Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Personil baru dan misi baru
Suasana sejenak terasa agak ambigu karena Wawan sama sekali tidak berkata apa-apa selain hanya menatap.
Para junior itu juga tidak tahu harus bagaimana lagi di sini.
Akhirnya, mereka hanya bisa diam sambil saling tatap-tatapan tanpa melakukan apa-apa lagi.
Hingga akhirnya, Raisya datang dan melihat mereka berempat saling tatap-tatapan untuk dengan ekspresi rumit yang terpancar di wajah para junior.
"Ada apa ini? Kalian siapa!?" Tanya Raisya pada para junior itu.
Salah satu dari mereka yaitu laki-laki yang memiliki postur paling tinggi menjawab. "Kamu anggota yang di kirim markas pusat!"
"Sampai misi tabung gas subsidi ini selesai kami akan ada tinggal dan membantu kalian!" Alis mata Raisya agak berkerut.
Ia yang tidak tahu apa-apa tentu tidak langsung percaya.
Karena itu, Raisya mengkonfirmasi secara langsung perihal masalah ini pada komandan.
"Ya, mereka anggota baru kita!" Jawab komandan.
"Hah? Kenapa tiba-tiba sekali kita punya anggota baru?!" Lanjut Raisya bertanya karena merasa heran.
Tidak ada info apapun sebelumnya tentang anggota tambahan.
Ini semua terlalu mendadak untuknya.
"Masalah yang kita hadapi saat ini terlalu serius, maka dari itu saya minta bantuan atasan untuk mengirimkan personil!"
Karena masih ada kebingungan Raisya lanjut bertanya. "Lantas. Kenapa anda malah minta agen amatir dalam misi seperti ini?!"
"Kalau Anda minta bantuan kenapa tidak sekalian saja minta agen senior yang jelas lebih bisa di andalkan!" Komandan seketika menghela nafas.
"Haahh...!"
"Kalau bisa sudah saya lakukan dari awal. Tapi para atasan yang kikir itu mana mungkin benar-benar membantu kita!"
"Mereka sudah mau mengirimkan personil saja sudah bagus!" Raisya pun terdiam karena sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Akhirnya, ia kembali pada para junior itu yang mana sekarang para junior itu sedang duduk bersebelahan dengan Wawan tapi agak menjaga jarak.
Mereka tampaknya agak takut pada Wawan karena ekspresi Wawan yang begitu datar.
"Jadi, apa mereka benar-benar anggota baru!?" Wawan bertanya dengan nada bicaranya yang biasa.
"Ya, mereka adalah anggota baru yang akan ikut dengan kita dalam misi kali ini!" Setelah mengkonfirmasi hal itu Wawan kemudian diam.
Ia seakan tak peduli pada tambahan anggota itu.
"Kamu tampaknya biasa saja? Kamu tidak merasa senang atau mungkin marah karena yang datang adalah amatiran!?" Tanya Raisya.
Wawan sempat diam sejenak sebelum akhirnya ia menjawab.... "Apa ada bedanya!?" Jawaban itu membuat Raisya dan para junior terdiam dengan mata terbuka lebar.
Dalam pikiran mereka. Wawan seakan seperti seseorang yang memang tidak membutuhkan orang lain untuk menjalankan tugasnya.
Jadi ada atau tidak adanya bantuan Wawan terlihat percaya diri akan menyelesaikan masalah ini.
Dan itu adalah sifat yang biasanya di miliki agen yang sudah sepuh yang sudah menyelesaikan banyak misi berbahaya yang sangat sulit.
Itulah yang mereka pikirkan.
Namun, kenyataannya sebenarnya tidak begitu.
Maksud dari kata-kata Wawan sebelum ialah ada atau tidak adanya bala bantuan itu sama saja karena pada akhirnya ia harus turun juga ke lapangan.
Yang mana itu sangat berbahaya.
Dan kalau Wawan berada dalam bahaya maka ia harus berjuang sendiri untuk menyelamatkan hidupnya.
Karena Wawan tidak bisa berharap pada rekan-rekannya meskipun ia punya.
Karena rekan-rekan Wawan tentu saja akan lebih mengutamakan misi ketimbang keselamatan Wawan.
Itulah maksud dari kata-kata Wawan (Apa ada bedanya) itu.
Selang beberapa jam kemudian.
