Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rupa Dalam Bingkai
Kawasan Kota Tua, Jakarta, Pukul 07.30
Fajar baru saja usai, menyisakan langit berwarna biru pucat. Sinar matahari pagi yang masih malu-malu menerpa fasad-fasad bangunan kolonial berwarna kusam, menciptakan bayangan panjang dan dramatis.
Di sepanjang Jalan Kali Besar Barat, tim Project PAMOR sudah bergerak.
Suasana pagi itu penuh dengan energi fokus yang terasa. Andika dan Roni sibuk menata peralatan lighting portable dan reflektor di depan Gedung Chandranadi, sebuah bangunan tua bergaya Art Deco yang kini jarang dibuka untuk umum. Terima kasih izin dari Kirana, mereka bisa memiliki ruang dan waktu eksklusif.
Ferdy berdiri beberapa meter dari bangunan, kamera DSLR-nya tergantung di leher, matanya memindai setiap detail: pola cahaya di jendela kaca patri yang retak, tekstur plester yang mengelupas membentuk peta abstrak, lengkungan pintu kayu besar yang lapuk. Dia mengenakan celana cargo praktis, kaos hitam, dan vest fotografer penuh saku. Topi bucket menaungi wajahnya dari sinar matahari yang mulai terik.
"Lighting check, Dik!" teriak Ferdy ke arah Andika yang sedang mengatur lampu.
"Sudah! Softbox di kiri, reflector kanan. Natural light dari depan perfect," balas Andika.
Dasima hadir di tengah mereka. Hari ini, energinya terasa lebih terkonsentrasi, seperti sebuah medan tenang yang melingkupi seluruh lokasi.
Dia melayang di dekat Ferdy, matanya yang seperti madu mengamati setiap gerakannya. Dia senang melihat Raden-nya dalam elemennya: memimpin, kreatif, penuh kekuasaan atas visinya.
Dia memancarkan energi ketenangan dan dukungan, membantu menjaga konsentrasi tim dan mengusir gangguan kecil seperti rasa lelah atau frustasi teknis.
---
Pukul 09.45
Pemotretan berjalan intens. Sudut demi sudut ditangkap. Ferdy kadang memanjat tangga portabel untuk mendapatkan angle tinggi, kadang merangkak di lantai berdebu untuk low angle. Wajahnya penuh konsentrasi, jari-jarinya lincah mengatur setting kamera.
Kirana tiba sekitar jam 9, sesuai janjinya. Dia tampil lebih praktis namun tetap stylish: celana cargo putih, tank top hitam, kemeja flannel kotak-kotak diikat di pinggang, dan sepatu boots kulit. Rambutnya diikat kuda tinggi. Dia membawa dua termos besar berisi kopi dan teh untuk tim, serta snack.
"Pagi semua! Ini ada minuman," sapa Kirana dengan ramah, membagikan termos. Saat sampai di Ferdy, dia memberikannya dengan senyuman khusus. "Untuk sang sutradara."
"Wah, makasih," jawab Ferdy sambil menerima, sedikit kaget oleh perhatiannya.
"Progressnya bagaimana?" tanya Kirana, berdiri di samping Ferdy, mengikuti pandangannya ke arah bangunan.
"Luar biasa. Cahaya pagi ini sempurna," jawab Ferdy antusias. "Lihat bayangan di kolom itu, bentuknya seperti… tulang waktu."
Kirana mendengarkan, tersenyum. Dia tidak
banyak bicara, hanya mengamati Ferdy bekerja. Ada kekaguman yang jelas di matanya.
Dasima, dari posisinya di dekat pintu bangunan, memperhatikan interaksi itu. Ada kecemburuan, tapi dia berusaha mengendalikannya. Prioritasnya adalah kesuksesan Ferdy hari ini.
---
Pukul 11.20
Ferdy menemukan sudut yang sempurna di dalam lobi gedung. Sebuah lorong sempit dengan jendela tinggi di ujungnya, dimana seberkas sinar matahari masuk seperti pedang cahaya, menembus debu yang menari-nari di udara. Itu momen magis.
Dia membidikkan kameranya, mengatur komposisi dengan cepat. Dia ingin menangkap keheningan dan keagungan ruang itu.
"Semua diam!" perintahnya pelan. Tim membeku.
