Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
“Aku hanya asal bicara.” Spencer segera menyela. “Lagipula siapa yang sejak awal bersikeras merasa tidak asing dengannya?” sambungnya santai.
Apa yang Spencer pikirkan memang wajar, alasan yang cukup logis untuk kemungkinan yang mungkin saja benar. Tapi kenapa hati Kay seakan menolak menerima penjelasan itu. Kay kembali menatap Axlyn. Wanita itu tetap diam dengan sikap profesionalnya. Tak ada bantahan, tak ada pengakuan Axlyn hanya menunduk menghindari tatapan Kay padanya.
Jika memang ada sesuatu di antara mereka, bukankah Axlyn seharusnya bereaksi? Bukankah matanya akan berbicara? Namun yang Kay lihat hanyalah ketenangan yang terlalu rapi. Sudah jelas jika wanita pada malam itu mengenali wajahnya. Jika memang itu Axlyn, mengapa wanita itu tidak langsung mengakuinya di pertemuan pertama mereka saat di restaurant. Bahkan sampai detik ini bersikap seolah mereka tidak saling mengenal sebelumnya.
“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” tanya Kay pelan, ingin memastikan sendiri jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan.
Axlyn mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus, terkendali. “Tidak, itu bukan saya.”
Entah mengapa jawaban yang Axlyn berikan membuat Kay merasa sedikit kecewa. Namun, apa daya ia harus menerima jawaban tersebut. Meski hatinya mengatakan hal yang berbeda, seakan yakin bahwa Axlyn adalah wanita pada malam itu yang kini tengah mengandung anaknya.
Kay bukan orang bodoh, pergerakan lembut yang terus Axlyn tunjukan pada perutnya sudah cukup untuk menanamkan kecurigaan di benaknya.
Spencer menepuk bahu Kay. “Kau terlalu banyak berpikir. Fokus saja pada misimu di sini. Lagipula sekarang tidak hanya orangmu yang sedang berusaha mencari wanita itu. Seluruh keluarga Xavier sedang berusaha membantumu, aku pun juga akan membantu.”
Noah menambahkan, “Benar sekali apa yang dikatakan oleh Dispenser yang satu ini. Tumben, dia cukup pintar kali ini.”
“Sialan kau, Noah! Berhenti memanggilku dengan sebutan itu atau aku akan menjadikanmu babysitternya Hezlyn selama kau berada di sini,” umpat Spencer jelas tidak terima.
“Sial, jangan sekali-sekali kau berpikir seperti itu ‘yah! Bocah setan itu hanya akan membuat hidupku seperti di neraka jahaman.” Dengan cepat Noah menolaknya.
“Akek Noah … Akeknya setan. Hhihiii…” celetuk Hezlyn yang tiba-tiba ikut bersuara, padahal sejak tadi diam dan fokus dengan mainannya. Mungkin karena namanya disebut, jadi dia ikut bersuara.
“Bwahahahaa… Kakek setan!” ledek Spencer.
“Sudahlah, Kay! Lebih baik ikut ke ruang kerjaku karena ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Kita abaikan saja Kakek setan yang satu ini.”
“Ooo, Dasar Dispenser sialan!” umpat Noah dengan rasa kekesalan di hatinya. Rupanya tidak Kakak maupun adiknya sama saja memiliki hobi membully dirinya.
Disisi lain, Axlyn hanya diam menatap kebersamaan Spencer dengan Kay maupun Noah. Dimana masih jelas sekali dalam ingatannya, dulu mereka musuh bebuyutan yang saling membunuh. Siapa sangka kini hubungan mereka bagaikan saudara yang sangatt dekat, sedangkan dirinya tetap menjadi sosok yang terlupakan.
Sampai sebuah pikiran buruk terlintas dalam benaknya. “Apa yang akan terjadi padaku dan kedua anakku ini, jika mereka sampai mengetahui bahwa aku ‘lah wanita yang sedang mereka cari? Apakah Spencer akan akan membunuhku bersama dengan anak ini? Dan bagaimana dengan keluarga Kay? Apakah mau menerima anak ini atau mungkin akan memaksaku untuk menghilangkan anak ini? Sepertinya Kak Sherin benar… tidak seharusnya aku menerima tugas kali ini.”
