Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Kecewanya Abi
"Sudah berapa lama kamu dan dia berhubungan?” Ustaz Rahmat bertanya dengan suara tertahan.
Hanin diam. Tak berani menjawab.
“Sudah berapa lama?” ulangnya.
“Beberapa bulan, Bi .…”
Kursi kayu berderit saat Ustaz Rahmat berdiri. Beberapa bulan. Bukan khilaf satu kali. Bukan hanya terpeleset sesaat. Tak menyangka anak yang selalu dia banggakan karena Tahfiz Qur'an di usia muda sangat mengecewakannya.
“Namanya?”
“Fahmi ....” Hanin menjawab dengan pelan. Dia sadar dengan kesalahan yang diperbuat.
“Dia tahu kamu siapa?”
“Iya, Bi.”
“Dia tahu kamu anak siapa?”
“Iya, Bi .…”
“Dan dia tetap memelukmu di tempat umum tanpa hijab.”
Tidak ada yang bisa Hanin jawab. Karena semua benar. Semua memang salahnya. Bukan hanya salah Fahmi. Dia juga tak berpikir akan jadi begini.
Tamparan tidak datang. Bentakan tidak meledak. Justru itu yang membuat Hanin makin takut. Ayahnya berjalan ke jendela, membelakangi mereka.
“Abi gagal menjadi seorang ayah,” ucap Ustaz Rahmat dengan suara pelan. Sepertinya mencoba menahan emosi.
“Jangan bilang begitu, Bi. Abi tak salah!” Bu Salma terisak.
“Saya ceramah ke mana-mana soal menjaga anak. Menjaga kehormatan. Menjaga pandangan.” Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar pahit. “Ternyata rumah sendiri bocor.”
“Abi ….” Hanin menangis. “Maaf .…”
“Maaf tidak menghapus jejak. Maafmu pada Abi tak juga menghapus dosa mu. Dosa Abi juga, karena gagal mendidik anak.”
Langkah Ustaz Rahmat terdengar berat saat menuju kamar. Tidak ada lagi kalimat yang keluar dari lisannya. Tidak ada nasihat. Tidak ada dalil. Hanya punggung yang terlihat semakin tegang sebelum akhirnya pintu kamar tertutup pelan.
Bukan dibanting. Justru terlalu pelan. Itu yang membuat suasana terasa lebih menyakitkan.
Hanin berdiri terpaku beberapa detik. Rasanya seperti baru saja dihantam ombak besar, tapi ia masih dipaksa berdiri di pasir yang sama. Dadanya sesak. Tangannya dingin. Air mata terus jatuh tanpa bisa ditahan.
Ia menoleh pada ibunya.
Bu Salma masih duduk di kursi yang sama. Kedua tangannya menggenggam ujung mukena yang masih ia pakai sejak Maghrib. Tatapannya kosong, tidak marah, tidak juga lembut. Lebih seperti seseorang yang kehilangan pegangan.
“Umi …,” suara Hanin serak.
Tidak ada jawaban.
Hanin melangkah pelan, lalu berlutut di depan ibunya. Ia menunduk, seperti anak kecil yang sedang menunggu hukuman.
“Maafkan Hanin, Mi ….”
Bu Salma menarik napas panjang. Seolah sedang menahan sesuatu yang berat di dadanya.
“Umi tak tahu harus berkata apa, Hanin,” ucapnya akhirnya, suaranya lelah. “Umi sangat kecewa denganmu.”
Kalimat itu tidak keras. Tidak ada nada tinggi. Tapi justru itulah yang membuat Hanin merasa lebih hancur.
“Pukul saja Hanin, Mi!” Tangisnya pecah. “Semua salah Hanin. Hanin yang bodoh. Hanin yang khilaf. Pukul saja .…”
Bu Salma menatap anaknya lama. Mata yang biasanya penuh kasih itu kini dipenuhi luka.
“Apakah dengan memukul kamu semua akan kembali?” tanyanya pelan. “Apakah malu kami akan hilang? Apakah dosa kami sebagai orang tua yang gagal akan terhapus?”
Hanin tersentak. Apa yang uminya ucapkan seperti palu menghantam dadanya.
“Abi dan Umi tidak gagal ….” Ia menggeleng cepat, air matanya makin deras. “Aku yang salah. Semua itu dosaku. Aku yang bohong. Aku yang ingin merasa bebas. Aku yang sengaja melepas hijab hari. Abi dan Umi tak salah .…”
Bu Salma memejamkan mata. Air matanya jatuh juga akhirnya.
“Kamu tahu, Nak ….” Suara Umi terdengar bergetar, “Yang paling sakit itu bukan fotonya.”
Hanin menahan napas. “Yang paling sakit adalah bohongnya. Umi percaya kamu, tapi ternyata kamu tega membohongi kami.”
Kata “percaya” terasa seperti belati yang pelan-pelan diputar di dada Hanin.
