Dengan kasar Arga melepas manik-manik yang menghiasi kepala istrinya, melepas kasar jilbab beserta ikatan rambutnya. Banyak helaian rambut yang tercabut membuat Mawar meringis kesakitan.
“hentikan aku mohon!! Hiks hiks”
Allih-alih memperdulikan Mawar yang menangis ketakutan Arga lebih memilih meneruskan perbuatannya memaksa melepaskan kebaya putih yang menutupi tubuh mawar. Sekuat apapaun mawar melawan jelas tenaganya tak sebanding dengan Arga yang kini telah tersulut emosi. Perkataan mamahnya mengiang jelas difikirannya bukan pernikahan seperti ini yang mawar harapkan, memang dengan Arga ia ingin membangun rumah tangga tapi tidak seperti ini. Dirinya dipaksa melepas pakaian dengan kasar oleh suaminya sendiri hingga kini ia sudah pasrah karna kebaya yang menutupi tubuh atasnya telah terlepas menyisakan bra hitam yang dengan setia menutupi gunung kembarnya. Arga menghentikan aktivitasnya menatap manik mata sang istri yang segera menunduk ketakutan.
“ini pilihanmu Mawar, jangan salahkan aku”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon afrabaik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang mengejutkan
“maaf yah, mas gk bisa anter kamu”
“gkpp mas, aku bisa sendiri kok”
“kalo begitu salam buat ibu dan ayah”
“iya”
Cup!
Mawar pergi mengendarai mobil alif, menuju bandung untuk menemui kedua orangtuanya. Meminta do’a sebelum sidang besok.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya riko datang. Mereka pergi untuk mencari tahu informasi tentang echa. Mulai dari tempat sekolahnya dulu sampai beberapa rumah yang ia tinggali sebelum bertemu dengan alif.
“permisi pak, boleh tanya sesuatu” tanya alif pada salah satu warga
“iya mas ada apa??”
“bapak kenal wanita ini?? Dia tinggal disini dulu saat dia mungkin SMA”
“ooooh, neng meli?? Iya iya bapak tau, dia pindahan dari bogor kalo tidak salah”
“pindahan??”
“iya, dia anak sebatang kara saat pidah kesini, lalu setelah dia lulus SMA dia pindah lagi katanya untuk melanjutkan kuliah”
“ohh, apa bapak tau alamatnya dulu yang di bogor??”
“hmmmm, sepertinya ketua RT tahu mas, bisa tanya langsung saja kesana”
“oh terimakasih pak klo begitu”
“sama-sama”
Merekapun melanjutkan penelusuran, mengunjungi rumah ketua RT dan segera berangkat setelah mendapatkan alamatnya.
“jika kita telusuri lebih dalam, aku rasa echa memang bukan wanita biasa”
“aku menyesal mempercainya begitu saja. Seharusnya aku memeriksa latar belakangnya dulu sebelum benar-benar menolongnya”
“kini kamu menyesal lif??”
“tidak, aku tidak pernah menyesal membantu orang lain. Hanya saja aku terlambat menyadari hal yang harusnya aku utamakan, mungkin sebenarnya dari dulu dia tidak pernah membutuhkan bantuan secara finansial tapi secara batin mungkin, aku belum tahu pasti”
“disana” tunjuk riko pada salah satu gang bertuliskan ‘alanggrang’
“benar”
Alif membelokan mobilnya, menelusuri jalan berbatu menuju desa tempat echa sebelumnya tinggal. Mereka berhenti di halaman sebuah rumah kecil, berdinding bilik dan masih beralaskan tanah. Genting yang sangat usang menambah ketidak layakan sebuah ruamah tinggal. Beberapa menit yang lalu, mereka menanyakan rumah tempat tinggal melinda dan disinilah mereka sekarang. Kebanyakan dari warga yang mereka tanya hanya mengetahui wajahnya saja, tidak dengan Namanya.
“permisi bu” riko bertanya pada salah satu warga yang lewat sambil menggendong cucian
“oh iya, aya naon?? (ada apa)”
“apa ibu kenal wanita yang ada di foto ini??”
“hmmm, oooooh neng fera?? Tau ibu tau”
“fera??” tanya alif penasaran
“iya neng fera, Namanya kan siapa gitu yah, hilap (lupa) pokoknya nama depannya bagus gitu lah cuman ya sering dipanggil fera soalnya nama belakangnya fer… fer apa gitu ahh ibu mah udah kolot jadi lupaan kitu, hampura nya”
“oh iya gkpp bu, tapi kok rumahnya kosong gini yah bu??”
“rumah ini memang sudah lama kosong, semenjak ibunya meninggal gara-gara gantung diri”
“gantung diri?!” riko syok sekaligus merinding mendengarnya
“iya, dulu waktu neng fera pindah kesini saat SMP klo gk salah, dia datang Bersama ibunya, terus 2 tahun setelahnya, saat hari kelulusan, saat neng fera pulang, ibunya sudah gantung diri di dalam kamar dan meninggal dunia. Tidak lama dari itu, neng fera pindah ke Jakarta dibawa mamang dan bibinya”
“mamangnya??”
“iya, katanya sih gitu. yang ibu tau ya hanya itu”
“ibu tau dimana alamat rumah sebelum mereka pindah kesini??”
