NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Mata Batin / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 The Serial Threat

Hujan yang mengguyur Seoul sejak sore tadi belum juga reda, justru semakin menderu seiring malam yang kian larut. Di dalam paviliun, suasana terasa sangat sunyi setelah badai amarah Jin mereda. Semua CCTV telah dicopot, namun keheningan yang tersisa bukanlah keheningan yang menenangkan. Ada rasa waspada yang merayap di bawah kulit Jungkook, sebuah insting purba yang memberitahunya bahwa predator yang sesungguhnya belum benar-benar kalah.

Jungkook duduk di sofa, membersihkan sisa luka di tangannya dengan alkohol. Shine duduk di sampingnya, memegang botol obat merah dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

"Kenapa kau begitu tenang?" bisik Shine. "Jin Oppa sangat marah tadi. Aku belum pernah melihatnya sekejam itu."

Jungkook menatap Shine, lalu menarik tangan gadis itu ke dalam genggamannya. "Aku tidak takut pada kemarahan kakakmu, Shine. Yang aku takutkan adalah sesuatu yang tidak bisa kulihat. Sesuatu yang terasa... salah."

Tepat saat itu, ponsel RM yang tertinggal di atas meja ruang tamu bergetar hebat. Sebuah pesan masuk tanpa nama pengirim. Jungkook yang waspada segera menyambarnya.

> "Kalian pikir menyelamatkan satu wanita adalah kemenangan? Kalian baru saja membuka pintu kandang yang seharusnya tetap terkunci. Oracle kecilmu itu... dia melihat terlalu banyak. Dan kami tidak suka saksi."

Wajah Jungkook berubah pucat. Ia segera berdiri, mengunci semua pintu paviliun secara manual.

"Ada apa, Jungkook?" Shine ikut berdiri, wajahnya penuh kecemasan.

"Namjoon-ssi!" teriak Jungkook ke arah pintu penghubung gedung utama.

RM muncul dengan wajah tegang, ia baru saja selesai berbicara dengan tim keamanan di gerbang depan. "Jungkook, ada masalah. Sang Konduktor... dia tidak dibawa ke kantor polisi biasa. Dia dijemput oleh pengacara dari firma hukum yang paling ditakuti di negeri ini. Dan data identifikasinya di sistem kepolisian baru saja dihapus."

"Dihapus?" Shine terengah. "Tapi aku melihatnya... aku melihat dia menyiksa istrinya!"

"Itu karena dia bukan hanya seorang konduktor musik, Shine," ucap RM sambil menunjukkan tabletnya. "Dia adalah perantara keuangan untuk sindikat perdagangan manusia berskala internasional. Rumah di sebelah itu bukan sekadar apartemen; itu adalah tempat transit informasi. Dan kau... kau melihat wajahnya saat dia kehilangan kendali. Kau melihat 'metode' kerjanya."

Dunia seolah berputar bagi Shine. Keinginannya untuk membantu sesama justru menyeretnya ke dalam konspirasi yang jauh lebih besar dari sekadar kasus domestik.

"Mereka mengincarnya sekarang," desis Jungkook. Ia menarik Shine ke belakang tubuhnya, tangannya meraba pisau yang selalu ia selipkan di balik pinggangnya. "Bukan karena dia Oracle keluarga Kim, tapi karena dia saksi yang mengetahui wajah para pemimpin mereka melalui penglihatan itu."

Tiba-tiba, lampu di seluruh kompleks kediaman Kim padam secara serentak. Kegelapan total menyelimuti paviliun.

"Shine, jangan lepaskan tanganku!" perintah Jungkook.

Suara pecahan kaca terdengar dari arah gedung utama. Teriakan para penjaga mulai terdengar di kejauhan, bercampur dengan suara hujan. Ini bukan sekadar penculikan biasa; ini adalah penyerbuan terorganisir.

"Jungkook, bawa Shine ke ruang bawah tanah paviliun! Sekarang!" teriak RM sambil mencabut pistol dari balik jasnya.

Jungkook tidak membuang waktu. Ia menggendong Shine, berlari menuju dapur di mana terdapat sebuah pintu rahasia di bawah lantai kayu. Namun, sebelum mereka sampai, sebuah ledakan kecil menghancurkan pintu depan paviliun.

Tiga pria dengan pakaian taktis hitam dan penutup wajah masuk dengan senjata api yang dilengkapi peredam suara. Mereka bergerak dengan presisi militer.

"Berikan gadis itu, dan koki sepertimu mungkin akan tetap hidup," salah satu dari mereka bersuara dengan nada datar.

Jungkook meletakkan Shine di belakang konter dapur yang terbuat dari marmer tebal. Ia berdiri tegak, matanya berkilat liar di tengah kegelapan yang hanya diterangi oleh kilat dari luar jendela.

"Kau salah orang," ucap Jungkook. "Aku bukan koki malam ini. Aku adalah orang yang akan memastikan kalian tidak pernah melihat matahari besok."

