𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19 - PERINGKAT SATU DAN MALAM YANG SEDERHANA
Pagi itu, sekolah Rizuki tidak seperti biasanya.
Udara masih sama. Langit cerah tanpa awan. Bel masuk berbunyi tepat waktu. Namun ada sesuatu yang bergetar di koridor—sebuah kegaduhan halus yang tidak berasal dari suara, melainkan dari bisik-bisik.
Siswa bergerombol di depan papan pengumuman utama.
Beberapa berdiri kaku.
Beberapa menutup mulut.
Beberapa menatap angka-angka seolah tidak percaya.
Nama itu tertulis jelas.
RIZUKI.
Di baris teratas.
Dengan huruf tebal.
HASIL UJIAN YANG MEMBUAT SEKOLAH TERDIAM
“Ini… ini salah cetak, kan?”
Seorang siswa menelan ludah.
“Nilainya hampir sempurna di semua mata pelajaran.”
“Bukan cuma peringkat sekolah,” bisik yang lain, suaranya bergetar.
“Ini… peringkat satu nasional.”
Kepala sekolah berdiri beberapa langkah dari depan papan pengumuman, menatapnya lama. Tangannya bertaut di belakang punggung.
Ia sudah tahu hasil ini sejak dua hari lalu.
Namun melihat reaksi siswa-siswanya hari ini…
bahkan dirinya sendiri masih merasakan getaran aneh di dada.
Rizuki datang terlambat 15 menit pagi itu.
Bukan karena sengaja.
Ia hanya berjalan seperti biasa, membawa tas hitam sederhana, wajah tenang tanpa ekspresi berlebih.
Langkahnya terhenti saat melihat kerumunan.
Beberapa siswa menoleh.
Bisikan berubah menjadi sunyi.
seorang siswa sekelas nya berdehem.
“Rizuki…”
rizuki mendekat perlahan, membaca papan pengumuman tanpa reaksi berarti.
Matanya bergerak cepat. Melihat papan pengumuman Lalu—
“Oh.” Hanya itu. Ucapan singkat rizuki.
Satu kata pendek.
Tidak ada senyum lebar.
Tidak ada keterkejutan dramatis.
Tidak merasa sombong
Dan tidak merasa hebat.
Sorot matanya tenang seperti biasa.
Ia berbalik, hendak melanjutkan langkah , Kerumunan itu seakan lupa bernapas. Kerumunan itu melihat nya dengan sangat Heran
REAKSI SEKOLAH
“Dia… cuma bilang ‘oh’?” kata salah 1 siswa yang berdiri di samping rizuki saat rizuki melihat papan pengumuman sejenak tadi.
“Kalau aku, aku sudah teriak keliling kota.” sahut siswa yang lain nya.
Seorang guru mendekat, suaranya bergetar menahan kagum.
“Rizuki, selamat. Ini prestasi luar biasa.”
Rizuki mengangguk sopan.
“Terima kasih, Bu.”
Nada datar.
Sikap rendah.
Guru itu menghela napas panjang.
". Anak ini… benar-benar aneh." Ucap nya sambil mata yang mengikuti kepergian rizuki.
KEPALA SEKOLAH MEMANGGIL
Siang itu, Rizuki kembali dipanggil ke ruang kepala sekolah.
Namun kali ini suasananya berbeda.
Tidak ada teguran.
Tidak ada kekhawatiran.
Hanya dua cangkir teh hangat dan senyum yang jarang terlihat.
“Rizuki,” kata kepala sekolah pelan,
“saya sudah mengajar puluhan tahun.”
Ia berhenti sejenak.
“Kamu adalah salah satu siswa paling luar biasa yang pernah saya temui.”
Rizuki duduk tegak.
“Terima kasih, Pak.”
“Peringkat satu nasional,” lanjut kepala sekolah,
“itu bukan hanya soal kecerdasan. Itu soal disiplin dan karakter.”
Ia menatap Rizuki lekat-lekat.
“Kemana pun kamu melangkah setelah ini… jangan pernah kehilangan itu.”
Rizuki mengangguk.
“Saya akan mengingatnya.”
