!”

Lia menggaruk kepalanya frustasi, “Bisa perang dunia ke dua ini! Kasih tau Serli, bu Jenny lagi naik ke atas!”

Reina mengerdik kan dagunya, “Kenapa harus di kasih tau? Serli pasti udah tau duluan kali!”

“Masalahnya itu di ruangan pak bos ada bu Karin. Nah kalo sampe bu Jenny ngeliat mereka lagi itu di ruangannya pak bos, gimana? Perang gak tuh?” cerocos Lia dengan wajah panik.

Reina menepis tangannya di depan wajah, “Gak mungkin lah bu Karin dan pak bos begitu4n di ruangan, apa lagi ini kantor loh! Kaya gak ada tempat lain aja buat m3sum!”

“Yeee kamu nih kalo di bilangin! Aku pernah loh ngeliat pak bos sama bu Karin lagi itu di dalam lift! Sumpah!” Lia mempertemukan jari telunjuk kanan dan kirinya.

“Eh kalian, bukannya kerja malah gibah!” tegur Lina, di depan meja resepsionis.

“Enak aja gibah! Kamu nih kalo ngomong gak di saring!” sangkal Reina.

Lina memutar bola matanya malas, “Di kata teh urakan pake di saring! Kamu nih!”

“Kamu ngapain masih jam kerja malah berkeliaran? Balik ke ruangan kamu gih!” timpal Lia.

“Ini juga mau balik ke ruangan! Dah!” Lina mengibaskan rambutnya ke belakang, sebelum meninggalkan meja resepsionis.

Reina menggelengkan kepalanya gak habis pikir, “Et ya! Gimana ceritanya itu, orang kaya si Lina bisa jadi karyawan di perusahaan ini? Aneh gak sih?” 

“Pak Boni! Ikut saya bentar!” seru Lia, melambaikan tanganya pada Boni.

“Ko bentaran, Non? Lama juga gak apa kali Non!” kejeh Boni, saat sudah berdiri di depan meja resepsionis.

“Gak usah bac0t deh, pak! Ayo buru!” Lia melangkah dengan tergesa, di ikuti Boni.

“Mau kemana lu, Li? Kebelet k4win lu ya?” celetuk Reina, melihat tingkah aneh rekannya.

Lia menoleh ke belakang, tanpa menghentikan langkahnya, “Ngamanin kedamaian perusahaan gua!”

Sementara di lantai atas, Jenny melewati beberapa ruangan kosong, ruangan yang biasanya di jadikan tempat untuk meeting, atau pun menjamu relasi perusahaan.

“Mas Jo, aku harap setelah merayakan ulang tahun pernikahan kita ini. Sikap mu kembali lembut seperti awal kita menikah!” gumam Jenny dengan tatapan penuh harap.

Tak tak tak.

Suara nyaring dari sepasang heels membuat Serli langsung menoleh ke asal suara.

Serli beranjak dari duduknya, “Bu, i- ibu Jenny beneran datang? Sa- saya pikir ibu gak jadi datang ke kantor!”

Jenny menghentikan langkahnya, tepat di depan meja Serli yang berada di sebrang ruangan Joseph.

“Saya kan sudah janji, pasti saya datang dong, Ser! Buat kamu makan siang!” terang Jenny, menyodorkan kantong makanan pada Serli.

“Terima kasih banyak, bu!” Serli menerima kantong makanan dengan senyum lebar.

“Saya masuk dulu ya!” Jenny berbalik badan.

“Bu, maaf! Pak Joseph lagi rapat! Gak bisa... "

Serli mencegah ku masuk, namun sayangnya aku menyelanya, memintanya untuk diam. 

"Ssstttt! Aku mau kasih kejutan, kamu duduk aja!" 

Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan. Menjadi awal terbongkarnya perselingkuhan yang di lakukan mas Joseph.

Langkah ku tertahan, meski tangan ini sudah memegang handle pintu.

“Bu, maaf!” gumam Serli dengan lirih, menatap iba Jenny.

Jenny menoleh ke arah Serli, menatap sekretaris suaminya itu dengan tatapan gak percaya.

“Sejak kapan?”

Serli menundukkan kepalanya, “Sebelum bu Jenny dan pak Joseph menikah, setahu saya mereka memang ada hubungan.”

"Sejauh apa hubungan keduanya?"

Serli menelan salivanya sulit, "Pesan kamar hotel, villa, pak Joseph ada belikan rumah untuk bu Karin."

'Aku seperti pernah mendengar nama itu? Tapi di mana?' pikir Jenny.

Di balik ruang kebesaran Joseph.

"Pelan pelan, sayang!" 

"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!" seru Karin dengan nada manja.

"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!" puji Joseph terus terang.

"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!" jelas Karin dengan bangga.

"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph. 

Ceklek.

'Aku tegar, aku bisa hadapi mereka!' jerit batin Jenny, memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri.

"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?” tanya Joseph dengan gugup. Melihat Jenny ada di ambang pintu..

Joseph hendak beranjak dari duduknya, tangannya mendorong wajah Karin untuk melepaskan piton nya.

‘Hentikan kebodohan mu, Karin!’ jerit batin Joseph.

Sementara Karin yang tengah memunggungi pintu, dalam keadaan berdiri dengan ke dua lututnya. Sama sekali gak menyadari keberadaan Jenny.

“Maaaas! Aku lagi enak nih! Piton mu teg4ng bangat! Enak mas!” cerocos Karin dengan sulit, gak peduli piton Joseph yang tengah ia lum4t di dalam mulutnya. Ke dua tangannya memeluk erat ke dua kaki Joseph.