Ferdy menekan tombol rana setengah, mengunci fokus pada partikel debu yang berkilauan dalam sorotan cahaya. Detik-detik berlalu. Lalu, sesuatu bergerak di dalam bingkai.
Di tengah sorotan cahaya, tepat di titik fokusnya, sebuah wujud muncul.
Seorang perempuan.
Berkebaya biru tua, dengan rambut hitam bergelombang panjang terurai di bahu. Wajahnya samar-samar, transparan, seperti terbuat dari asap dan cahaya.
Tapi cukup jelas untuk dikenali: mata seperti madu yang penuh kerinduan, hidung mancung, bibir yang tersenyum lembut dan sedih. Itu adalah wajah yang pernah ia "rasakan" dalam kesan malam itu. Dasima.
Dia berdiri di sana, di tengah cahaya, menatap langsung ke lensa kamera. Sebuah tatapan yang berisi lima abad penantian, cinta, pengorbanan, dan… perpisahan yang tak terucapkan.
Ferdy membeku. Jari telunjuknya yang hendak menekan rana penuh, tergantung. Napasnya tertahan. Jantungnya berdetak kencang sekali, seperti hendak meledak dari dadanya.
Dasima.
Dan dalam sekejap itu, bukan hanya gambar yang ia tangkap. Sebuah gelombang ingatan—bukan ingatan visual, tapi ingatan perasaan—menerjangnya seperti tsunami.
Rasa cinta yang mendalam, murni, dan menyakitkan. Rasa kehilangan yang menghancurkan. Bau tanah basah dan darah. Suara bisikan, "Kita akan bertemu lagi, Raden."
Dan sebuah penantian yang panjang, sunyi, dan sepi di dalam kegelapan ruang-ruang bersejarah. Pengorbanan. Pengorbanan seorang perempuan yang memilih menjadi abadi hanya untuk sebuah janji.
Semuanya datang sekaligus. Terlalu banyak. Terlalu kuat.
"Dhag-dhug… dhag-dhug…"
Jantungnya berdebar tak karuan. Dadanya sesak, seperti dihimpit batu besar. Napasnya tersengal. Matanya berkaca-kaca, namun tak bisa berkedip. Dia masih menatap viewfinder, di mana wujud Dasima masih ada, perlahan mulai memudar.
"Klik."
Tanpa disadarinya, jarinya menekan tombol rana. Kamera menangkap momen itu: seberkas cahaya, partikel debu, dan sebuah siluet perempuan anggun yang hampir transparan di tengahnya.
Lalu, dalam kedipan mata berikutnya, wujud itu hilang. Viewfinder hanya menunjukkan lorong kosong dengan cahaya dan debu.
Tapi kerusakan sudah terjadi di dalam diri Ferdy. Perasaan yang terlontar tadi meninggalkan bekas yang dalam. Dia terhuyung mundur, tangannya melepaskan kamera yang tergantung di strap. Tubuhnya gemetar.
"Andika…" panggilnya, suaranya parau dan kecil.
Tapi Andika sedang sibuk dengan lighting di luar, tidak mendengar.
Yang mendengar adalah Kirana. Dari posisinya di ambang pintu, dia melihat perubahan drastis pada Ferdy: wajah yang tiba-tiba pucat pasi, keringat dingin di pelipis, tubuh yang goyah.
"Ferdy!" Kirana bergegas mendekat, menangkap lengan Ferdy sebelum ia terjatuh.
"Kamu kenapa? Sakit?"
Ferdy memandang Kirana, tapi matanya kosong, seperti masih melihat sesuatu yang lain. "Aku… aku melihat…"
"Kamu kepanasan? Dehidrasi?" Kirana khawatir. Dengan sigap, dia menuntun Ferdy keluar dari lorong gelap ke area lobi yang lebih terang, mendudukkannya di sebuah kotak kayu tua. "Duduk dulu. Jangan bergerak."
Dia mengambil botol air putih dari tasnya, membukanya, dan menyodorkannya ke Ferdy.
"Minum. Pelan-pelan."
Ferdy menurut, meneguk air dengan tangan yang masih gemetar. Rasa dinginnya sedikit membawanya kembali ke realitas. Tapi perasaan sesak dan gelombang emosi dari "ingatan" tadi masih mengganjal di dadanya.
"Kamu perlu istirahat," kata Kirana, suaranya lembut namun tegas. Dia berlutut di depan Ferdy, matanya penuh perhatian yang tulus.
