Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anjas semakin waspada
"Juno lihat kakak, kamu tidak akan kenapa napa, itu hanya cacing" bujuk Anjas mengusap pipi Juno yang mulai berkeringat dingin.
"Apa Juno setakut itu pada cacing?" tanya Alif
"Iya kak, Juno pernah di rawat di rumah sakit karena tidak sengaja menemukan cacing di mie ayam yang dia makan" jawab Anjas
Mariska masih di kerumuni wartawan yang menunggu penjelasan darinya, dia bahkan tidak bisa keluar dari tempat itu karena beberapa wartawan menghalangi pintu supaya Mariska tidak kabur.
"Bagaimana ini Mariska, katanya pak Anjas itu benar benar pacar kamu, tapi ko malah adiknya yang terlihat akrab dengan kamu, sampai sampai dia histeris seperti itu" tanya wartawan
"Ini hanya salah faham..." ucap Mariska
"Apa benar kamu memeras uang pak Juno supaya kamu bisa operasi dan kamu memanfaatkan dia?" tanya wartawan lain
"Atau kamu sengaja mendekati pak Juno supaya kamu juga bisa dekat dengan pak Anjas? pengusaha otomotif nomor satu di sini?" tanya wartawan lain yang membuat Mariska pusing.
"Itu tidak benar, aku memang dekat dengan pak Anjas dan kak Juno" ucap Mariska
"Jangan mengaku ngaku, saya tidak kenal kamu, saya kenal kamu hari ini setelah Juno meminta uang untuk operasi lagi" ucap Anjas
"Ayo jelaskan pada kami"
"Katakan Mariska, apa benar yang di katakan pak Anjas?"
"Kamu mau operasi lagi? Operasi apa?"
Mereka bahkan tidak menunggu Mariska menjawab tapi terus saja melontarkan pertanyaan yang memojokkan Mariska sampai Mariska tak bisa berbuat apapun, dan memilih untuk mundur sambil menutupi wajahnya yang terus tersorot kamera.
"Jujur saja Mariska! kamu sudah memanfaatkan adik saya ini! lihat dia sekarang ketakutan karena kamu ancam akan mencemarkan nama baiknya!" ucap Anjas
"Tidak, saya tidak melakukan itu" protes Mariska semakin membuat para wartawan tak berhenti mengambil gambar dan videonya.
"Saya tidak menyangka kalau anda seperti ini, padahal image anda sebagai seorang artis papan atas begitu baik tapi ternyata itu hanya kepalsuan saja, saya akan minta pihak management kamu untuk mempertimbangkan kontrak mereka, sepertinya kamu tidak pantas ada di agensi itu" ucap Alif yang mengenal pemilik agensi artis tempat Mariska bernaung.
"Jangan, jangan lakukan itu, saya akui saya salah dan saya mohon maaf, tapi tolong jangan hancurkan karir saya" mohon Mariska
"Akui semuanya! kamu sudah membuat perusahaan saya di telepon banyak akun gosip dan infotainment yang meminta klarifikasi!" kesal Anjas
"Saya mengaku salah, saya memang berniat mendekati pak Anjas karena saya tertarik dengan beliau, tapi pak Anjas sulit di dekati jadi saya mendekati kak Juno" ungkap Mariska menunduk malu
"Huuuuuuu!"
Banyak pengunjung restoran di sana menyoraki Mariska, bahkan wajahnya yang tadinya terlihat cerah dan menarik tiba tiba saja tidak di minati lagi oleh orang orang yang melihatnya. Itu karena Anjas sudah merusak pantangan Mariska yaitu tidak boleh di lihat oleh orang yang punya kemampuan meluruhkan susuk ataupun pengasihan yang di miliki Mariska.
"Eh... kenapa ini gatal sekali" gumam Mariska menggaruk pipinya
"Aakhh.... tolong, tolong biarkan saya pergi, saya sedang sakit" lirihnya
"Sakit apa mbak Mariska, tadi anda baik baik saja" cibir seorang wartawan
"Biasa, artis memang selalu buat alasan kalau sudah terpojok" ucap wartawan lain.
