Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 jejak sang pelindung ghaib
Pagi itu, aroma pinus tua bercampur dengan bau tanah basah menyelimuti kompleks Makam Bintang Agung. Xing Shenyuan duduk di depan gubuknya, perlahan menyeduh teh dari pucuk daun liar yang ia petik di pinggiran makam. Gerakannya tenang, presisi, dan tidak memiliki satu pun celah. Meskipun jubahnya sudah lusuh, setiap tarikan napasnya seolah selaras dengan denyut nadi bumi di bawah kakinya.
Berita tentang kematian Trio Bayangan Darah telah menyebar seperti api di padang rumput kering. Tiga ahli Inti Emas yang hilang tanpa jejak di wilayah pemakaman bukanlah perkara kecil. Bagi orang luar, makam ini kini bukan hanya sekadar tempat pengasingan, melainkan zona kematian yang menyimpan rahasia gelap.
"Kau terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berada di pusat badai," suara Gu Qingcheng memecah keheningan.
Wanita itu muncul dengan wajah yang lebih lelah dari biasanya. Lingkaran hitam samar di bawah matanya menunjukkan bahwa dia tidak tidur semalaman karena harus memberikan laporan kepada Dewan Tetua di ibu kota.
Shenyuan menuangkan teh ke dalam cangkir tanah liat kedua, lalu menyodorkannya ke arah Qingcheng. "Minumlah. Teh ini bisa menenangkan syarafmu yang tegang."
Qingcheng mengambil cangkir itu, namun matanya tetap tertuju pada Shenyuan. "Dewan Tetua sangat marah. Mereka tidak percaya ada ahli tingkat tinggi yang bersembunyi di sini tanpa sepengetahuan pengawal resmi. Mereka mencurigai ada sisa-sisa sekte sesat yang mencoba membangun kembali kekuatan di dalam makam."
"Lalu, apa kesimpulan mereka?" tanya Shenyuan datar.
"Mereka mengirim Unit Penegak Hukum Kekaisaran," jawab Qingcheng dengan nada khawatir. "Dan yang lebih buruk, Ye Chen berhasil membujuk salah satu tetua dari Sekte Pedang Langit untuk ikut serta dalam penyelidikan. Mereka akan tiba siang ini."
Shenyuan hanya mengangguk kecil. Di bawah jubahnya, Inti Kekacauan Sempurna miliknya berputar perlahan, menyerap energi spiritual dari udara tanpa menimbulkan fluktuasi sedikit pun. Di matanya, Unit Penegak Hukum maupun tetua sekte hanyalah debu yang lewat.
"Biarkan mereka datang," ucap Shenyuan pelan. "Makam ini sangat luas. Jika mereka ingin mencari hantu, biarkan mereka kelelahan sendiri."
Sementara itu, di kaki Gunung Bintang, sebuah desa kecil bernama Desa Daun Hijau sedang dihebohkan oleh sebuah keajaiban.
Di sebuah rumah panggung yang sederhana, Lin Xiaoyue menatap ibunya dengan air mata kebahagiaan. Ibunya, yang selama bertahun-tahun terbaring lemah karena racun paru-paru kronis, kini duduk tegak dengan wajah yang segar dan merona.
Hanya satu jam setelah meminum pil yang diberikan oleh "pemuda misterius" di makam, seluruh racun di tubuh ibunya keluar dalam bentuk cairan hitam pekat melalui pori-pori, digantikan oleh energi vital yang meluap-luap.
"Xiaoyue, siapa yang memberimu obat dewa ini?" tanya sang ibu dengan suara yang kini jernih dan bertenaga.
"Seorang kakak di makam, Ibu," jawab Xiaoyue sambil memeluk ibunya. "Dia terlihat seperti orang biasa, tapi... matanya sangat menakutkan sekaligus menenangkan. Dia menyelamatkan nyawaku semalam."
Xiaoyue tidak menyadari bahwa pil tersebut bukan hanya menyembuhkan ibunya. Sebagian kecil residu energi dari pil itu telah meresap ke dalam tubuh Xiaoyue sendiri melalui kontak fisik saat ia menyuapi ibunya. Energi tersebut kini mulai mengetuk "gerbang" yang mengunci garis darah Feniks Biru di dalam sumsum tulangnya.