Tangannya dengan naluri reflek membenarkan topi bucket Ferdy yang miring, menyentuh dahinya dengan punggung tangan untuk mengecek suhu. "Panas nggak? Kamu tiba-tiba kayak orang mau pingsan."
Sentuhan dan perhatian Kirana yang hangat dan nyata itu kontras dengan kehadiran Dasima yang dingin, samar, dan penuh hantaman masa lalu. Ferdy bingung. Dunia di sekelilingnya berputar.
"Gue… gue cuma kaget aja," akhirnya Ferdy bisa bicara, mencoba menenangkan diri dan Kirana. "Mungkin emang kurang minum. Makasih."
"Jangan dipaksain," kata Kirana. "Kamu fotografernya, kalau kamu jatuh sakit, project berantakan. Istirahat dulu 15 menit. Andika dan Roni bisa handle dulu."
Dari kejauhan, di sudut lobi yang gelap, Dasima berdiri. Wujudnya sangat samar, hampir tak terlihat bahkan oleh dirinya sendiri.
Usaha untuk memproyeksikan dirinya di titik cahaya tadi—sebuah respons bawah sadar terhadap keinginan Ferdy untuk melihatnya—telah menguras energinya secara drastis. Dan dia melihat akibatnya: Ferdy yang terguncang, hampir kolaps. Dan Kirana yang dengan sigap dan penuh kasih merawatnya.
Rasa sakit di hati Dasima lebih parah dari kehabisan energi. Dia telah menyakiti Raden-nya, tanpa bermaksud. Dan wanita lain—dengan wajah yang dikenalnya—ada di sana, memberikan kenyamanan yang nyata yang tak bisa ia berikan.
Maafkan aku, Raden, bisiknya dalam hati, sebelum energinya benar-benar melemah dan dia terpaksa menarik diri ke dalam "istirahat", menyatu dengan energi tua bangunan itu untuk memulihkan diri.
---
Pukul 16.00 – Setelah Pemotretan
Syukurlah, setelah istirahat dan minum, Ferdy perlahan pulih. Dia memaksakan diri untuk menyelesaikan shooting, meski hatinya masih berdebar-debar dan pikirannya terus kembali ke gambar yang tertangkap kamera. Mereka berhasil mendapatkan semua shot yang diinginkan. Pemotretan dinyatakan sukses.
Untuk merayakan dan melepas lelah, Andika mengusulkan untuk nongkrong di sebuah cafe modern yang tak jauh dari Kota Tua, di kawasan Pasar Baru.
---
Cafe "Moss & Marble", Pukul 17.30
Cafe dengan konsep urban garden itu nyaman. Mereka duduk di sofa panjang, dengan meja rendah penuh gelas minuman dan kudapan kecil. Suasana rileks setelah seharian kerja keras. Andika dan Roni bersemangat membahas hasil foto, Kirana sesekali menyumbang ide untuk post-production.
Ferdy duduk agak menyendiri, menyeruput kopi dinginnya. Pikirannya masih di foto itu. Dia ingin sekali segera memeriksa kamera, tapi ia takut. Takut melihatnya lagi. Takut konfirmasi bahwa itu nyata.
Tiba-tiba, perhatian mereka teralihkan oleh seorang pria yang memasuki cafe. Pria itu tinggi, berpenampilan necis dengan kemeja linen putih digulung hingga siku, celana chino, dan sepatu loafers kulit.
Wajahnya tampan, dengan senyum percaya diri. Matanya langsung menyapu ruangan dan berhenti pada meja mereka. Lebih tepatnya, pada Kirana.
"Kirana! Wah, kebetulan sekali!"
Kirana menoleh, dan ekspresi ramahnya sedikit mengeras. "Oh, Kevin. Hi."
Kevin mendekat dengan langkah santai. "Dari jauh aku sudah mengenalimu. Lagi meeting?"
"Bukan, lagi santai dengan teman-teman kerja," jawab Kirana singkat.
Kevin memandang sekeliling meja, menyambut Andika dan Roni dengan anggukan, lalu pandangannya tertuju pada Ferdy. Ada sedikit penilaian di matanya—mungkin melihat pakaian Ferdy yang masih sedikit berdebu dan sederhana.
"Kerja apa?" tanya Kevin, tetap sopan namun terasa menggali.
"Kami fotografer," jawab Andika.
"Ah, kreatif. Bagus." Kevin kemudian mengalihkan perhatian penuh pada Kirana.
