Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24
Malam turun dengan cara yang tidak dramatis, tapi justru itulah yang membuatnya terasa berat. Tidak ada hujan, Tidak ada angin kencang. Hanya langit gelap dengan bintang-bintang yang malu-malu muncul, dan suara kendaraan jauh yang terdengar samar dari luar rumah. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, tidak terburu-buru, seolah tahu bahwa malam ini bukan malam yang perlu disorot berlebihan. Dari balik jendela kamar, Ryn Moa bisa melihat bayangan pepohonan yang diam, tidak bergoyang, tidak berisik. Dunia seperti sedang menahan napas bersamanya. Ryn Moa pulang ke rumah, mandi, memakai piyama, dan duduk di kasur. Rutinitas yang sangat biasa, yang seharusnya menenangkan. Biasanya, semua itu cukup. Setelah hari yang panjang, air hangat dan pakaian nyaman adalah penutup yang sempurna. Tapi malam ini, tubuhnya hanya mengikuti kebiasaan tanpa benar-benar hadir di dalamnya. Gerakannya otomatis, pikirannya tertinggal di tempat lain, di kampus, di lorong, di cara seseorang menatapnya terlalu lama tanpa berkata apa-apa.
Rambutnya masih sedikit lembap setelah keramas, piyama katun longgar membuat tubuhnya terasa ringan, tapi pikirannya tidak. Kepalanya penuh, dadanya sesak oleh hal-hal yang bahkan tidak ia rencanakan untuk dirasakan. Ia menggeser duduknya, menyandarkan punggung ke dinding, lalu menarik lutut ke dada. Napasnya tidak terengah, tapi juga tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang berputar di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa diberi nama tanpa membuat segalanya terasa lebih nyata dari yang ia siap hadapi. Ia duduk bersila di tengah kasur, memeluk bantal sebentar, lalu meletakkannya lagi. Tidak nyaman, Tidak bisa diam. Seperti ada energi asing yang membuatnya gelisah. Seperti hatinya sedang menunggu sesuatu, padahal ia sendiri tidak tahu apa.
Ia baru membuka ponselnya ketika ada pesan masuk. Getarannya halus tapi cukup untuk membuat jantungnya meloncat. Getaran kecil itu terasa jauh lebih besar dari ukurannya. Seolah ada kabel tipis yang langsung terhubung dari ponsel ke dadanya.
Namjoon:
Sudah sampai rumah?
Ryn Moa menatap layar lama. Jantungnya langsung berubah ritme. Bukan berdetak lebih cepat, tapi lebih dalam. Seperti ada sesuatu yang mengendap di setiap denyutnya. Ia membaca pesan itu sekali, Lalu dua kali. Lalu menatap nama Namjoon di layar, seolah nama itu sendiri bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam dadanya.
Kim Namjoon.
Nama yang beberapa minggu lalu hanya berarti kakak tingkat yang tenang, pintar, dan terlalu dewasa untuk berada di lingkaran perhatiannya. Nama yang belakangan ini terasa… berbeda. Lebih berat. Lebih dekat. Lebih sering muncul di kepalanya tanpa diundang.
Ryn Moa:
Sudah. Kamu?
Ia mengirimnya setelah ragu hampir sepuluh detik. Ibu jarinya sempat berhenti di atas layar, lalu menekan send dengan napas tertahan. Ia menyadari dirinya menahan napas terlalu lama, lalu menghembuskannya pelan setelah pesan terkirim. Seolah satu kata “kamu” saja sudah cukup untuk membuat jantungnya salah langkah. Butuh waktu satu menit sebelum balasan muncul. Satu menit yang terasa terlalu panjang dan terlalu singkat.
Ryn Moa memandangi layar sambil berbaring, lalu duduk lagi, lalu berbaring lagi. Ia menyusun berbagai kemungkinan jawaban di kepalanya, yang tenang, yang biasa, yang tidak terlalu peduli. Ia bahkan mencoba membayangkan jawaban paling netral, paling aman. Tapi nyatanya, ia tidak sedang menginginkan aman. Ia hanya takut pada apa yang akan terasa jika ia jujur. Namun semua itu runtuh begitu ada pesan masuk.
Namjoon:
Sudah. Hari ini kamu terlihat lelah. Kamu baik-baik saja?
Ryn Moa menutup wajah. Bukan karena malu saja, tapi karena perhatiannya terlalu tepat. Ia tidak tahu sejak kapan Namjoon memperhatikannya sedetail itu. Ia tidak tahu kapan ia mulai terbiasa diperhatikan tanpa merasa risih. Yang ia tahu, kalimat itu menembus pertahanannya dengan mudah. Ia menekan ponsel ke dadanya sebentar, seolah ingin menenangkan sesuatu di dalam sana. Ia tidak tahu harus menjawab apa tanpa terdengar berlebihan, tanpa terdengar lemah.
Ryn Moa:
Baik kok. Cuma pusing sedikit.
Kalimat itu bohong setengah mati. Pusingnya bukan di kepala tapi di hati. Ia tahu Namjoon mungkin bisa membaca kebohongan itu. Tapi ia juga tahu Namjoon tidak akan memaksanya mengaku. Dan justru itu yang membuatnya lebih gugup. Balasan langsung masuk tanpa jeda dan tanpa ragu.
Namjoon:
Minum air, lalu tidur lebih cepat.
