⚠️MC NON MANUSIAWI‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Lembah Kematian
Hutan Kabut Kematian - Wilayah Tengah (Dua Minggu Kemudian).
Di dalam sebuah celah bukit batu yang lembap, Lu Daimeng duduk bersila.
Napasnya teratur, tapi dadanya bergerak dengan irama yang tidak sinkron.
Di sebelah kanan dadanya, Jantung Naga berdetak kuat, memompa darah hitam yang penuh vitalitas monster. DUM! DUM!
Tapi di sebelah kiri, Jantung Manusia-nya bergetar lemah. deg... deg...
Serangan Singa Api milik Lu Gubo dua minggu lalu telah meninggalkan residu Hukum Api yang persisten di jaringan jantung manusianya. Jantung naga bisa menahannya, tapi jantung aslinya—sedang sekarat.
"Organ ini menjadi beban," analisis Lu Daimeng dingin. "Tapi aku belum bisa membuangnya. Jantung naga terlalu panas. Tanpa penyeimbang jantung manusia, darahku akan mendidih dan membakar otakku."
Dia butuh solusi. Dan solusi itu tidak ada di sini.
Solusi itu ada di Lembah Kematian (Death Valley).
Itu adalah inti terdalam dari hutan ini. Tempat di mana rumor mengatakan terdapat Mata Air Yin Murni yang bisa memadamkan api jiwa dan terdapat iblis penjaga.
Lu Daimeng berdiri. Dia harus pergi ke sana.
Tapi berjalan kaki terlalu lambat. Jaraknya dua ribu kilometer melalui medan yang dipenuhi monster Ranah Roh.
"Saat ini jarak ribuan kilometer ataupun lebih bukan halangan."
Dia memejamkan mata. Pori-pori di punggungnya terbuka lebar.
SREET... KLANG!
Cairan logam hitam dari Pedang Jiwa Surgawi merembes keluar dari tulang belikatnya. Logam itu memadat, memanjang, dan menipis hingga setajam silet, membentuk rangka sayap yang mengerikan. Bentang kedua sayapnya mencapai empat meter.
Ini bukan sayap burung. Ini adalah Sayap logam fleksibel.
Lu Daimeng mengalirkan Dark Null ke sayap itu sebagai bahan bakar.
WUZZZZ!
Dia melesat ke udara. Sayap itu membelah angin, membawanya terbang di atas tajuk pohon.
Namun, baru seratus kilometer terbang, Lu Daimeng merasakan pusing.
Terbang dengan sayap logam membutuhkan massa. Tubuhnya membakar kalori dan mineral dengan kecepatan gila untuk mempertahankan struktur sayap itu agar tidak mencair kembali.
"Pusing sekali," desisnya. "Aku butuh zat besi. Aku butuh baja."
Mata Triple Pupil-nya memindai cincin dari gua naga miliknya.
Banyak tombak baja berat didalamnya, mulai dari kualitas rendah hingga tinggi.
Lu Daimeng mengeluarkan tombak baja itu dari cincin penyimpanannya. Beratnya sekitar lima puluh kilogram.
Dia tidak menggunakannya sebagai senjata.
Dia membuka mulutnya. Dia melapisi Gigi-giginya dengan Dark Null transpatan padat hingga menghasilkan api panas setiap kali giginya saling bergesekan.
KRAK!
Dia menggigit mata tombak itu.
Bunyi logam yang dikunyah terdengar ngilu di hutan yang sunyi.
Lu Daimeng mengunyah baja padat itu seolah sedang memakan tebu. Dia menelan serpihan logam tajam itu ke dalam perutnya yang juga dilapisi oleh energi naga dan darknull.
Anti-Dao di perutnya bekerja. Asam lambung ketiadaan melelehkan baja itu, memisahkan unsur karbon dan besinya, lalu mengirimkannya langsung ke struktur tulang dan sayap di punggungnya.
Sayap di punggungnya berkilau lebih gelap. Lebih kuat.
"Bahan bakar," gumamnya.
Dia terbang lagi.
Sepanjang perjalanan menuju Lembah Kematian, Lu Daimeng terus memakan logam sambil terbang dengan kecepatan tinggi.
Dan walau terbang dengan kecepatan tinggi. matanya tetap bisa melihat dengan jelas dia bahkan menemukan beberapa sumber daya, seperti tanaman spiritual dan....
Menemukan deposit bijih besi alam? Dia memakannya.
Menemukan bangkai Golem Besi? Dia memakan intinya.
Menemukan sisa senjata dari pertempuran lama? Dia menelannya bulat-bulat.
Giginya menjadi mesin penghancur. Tubuhnya menjadi peleburan berjalan.
Lembah Kematian (The Death Valley).
Ini adalah kawah raksasa di pusat hutan. Kabut di sini tidak berwarna abu-abu, melainkan merah darah.
Di pinggiran lembah, di atas sebuah plato batu yang luas, tiga pasukan besar telah berkumpul. Mereka mendirikan kemah sementara, saling menjaga jarak namun bersiap untuk tujuan yang sama: Melakukan ekspedisi mencari sumber daya ke Lembah kematian.
