NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:121.8k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengikut yang Terlahir Dari Sambaran Petir

Long dan Yue tetap berlutut di tanah yang masih hangus oleh amukan petir. Napas mereka belum sepenuhnya stabil, namun aura yang memancar dari tubuh keduanya jauh berbeda dibanding sebelumnya. Lebih padat. Lebih dalam. Lebih murni.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Kemudian Long membuka mulutnya lebih dulu.

“Terima kasih… Tuan Muda.”

Suaranya berat, dipenuhi emosi yang sulit disembunyikan. Bagi seekor binatang suci, menundukkan kepala kepada manusia bukanlah hal mudah. Namun hari ini, Long melakukannya tanpa sedikit pun keraguan.

Yue di sampingnya juga menunduk lebih dalam.

“Tanpa dirimu… kami tidak akan mampu melewati ujian itu.”

Boqin Changing menatap keduanya dengan tenang. Wajahnya masih menyisakan bekas kelelahan, tetapi sorot matanya tetap jernih seperti biasa.

“Tidak masalah,” jawabnya datar. “Aku hanya menepati janjiku.”

Jawaban sederhana itu justru membuat hati Long dan Yue semakin bergetar.

Long perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya kini berbeda. Bukan sekadar rasa terima kasih, tetapi keputusan.

“Mulai hari ini,” ucapnya pelan namun mantap, “aku dan istriku akan menjadi pengikut setiamu.”

Yue mengangguk tanpa ragu.

“Kami akan menuruti semua ucapanmu… dan menganggapnya sebagai titah.”

Alis Boqin Changing sedikit terangkat.

“Itu tidak perlu.”

Suaranya tetap tenang, tanpa emosi berlebih.

“Perjanjian awal kita sederhana. Jika suatu saat aku membutuhkan bantuan, kalian datang membantu. Itu saja.”

Namun Long justru menggeleng.

“Tidak sesederhana itu.”

Ia mengepalkan tangan di atas tanah.

“Menjadi manusia… membuat usia hidup kami bertambah panjang. Kemampuan kami juga meningkat. Kami dapat hidup lebih lama bersama… dan memiliki kesempatan mencapai ranah yang lebih tinggi.”

Tatapannya kembali ke Boqin Changing.

“Semua itu karena dirimu.”

Yue menatap Boqin Changing dengan mata lembut namun tegas.

“Aku juga berpikir sama. Kami akan mengabdi kepadamu.”

Boqin Changing menghela napas tipis. Ia tahu. Binatang suci adalah makhluk yang keras kepala. Sekali membuat keputusan, sulit digoyahkan.

Alih-alih memperpanjang perdebatan, ia hanya memandang keduanya dengan lebih teliti. Tatapannya jatuh pada Long terlebih dahulu.

Aura pria itu kini mengalir seperti sungai purba yang dalam dan tak berujung. Tekanan spiritualnya berat namun stabil. Ranah kultivasinya jelas melonjak. Pendekar bumi puncak… setengah langkah menuju pendekar langit.

Boqin Changing menyipitkan mata samar. Sepertinya petir siksaan dunia tidak hanya membantu Long memperoleh tubuh manusianya. Petir itu juga mendorong kultivasinya naik.

Kemudian ia memandang Yue. Aura perempuan itu sedikit lebih lembut, namun tetap kuat. Energi alam berdenyut harmonis di sekitar tubuhnya. Itu aura pendekar bumi puncak.

Kemampuan keduanya sekarang cukup untuk berdiri di antara para pendekar tingkat tinggi dunia ini tanpa merasa inferior.

Boqin Changing lalu mengangkat tangannya. Cahaya redup berkilat. Sebuah benda kecil muncul di telapak tangannya. Tanpa banyak kata, ia melemparkannya ke arah Long.

Long menangkapnya refleks. Sebuah giok hijau tua, berbentuk bulat pipih, dengan rune halus terukir di permukaannya.

“Itu giok pemanggil,” kata Boqin Changing.

“Jika giok itu bergetar dan berkedip… artinya aku membutuhkan bantuan kalian.”

Long dan Yue menatap benda itu dengan serius.

“Kalian akan merasakan posisiku,” lanjut Boqin Changing. “Dan bisa bergerak ke sana.”

Long menggenggam giok itu erat.

“Baik Tuan Muda.”

Boqin Changing mendapatkan pusaka itu dari cincin ruang pendekar tingkat tinggi yang terakhir di bunuhnya, Shen Kuang. Sepertinya pendekar itu tidak sempat menggunakan pusaka itu, atau mungkin ia tidak terpikirkan.

Setelah itu, pandangannya bergeser ke arah mulut goa di kejauhan. Sha Nuo masih berdiri di sana, menunggu dengan sabar. Boqin Changing kembali menatap Long dan Yue.

“Aku akan masuk ke dalam goa sekarang.”

Keduanya langsung menegang.

“Formasi yang sebelumnya menghalangi orang masuk akan kuaktifkan kembali saat aku berada di dalam.”

Long tampak kaget.

“Formasi itu… tidak hancur?”

Boqin Changing menggeleng ringan.

“Aku hanya menonaktifkannya.”

Suaranya tenang seolah itu hal sepele.

“Aku juga bisa mengaktifkannya kembali.”

Long dan Yue saling pandang sesaat, lalu kembali menunduk.

Boqin Changing memberi anggukan singkat sebagai salam perpisahan. Tanpa berkata lagi, ia berbalik.

Langkahnya tenang saat berjalan menuju mulut goa. Tanah hangus berderak pelan di bawah kakinya. Angin lembah berhembus lembut, membawa sisa aroma petir yang belum sepenuhnya hilang.