Ryn Moa tersenyum kecil tanpa sadar. Senyum yang refleks, muncul sebelum pikirannya sempat mengomentari apa pun. Nada kalimat itu bukan perintah. Bukan juga saran yang menggurui. Lebih seperti sesuatu yang dikatakan seseorang yang sudah terbiasa memperhatikan dari jauh. Ia menghela napas, menaruh ponsel di samping, lalu meraih botol minum di meja kecil. Menyesap air perlahan. Air dingin mengalir ke tenggorokan, menenangkan sebagian ketegangan yang mengendap di dadanya. Ia memejamkan mata sebentar, membiarkan tubuhnya beristirahat, meski pikirannya masih belum mau diam. Hening satu menit, Hening yang seharusnya jadi penutup. Namun malam itu tidak berniat berhenti di sana. Pesan lain datang lagi.
Namjoon:
Moa.
Satu kata itu saja sudah cukup untuk membuat jantungnya menegang. Cara Namjoon memanggil namanya selalu pelan, selalu tanpa tambahan, terasa terlalu personal.
Namjoon:
Jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu.
Ryn Moa membeku. Tangannya berhenti di udara. Matanya kembali menatap layar. Apa dia tau Ryn Moa sedang overthinking karena dirinya? Pertanyaan itu menghantam pelan, tapi tepat. Ryn Moa menelan ludah. Dadanya terasa menghangat sekaligus menegang.
Ryn Moa:
Memikirkan apa?
Ia mengetiknya pelan. Berusaha terlihat santai. Berusaha terlihat tidak bersalah. Namun hatinya berisik. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri dengan jelas, nyaring, tidak mau disangkal.
Namjoon:
Hal-hal tentang siapa yang harus kamu suka.
Ryn Moa terpaku. Kalimat itu sederhana, tanpa emoji, tanpa tanda seru. Dan justru karena itu, dampaknya menghancurkan. Jantungnya berdetak seperti mau pecah. Ia duduk tegak. Punggungnya lurus. Bantal terjatuh ke samping tanpa ia sadari. Tangannya gemetar saat memegang ponsel.
Bagaimana dia bisa tahu?
Seberapa jelas perasaannya terlihat?
Apakah ia selama ini seterbuka itu?
Ryn Moa:
A, aku tidak memikirkan itu…
Huruf A di awal kalimat itu adalah bukti kepanikan yang tidak bisa disembunyikan. Ia bahkan bisa merasakan pipinya memanas meski sendirian di kamar.
Namjoon:
Kamu memikirkan itu sejak dua hari lalu.
Ryn Moa menutup mata. Tidak ada bantahan. Tidak ada penjelasan panjang, selain hanya fakta. Ia membaringkan tubuhnya telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Kipas angin berputar pelan. Jam dinding berdetak. Waktu terasa berjalan terlalu lambat dan terlalu cepat dalam satu tarikan napas. Dan di sela keheningan itu, notifikasi berikutnya masuk.
Namjoon:
Kalau kamu ingin tahu…
Ryn Moa menunggu dengan tangan gemetar. Ia tidak tahu apa yang akan datang setelah titik-titik itu. Dan justru itu yang paling menakutkan. Ia memeluk ponselnya dengan kedua tangan, seolah benda itu bisa menjatuhkan sesuatu ke dadanya kapan saja.
Namjoon:
Aku tidak keberatan kalau kamu mulai memperhatikanku juga.
Waktu seakan berhenti. Ryn Moa menutup layar, menggulingkan badan di tempat tidur, menjerit ke bantal dengan jeritan yang tertahan tanpa suara. Kakinya menendang kasur. Tangannya mencengkeram bantal. Rambutnya berantakan.
“TIDAAAAAK,” ia berbisik ke bantal.
Tuhan, kenapa pria paling tenang… paling lembut… paling diam… justru paling mematikan ketika bicara?
Ia berguling lagi, lalu berhenti. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ini tidak seharusnya terjadi, Ini tidak ada dalam rencana. Rencana awalnya sederhana, Suka satu orang. Fokus, tidak berbelok. Tidak ragu, Tidak ada ruang untuk seseorang seperti Kim Namjoon, yang datang tanpa gembar-gembor dan langsung mengacaukan segalanya. Ia duduk kembali. Rambut menutupi sebagian wajahnya. Tangannya ragu-ragu membuka ponsel lagi. Ia membuka pesan lagi, Ada satu pesan terakhir.
Namjoon:
Selamat malam, Moa.
Senyum, ya.
Ryn Moa menatap kalimat itu lama. Senyum, ya. Bukan jangan sedih, jangan pusing, jangan overthinking.
Hanya kata, senyum.
Pipinya memanas, Hatinya bergetar halus. Ia menyentuh pipinya sendiri. Hangat dan Nyata. Ia tertawa kecil. Suara yang hampir tidak terdengar. Tawa yang bukan karena lucu, tapi karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi. Pelan-pelan… tanpa ia sadari… jantungnya mulai bergerak ke arah yang salah. Bukan salah karena buruk, Tapi salah karena tidak direncanakan. Arah yang bernama, Kim Namjoon. Dengan lesung pipinya, dengan ketenangannya, dengan caranya berbicara pelan tapi langsung ke inti, dengan caranya hadir tanpa memaksa. Dan Ryn Moa tidak siap untuk ini.
Ia mematikan lampu kamar, berbaring miring, memeluk bantal. Ponselnya ia letakkan di samping, layar menghadap ke bawah, tapi tangannya masih menyentuhnya, seolah takut kehilangan koneksi. Hatinya sudah mulai jatuh. Bukan dengan terjun bebas, atau dengan ledakan. Melainkan dengan langkah kecil, pelan, pasti. Dan malam itu, Ryn Moa tertidur dengan satu senyum kecil yang tidak bisa ia sembunyikan. senyum seseorang yang baru saja menyadari bahwa hidupnya sedang berubah arah.
...⭐⭐⭐⭐...
Bersambung....