Tiga Panji berkibar: Keluarga Lu, Keluarga Lei, dan Keluarga Qin.
Suasana tegang.
Di kubu Keluarga Lu, aura dominasi terpancar kuat.
Pemimpin mereka adalah tuan muda pertama kebanggaan keluarga Lu: Lu Huang.
Pria ini adalah monster dalam standar manusia. Tingginya 2,3 meter—sama seperti Lu Daimeng saat ini. Tubuhnya besar, berotot tebal, mengenakan zirah emas berat yang tampak ringan di badannya. Rambutnya diikat ke belakang dengan cincin emas.
Dia berdiri dengan tangan terlipat, memancarkan aura Ranah Roh Tahap 5. Tekanannya membuat udara di sekitarnya terdistorsi.
Di sampingnya, Lu Zhuxin (Ranah Roh Tahap 1) berdiri dengan wajah masam, masih memendam dendam akibat insiden parade. Beberapa tetua ranah roh tahap 1 lain berdiri di belakang mereka.
Di kubu Keluarga Lei, dipimpin oleh Lei Zuan. Pria tampan dengan tinggi 1,9 meter dengan tombak petir. Dia kuat, tapi di hadapan fisik Lu Huang yang seperti gunung, dia terlihat kecil.
Dan di kubu Keluarga Qin.
Pemimpinnya adalah Qin Chen.
Dia berbeda. Dia tidak memakai zirah berat. Dia mengenakan jubah cendekiawan berwarna biru muda, memegang kipas lipat dari tulang naga. Wajahnya tenang, matanya cerdas dan tajam. Meskipun terlihat halus, dia berada di Ranah Roh Tahap 6—lebih tinggi dari Lu Huang secara kultivasi, meski mungkin kalah dalam kekuatan fisik murni.
Ketiga kubu sedang berdebat tentang pembagian hasil jarahan.
"Keluarga Lu menginginkan 40%," suara Lu Huang menggelegar seperti guntur. "Sisanya kalian bagi dua."
"Jangan serakah, Kakak Lu Huang," kata Qin Chen tersenyum tipis, mengibaskan kipasnya. "Keserakahan sering kali menjadi awal dari kejatuhan."
Saat ketegangan memuncak...
WUUUUUNG....
Suara aneh terdengar dari langit. Suara lesatan logam membelah udara.
Semua kultivator Ranah Roh mendongak.
Sebuah titik hitam jatuh dari langit.
BOOOOM!
Sosok itu mendarat di tengah-tengah segitiga antara tiga keluarga.
Tanah batu hancur. Debu vulkanik mengepul.
Saat debu menipis, Lu Daimeng berdiri tegak.
Sayap logam di punggungnya mencair, masuk kembali ke dalam kulitnya dengan suara mendesis yang mengerikan. Dia menegakkan tubuhnya yang setinggi 2,3 meter.
Kini, ada dua raksasa di plato itu.
Lu Huang vs Lu Daimeng.
Satu adalah raksasa cahaya yang dipuja. Satu lagi adalah raksasa kegelapan yang dibuang.
Keheningan melanda.
Lu Huang menatap adiknya. Matanya membelalak sedikit. Dia mendengar rumor itu, tapi melihatnya langsung adalah hal berbeda.
"Jadi itu benar," suara Lu Huang berat. "Kau benar-benar menjadi monster."
Lu Zhuxin mundur selangkah, wajahnya memerah marah. "Anak haram ini beraninya dia datang ke sini?"
Seluruh pasukan Keluarga Lu serentak mencabut senjata. Kling! Ratusan pedang terhunus, diarahkan ke Lu Daimeng.
Keluarga Lei dan Qin menonton dengan waspada. Mereka merasakan aura Lu Daimeng.
Aneh, pikir Qin Chen, matanya menyipit. Tidak ada Qi. Tapi kepadatan tubuhnya... setara dengan artefak tingkat tinggi. Dan matanya...
Lu Daimeng berdiri santai. Dia dikepung oleh Puluhan kultivator elit dan setidaknya dua puluh ahli Ranah Roh.
Namun, wajahnya tidak gentar.
Enam pupil di matanya berputar, memindai Lu Huang.
"Lu Huang," sapa Lu Daimeng datar. "Mungkin dahulu aku takut padamu, tapi sekarang tidak lagi."
"Kau punya nyali, Daimeng," Lu Huang melangkah maju. Tanah bergetar. "Ayah menginginkan kepalamu. Dan bodohnya kau mengantarkannya sendiri."
Aura Ranah Roh Tahap 5 milik Lu Huang meledak. Tekanan gravitasi yang masif menekan Lu Daimeng.
Lu Daimeng tidak bergeming. Kulit Anti-Dao-nya meniadakan tekanan itu.
Dia melihat sekeliling. Dia melihat tatapan oportunis dari Lei Zuan. Dia melihat tatapan penuh perhitungan dari Qin Chen.
Lu Daimeng tersenyum miring.