“Menjij1kan! Jadi seperti ini rapat yang kamu jalani, mas?” cibir Jenny dengan tatapan jij1k, melangkah masuk ke ruang kebesaran Joseph.

Karin menelan salivanya sulit, ia menghentikan lumat4n nya. Melepaskan pelukan tangannya dari kaki Joseph.

‘Mas Joseph gak lagi bercanda? Itu beneran suara Jenny? Gimana bisa dia ada di sini?’

"Ki- kita baru mau mulai rapat sayang!" dusta Joseph dengan gugup.

Jenny menggeleng, dengan tatapan kecewa, “Sungguh kejutan yang gak pernah aku sangka, mas! Begini cara main kalian di belakang ku? Apa setiap rapat dengan wanita harus ada adegan seperti itu, mas?”

Joseph menggaruk kepalanya frustasi, dengan kaki jenjang menghampiri Jenny, “I- ini gak seperti yang kamu lihat, sayang! A- aku bisa jelaskan!”

‘Untuk apa Jenny membawa kue dan jam tangan? Apa itu semua untuk ku?’ pikir Joseph, mengalihkan perhatiannya pada kotak kue dan paper bag yang di bawa Jenny.

“Penjelasan seperti apa lagi yang ingin kamu katakan pada ku, mas? Aku sudah melihatnya! Jadi ini yang membuat mu berubah pada ku? Bukan karena banyak pekerjaan yang harus kamu tangani?” tanya Jenny, mati matian berusaha tenang. Sementara hatinya bergemuruh kesal.

'Aku percaya pada mu, mas! Sakit hati ku melihat mu dengan wanita lain. Dia meny3ntuh apa yang harusnya hanya menjadi milik ku! Dan kamu membaginya dengan Karin?' jerit batin Jenny.

“Dia itu hanya teman ku sayang! Kita gak ada hubungan lebih dari itu!” dusta Joseph, berusaha meraih tangan Jenny.

“Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu, mas! Tadinya aku ingin memberi kejutan di hari pernikahan kita ini mas! Tapi semuanya udah gak ada artinya lagi untuk mu!" seru Jenny, sebelum akhirnya melepaskan box kue dan paper bag dari tangannya dan berakhir dengan jatuh ke lantai.

Brugh.

Joseph memungut paper bag dan mengeluarkan isinya.

"I- ini jam tangan mahal sayang! Kamu memberikan ini untuk ku?" tanya Joseph meyakinkan dengan mata berbinar senang.

"Tadinya, sebelum aku mengetahui perselingkuhan kalian! Kamu menghianati pernikahan kita, mas!" bulir bening lolos dari pelupuk mata Jenny.

Joseph kembali melangkah menghampiri Jenny, namun sayangnya Jenny melangkah mundur.

Joseph berlutut di depan Jenny, "Maaf, sayang! A ..."

“Kami ada hubungan! Harusnya kamu berterima kasih pada ku, karena kalian bisa menikah!” sela Karin, dengan percaya diri melangkah menghampiri Joseph.

"Diam Karin!" seru Joseph dengan wajah merah padam pada Karin.

"Itu kenyataannya, mas!" kekeh Karin gak mau di bantah. Membuat Joseph beranjak dari posisinya.

Jenny menyeka air matanya dengan kasar, menatap tajam Karin di sisa keberaniannya, “Kamu waras? Apa terlalu banyak menelan kecebong mas Joseph, hingga otak mu gak bisa berpikiran lempeng?”

“Jenny, jaga bicara kamu! Dia itu teman ku!” bentak Joseph.

“Demi selingkuhan mu, kamu berani membentak ku, mas? Orang ke tiga dalam rumah tangga kita?” tanya Jenny dengan tatapan menuntut.

“A- aku gak bermaksud membentak mu, sayang! A- aku hanya gak ingin kamu salah paham dengan Karin!” sangkal Joseph dengan nada meyakinkan.

“Gak usah bela aku sayang! Mungkin emang udah waktunya istri kamu ini tau, siapa sesungguhnya orang ke tiga itu!” Karin memeluk erat lengan Joseph dengan posesif.

Jenny melirik sekilas Karin, sebelum akhirnya menatap rendah Joseph, “Owhh wanita mu punya keberanian untuk mengakuinya, mas! Apa kemalu4n mu lebih kecil untuk mengakui penghianatan mu, mas?”

Plak.

Bersambung …

1
lina
waduh
lina
yah begitu lah pentingnya restu
lina
emng itu yg d arepin 🤣🤣🤣
lina
lama amat makan doang ampe 1 jam
lina
wah wah wah. enaknya d apain y 🤔
lina
🤔🤔 kalo mabok... suka dvluar nurul gitu sikapnya?
lina
kaga mabok. cuma minum dikit doang 🤣
lina
obsesi lah itu mah
lina
udah bulet nih. mau ngejer janda 🤣
lina
tul itu
lina
udh brpa kali pindah kerja bi? bneran di pecat gegara devi? lempar bae anak begitu mah
lina
pede gila u 🤣🤣
lina
keracunan iya 🤣🤣
lina
adem kan d liat nya
lina
pembantu ngelunjak lgi
lina
🤣🤣 tau bae nuari alasan
lina
klo siang, nmanya solat zuhur
lina
mimpi apa s neng? seneng bagt kayanya 🤣🤣
lina
situ waras? ko bisa punya anak dr wanita lain?
lina
dia bapak kndung u cok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!