“ohh kalo itu ibu tau, soalnya ibunya neng fera teh sohib pisan sama saya dulu. Saya juga gk nyangka dia tega-teganya ninggalin anaknya dan bunuh diri seperti itu”
Setelah mendapatkan informasi alamat rumah echa yang kebetulan ternyata ada di bandung, mereka langsung tancap gas kesana. Hasrat penasaran semakin membara, menggunungkan ribuan pertanyaan di otak masing-masing. Larut dalam opini tanpa bisa berkata-kata membuat perjalanan sangat sepi. Semakin dekat dengan tempat tujuan semakin membuat jantung mereka lebih cepat memacu. Hingga sampailah mereka di sebuah rumah megah nan elit di perumahan tersohor yang ada di bandung. Setelah mendapatkan sedikit informasi dari satpam di depan gerbang perum akhirnya mereka sampai disana.
Sulit mencari informasi seputar echa di tempat itu, karena rata-rata tetangga sekitarnya adalah orang baru. Satu jam door to door tapi tidak membuahkan hasil.
“mau tanya siapa lagi??” tanya riko sambil menyesap es teh manis dalam kantong sambil duduk di trotoar
“hmmmm… entahlah, kita harus cari seseorang yang kelihatan tua”
“seperti itu??” riko menunjuk petugas pembersih jalan yang kelihatan sangat tua renta. rambutnya dipenuhi uban, raut wajahnya sangat tidak bersahabat (tanpa ekspresi), otot otot wajahnya keluar seperti sering mengangkat beban berat, dan tubuhnya dipenuhi noda noda berbau tidak sedap. seperti bau amis. bahkan dari kejauhan sekalipun, tercium jelas.
Tanpa menyambut pertanyaan riko, alif segera berdiri, menghampiri bapak tua pembersih jalan.
“permisi pak” tanyanya
Bapak tua itu hanya melirik tanpa menjawab.
“permisi pak” ulangnya
Bapak tua itu semakin menjauh.
“sangat misterius. Semakin dalam aku mengetahui informasi tentang echa, semakin menyeramkan. Lihatlah lif, bulu kudukku sampai berdiri semua” riko memperlihatkan bulu kuduk yang ada di kedua tangganya
Tanpa menanggapi riko, alif merebut es teh manis yang ia pegang.
“hei hei mau diapakan es teh manisku!!” teriaknya
“bapak mau es the manis ini??” alif memberikannya pada bapak tua itu
Si bapak tua hanya melirik es teh yang alif sodorkan, kemudian mengambilnya dan menyesapnya sekali sesapan langsung habis.
“bapak mau makan??”
Tanpa respon apapun, si bapak kembali mengacuhkan alif, berjalan menyeret peralatan bersih-bersihnya.
“tidak berhasil kan?? Hari gini mana mempan di sogok pakai es teh manis, bekas lagi. haduh lif alif”
Wajah alif datar, masih memperhatikan dengan seksama langkah si bapak tua. Alif berjalan mengikutinya, lalu tiba-tiba berhenti, lalu berjalan lagi dan tiba-tiba berhenti lagi. setelah itu alif tersenyum seperti sangat bahagia. Riko yang menyadari keanehan itu segera menepuk bahu alif.
“aww!!” alif menyapa bahunya
“apaan sih yang kamu lakukan??! Kamu gila?? Apa mungkin echa melakukan sihir?? Kenapa jalan berhenti jalan berhenti lalu tersenyum seperti orang gila!”
“lihat itu” alif merangkul riko, memfouskan pandangannya pada bagian bawah si bapak tua.
“perhatikan ini baik-baik” alif mulai kembali berjalan. Saat mereka berjalan mengikuti bapak tua, si bapak mengangkat alat-alat pembersihnya, hingga tidak menimbulkan suara. Dan saat mereka berhenti mengikutinya, si bapak tua kembali menyeret alat-alat bersihnya.
“ohhhhhh… lalu??” tanya riko
“ya ampun!! Itu artinya, dia menginginkan kita untuk mengikutinya”
“oohhh…”
Akhirnya mereka mengikuti si bapak tua, menuju rumah … makan di ujung perumahan.
“oh ya tuhan, ternyata dia lapar lif” riko menepuk jidatnya sambil tertawa
Sementara alif hanya mendesah kecewa.
Si bapak tua melirik riko dan seketika itu riko berhenti tertawa. Mereka mengikuti bapak tua memasuki rumah makan yang sangat sepi. Tercium bau amis ketika mereka memasuki warung. Si bapak duduk di ujung, tanpa berkata apa-apa, mba warung dengan sigap mengambilkannya sepiring nasi, beserta 3 paha ayam yang terlihat seperti belum matang.
“mau??” tanya mba warung pada riko, suara lembut mba warung terkesan sangat horror.
“ti ti tidak, aku tidak suka makan” jawabnya gagap, sambil terus memegangi lengan alif.
setelah menyaksikan bapak tua makan menghabiskan setumpuk nasi dan lauknya selama kurang dari 5 menit, akhirnya mereka berani mendekat.
“apa yang ingin kalian tanyakan??” suara parau si bapak tua membuat bulu kuduk kembali meremang.
“apa bapak mengenal wanita yang ada di foto ini??” tanya alif menyodorkan foto melinda di atas meja
“ida, fera, meli, atau echa??”
“ba bapak tau??” tanya riko jauh lebih terkejut dari sebelumnya
“sebaiknya kalian tidak mengenalnya atau hidup kalian akan cepat berakhir”
“be be berakhir??” riko semakin susah menelan salivanya.
“saya orang yang sangat dekat denganya, bisa bapak ceritakan masa lalunya??”
“kalian akan sangat terkejut” jawabnya menyeringai
“pergilah sebelum menyesalinya” lanjut si bapak tua sambil tertawa mistis
“saya tidak akan menyesalinya, apapun yang terjadi. Tolong beritahu saya”
“lif” riko menarik lengan baju alif, ia merasakan aura yang sangat mencekam.
“kamu yakin anak muda??”
“saya…
buat author, semangat ya, tetap lanjutkan donk ceritanya...