Gadis itu merasakan panas yang aneh di punggungnya, sebuah sensasi yang akan mengubah takdirnya selamanya. Namun, fokus utamanya saat ini hanyalah satu: dia harus kembali ke makam suatu hari nanti untuk membalas budi, meskipun dia harus mempertaruhkan nyawanya.
Tepat saat matahari mencapai puncaknya, gemuruh suara kuda perang dan kepakan sayap binatang terbang menggetarkan gerbang utama Makam Bintang Agung.
Rombongan besar datang dengan kemegahan yang mengintimidasi. Di depan mereka, seorang pria tua dengan rambut putih panjang yang dikuncir dengan ornamen pedang emas duduk di atas burung elang raksasa. Dia adalah Tetua Feng, salah satu tetua luar dari Sekte Pedang Langit yang telah mencapai Ranah Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) Tahap Awal.
Di sampingnya, Ye Chen menunggangi kuda putih, wajahnya penuh dengan niat jahat yang terselubung. Di belakang mereka, sepuluh anggota Unit Penegak Hukum dengan seragam hitam-merah berbaris rapi, masing-masing membawa aura pembunuh yang pekat.
Gu Qingcheng dan Shenyuan berdiri di pelataran makam untuk menyambut mereka.
"Salam, Tetua Feng," ucap Qingcheng sambil membungkuk hormat.
Tetua Feng hanya mendengus, matanya menyapu area pemakaman dengan jijik. "Tempat ini benar-benar dipenuhi oleh energi busuk. Tidak heran jika tikus-tikus sesat suka bersembunyi di sini."
Matanya kemudian beralih pada Xing Shenyuan. "Jadi, kau adalah pangeran yang dibuang itu? Singkirkan sapumu. Keberadaanmu di sini adalah penghinaan bagi mata kami."
Ye Chen maju selangkah, tersenyum sinis. "Tetua Feng, jangan hiraukan dia. Dia hanyalah sisa-sisa sampah yang tidak punya tempat lagi. Mari kita fokus pada area di mana Trio Bayangan Darah terbunuh."
"Tunggu," instruksi Tetua Feng. Ia melambaikan tangannya, dan sebuah cermin perunggu kecil muncul di udara. "Ini adalah Cermin Pencari Jiwa. Jika ada ahli yang menyembunyikan kultivasinya di radius seribu mil, cermin ini akan bereaksi."
Hati Gu Qingcheng berdegup kencang. Ia melirik Shenyuan, namun pemuda itu tetap berdiri diam dengan tatapan kosong, seolah-olah dia adalah patung batu yang tidak memiliki jiwa.
Tetua Feng mengaktifkan cermin tersebut. Cahaya biru memancar dari permukaan cermin, menyapu seluruh kompleks makam. Detik demi detik berlalu.
Hasilnya tetap nihil. Cermin itu tetap tenang, tidak menunjukkan peringatan apa pun.
Ye Chen mengerutkan kening. "Mustahil. Apakah mungkin pelakunya sudah pergi?"
Shenyuan tersenyum tipis dalam hati. Inti Kekacauan Sempurna miliknya bukan hanya memadatkan energi, tapi juga memiliki sifat "Chaos" yang mampu menelan semua jenis gelombang deteksi. Di mata Cermin Pencari Jiwa, Shenyuan hanyalah sebuah lubang hitam hampa yang tidak memiliki energi spiritual sedikit pun.
"Sudah kubilang, di sini tidak ada siapa-siapa kecuali debu dan nisan," ucap Shenyuan pelan.
"Diam, Sampah!" bentak Ye Chen. "Tetua Feng, mari kita periksa gubuknya. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu di sana."
Tetua Feng mengangguk. Dengan satu lambaian tangan, sebuah gelombang tekanan spiritual yang dahsyat menghantam gubuk kecil milik Shenyuan.
Braakk!
Gubuk kayu yang sudah tua itu hancur berkeping-keping, rata dengan tanah. Barang-barang sederhana milik Shenyuan—tempat tidur kayu, meja kecil, dan beberapa pakaian lusuh—berserakan di mana-mana.
Tidak ada jalan rahasia. Tidak ada artefak tersembunyi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain.
Shenyuan menatap puing-puing tempat tinggalnya. Meskipun wajahnya tetap tenang, ada kilatan dingin yang melintas di matanya selama sepersekian detik. Kalian baru saja menghancurkan tempat istirahatku. Harga yang harus kalian bayar tidak akan murah.