Meskipun anggota baru telah tiba di markas ini tapi itu tidak banyak mengubah keadaan.
Suasana di markas itu terlihat sibuk meskipun anggotanya hanya sedikit.
Raisya duduk di depan komputer untuk mencari informasi, Wawan membantu mencari-cari petunjuk lewat beberapa dokumen yang telah Raisya temukan.
Sementara untuk para anggota baru...
Tugas mereka cuma bersih-bersih dan melayani pelanggan yang mau melakukan fotokopi.
Tentu hal itu membuat para anggota baru itu kerasa tak puas karena merasa kalau pekerjaan mereka tidak mencerminkan seorang agen yang hebat.
Tapi karena mereka anggota baru jadi mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti para seniornya.
Beberapa saat kemudian. Raisya yang sedari tadi mencari-cari informasi akhirnya menemukan sesuatu yang berguna.
"Lihat ini!" Ucapnya pada Wawan yang duduk tak jauh darinya.
"Ada apa!?..." Wawan segera menghampiri dan melihat apa yang kau di tunjukan oleh Raisya padanya.
"Ini adalah daftar orang-orang memiliki tugas dan profesi yang sama dengan Arman Setiawan yang kita tangkap sebelumnya!"
"Besar kemungkinan kalau mereka telah melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Arman Setiawan!"
"Maka dari itu, mereka akan jadi target kita selanjutnya!" Wawan pun menatap wajah orang-orang yang akan menjadi targetnya.
Dan orang yang ada di layar monitor itu terlihat sangat sangar.
Tentu, itu membuat nyali Wawan langsung ciut.
"Bukannya mereka semua tersebar di seluruh negara. Lantas kenapa kita harus turun tangan sendiri? Kenapa tidak minta bantuan markas-markas yang menjaga sektor-sektor itu!?"
Alasan Wawan menyarankan ide itu tentu saja agar ia tidak perlu turun tangan karena Wawan merasa takut.
Namun... "Tidak bisa!" Kata Raisya.
Wawan yang mendengar itu langsung bertanya. "Kenapa?!"
"Karena... Semua markas itu sudah tutup akibat kekurangan dana!"
"Para agen yang ada di sana merasa kalau gaji yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan effort dan bahayanya, makanya mereka berhenti bekerja!" Wawan pun terdiam.
Dalam hatinya ia bergumam. '... Mungkin. Aku juga harus mulai berpikir mencari pekerjaan lain dan berhenti dari pekerjaan berbahaya ini.'
"Jadi apa? Kita akan menangkap mereka satu persatu?!"
"Kalau begitu bagaimana kita akan melakukannya sedangkan kita tidak punya dana untuk melakukan perjalanan jauh!?" Tanya Wawan.
Raisya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Ia hanya bisa menyerahkan masalah ini pada komandan mereka.
Beruntungnya, ternyata komandan berhasil mendesak para atasan tadi dan mendapatkan beberapa dana.
Meksipun tidak banyak tapi itu cukup lah untuk misi ini.
Setelah melakukan beberapa persiapan mereka pun mulai membagi tim.
Siapa saja yang akan melakukan penangkapan, siapa saja yang akan jadi tim pemantauan, tim bantuan dan tim pendukung.
Yang akan jadi regu pendukung adalah Raisya dan anggota baru yang bernama Lisa, satu-satunya perempuan dari tiga junior yang baru datang itu.
Kemudian, untuk tim pemantauan ada Dimas dan Jaki. Yaitu para junior yang di kirim markas pusat sebagai bantuan.
Terakhir.
Tim yang akan melakukan penangkapan atau juga di sebut tim yang berada di garis paling depan akan di isi oleh Wawan dan Lukman.
Dalam hatinya, Wawan tentu merasa enggan tapi karena tidak ada pilihan lain ia akhirnya hanya bisa pasrah.
Sambil berharap kalau Lukman bisa melindunginya dan menyelesaikan misi tanpa campur tangan Wawan seperti sebelumnya.
Tim itu kemudian mulai melakukan perjalanan yang cukup jauh menuju sektor dimana target mereka berada.
Dan, mereka melakukan perjalanan yang panjang itu menggunakan mobil box yang sudah butut yang terlihat sangat mencolok ketika melaju di jalan raya karena saking bututnya dan usangnya mobil itu.