Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. PERTEMUAN SINGKAT
Pagi itu, kampus Universitas Internasional tampak lebih sibuk dari biasanya. Keyla berjalan terburu-buru menyusuri selasar fakultas hukum menuju perpustakaan pusat. Di tangannya, ia mendekap beberapa buku referensi yang cukup berat. Sejak pembicaraan tentang keluarga Dipta di warung pecel lele malam itu, pikiran Keyla sering melayang. Ia merasa sedang hidup bersama seorang pria yang memiliki ribuan rahasia di balik jas mahalnya.
Tepat saat ia berbelok di koridor gedung administrasi yang cukup sepi, ia melihat seorang pria paruh baya yang tampak kebingungan. Pria itu berdiri tegak, mengenakan setelan jas navy yang sangat rapi dan terlihat sangat mahal—potongan kainnya mengingatkan Keyla pada selera Dipta. Rambut pria itu sudah memutih seluruhnya, namun garis wajahnya masih tegas, memancarkan aura otoritas yang sangat kuat. Ia tampak seperti versi masa depan dari suaminya.
Pria itu sedang membolak-balik sebuah map, matanya menyipit menatap papan petunjuk arah.
"Maaf, Pak... apakah ada yang bisa saya bantu? Anda terlihat sedang mencari sesuatu," tanya Keyla lembut, menghentikan langkahnya.
Pria itu menoleh. Seketika, Keyla merasa sedikit merinding. Tatapan mata pria itu tajam, sangat mirip dengan tatapan Dipta yang seolah bisa menembus pikiran orang. Namun, ada sedikit binar keramahan yang tidak pernah ia temukan pada suaminya.
"Ah, ya. Saya mencari ruang Rektorat. Seharusnya ada di lantai ini, tapi sepertinya saya salah mengambil belokan," jawab pria itu dengan suara bariton yang berat dan tenang.
"Oh, Anda benar, Pak. Ruang Rektorat ada di gedung sebelah, terhubung melalui jembatan di ujung koridor ini. Mari, saya tunjukkan jalannya. Kebetulan saya juga searah ke sana," tawar Keyla sambil tersenyum tulus.
Pria itu mengangguk sopan. "Terima kasih, Nak. Maaf merepotkanmu. Saya jarang datang ke tempat luas seperti ini tanpa... pengawal." Ia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar berwibawa.
Mereka berjalan berdampingan. Keyla merasa ada energi yang sangat dominan dari pria di sampingnya ini, sebuah aura kekuasaan yang biasanya membuat orang ingin menunduk. Namun, keramahan pria itu membuatnya merasa nyaman.
"Anda mahasiswi di sini? Jurusan apa?" tanya pria itu sambil memperhatikan Keyla.
"Saya mahasiswi Hubungan Internasional, Pak. Baru semester pertama," jawab Keyla.
"Pilihan yang cerdas. Dunia ini butuh lebih banyak diplomat yang memiliki mata yang jujur seperti matamu," ujar pria itu tiba-tiba, membuat Keyla sedikit tersipu. "Saya selalu menyukai semangat anak muda. Mereka penuh dengan keceriaan, meski terkadang menyembunyikan badai di baliknya."
Keyla terdiam sejenak. Kalimat terakhir pria itu terasa sangat personal baginya. "Apa maksud Anda, Pak?"
Pria itu berhenti melangkah saat mereka sampai di pangkal jembatan penghubung. Ia menatap Keyla dalam-dalam. "Matamu, Nak. Kau tersenyum, kau tampak ceria membantu orang tua sepertiku, tapi matamu... matamu bicara hal lain. Ada beban yang sangat berat di sana. Sesuatu yang seharusnya belum dirasakan oleh gadis seusiamu."
Keyla merasa jantungnya berdegup kencang. Bagaimana mungkin orang asing ini bisa melihat apa yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari teman-temannya? "Saya... saya hanya sedikit lelah karena banyak tugas, Pak," elak Keyla sambil menunduk.
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat bijaksana namun penuh rahasia. Ia meletakkan tangannya di bahu Keyla sebentar—sebuah sentuhan yang terasa sangat protektif, hampir seperti seorang pelindung yang sudah lama mengenal seseorang.
"Jangan biarkan beban itu mematikan cahayamu, Keyla—namamu tadi Keyla, kan?"
Keyla mengangguk, terkejut karena pria itu mengingat namanya padahal ia baru menyebutnya sekali.
"Dunia ini memang keras, dan terkadang kita terjebak dalam situasi yang tidak kita inginkan. Tapi ingat, kau memiliki kekuatan untuk tetap menjadi dirimu sendiri, apa pun sangkar yang mengurungmu," bisik pria itu, kalimatnya terasa seperti mantra yang menenangkan jiwa Keyla yang lelah.
"Terima kasih atas nasihatnya, Pak. Itu sangat berarti bagi saya," ujar Keyla tulus. "Nah, itu dia pintunya. Anda tinggal masuk, asisten rektor pasti sudah menunggu di sana."
Pria itu mengangguk. "Terima kasih banyak, Keyla. Senang bertemu denganmu. Aku harap, suatu saat nanti, kita bisa bertemu lagi dalam suasana yang... berbeda."
Keyla memperhatikan pria itu berjalan menjauh dengan langkah yang penuh wibawa. Cara pria itu berjalan, cara ia membenahi jasnya, benar-benar bayangan Dipta di masa tua. Keyla merasa seperti baru saja berbicara dengan takdir.
Kejadian itu berlangsung sangat singkat. Doni, pengawal rahasia yang dikirim Dipta, saat itu sedang berada di toilet dan kehilangan jejak Keyla selama lima menit. Doni tidak menyadari bahwa di waktu yang singkat itu, Keyla baru saja berinteraksi dengan sosok yang sangat penting. Doni mengira Keyla hanya langsung menuju perpustakaan melalui rute biasa.
Keyla berdiri diam di koridor itu sejenak. Ia merasa aneh. Mengapa ia merasa sangat tenang setelah berbicara dengan pria asing itu? Mengapa pria itu terasa jauh lebih lembut dan pengertian daripada Dipta yang suka memaksa?
Jika Dipta adalah badai, pria itu adalah pelabuhan yang tenang, pikir Keyla.
Ia segera menepis pikiran itu dan bergegas menuju perpustakaan. Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat tanpa pengawasan itu adalah awal dari benang merah yang akan menariknya ke dalam rahasia terdalam keluarga Mahendra.
***
Bersambung...