Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Selamat Tinggal Kota Pelajar
Matahari pagi di Yogyakarta mulai memanjat lebih tinggi, menyinari sisa-sisa embun yang masih menempel di ring basket. Pak Bambang, dengan wibawa khas seorang guru olahraga, mengangkat tangannya seolah sedang memegang peluit sungguhan di tengah lapangan. "PRIIIIIT! Sudah, cukup! Waktu kalian habis!" serunya sambil tertawa kecil melihat murid-muridnya yang masih bersemangat. "Ayo cepat kembali ke kamar. Mandi, bereskan barang, dan jangan sampai telat sarapan. Jam delapan teng, bus harus sudah jalan ke Borobudur!"
Instruksi tegas itu menandai berakhirnya duel sengit fajar itu. Reno, Dion, Sammy, Gery, dan Adrian tidak langsung beranjak; mereka duduk melingkar di pinggir lapangan aspal yang masih terasa dingin, mencoba mengatur napas yang memburu.
Suasana persaingan yang tadi memanas di bawah ring seketika luruh menjadi keakraban. Reno, yang meski kalah dalam skor namun menang dalam urusan gaya, mengulurkan tangannya ke arah Gery. "Gila lo, Ger. Gue akui, tangan lo emang magnet bola basket. Tapi inget ya, di lapangan futsal nanti, gue bakal balas dendam!" ucapnya sambil tertawa lebar yang diikuti jabat tangan erat antar kelima sahabat itu.
Saat mereka mulai berdiri untuk kembali ke gedung hotel, Ibu Ratna sudah berdiri di tepi jalur setapak. Reno, dengan tingkah konyolnya, mencoba melakukan gerakan slamdunk imajiner di depan Ibu Ratna sambil berseloroh, "Gimana Bu? Saya sudah cocok masuk tim nasional belum?"
PLAK! Sebuah tepukan kecil namun mantap mendarat di bahu Reno dari tangan Ibu Ratna. "Nasional gimana? Lari saja sudah mau pingsan begitu. Cepat mandi, Reno! Jangan bikin bus kita telat hanya karena kamu ketiduran di bak mandi!" omel Ibu Ratna, yang bukannya membuat suasana tegang, malah memicu tawa dari rombongan wanita yang berdiri di belakang beliau.
Gery berjalan sedikit lebih lambat, menyeka peluh di lehernya dengan handuk kecil yang tadi dibawakan oleh Vanya. Vanya sendiri sudah berada tepat di sampingnya, berjalan beriringan seolah ingin memastikan bahwa "aset berharganya" itu tidak terlalu kelelahan.
"Ternyata cerita lo semalam bukan karangan ya," bisik Vanya dengan nada bangga yang tidak bisa ditutupi. "Gue baru pertama kali liat lo se-agresif itu di lapangan."
Gery menoleh, menatap Vanya yang berjalan dengan langkah riang. "Gue kan udah bilang, basket itu dunianya gue, Van. Tapi makasih ya udah jadi penonton paling berisik tadi."
"Eh, gue diem ya tadi! Yang teriak-teriak itu Nadia!" protes Vanya sambil mencubit kecil lengan Gery.
Di belakang mereka, rombongan lain mengekor. Nadia berjalan bersama Yola dan Rini, tampak jauh lebih segar dan sudah mulai bisa melempar lelucon kepada Sammy dan Adrian yang berjalan lunglai karena kehabisan tenaga. Kebersamaan ini terasa begitu solid, seolah kejadian memilukan di Malioboro tadi malam telah terbasuh oleh keringat dan tawa pagi ini.
Mereka memasuki area lift hotel dengan riuh. Dion sibuk mengecek ponselnya, memastikan tidak ada barang anak-anak yang tertinggal di kamar, sementara Sammy terus-menerus mempraktikkan gerakan shooting basketnya di depan cermin lift yang besar. Inilah momen-momen terakhir mereka di hotel tersebut sebelum menempuh perjalanan penutup menuju Candi Borobudur.
Aroma sabun mandi dan parfum segar memenuhi lobi hotel, menggantikan bau keringat fajar tadi. Setelah sesi sarapan yang riuh di restoran—di mana Gery dipaksa menghabiskan porsi ekstra oleh teman-temannya karena dianggap sebagai "MVP" pagi itu—seluruh rombongan kini berkumpul di area parkir yang luas.
Di bawah sinar matahari pagi yang mulai terik, momen perpisahan dimulai dengan penuh khidmat namun tetap hangat.
Sebelum roda bus mulai berputar, upacara kecil pelepasan dilakukan. Wakil Kepala Sekolah berdiri di depan barisan siswa yang rapi sesuai jurusan masing-masing. Di sampingnya, Manajer Hotel tersenyum ramah, memberikan apresiasi atas kedisiplinan siswa-siswi selama menginap. Foto bersama dilakukan berkali-kali; mulai dari foto formal per jurusan hingga foto konyol antar sahabat yang tak terhitung jumlahnya.