BERITA ITU SAMPAI KE VHIENA
Di sisi lain kota, Vhiena sedang membantu Ayu menyapu ruang tamu ketika ponselnya bergetar.
Notifikasi dari grup sekolah vhiena.
Judul berita terpampang di layar.
“SISWA SMA CAKRAWALA RAIH PERINGKAT 1 NASIONAL”
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia membuka berita itu.
Foto gedung sekolah Rizuki.
Nama Rizuki tercetak jelas.
Tangannya berhenti bergerak.
“Vhin?” panggil Ayu.
“Kamu kenapa?”
Vhiena menelan ludah.
“…nggak apa-apa.”
Namun dadanya terasa hangat.
Bangga.
Terharu.
Dan sedikit… rindu.
CHAT UCAPAN SELAMAT
Beberapa menit kemudian—
Vhiena:
“Selamat ya ki 😉”
Tidak ada embel-embel panjang.
Beberapa menit berlalu.
Rizuki:
“Terima kasih.”
Vhiena:
“Peringkat satu nasional itu… luar biasa.”
Rizuki duduk di bangku taman sekolah saat membaca pesan itu.
Angin berembus pelan.
Rizuki:
“Hanya angka.” Jawab nya datar.
Vhiena:
“Tapi aku tahu usaha di baliknya.”
Rizuki terdiam sejenak.
Rizuki:
“Makan malam nanti?”
Jantung Vhiena berdegup.
Vhiena:
“Berdua?”
Rizuki:
“Iya.”
Beberapa detik hening.
Vhiena:
“Aku mau.”
PERTEMUAN PERTAMA SETELAH SEKIAN LAMA
Sore menjelang malam.
Rizuki berdiri di halte saat pertama mereka saling mulai bicara.
Cuaca cerah hari ini.
Namun udara terasa sama seperti dulu—
sedikit canggung, sedikit hangat.
Vhiena datang, langkahnya melambat saat melihat Rizuki.
Mereka berhenti beberapa langkah terpisah.
Tidak langsung bicara.
Hanya saling menatap.
“Aku pikir… kamu akan berubah,” kata Vhiena pelan.
Rizuki menggeleng.
“Kamu juga tidak.”
Senyum kecil muncul di wajah Vhiena.
CAFE SEDERHANA
Mereka memilih cafe kecil di sudut jalan. Tidak jauh dari halte itu.
Tidak mewah.
Tidak ramai.
Lampu kuning hangat. Meja kayu sederhana.
Pelayan tersenyum ramah.
“Pesanan?”
“Kopi hitam, Dimsum” kata Rizuki.
“Teh hangat,” jawab Vhiena.
Mereka duduk berhadapan.
“Aneh ya,” kata Vhiena sambil mengaduk tehnya,
“kita jarang bertemu… tapi rasanya tidak jauh.”
Rizuki menatapnya.
“Karena kita tidak pergi.”
Vhiena tersenyum.
Mereka berbicara ringan.
Tentang ujian.
Tentang sekolah.
Tentang hal-hal kecil yang terlewat.
Tidak ada rahasia besar yang dibuka malam itu.
Hanya kehadiran.
MALAM YANG TENANG
“Terima kasih,” kata Vhiena saat mereka berdiri hendak pulang.
“Untuk malam ini.”
Rizuki mengangguk.
“Aku yang berterima kasih.”
Mereka berjalan menyusuri trotoar menuju rumah Vhiena.
Langkah pelan.
Bahunya hampir bersentuhan.
Saat tiba di depan rumah—
“Hati-hati pulang,” kata Vhiena.
Rizuki menatap rumah itu sejenak, lalu kembali padanya.
“Istirahatlah.”
PULANG SENDIRI
Rizuki berjalan kembali ke apartemennya sendirian.
Lampu kota menyala satu per satu.
Di tangannya, ponsel bergetar.
Vhiena:
“Aku senang malam ini.”
Rizuki berhenti sebentar, menatap layar.
Rizuki:
“Aku juga.”
Ia melanjutkan langkah. Tenang Namun pikiran nya kini sedang memikirkan sesuatu yang sedikit merasa menyesakkan.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama—
merasa bahwa semua yang ia bangun, pelan-pelan, mulai menemukan tempatnya.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/