Setelah pembicaraan itu baik Kay, Noah maupun Spencer tidak keluar dari ruangan kerja sampai waktu makan malam berlalu. Jelas mereka bertiga tengah membahas permasalahan yang sedang Spencer hadapi hingga membutuhkan bantuan Kay dan Noah di sisinya.
...****************...
Sementara itu, Axlyn masih terpaku dengan pembicaraan sore tadi. Kini hatinya tengah dilanda kebingungan dan kebimbangan. Sampai detik ini, Axlyn masih tidak menyangka bahwa tugas terakhirnya sebagai pengawal harus berhubungan dengan Kay dan Spencer lagi. Ditambah dengan kehamilannya, dimana ayah dari kedua calon anaknya adalah Kay sendiri. Pria yang telah melupakan segala tentang dirinya.
Fakta bahwa Kay dan semua orang masih berusaha menemukannya, membuat Axlyn cukup senang. Namun, bagaimana jika mereka tahu kalau wanita yang sedang mereka cari adalah dirinya. Apakah semuanya masih tetap sama? Berbagai pemikiran negative dan juga kemungkinan bruk silih berganti terlintas dibenar wanita yang tengah berbadan dua itu.
“Apa yang aku harus lakukan sekaran, Tuhan?” gumam Axlyn sembari menatap langit malam tak berbintang.
Tiba-tiba telepon itu bergetar di tangannya untuk kesekian kali sebelum akhirnya ia benar-benar menekan nama yang sudah ia hafal di luar kepala. Tanpa ragu lagi, Axlyn menekan penggilan dimana nada sambung langsung terdengar layaknya detak jam di dinding.
“Kak…” Suara Axlyn langsung terdengar bergetar menahan tangis, ketika sambungan telepon itu telah terhubung.
Suara di seberang sana langsung waspada. “Ada apa? Suaramu kenapa?”
Axlyn menutup mulutnya serapat mungkin hingga suara tangisnya tidak dapat di dengar oleh sang kakak. Seolah ia takut kakaknya akan khawatir dengan keadaannya. Nafasnya masih berantakan sejak pertemuan tadi sore, tetapi Axlyn berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri sebelum menjawab pertanyaan sang Kakak.
“Hai, Axlyn! Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu atau bayimu?” cecar Sherin yang jelas khawatir karena adiknya tak kunjung bicara.
“Seharusnya aku menuruti ucapan Kakak saat itu,” katanya lirih. “Seharusnya… aku menolak tugas ini.”
Pada akhirnya Axlyn tetap tidak dapat menahan ataupun menyembunyikan isak tangisnya. Apalagi ditambah dengan hormon kehamilannya membuat perasaannya semakin kacau. Ia bisa bersikap baik-baik saja di hadapan Kay maupun yang lainnya, tetapi di hadapan Kakaknya… tempat yang menjadi sandaran hidupnya Axlyn tidak bisa menyembunyikan semua itu.
“Hai, tenanglah? Dengarkan Kakak, coba kau ceritakan apa yang terjadi. Ceritakan pelan-pelan saja, Kakak ada di sini bersamamu.” Sherin berusaha menenangkan adiknya, meski ia sendiri sudah dilanda kepanikan dan ketakutan jika sesuatu yang buruk terjadi pada Axlyn.
Axlyn menelan ludah. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang masih rata, tempat rahasia terbesar itu bersembunyi. Sebenarnya ia belum siap menceritakan semuanya kepada Kakaknya, tetapi ia juga tidak sanggup menanggungnya sendirian.
“Kakak ingat… Aku harus mengawal seorang anak. Seorang anak perempuan yang usianya hampir lima tahun.”
“Lalu?”
Axlyn memejamkan mata sejenak. Wajah polos bocah itu terbayang, mata dan tingkah lucunya serta panggilan ‘Papah’ yang bocah itu peruntukan kepada Kay masih teringat jelas dalam ingatannya. Perasaannya semakin kacau, ia lantas mengelus pelan perutnya yang masih terlihat rata untuk dua kehidupan yang ada di dalamnya.
“Kemungkinan besar… dia anak kandungnya.”
Hening di seberang sana. “Maksudmu—”
“Kay.” Suaranya pecah sebelum sempat ia kendalikan. “Anak dari dia. Dari pria yang… yang menjadi ayah dari bayi yang sedang kukandung sekarang.”
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