"Hanya sampah di dalam gubuk sampah," ejek Ye Chen sambil menginjak salah satu pakaian Shenyuan yang jatuh ke tanah.
"Sepertinya kecurigaanmu salah, Ye Chen," ujar Tetua Feng dengan nada kecewa. "Kita membuang waktu di sini. Mari kita periksa Lembah Tangis Arwah dan Taman Obat Terlarang. Jika ada ahli yang bersembunyi, mereka pasti berada di wilayah yang lebih dalam."
Saat rombongan itu mulai bergerak menuju area dalam makam, Shenyuan tiba-tiba angkat bicara.
"Tetua Feng, area dalam makam sedang dalam kondisi tidak stabil karena fenomena bulan purnama yang akan datang. Jika Anda masuk dengan kekuatan penuh, Anda mungkin akan memicu formasi pertahanan leluhur."
Tetua Feng tertawa terbahak-bahak. "Formasi pertahanan? Bocah, aku adalah ahli Ranah Jiwa Baru Lahir. Formasi kuno yang sudah tidak diurus selama ribuan tahun ini tidak akan bisa menyentuh sehelai rambutku pun."
Mereka mengabaikan peringatan Shenyuan dan terus melaju kencang menuju area terlarang.
Gu Qingcheng menatap Shenyuan dengan perasaan campur aduk. "Kenapa kau memperingatkan mereka? Bukankah kau ingin mereka pergi?"
"Aku tidak memperingatkan mereka karena aku peduli," jawab Shenyuan sambil perlahan memungut pakaiannya yang kotor. "Aku memperingatkan mereka agar mereka tidak bisa menyalahkan 'hantu' saat sesuatu yang buruk terjadi pada mereka nanti."
Di kedalaman makam, dekat dengan Taman Obat Terlarang, rombongan Tetua Feng berhenti. Udara di sini terasa sepuluh kali lebih berat. Kabut ungu yang pekat mulai menyelimuti pandangan mereka.
"Tempat ini... auranya sangat aneh," bisik salah satu anggota Penegak Hukum.
Tiba-tiba, suara desisan yang sangat keras terdengar dari balik kabut. Sebuah bayangan raksasa meluncur keluar dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Itu adalah Ular Sanca Sisik Hitam yang telah berevolusi menjadi Naga Banjir (Flood Dragon) setengah matang berkat energi pil dari Shenyuan. Ukurannya kini dua kali lebih besar, dan di kepalanya terdapat tanduk tunggal yang memancarkan kilatan petir.
"Binatang buas tingkat tinggi!" Tetua Feng terkejut. Ia segera mengeluarkan pedang panjangnya. "Semuanya, bersiap dalam formasi!"
Namun, Naga Banjir itu tidak menyerang seperti binatang buas biasa yang liar. Serangannya sangat terstruktur dan cerdas. Ia menggunakan ekornya untuk memisahkan para pengawal dari Tetua Feng, lalu menyemburkan api hitam ke arah Ye Chen.
"Argh! Tolong aku, Tetua!" teriak Ye Chen sambil berguling menghindari kobaran api yang menghanguskan jubahnya.
Tetua Feng mencoba menebas kepala ular itu, namun setiap kali pedangnya hampir mengenai target, sebuah tekanan gravitasi yang sangat kuat tiba-tiba menekan tangannya, membuat serangannya meleset atau melemah.
Tetua Feng berkeringat dingin. Apa yang terjadi? Kenapa hukum alam di tempat ini seolah-olah bekerja melawan aku?
Ia tidak menyadari bahwa jauh di belakang, Xing Shenyuan sedang berdiri di atas sebuah menara pengawas tua, menggerakkan jari-jarinya di udara seolah sedang memainkan instrumen musik yang tak terlihat.
Dengan Inti Kekacauan Sempurna, Shenyuan bisa memanipulasi Qi alam di sekitarnya tanpa perlu berada dekat dengan target. Ia sedang "bermain-main" dengan Tetua Feng, membuat sang ahli Ranah Jiwa Baru Lahir itu terlihat seperti seorang amatir yang sedang belajar bertarung.
Setiap kali Tetua Feng ingin mengeluarkan teknik pamungkasnya, Shenyuan akan mengganggu aliran Qi di meridian pria tua itu dengan getaran frekuensi rendah. Hasilnya, Tetua Feng mengalami backlash energinya sendiri berkali-kali.