Jungkook bergerak lebih cepat dari yang bisa dilihat mata manusia biasa. Ia melemparkan pisau dapurnya tepat ke arah pria terdekat, mengenai bahunya hingga senjata pria itu terjatuh. Jungkook menerjang, menggunakan keahlian bela diri jalanannya yang brutal untuk melumpuhkan dua orang lainnya sebelum mereka sempat menarik pelatuk.

Suara benturan fisik, erangan rasa sakit, dan hantaman benda tumpul memenuhi ruangan dapur yang sempit itu. Shine meringkuk, menutup telinganya, namun penglihatannya mendadak aktif kembali tanpa diminta.

Zapp!

Ia melihat masa lalu salah satu penyerang itu. Sebuah logo tato di leher mereka—gambar ular yang melilit belati.

"Jungkook! Di belakangmu!" teriak Shine.

Jungkook menunduk tepat saat sebuah peluru menyerempet rak piring di atas kepalanya. Ia berguling di lantai, mengambil botol minyak zaitun dan melemparkannya ke arah penyerang terakhir hingga pecah, membuat lantai menjadi sangat licin.

Dalam kekacauan itu, Jungkook berhasil merebut satu senjata. Ia berdiri di depan Shine, napasnya memburu. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Di luar, lebih banyak bayangan hitam mulai mendekat ke paviliun.

"Namjoon! Di mana bantuan?!" Jungkook berteriak di interkom.

"Jalanan di blokade! Tim keamanan luar sedang bertempur di gerbang!" suara RM terdengar penuh gangguan statis. "Jungkook, kau harus membawa Shine keluar lewat jalur belakang! Sekarang!"

Jungkook menatap Shine. Wajah gadis itu pucat pasi, namun ada keberanian baru di matanya. Shine menyentuh kalung "JK" di lehernya, seolah mencari kekuatan dari sana.

"Kita tidak bisa lari selamanya, Jungkook," bisik Shine. "Mereka tidak akan berhenti sampai aku 'dibersihkan'."

"Mereka harus melangkahiku dulu," balas Jungkook. Ia menarik Shine berdiri. "Kita akan ke bunker di gedung utama. Jin dan Suga ada di sana. Kita akan bertarung bersama."

Saat mereka mencoba keluar melalui pintu penghubung, sesosok pria muncul dari balik bayangan lorong. Pria itu tidak memakai penutup wajah. Ia adalah Sang Konduktor, yang kini mengenakan jas rapi seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Ia tersenyum, namun matanya kosong, seperti mata hiu.

"Nona Kim," sapanya lembut. "Kau punya mata yang sangat cantik. Sayang sekali, mata itu melihat hal-hal yang tidak seharusnya. Kau tahu apa yang terjadi pada musisi yang salah memainkan not?"

"Dia akan dikeluarkan dari orkestra," sahut Shine dengan suara yang tidak bergetar.

Jungkook mengacungkan senjatanya lurus ke arah jantung pria itu. "Satu langkah lagi, dan orkestramu akan berakhir di sini."

Sang Konduktor tertawa. "Kau pikir kau siapa, koki? Kau hanya peliharaan kecil di rumah ini. Kau tidak tahu siapa di balik sindikat ini. Bahkan keluarga Kim tidak akan bisa melindungimu dari kami."

Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari belakang Sang Konduktor. Tubuh pria itu terdorong ke depan saat peluru menembus bahunya. Di ujung lorong, Suga berdiri dengan senapan laras panjang, wajahnya dingin tanpa emosi.

"Terlalu banyak bicara untuk seorang penjahat kelas teri," ucap Suga datar. "Jungkook, bawa dia masuk ke bunker. Sekarang."

Jungkook segera menarik Shine melewati tubuh Sang Konduktor yang mengerang di lantai. Mereka berlari masuk ke kediaman utama, di mana Jin sudah menunggu dengan tim keamanan internal yang tersisa.

Malam itu, kediaman keluarga Kim yang megah berubah menjadi medan perang. Sindikat ini bukan hanya sekadar ancaman KDRT; mereka adalah jaringan gelap yang ingin menguasai kemampuan Oracle Shine untuk kepentingan pasar gelap informasi.

Di dalam bunker yang aman, Jungkook tidak melepaskan tangan Shine sedikit pun. Ia tahu, babak baru yang lebih berbahaya telah dimulai. Musuh mereka bukan lagi individu, melainkan sistem yang tidak terlihat.

"Shine," Jungkook berbisik saat suasana mulai tenang sejenak. "Jangan pernah melihat ke arah mereka lagi. Tetaplah fokus padaku."

Shine mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook yang ternoda darah. "Aku tidak takut, Jungkook. Karena selama aku memegang tanganmu, aku tahu akhir dari penglihatan ini akan selalu baik."

Namun jauh di lubuk hatinya, Shine melihat satu kilasan yang tidak ia katakan pada siapa pun: sebuah penglihatan tentang pengkhianat di dalam rumah mereka sendiri.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!