"Ayahku bilang kamu lagi sibuk bantu-bantu di galeri. Kapan kita bisa dinner lagi? Sudah lama kita tidak ketemu."
Kirana terlihat tidak nyaman. "Aku sedang sibuk dengan S2 dan project-project ini, Kevin. Lain kali saja."
"Jangan begitu dong. Ayahku dan ayahmu kan sudah… kamu tahu," desak Kevin dengan senyum yang tidak bisa ditolak. Dia jelas berasal dari kalangan yang sama dengan Kirana, dan merasa punya "hak".
Ferdy memperhatikan. Ada sesuatu dalam sikap Kevin yang membuatnya tidak suka. Sebuah kepemilikan yang dipaksakan.
Kirana melihat ke arah Ferdy, seolah mencari penyelamat. "Kevin, ini teman kerjaku, Ferdy. Ferdy, ini Kevin, anak rekan bisnis ayahku."
Ferdy mengangguk dingin. "Halo."
Kevin membalas anggukan, lalu kembali ke Kirana. "Gimana? Weekend ini? Ada resto Perancis baru di Plaza Senayan, katanya bagus."
Kirana tampak terjepit. Di situlah Ferdy, tanpa berpikir panjang, tiba-tiba berkata, "Maaf, Kirana weekend ini sudah ada komitmen untuk finalisasi editing project kita. Jadwalnya ketat."
Suasana hening sejenak. Andika dan Roni melongo. Kirana menatap Ferdy dengan mata berbinar penuh rasa terima kasih.
Kevin memandang Ferdy dengan lebih seksama, kali ini dengan sedikit permusuhan. "Oh? Project yang sama?"
"Iya," jawab Ferdy dengan tenang. "Deadline minggu depan. Kirana sebagai koordinator harus approve semua final artwork."
Kevin tertawa kecil, sinis. "Oke lah. Kerja memang penting. Tapi jangan lupa hidup, Kirana. Aku tunggu kabarmu." Dia akhirnya pergi dengan anggukan singkat, meninggalkan suasana agak canggung.
Setelah Kevin pergi, Kirana menghela napas lega. "Terima kasih, Ferdy. Dia memang agak… persistent."
"Siapa dia?" tanya Roni penasaran.
"Anak salah satu konglomerat. Orang tua kami berteman. Dia… berpikir ada sesuatu yang lebih di antara kami, padahal tidak," jelas Kirana, matanya sekali lagi menatap Ferdy dengan penuh arti.
Ferdy hanya mengangguk. Tindakannya tadi spontan, hanya untuk membantu Kirana yang tampak tidak nyaman. Tapi dalam hatinya, ia masih diselimuti oleh bayangan wajah Dasima di viewfinder dan gelombang emosi menyakitkan yang menyertainya.
Pulang ke kosan malam itu, hal pertama yang Ferdy lakukan adalah mengeluarkan memory card dari kameranya. Dengan tangan gemetar, dia memasukkan ke laptop dan membuka folder hari ini.
Dia menggulir cepat, dan akhirnya berhenti.
Di sana. Foto nomor 347.
Lorong dengan pedang cahaya. Debu yang berkilauan. Dan di tengahnya, samar namun tak terbantahkan, sosok perempuan dengan kebaya biru dan rambut panjang. Wajahnya buram, tapi cukup untuk dikenali. Cantik. Anggun. Penuh duka.
Ferdy menatap foto itu lama sekali. Air mata tanpa sadar menetes di pipinya. Dia tidak tahu kenapa menangis. Tapi hatinya sakit. Sakit untuk Dasima. Sakit untuk pengorbanan yang ia rasakan lewat gelombang "ingatan" tadi.
"Dasima…" bisiknya, menatap gambar di layar.
"Apa yang sudah kau lalui untukku?"
Dan di sudut kamar yang gelap, Dasima yang energinya baru pulih separuh, mendengar bisikan itu. Dia melihat Ferdy menangis karena fotonya. Hancur hatinya. Dia ingin mendekat, memeluk, menjelaskan. Tapi dia takut. Takut membuat Ferdy semakin terguncang.
Malam itu, dua jiwa yang terpisah oleh zaman dan wujud, sama-sama berduka dalam keheningan mereka masing-masing: satu di depan layar laptop yang terang, satu di dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan dan rasa bersalah yang tak terhingga.