Ia teringat bagaimana setiap pagi ia mencium tangan orang tuanya. Bagaimana ia menghafal Qur’an di ruang tengah. Bagaimana ayahnya selalu menyebut namanya dalam doa setelah tahajud. Semua itu kini terasa seperti ironi yang kejam.
“Maafkan Hanin, Mi.”
Bu Salma berdiri pelan. “Umi lelah.”
Tidak ada lagi kalimat penghiburan. Tidak ada pelukan.
Tanpa menunggu balasan Hanin, Bu Salma berjalan menuju kamar menyusul suaminya. Pintu kamar kembali tertutup.
Kini ruang tamu itu benar-benar sepi. Hanya ada Hanin. Dan penyesalan yang terasa terlalu besar untuk ditanggung sendiri.
Ia duduk di lantai. Tangisnya tidak lagi keras. Hanya isak pelan yang terputus-putus. Jam dinding berdetak pelan, seolah sengaja memperjelas kesunyian.
Rumah yang biasanya hangat kini terasa asing.
Hanin memeluk lututnya. Untuk pertama kalinya sejak berhubungan dengan Fahmi, ia benar-benar merasakan konsekuensi. Bukan sekadar rasa bersalah kecil yang bisa ditepis dengan tawa atau alasan. Ini nyata. Ini menyentuh orang tuanya. Ini melukai kepercayaan.
Dan yang lebih menyakitkan, ia tahu semua ini berawal dari satu kebohongan kecil.
“Aku cuma ingin merasa biasa. Aku hanya ingin seperti gadis desa lainnya,” gumamnya lirih.
Biasa seperti gadis lain yang bisa duduk santai di kafe tanpa merasa diawasi. Biasa seperti yang bisa tertawa tanpa memikirkan reputasi ayahnya. Biasa seperti yang bisa punya pacar tanpa bayang-bayang ceramah.
Tapi ia lupa satu hal. Ia bukan hanya dirinya sendiri. Ia adalah anak dari seorang ustaz yang dikenal banyak orang. Setiap langkahnya membawa nama keluarganya.
Beberapa menit berlalu. Atau mungkin setengah jam. Hanin tidak tahu pasti.
Akhirnya ia berdiri dengan kaki lemas. Ia melangkah menuju kamarnya.
Kamar itu masih sama. Rak buku tafsir di sudut. Al-Qur’an yang terbuka di meja belajar. Jadwal murajaah yang ditempel di dinding. Semua terlihat suci dan rapi.
Kontras dengan hatinya yang terasa kotor. Ia duduk di tepi tempat tidur dan meraih ponselnya. Satu nama langsung muncul di pikirannya, Fahmi.
Tangannya gemetar saat membuka kontak. Ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar.
Sekali. Dua kali. Lalu terdengar suara operator. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”
Hanin mengernyit. Ia mencoba lagi. Hasilnya tetap sama.
“Tidak mungkin …,” bisiknya.
Beberapa jam lalu Fahmi masih tertawa di hadapannya. Masih menggombal. Masih merangkulnya tanpa beban. Tidak mungkin sekarang nomornya tidak aktif.
Ia membuka WhatsApp.
Pesan terakhir dari Fahmi masih ada. Stiker tertawa. Foto kopi susu. Kalimat manja yang tadi terasa menyenangkan, kini terasa memuakkan.
Hanin mengetik cepat. “Kamu di mana? Abi tahu semuanya.”
Terkirim. Centang satu. Hatinya berdegup.Ia menunggu beberapa saat. Masih centang satu. Hanin menelan ludah. Ia mencoba menelepon lagi. Tetap tidak aktif.
Keringat dingin mulai terasa di punggungnya.
“Fahmi, jangan begini …,” gumam pada diri sendiri.
Ia membuka Instagram. Mencari akun Fahmi. Tapi sudah tidak ditemukan. Ia mencoba mengetik ulang. Masih tidak ada.
Dadanya mulai sesak. Ia membuka akun kedua. Kosong juga.
Seolah nama itu menghilang dari dunia maya. “Tidak … tidak mungkin,” bisiknya panik.
Ia mencoba mengingat. Tadi sore, setelah foto itu diambil, Fahmi sempat memegang ponsel cukup lama. Apakah dia sadar ada yang memotret? Apakah dia melihat seseorang?
Atau ... atau justru dia yang mengirim? Pikiran itu membuat Hanin merinding.
Tidak. Tidak mungkin Fahmi melakukan itu. Dia selalu bilang sayang. Dia selalu bilang ingin serius. Tapi kalau bukan dia, kenapa sekarang ia menghilang?
Hanin memeluk dirinya sendiri.Ia teringat ucapan abinya tadi. “Sudah berapa lama?”
“Beberapa bulan.”
Beberapa bulan kebohongan. Beberapa bulan pertemuan diam-diam. Beberapa bulan merasa bahagia di atas rasa bersalah.
Ia baru sadar, selama ini ia terlalu fokus pada perasaan sendiri. Pada kebutuhannya merasa dicintai. Pada sensasi diperhatikan.
Ia tidak pernah benar-benar memikirkan risiko. Air matanya kembali mengalir.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??