Di belakangnya, Long dan Yue masih berdiri diam. Sementara di depan… Sha Nuo menunggu. Boqin Changing pun melangkah menuju kegelapan goa.

Boqin Changing melangkah pelan hingga jaraknya hanya beberapa langkah dari mulut goa. Ia tidak langsung masuk. Tatapannya justru beralih ke sisi belakangnya, tempat di mana sebelumnya terdapat penghalang tak kasatmata yang menutup akses bagi siapa pun untuk masuk.

Tidak ada apa pun yang terlihat. Namun Boqin Changing tahu. Di sana, formasi kuno masih berdiri.

Ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Bibirnya bergerak tanpa suara, merapalkan mantra yang rumit dan panjang. Gelombang energi tipis mulai berdenyut dari ujung jarinya, menyebar seperti riak air tak terlihat.

Seketika cahaya terang menyala. Ruang kosong itu tiba-tiba memunculkan dinding cahaya transparan berwarna keemasan. Rune-rune kecil berputar di dalamnya seperti bintang yang hidup, membentuk penghalang sempurna.

Long dan Yue di kejauhan menahan napas. Mereka dapat merasakan tekanan spiritual yang berat dari dinding cahaya itu. Namun hanya beberapa detik kemudian, cahaya mulai meredup. Rune-rune berputar semakin lambat, lalu memudar satu per satu.

Hingga akhirnya semua kembali sunyi. Dinding cahaya itu lenyap, berubah kembali menjadi penghalang tak kasatmata seperti sebelumnya.

Boqin Changing menurunkan tangannya. Formasi telah aktif sepenuhnya. Ia lalu menoleh ke belakang. Long dan Yue masih berdiri di tempat mereka, menatapnya dengan ekspresi serius.

Boqin Changing hanya melambaikan tangan singkat. Isyarat perpisahan sederhana.

Tanpa berkata apa pun lagi, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam goa. Di belakangnya, Sha Nuo segera mengikuti.

Begitu memasuki goa, kegelapan menyergap mereka sepenuhnya. Cahaya dari luar hanya mampu menembus beberapa langkah pertama sebelum akhirnya ditelan pekatnya ruang dalam. Sunyi, dingin, dan lembap.

Boqin Changing mengangkat tangannya. Api kecil menyala di telapak tangannya, berwarna jingga redup namun stabil. Cahaya api itu segera menjadi penerang, memantulkan bayangan bergerak di dinding batu goa.

Langkah mereka kembali berlanjut. Satu langkah. Dua langkah. Sepuluh langkah.

Namun baru beberapa belas langkah memasuki goa, Boqin Changing tiba-tiba berhenti. Sha Nuo yang berada di belakangnya mengerutkan kening.

Ia belum sempat bertanya ketika,

“Ugh.”

Boqin Changing mendadak memuntahkan darah dari mulutnya. Darah merah gelap menetes ke lantai batu, terlihat kontras dalam cahaya api yang berpendar.

Mata Sha Nuo langsung melebar. Refleks, ia mencabut pedangnya. Aura tajam menyebar dari tubuhnya saat ia maju satu langkah ke depan Boqin Changing, tubuhnya setengah menutupi pria itu.

Tatapannya menyapu kegelapan goa dengan waspada. Siap menghadapi apa pun yang mungkin muncul.

“Apa yang terjadi?” tanya Sha Nuo cepat, suaranya tegang. “Apa kau baik-baik saja?”

Namun Boqin Changing tidak menjawab. Ia berjalan perlahan melewati Sha Nuo, langkahnya tampak lebih berat dari biasanya. Pandangannya tertuju pada sebuah batu besar di sisi dinding goa.

Tanpa banyak gerakan, ia duduk di atas batu itu. Api di tangannya masih menyala, tetapi cahayanya bergetar samar mengikuti napasnya yang mulai tidak stabil.

Wajah Boqin Changing terlihat pucat. Jauh lebih pucat dibanding beberapa saat lalu.

Sha Nuo menatapnya dengan rasa khawatir yang semakin jelas. Pedangnya masih tergenggam, tetapi kewaspadaannya kini bercampur kebingungan.

Tidak ada serangan. Tidak ada musuh. Namun Boqin Changing terluka.

Keheningan menggantung beberapa detik. Lalu Boqin Changing akhirnya membuka mulutnya. Suaranya pelan. Hampir seperti gumaman.

“…Petir itu sakit sekali.”

1
Asmulyadi
apakah ngk terlalu tergesa-gesa untuk kedunia lain thor,
Eko
kerjasama yang baik
Zul Fiandi
biar samasama di pendekar lagik brangkat nya torr😄
Nanik S
Bantulah Chang"er... siapa tau dg menyerap batu Pelangi Surga bisa menerobos ke Pendekar langit
tariii
tetap semangat, bang boqiiiinn..💪💪💪😍😍😍
Rinaldi Sigar
lnjut
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍😍
Megs Kitchen
Iyaaaàaaaaaaaaa .... Om Hantu bantu Babang Boqin yah 😍😍💕💕
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
Nazam Roni
macet thor
Ipung Umam
lanjutkan terus menerus Thor 👍👍
Megs Kitchen
1 tip for Babang Boqin n 1 tip again for om Hantu yah 🥰🥰💕💕
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
gak jadi buat daging naga goreng tepung buat lauk sahurnya boqin
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
mari kita buat daging naga goreng tepung
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
Ngabuburit
Iqbal Zein
pokokee joss..
Eka Haslinda
sebelum bola pemanggil datang.. Boqin Changing dah merekrut kembali pasukan nya
Rinaldi Sigar
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!