"Lu Huang," kata Lu Daimeng, suaranya cukup keras untuk didengar semua orang. "Kau bisa menyerangku sekarang. Kita bisa bertarung. Meski aku kalah atau mati, tapi aku jamin, aku setidaknya bisa mematahkan setidaknya dua anggota tubuhmu."
Lu Huang mendengus. "Kau terlalu percaya diri."
"Mungkin," jawab Lu Daimeng. Dia menunjuk ke arah Keluarga Qin dan Lei dengan dagunya.
"Tapi saat kita sibuk saling membunuh... menurutmu apa yang akan dilakukan oleh Tuan Muda Qin dan Tuan Muda Lei?"
Mata Lu Daimeng berkilat licik.
"Mereka akan menonton. Mereka akan menunggu kita berdua terluka parah. Dan kemudian... mereka akan menghabisi sisa Keluarga Lu dan mengambil semua harta di lembah ini."
Lu Daimeng merentangkan tangannya.
"Apakah kau setolol dan seidiot itu, Lu Huang? Mengorbankan posisi strategis keluarga hanya untuk membunuhku?"
Lu Huang berhenti. Otot rahangnya berkedut.
Dia tahu Lu Daimeng benar. Ini adalah ekspedisi besar. Jika Keluarga Lu kehilangan kekuatan tempur utama di sini karena pertarungan internal, dua keluarga lain akan menerkam mereka.
Suasana menjadi kaku. Lu Huang ingin membunuh, tapi politik menahannya.
Tiba-tiba, suara tawa halus memecah ketegangan.
"Hahaha. Menarik. Sangat menarik."
Qin Chen melangkah maju, kipasnya menutup dengan bunyi plak.
Dia menatap Lu Daimeng dengan binar mata yang cerdas.
"Lu Daimeng..." kata Qin Chen. "Aku ingat kau. Sepuluh tahun lalu, saat aku berkunjung ke kediaman Lu... kau adalah anak kecil yang selalu duduk sendirian di sudut perpustakaan, membaca buku strategi sementara yang lain berlatih pedang."
Lu Daimeng menatap Qin Chen. Dia ingat. Qin Chen adalah satu-satunya anak tamu yang tidak meludahinya dulu. Bukan karena baik, tapi karena Qin Chen memiliki insting tajam pada sesuatu hal baik benda maupun makhluk hidup.
"Ingatanmu tajam, Tuan Muda Qin," jawab Lu Daimeng.
"Kau berbeda sekarang," Qin Chen berjalan mendekat, mengabaikan peringatan pengawalnya. Dia berhenti tiga meter dari Lu Daimeng. "Kekuatanmu... unik. Pemikiranmu... pragmatis."
Qin Chen tersenyum, mengulurkan tangannya.
"Keluarga Lu jelas tidak menginginkanmu. Mereka terlalu buta untuk melihat aset."
Qin Chen menoleh ke Lu Huang dengan tatapan mengejek, lalu kembali ke Lu Daimeng.
"Bagaimana jika kau bergabung dengan Keluarga Qin untuk ekspedisi ini? Kami kekurangan Kultivator fisik untuk garis depan. Imbalannya... 20% dari apa yang kita dapatkan. Dan perlindungan politis selama di lembah ini."
Tawaran itu mengejutkan semua orang.
Lu Zhuxin berteriak, "Qin Chen! Kau berani menampung buronan Keluarga Lu?!"
Qin Chen tidak menoleh. "Ini wilayah netral, Nona Lu Zhuxin. Musuhmu adalah urusanmu. Temanku adalah urusanku."
Lu Daimeng menatap tangan Qin Chen.
Dia tahu ini bukan persahabatan. Qin Chen hanya ingin memanfaatkannya sebagai senjata untuk melawan Keluarga Lu dan menaklukkan lembah. Qin Chen adalah manipulator.
Sempurna, pikir Lu Daimeng. Manipulator mudah diprediksi.
Lu Daimeng menjabat tangan Qin Chen. Cengkeramannya kuat, dingin, dan keras.
"Sepakat," kata Lu Daimeng.
Lu Huang meraung marah. "KAU PENGKHIANAT! Kau bersekutu dengan orang luar untuk melawan keluargamu sendiri?!"
Lu Daimeng melepaskan jabat tangan itu. Dia berbalik perlahan menghadap kakaknya.
Mata Triple Pupil-nya bersinar dengan cahaya ungu yang mengerikan.
"Pengkhianat?"
"HAHAHAHAHA!!"
Lu Daimeng tertawa. Tawa yang keras, tanpa humor, yang menusuk hati para tetua Keluarga Lu yang hadir.
"Kalian membuangku ke hutan untuk dimakan binatang iblis. Kalian bahkan membakar dadaku sebelum aku pergi. Kalian mengambil jatah pil bulananku. Memberiku makanan yang telah basi yang tidak layak. Kalian menyebutku sampah selama tujuh belas tahun. Menghina ibuku."
Lu Daimeng memunculkan pedang hitam yang keluar dari tangannya.
Lalu mengarahkan ke arah keluarga Lu.
"Dengar baik-baik, Lu Huang."
"Aku tidak pernah meninggalkan Keluarga Lu."
"Keluarga Lu... yang meninggalkanku."
Bersambung...