"Aws... gatal sekali"
Mariska terus menggaruk pipinya sampai memerah, dan itu semua membuat para pengunjung restoran merasa jijik karena sekarang wajah Mariska berubah menjadi merah dan bekas kukunya membuat luka di wajahnya sedikit berdarah.
"Ih ko tiba tiba wajahnya jadi seperti itu ya, apa dia pakai susuk" bisik seorang pengunjung
"Iya, dari glowing tiba tiba saja jadi menjijikan begitu, aku jadi tidak nafsu makan" ucap yang lain
Anjas dan Alif hanya menyaksikan bagaimana Mariska berubah begitu drastis, wajahnya berubah kusam, penuh luka cakaran di pipi dan keningnya, gusinya juga terlihat berdarah dan tiba tiba sariawan, bahkan sekarang Mariska terlihat seperti orang yang berbeda.
"Hiks... tolong antarkan saya ke rumah sakit, gatal...."
"Aakhhh! ada sesuatu keluar dari pipinya yang terluka!" teriak seorang pelayan yang akan menolong Mariska karena pipinya sekarang mengeluarkan cacing cacing kecil yang cukup banyak.
"Aakhh! tolong siapapun tolong saya!" teriak Mariska
"Mungkin dia kena guna guna" ucap pengunjung lain
"Atau mungkin dia pakai susuk dan dia melanggar pantangan" ucap yang lain
"Anjas" bisik Alif
"Iya kak, sepertinya dia punya susuk di wajahnya dan melakukan sesuatu yang di larang" jawab Anjas berpura pura tidak tahu
"Kak..." rangek Juno
"Tutup mata kamu atau kamu akan pingsan, kita juga tidak bisa keluar dari sini sebelum wartawan pergi" bisik Anjas
Mariska terlihat menelpon seseorang yang dia kenal, dia juga menutup wajahnya dengan syal yang dia bawa bahkan meminta para wartawan untuk mundur.
"Awas saya mau pergi!" bentak Mariska
"Kamu kenapa? kamu sakit apa?" tanya wartawan
"Pergi!" teriak Mariska dan akhirnya wartawan itu mau menyingkir, membiarkan Mariska pergi karena mereka pikir Mariska butuh bantuan dokter.
Dari sudut matanya, Anjas bisa melatih otak yang ada di luar, dia membawa mobil dan Mariska masuk ke dalam mobil itu, tapi mata Anjas terbelalak karena ternyata yang menjemputnya adalah Kunto, dukun yang menjadi guru Hengki.
"Apa mereka punya hubungan atau sebatas klien saja" gumam Anjas yang sepertinya harus menambah kewaspadaannya.
Meeting Anjas dan Alif di lanjutkan meksipun Juno terus merengek ingin pulang, Dan setelah selesai Anjas pamit untuk menjemput Aisyah dan Adisti ke sekolah di temani Juno yang tidak mau menyetir, hanya meminta supirnya untuk membawa mobil Juno ke rumah langsung.
"Lihat kan akibat ulah kamu tidak percaya pada kakak, kamu jadi hampir pingsan tadi" ucap Anjas
"Juno kapok, Juno tidak akan melawan kakak lagi, tadi Juno lihat di pipinya banyak ulat dan cacing" ungkap Juno
"Itu mungkin hanya halusinasi" ucap Anjas
"Bukan kak, itu bukan halusinasi" balas Juno
Mereka sampai di sekolah Adisti, Anjas turun untuk menggendong putrinya itu dan menggenggam tangan Aisyah, mereka berjalan beriringan di koridor sekolah itu dan membuat para ibu ibu sedikit kecewa karena Anjas sudah menikah, bahkan yang sudah menunggu sejak pagipun di buat terkejut setelah Anjas mengatakan kalau Aisyah adalah istrinya.
"Om Juno kenapa pa?" tanya Adisti
"Om Juno lihat cacing" jawab Anjas
"Kak Juno takut cacing?" tanya Aisyah
"Dia trauma"
"Kak jangan buat harga diri Juno jatuh karena Juno takut cacing dong" protes Juno
"Itu kan kenyataan" balas Anjas tersenyum mengejek