Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Keesokan harinya, koridor Saint Vladimir Academy terasa sedikit lebih gerah bagi Theodore. Kabar tentang pembagian pasangan untuk proyek debat besar bulan depan telah ditempel di papan pengumuman digital. Nama Theodore Volkov bersanding dengan Felicya Thompson.
Secara akademis, ini adalah pasangan maut. Theodore dengan logika matematisnya yang dingin, dan Felicya dengan kemampuan retorika serta empati kemanusiaannya yang hangat. Namun, bagi Stevie Zurcher, ini adalah deklarasi perang terhadap ketenangan batinnya.
Saat jam istirahat siang, pintu kelas Theo terbuka dengan sentakan yang cukup keras. Stevie melangkah masuk dengan wajah yang ditekuk, matanya yang biasanya ceria kini berkilat karena mendung kecemburuan. Ia tidak menuju meja temannya, melainkan langsung menyambar kursi di depan meja Theo.
"Apa tidak bisa ditolak, Theo? Katakan padaku kau bisa meminta tukar pasangan dengan orang lain!" Stevie meledak, suaranya cukup nyaring hingga membuat beberapa teman sekelas Theo menoleh.
Theo, yang sedang merapikan buku catatannya, hanya mendongak pelan. "Itu keputusan komite sekolah, Stevie. Mereka memasangkan berdasarkan peringkat simulasi kemarin. Aku dan Felicya berada di posisi teratas. Tidak ada alasan untuk menolak."
"Kenapa harus Felicya?!" Stevie memukul meja pelan, bibirnya mengerucut tajam. "Kenapa aku tidak ditakdirkan pintar seperti dia? Kenapa aku harus di kelas bahasa sementara kalian berdua akan menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan untuk membedah teori politik?"
Stevie mengacak rambutnya frustrasi, lalu menunjuk Theo dengan telunjuknya. "Ini semua karenamu, Theo! Kau terlalu pintar! Jika kau sedikit saja lebih bodoh, mungkin kau akan dipasangkan denganku atau setidaknya dengan seseorang yang tidak memiliki mata seteduh Felicya!"
Mendengar dramatisasi Stevie, teman-teman satu geng Theo, anak-anak pengusaha yang biasanya kaku—tidak bisa menahan tawa. Alexei, yang duduk di belakang Theo, berseru sambil tertawa, "Ayolah, Stevie! Seluruh sekolah tahu Theo hanya melihatmu. Felicya itu bahkan jarang bicara pada laki-laki."
"Diam kau, Alexei!" semprot Stevie tanpa menoleh. "Kalian tidak tahu bagaimana rasanya memiliki kekasih yang kepalanya berisi ensiklopedia sementara sahabatmu sendiri adalah kamus berjalannya!"
Stevie sudah sangat dikenal di kelas Theo. Kecemburuannya yang meluap-luap dan sifat posesifnya terhadap Theo sudah menjadi hiburan tersendiri. Namun, di balik itu, semua orang tahu bahwa Stevie melakukannya karena ia sangat mencintai Theo, dan mungkin sedikit merasa terancam oleh ketenangan yang dimiliki Felicya.
Theo tidak marah. Ia justru melihat kecemburuan Stevie sebagai sisi yang menggemaskan, meski terkadang melelahkan. Ia berdiri dari kursinya, mendekati Stevie, dan dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia merapikan syal Stevie yang sedikit miring.
"Tidak bisa, Stevie," ucap Theo dengan suara rendah yang menenangkan. "Ini tentang nilai kelulusan dan reputasi akademik kita. Kau harus percaya padaku."
"Aku percaya padamu, Theo! Tapi aku tidak percaya pada situasi!" rintih Stevie, suaranya merendah saat Theo menatapnya dalam. "Felicya itu... dia sangat baik. Terlalu baik. Dan kalian berdua memiliki 'bahasa' yang sama. Aku takut aku akan menjadi orang asing saat kalian mulai bicara tentang retorika hukum."
Theo menggenggam tangan Stevie yang gemetar. "Kau tidak akan pernah menjadi orang asing. Felicya adalah sahabatmu, bukan? Kau sendiri yang selalu mengajaknya ke mana-mana. Sekarang, kau harus percaya pada sahabatmu sendiri. Dia tidak akan melakukan apa pun yang akan melukaimu."
Stevie hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa menang melawan logika Theo yang kuat. "Tapi janji padaku, tidak ada diskusi di luar jam sekolah tanpa sepengetahuanku."
"Janji," jawab Theo singkat.
Saat Stevie akhirnya mulai tenang dan duduk di samping Theo sambil memakan bekalnya, mata Theo tanpa sengaja melirik ke arah pintu kelas. Di sana, berdiri Felicya Thompson. Gadis itu tampaknya baru saja ingin masuk untuk mendiskusikan jadwal pertemuan pertama mereka, namun ia berhenti di ambang pintu saat melihat Stevie ada di sana.
Felicya telah mendengar sebagian besar drama kecemburuan Stevie. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, hanya sebuah senyuman kecil yang sarat akan pengertian. Ia tidak ingin memperkeruh suasana.
Theo dan Felicya bertatapan selama beberapa detik. Ada sebuah komunikasi tanpa kata yang terjadi; sebuah permohonan maaf dari mata Theo atas tingkah kekasihnya, dan sebuah anggukan maklum dari mata teduh Felicya.
Felicya kemudian berbalik, memilih untuk mengirimkan pesan singkat saja kepada Theo daripada masuk dan memicu ledakan baru dari Stevie.
“Kita bahas jadwal lewat pesan saja, Theo. Aku tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu dengan Stevie. Sampai jumpa.”
Theo membaca pesan itu dan memasukkan ponselnya ke saku. Ia merasa dadanya sedikit sesak. Ia mencintai Stevie, ia sangat menghargai kehangatan yang diberikan gadis Zurich itu. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa sikap dewasa dan pengertian Felicya adalah sesuatu yang sangat ia butuhkan di tengah badai emosional yang sering dibawa Stevie.
Malamnya, saat Theo bersiap untuk tidur, ia memikirkan proyek debat itu. Ia tahu Felicya adalah lawan bicara yang seimbang. Berdebat dengan Felicya bukan hanya soal menang atau kalah, tapi soal pertukaran pemikiran yang mendalam.
Namun, ia teringat wajah Stevie yang merajuk. Ia menyadari satu hal: selama sebulan ke depan, ia akan berada di antara dua kutub. Stevie yang merupakan api cintanya, dan Felicya yang merupakan cermin dari pemikirannya.
Theodore Volkov, yang biasanya mampu menyelesaikan masalah matematika tersulit, kini merasa terjebak dalam persamaan emosi yang tidak memiliki jawaban pasti. Ia harus menjaga hati Stevie, namun ia juga harus menjaga profesionalismenya dengan Felicya.
Ia tidak tahu, bahwa di kamar lain, Felicya sedang menatap buku referensi debat mereka, memikirkan bagaimana caranya agar ia tidak tenggelam dalam tatapan mata Theodore yang selalu mengingatkannya pada sesuatu yang menarik.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