"Puf!" Tetua Feng memuntahkan darah. Wajahnya pucat pasi. "Tempat ini... tempat ini terkutuk! Formasi pelindungnya masih sangat kuat!"
"Mundur! Semuanya mundur!" perintah Tetua Feng dengan suara gemetar.
Ia tidak lagi peduli dengan Ye Chen atau penyelidikan. Ketakutan akan kematian telah menguasai jiwanya. Ia menyambar kerah baju Ye Chen dan melesat pergi dengan kecepatan penuh, meninggalkan anggota Penegak Hukum yang kocar-kacir melarikan diri dari kejaran Naga Banjir.
Beberapa jam kemudian, keheningan kembali pulih.
Shenyuan berjalan santai menuju area gubuknya yang sudah hancur. Naga Banjir muncul dari balik pepohonan, menundukkan kepalanya yang besar di depan Shenyuan dengan penuh rasa hormat, seolah sedang melaporkan keberhasilannya.
"Kerja bagus," ucap Shenyuan sambil mengelus tanduk naga itu. "Kembalilah ke kolammu. Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izinku."
Naga itu menghilang ke dalam kabut.
Shenyuan kemudian menatap ke arah bayangan pohon besar di dekatnya. "Berapa lama lagi kau akan bersembunyi di sana? Aku tahu kau tidak pergi bersama mereka."
Sesosok wanita berpakaian putih keluar dari balik bayangan. Itu adalah Su Yan, Saintess dari Balai Pengobatan Surgawi. Ia tidak ikut melarikan diri; sebaliknya, ia menggunakan teknik penyembunyian tingkat tinggi untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Wajah Su Yan pucat, matanya bergetar menatap Shenyuan. Ia telah melihat semuanya—bagaimana Shenyuan memanipulasi energi alam untuk mempermainkan seorang ahli Ranah Jiwa Baru Lahir.
"Kau... kau bukan manusia," bisik Su Yan dengan suara bergetar. "Tidak ada kultivator di ranah fana yang bisa memanipulasi hukum dunia seperti itu."
Shenyuan berbalik, menatap Su Yan dengan mata yang kini memancarkan cahaya ungu-keemasan yang agung. "Saintess Su, kau adalah wanita yang cerdas. Orang cerdas biasanya tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam jika ingin melihat matahari esok hari."
Su Yan merasa kakinya lemas. Tekanan dari aura Shenyuan membuatnya merasa seperti seekor semut di hadapan penguasa alam semesta.
"Apa... apa yang kau inginkan?" tanya Su Yan, mencoba mengumpulkan keberaniannya.
Shenyuan melangkah mendekat, aroma dingin dan misterius menyelimuti Su Yan. "Aku butuh seseorang di dunia luar. Seseorang yang memiliki akses ke sumber daya langka dan informasi politik tanpa menimbulkan kecurigaan. Balai Pengobatan Surgawi adalah posisi yang sempurna."
Su Yan tertegun. "Kau ingin aku menjadi matamu?"
"Bukan mata," koreksi Shenyuan sambil mengangkat dagu Su Yan dengan ujung jarinya. "Aku ingin kau menjadi wakilku. Sebagai gantinya, aku akan memberimu teknik alkimia kuno yang bisa membuat sektemu memimpin seluruh benua ini dalam waktu satu tahun."
Su Yan menelan ludah. Ini adalah kesepakatan dengan iblis, atau mungkin dengan dewa. Namun, melihat kekuatan yang dimiliki Shenyuan, ia tahu bahwa menolak bukanlah pilihan yang bijak.
"Aku... aku setuju," jawab Su Yan pelan.
Shenyuan tersenyum puas. "Bagus. Sekarang, bantulah aku membangun kembali gubukku. Seorang pangeran terbuang butuh tempat tidur yang layak, bukan?"
Su Yan ternganga. "Kau... kau ingin seorang Saintess sepertiku membantu membangun gubuk kayu?"
"Kenapa tidak? Anggap saja ini latihan fisik pertama untukmu," jawab Shenyuan santai sambil mulai mengangkat balok kayu.
Di bawah langit yang mulai menggelap, seorang pangeran terbuang dan seorang Saintess agung mulai bekerja di tengah puing-puing, sementara di kejauhan, dunia luar mulai gemetar menyambut badai yang sedang disiapkan dari dalam sebuah makam tua yang sunyi.