"Jogja, terima kasih! Sampai jumpa lagi!" teriak Reno saat bus mulai bergerak perlahan meninggalkan pelataran hotel.
Begitu bus memasuki jalur menuju Magelang, suasana di dalam mulai mencair. Gery duduk di kursi biasanya, menatap persawahan hijau di balik jendela. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama. Vanya, yang duduk di sampingnya, langsung menyenggol lengan Gery dengan tatapan yang sangat menuntut.
"Oke, Tuan Pemain Basket," mulai Vanya dengan nada rendah agar tidak terdengar siswa lain. "Gue nggak lupa ya. Di taman semalam, cerita lo kepotong pas bagian lo tukeran posisi bawa motor sama Angela. Lo bilang mau ajarin dia basket kalau udah sembuh, kan? Terus lanjutannya gimana?"
Gery menghela napas sambil tersenyum tipis. Ia tahu Vanya tidak akan melepaskannya begitu saja sebelum cerita ini tuntas.
"Sabar, Van," jawab Gery pelan. "Ya, setelah kejadian itu, hubungan gue sama Angela jadi makin deket di sekolah. Karena kita satu ekskul, gue beneran nepatin janji buat ngajarin dia teknik-teknik dasar. Tapi ada satu hal yang bikin gue makin kagum sama dia, dan itu bukan cuma soal basket."
Vanya memiringkan kepalanya, matanya menyipit penuh selidik. "Apa? Dia jago masak? Atau dia pinter pelajaran kimia?"
Gery menggeleng. "Enggak. Angela itu ternyata punya sifat yang mirip banget sama lo sekarang. Dia berani ngelawan senior yang menurut dia nggak adil. Waktu itu ada kejadian di kantin, di mana temen sekelasnya Angela dijahilin sama senior kelas tiga yang terkenal galak. Bukannya takut, Angela malah berdiri di depan temennya itu dan nantangin senior itu balik. Padahal dia cuma anak kelas satu yang badannya kecil."
Vanya terdiam sejenak, membayangkan sosok Angela. "Jadi, lo suka sama dia karena dia pemberani?"
"Itu salah satunya, dan dia juga gigih orangnya apalagi kalo belajar basket," lanjut Gery. "Tapi yang paling bikin gue 'kena' adalah pas dia bilang ke gue kalau dia tahu gue ikut tawuran bukan karena gue jahat, tapi karena gue cuma ikut-ikutan biar kelihatan keren di depan temen-temen. Dia bilang, 'Kak Gery itu lebih keren pegang bola basket daripada pegang celurit'. Kata-kata itu, Van... yang bikin gue berhenti tawuran selamanya."
Vanya menatap Gery dengan tatapan yang lebih lembut. Ia bisa merasakan betapa besarnya pengaruh Angela dalam mengubah hidup Gery. Namun, di sudut hatinya, ada rasa penasaran yang mengganjal: jika Angela begitu berarti, kenapa mereka tidak berakhir bersama?
"Terus, Ger... kenapa lo nggak pacaran sama dia?" tanya Vanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik di tengah deru mesin bus.
Bus terus melaju membelah jalanan Magelang, namun fokus Vanya sepenuhnya tertambat pada pengakuan Gery yang tak terduga. Penjelasan Gery tentang alasannya memendam perasaan membuat Vanya melihat sisi lain dari kepercayaan diri Gery yang biasanya tampak kokoh.
Gery menatap ke luar jendela, melihat deretan pohon yang melesat cepat, seolah sedang memutar kembali rasa minder yang dulu menghantuinya. "Gue nggak punya keberanian, Van," aku Gery pelan. "Ada dua alasan besar. Pertama, Angela itu keturunan Tionghoa. Wajahnya yang dominan Chinese itu... dia cantik banget, putih bersih. Dan kedua, dia dari keluarga kaya raya."
Gery tersenyum kecut. "Sedangkan gue? Gue merasa dari keluarga biasa-biasa aja. Bokap gue emang kerja, tapi cuma sekelas supervisor di perusahaan air mineral. Rasanya jauh banget kalau dibandingin sama dia. Apalagi kalau dia lagi nggak bawa motor, dia selalu dijemput atau dianter cowok-cowok yang bawa mobil mewah. Entah itu temennya atau gebetannya, gue nggak tahu. Yang jelas, pemandangan itu selalu sukses bikin nyali gue ciut."
Vanya terperanjat. Ia membayangkan sosok Angela yang diceritakan Gery—gadis dengan paras oriental yang menawan, berani, gigih dan hidup dalam kemewahan. Ada sedikit desiran di hati Vanya; ia menyadari bahwa selera Gery di masa lalu bukanlah main-main.
"Ternyata... saingan gue masa lalu berat juga ya," gumam Vanya pelan, mencoba menyelipkan sedikit candaan untuk menutupi rasa penasarannya yang semakin dalam. Namun, ia kemudian bertanya dengan nada lebih serius, "Sekarang... lo masih komunikasi nggak sama dia?"
Gery mengangguk kecil. "Jarang, jarang banget. Tapi sekalinya ada paling cuma sebatas tanya jawab soal basket doang. Dia sekarang sudah kelas dua SMP, dan denger-denger dia udah masuk tim inti basket perempuan di sekolah lama gue itu. Ya, gue cuma sekadar kasih tips atau semangat aja kalau dia lagi ada turnamen."
Vanya terdiam sejenak. Ia mencoba mencerna kenyataan bahwa Gery masih menyimpan nomor ponsel "malaikat penyelamatnya" itu. Ada rasa syukur karena Gery jujur, namun ada juga sedikit rasa gelisah yang muncul. Ia menoleh ke arah Gery, menatap wajah cowok di sampingnya itu dari samping.
"Ger," panggil Vanya lirih. "Kalau seandainya nanti dia tiba-tiba muncul lagi di depan lo, dan dia udah nggak sama cowok-cowok bermobil itu... apa lo bakal ngejar dia?"
Gery menoleh, menatap mata Vanya yang mencari jawaban. Pertanyaan itu menggantung di udara bus yang dingin, tepat saat papan penunjuk jalan bertuliskan "Kawasan Wisata Candi Borobudur" mulai terlihat di pinggir jalan.
Gery menyandarkan kepalanya di kursi bus, matanya menatap langit-langit kendaraan dengan pandangan yang tampak realistis, atau mungkin terlalu pesimis bagi seorang remaja.
"Itu nggak akan pernah terjadi, Van," jawab Gery tegas. "Lu tahu sendiri kan kehidupan sebagian besar mereka? Walaupun mungkin banyak yang nggak memandang status sosial, tapi tetap saja, standar mereka itu beda. Hidup mereka nggak pernah jauh dari kemewahan. Kita yang pribumi aja masih sering mikirin soal kekayaan, apalagi di lingkungan mereka."
Vanya mendengarkan dengan saksama, merasakan nada rendah dalam suara Gery yang menunjukkan bahwa pemuda itu sudah memikirkan hal ini dalam-dalam.
"Nyokapnya dokter di rumah sakit ternama di Kelapa Gading," lanjut Gery. "Lo pasti tahu Kelapa Gading itu kayak gimana. Bokapnya pengusaha. Itu udah jadi perbedaan yang nggak seimbang kalau lihat posisi gue. Bahkan..." Gery menoleh ke arah Vanya dengan tatapan jujur. "Bahkan sama lo aja, sebenernya gue ngerasa kurang imbang. Keluarga gue nggak punya mobil, sedangkan lo punya. Rumah gue di perkampungan, dan lo tinggal di komplek perumahan. Bagi orang kampung kayak gue, orang komplek itu udah tergolong orang kaya, Van."
Vanya terdiam seribu bahasa. Ia tidak pernah menyangka bahwa perbedaan antara rumah di perkampungan dan komplek perumahan ternyata sedalam itu di mata Gery. Ada rasa sesak kecil di dada Vanya menyadari bahwa "kekasihnya" ini membawa beban perasaan minder yang selama ini ia tutup-tutupi dengan sikap kalemnya.
Namun, rasa penasaran seorang wanita tetaplah kuat. Bayangan tentang sosok Angela yang putih bersih, cantik, dan kaya raya mulai menghantui pikiran Vanya.
"Angela punya Friendster atau Facebook nggak?" tanya Vanya tiba-tiba. "Gue mau lihat dong wajahnya kayak gimana. Penasaran banget gue seberapa cantik 'malaikat penyelamat' lo itu."
Gery menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gue nggak tahu, Van. Gue sendiri aja nggak punya akun Friendster, apalagi Facebook yang baru dirilis, mana pernah kepikiran buat nyari. Kayaknya sih dia punya, secara dia anak gaul Jakarta, tapi gue beneran nggak tahu nama akunnya."
Vanya mengembuskan napas panjang, sedikit kecewa karena tidak bisa melakukan "investigasi" lebih lanjut. Ia menatap ke arah luar jendela, di mana kemegahan Candi Borobudur mulai terlihat menyembul di balik pepohonan tinggi.
"Nanti gue cari sendiri," gumam Vanya pelan, hampir tak terdengar.
Bus akhirnya melambat dan berbelok memasuki area parkir Candi Borobudur. Suasana di dalam bus kembali riuh saat para siswa mulai menyiapkan tas dan kamera mereka. Namun, bagi Vanya, perjalanan menuju candi ini bukan lagi sekadar kunjungan wisata, melainkan babak baru untuk memahami lebih dalam siapa sebenarnya laki-laki yang sedang duduk di sampingnya ini.